“Sejak kapan kamu tahu kalau Melati dan Dariel berpacaran?”
‘Ck!’ Mulut Acha mendecak. Dia kira ada urusan gawat, tetapi ternyata cuma pertanyaan konyol ini.
“Aku satu club fitness sama mereka. Terus seperti yang Pak Bos tahu karena belakangan masuk di infotainment, akhirnya kami dekat. Dariel sendiri yang cerita sama aku.” Jawab Acha santai.
Ini jelas dusta. Dariel tak pernah sekalipun berkata bahwa dia dan Melati berpacaran. Saat bertemu di gym pun Melati berkata bahwa Dariel adalah temannya.
Vino tak melihat kebohongan sedikitpun di ekspresi Acha. Tetapi, lima tahun lebih mengenalnya membuat Vino waspada. Setelah banyak trik Acha di belakang panggung yang Vino ketahui, tidak mungkin dia tidak curiga.
“Kamu tahu kalau aku gak mau kita bermusuhan kan?” tanya Vino.
“Oh ya?” salah satu sudut bibir Acha naik.
Jelas sekali kalau ini adalah bentuk ancaman dari Vino yang artinya, ‘Kalau kamu macam-macam, kamu akan tahu rasa!’
Tapi apa peduli Acha? Toh selama ini mereka juga selalu berseberangan sampai-sampai ingin rasanya Acha segera keluar dari agensi ini. Namanya juga penyesalan. Datangnya pasti belakangan. Acha menyadari betul kenaifannya lima tahun yang lalu.
Seandainya saja dia tahu bahwa dirinya akan dijadikan sapi perah penghasil uang bagi orang ini, pasti dia tidak akan mau bergabung di sini. Kalau saja dia tidak bertanya pada salah satu staf, dia tidak akan tahu berapa banyak yang yang sebenarnya dia hasilkan dan kemana larinya yang itu. Dan kalau tidak ada tawaran dari Dariel untuk bergabung dengan agensi barunya, mungkin Acha masih harus bertahan dua tahun lagi.
“Well, aku masih ada syuting hari ini. Jadi, saya pamit lebih dulu. Selamat siang.” Kata Acha.
Kemudian dia berbalik dan pergi dari hadapan Vino.
Hari ini dia belum ingin berdebat. Toh, ini adalah hari baiknya. Hari di mana rencananya mulai berkembang sesuai kehendaknya, bahkan lebih.
Tiba-tiba muncul sebuah ide di kepalanya. Sebetulnya dia tidak ingin memakai cara ini, tapi tidak ada salahnya mencoba.
Acha bergegas menuju mobilnya. Di dalam sudah ada Lina yang duduk di kursi pengemudi dan seperti biasa dia duduk di belakang.
Dirogohnya isi tas jinjingnya begitu sabuk pengaman terpasang. Dia membuka chatroom-nya dengan Dariel dan mengirimkan sebuah pesan.
‘Kak, nanti sore abis syuting aku boleh ketemu kamu di rumah?’
Tak disangka, balasan dari Dariel datang dengan cepat.
‘Rumahku?’ tanya pria itu.
‘Iya. Nanti aku ke sana sama Lina.’ Jawab Acha.
‘Buat apa?’ tanya Dariel lagi.
‘Minta maaf dan berterima kasih. Nanti aku jelasin. Jadi boleh gak, nih?’
Tulisan ‘sedang mengetik...’ berkelap-kelip selama satu menit. Lalu, jawaban Dariel pun datang.
‘Dateng aja. Mama pasti seneng kamu dateng.’
“Haha. Dariel... Dariel... kamu kok polos banget, sih?” gumam Acha.
Acha tertawa miris. Dia agak tidak tega menipu orang sebaik dan sepolos Dariel. Bagaimana bisa ada orang yang setulus dia? Tapi menjadi polos selamanya bukanlah hak baik. Dan tugas Acha adalah mencoreng luka pada pria polos itu.
Hanya satu harapannya. Yaitu, di kemudian hari luka yang digoreskannya tidak akan terlalu dalam. Karena bagaimanapun Acha masih ingin berteman dengan Dariel. Acha merasa cocok dengan Dariel yang menyenangkan.
*
Waktu terus bergulir, sore hari pun tiba. Mobil Acha sudah berada di depan gerbang kediaman Hardiansyah. Begitu Lina membunyikan klakson, satpam rumah itu segera membukakan pintu dan menyambut mereka dengan hangat.
Seusai memarkirkan mobil mereka, Acha dan Lina segera menuju pintu depan ditemani oleh Sayid, satpam mereka. Tidak disangka, Sarah sudah berada di belakang pintu siap untuk membukakannya.
“Achaaa!” sambut Sarah sambil memeluk Acha senang.
“Sore, Tante.” Sapa Acha.
“Selamat sore, Bu.” Lina juga ikut menyapa.
“Hai, Lina. Kamu juga dateng? Ayo duduk dulu sini!” ajak Sarah.
Mereka menuju teras belakang rumah. Di sana nampak banyak tanaman yang asri dan indah. Dari bunga sampai pepohonan buah tumbuh di halaman belakang itu. Selain tanaman, kolam ikan mas yang tak terlalu besar juga ikut menghias halaman belakang itu.
“Minah, tolong panggilin Dariel, ya. Habis itu kamu bikinin minuman buat kita.” Perintah Sarah pada ART –nya.
“Baik, Bu.” Sahut Minah. Lalu, perempuan yang terlihat berusia tiga puluh tahunan itu segera melaksanakan perintah Sarah.
Tidak lama kemudian, Dariel muncul dengan kaos dan celana kolor panjang-nya. Ini adalah versi lain dari Dariel yang baru Acha ketahui.
“Ternyata orang kaya kalau di rumah juga pakai kolor. Tapi dari bahannya kelihatan banget kalau kolor itu gak dibeli di pasar.” Batin Acha.
“Hey, Dek Tua!” sapa Dariel yang langsung mendapatkan pukulan di p****t oleh Sarah.
‘Plak!’
“Kamu tuh, ya! Kalau manggil cewek yang bener, ah!” seru Sarah.
“Lah, Ma. Orang dia sendiri yang minta dipanggil ‘adek’, padahal sama Dariel tua-an dia!” Dariel membela diri.
“Ya gak gitu juga manggilnya, Dariel!” hardik Sarah.
“Terus manggilnya gimana? Kakak tua? Lebih parah tuh!”
‘Plak!’
Sekali lagi p****t Dariel menjadi korban.
Sebelum mendapatkan pukulan berikutnya, Dariel segera menghindar dan memilik duduk di sebelah Acha yang tak berhenti tertawa.
“Duh, maaf ya, Cha. Anak tante emang gini. Udah gede kelakuannya masih aja kayak bocah.” Ujar Sarah.
“Gapapa, Tan. Hehe... lucu Darielnya.” Ucap Acha.
“Tuh! Acha aja gak masalah!” seru Dariel sambil menjulurkan lidahnya.
Acha menyenggol lengan Lina memberi kode. Lina yang paham pun langsung menyerahkan paper bag di tangannya pada Acha.
“Oh, iya. Tadi kelupaan, Tan. Ini gak seberapa, sih. Tadi sekalian beli di jalan pas ke sini.” ucap Acha.
“Wah, ngerepotin, nih. Ini kan kue kesukaannya Dariel!” sahut Sarah.
“Kebetulan banget lagi pengin cheese cake dari toko ini. Makasih, ya.” Kata Dariel saat melihat isi paper bag itu.
Sebelumnya Ryo sudah memberi tahu semuanya pada Acha di awal. Tentu saja Acha tahu betul apa yang Dariel sukai, bahkan yang Dariel benci.
“Eh, iya. Sebenernya Tante lagi masak. Tante tinggal dulu, ya. Nanti kamu ikutan makan ya, Cha. Gak boleh nolak!” perintah Sarah.
“Acha yang ngerepotin tante, nih.” Ucap Acha.
“Santai aja! Tante tinggal dulu ya!”
Tanpa mendengar lagi jawaban dari Acha, Sarah pergi begitu saja ke dapur.
Rencana Acha cukup sukses sampai sini. Sarah benar-benar menyenangkan untuk diajak bekerja sama. Tadi, sebelum Acha ke sini, Acha sudah menyampaikan rencana kedatangannya pada Acha.
Dariel meletakan paper bag tadi di atas meja bundar kecil. Kini mereka duduk dengan dibatasi oleh meja itu.
“Sst... Pak Ryo ke sini kan?” Tanya Acha berbisik.
Dariel memberi jawaban dengan mengacungkan jempolnya. Hari ini dia siap menjadi mak comblang bagi kedua orang berprofesi asisten itu.
“Ok!” bisik Acha lagi.
Kali ini Acha menghadap kepada Lina yang dia belakangi dari tadi.
“Lin. Kamu bisa tunggu di depan gak? Katanya Pak Ryo mau ke sini juga.” Kata Acha sambil mengerlingkan matanya.
Dengan wajah lesu dan cemasnya Lina menjawab, “Ok, Mbak.” Dan dia pun beranjak.
Rencana kali ini Acha namai ‘Sambil menyelam, minum air’. Selain untuk kelancaran target besarnya, dia juga ingin menjodohkan Lina dengan Ryo yang dia pikir jatuh hati pada Lina.
Kini dia dan Dariel hanya berdua. Dan ini saatnya dia melancarkan langkah berikutnya yaitu ‘Kasihani aku’.