Melati terpaku di depan layar tv kamarnya. Hampir di setiap acara berita sore dan infotainment menampilkan kekasihnya, Dariel dan senior modelnya, Acha. Berita tentang persahabatan dan kerja sama di antara keduanya terkesan seperti dibesar-besarkan baginya.
Cemburu? Mungkin. Tapi cemburu karena apa?
Dia berpikir, bagaimana mungkin dia cemburu pada mereka yang sudah jelas mengaku di depan publik bahwa mereka hanya berteman? Apalagi dia yakin seratus persen bahwa di hati Dariel hanya ada dirinya sebagai wanita yang dia cintai.
Apa mungkin karena mereka berdua bisa tampil bersama dalam satu layar, sedangkan dia harus bersembunyi-sembunyi? Tapi itu semua demi melindungi Melati sendiri. Dariel tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Melati, karena di dunia hiburan dia adalah orang baru.
‘Tring! Tring!’
Irama nada dering Melati berbunyi. Sebuah panggilan video dari Dariel menyapu keheningan di kamar itu. Diangkatnya telfon itu tanpa membuat pria pujaannya menunggu.
“Malam, Sayang.” Sapa Dariel.
“Malam.” Jawab Melati datar.
“Hm? Kamu kenapa? Kok lesu banget?” tanya pria di layar itu.
Sebentar Melati terdiam, kemudian menjawab, “Nggak. Aku lagi capek aja.”
“Banyak kerjaan, ya?” tanya Dariel lagi dan dijawab Melati dengan anggukan.
Dariel mendengus pasrah. Kekasihnya ini memang belakangan baru mulai naik daun. Jadi, wajar saja kalau Melati masih menyesuaikan diri dengan kesibukannya.
“Tapi, aku ada berita buat kamu.” Kata Dariel.
“Berita tentang kamu mau bikin agensi hiburan?” tebak Melati.
“Nggak itu aja dong, Sayang.” Ujar Dariel.
“Aku mau kamu sama Acha buat jadi artis pertama yang masuk di agensi kita.” Jelas Dariel.
Mendengar nama Acha yang Dariel sebut tanpa menyebutkan ‘Kakak’ membuat Melati paham bahwa mereka sudah semakin dekat. Saat terakhir kali mereka bertemu pun sebetulnya Melati sadar bahwa kekasihnya yang sulit berteman dengan perempuan ini mulai luluh.
Sebelum bertemu dengannya, Dariel yang Melati kenal adalah orang yang sangat cuek dan selalu dingin pada perempuan. Bahkan sebelum mereka berpacaran seperti sekarang, Melati pernah dibenci habis-habisan olehnya.
“Sebenernya aku seneng. Tapi, aku lagi capek banget.” Kata Melati lesu.
Sekali lagi dengusan terdengar dari seberang layar. Dariel pikir, kekasihnya sedang benar-benar lelah hari ini. Tidak biasanya Melati seperti ini padanya.
“Ya sudah. Kamu istirahat dulu aja. Maafin aku ganggu istirahat kamu, ya?” sesal Dariel.
Melati menggeleng pelan.
“Selamat istirahat, ya.” Ucap Dariel.
“Selamat istirahat.” Balas Melat.
Dariel menutup lebih dahulu video call mereka. Malam itu, tidak seperti yang dikatakannya pada Dariel, Melati tak sedetikpun bisa terlelap.
*
Dengan sebelah kepalan tangan, Dariel menumpu kepalanya. Dia sedikit kepikiran ekspresi Melati di video call tadi. Gadisnya itu tidak biasanya bersikap seperti itu padanya.
“Dia capek banget kali ya.” Gumam Dariel sambil meregangkan bahunya.
Sebetulnya dia pun tak kalah lelahnya. Setelah rapat siang tadi, kesibukannya menjadi berkali-kali lipat. Bahkan semenjak pulang dari kantor dan mandi, dia sama sekali belum beranjak dari meja kerja di kamarnya. Dia tidak menyangka ini semua hanya karena sebuah rumor. Kini dia harus bertanggung jawab untuk proyek baru Hardiansyah Grup.
“Hm? Acha?” gumam Dariel saat melihat sebuah notifikasi chat yang baru disadarinya.
Kemudian Dariel pun membuka chat itu.
‘Iiihh! Liat nih! Aku kayak dipecat dari perusahaan. Ngapain juga ‘Kak Dariel’ beneran bikin agensi hiburan?’
Begitu isi pesannya. Bersama dengan pesan itu, Acha juga mengirimkan sebuah screen shot pembicaraan antara Acha dan direktur utama Big5 Ent. yang merupakan agensi tempatnya dan Melati bernaung. Isinya adalah tentang panggilan darurat yang menyatakan bahwa Acha harus hadir untuk menyelesaikan urusan kontraknya dengan mereka. Lebih lanjutnya lagi, Acha terancam harus membayar denda yang cukup banyak.
“Aduh...” ujar Dariel sambil menepuk jidatnya sendiri.
Kini dia paham kenapa ekspresi Melati seperti itu. Kalau Acha mendapatkan panggilan seperti ini, berarti otomatis Melati juga sama. Lagi pula ini juga salahnya juga yang meminta seseorang untuk membeli kontrak mereka dari Big5 Ent. Kelihatannya mereka berdua belum diberitahu dengan jelas dan sekarang merasa was-was. Apalagi Melati yang mana adalah orang baru di industri ini.
‘Sante aja ‘Dek Acha’. Itu urusanku nanti.’
Jawab Dariel dalam pesannya.
Tak lama kemudian Acha membalas.
‘Emang urusan ‘Kak Dariel’, kok.’
“Wah... ini orang kebangetan banget. Haha.” Ujar Dariel.
Dariel tak percaya ada yang berani membalasnya begini. Tetapi bukannya marah, Dariel justru ingin tersenyum.
Saat mereka mengobrol begini, Dariel merasa mereka benar-benar kakak beradik. Sungguh Dariel bukanlah orang yang bisa cepat dekat dengan orang lain. Tetapi, kehadiran kembali Acha di hidupnya benar-benar seperti ombak yang menghantam pasir pantai. Wajar dan tak bisa dihindari.
“Dasar adik tua!” Dariel menggerutu sambil tersenyum pada ponselnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sepertinya sudah cukup waktunya beristirahat. Kini dia masih harus melanjutkan pekerjaannya. Kalau ditunda lebih lama lagi, pekerjaannya yang lain juga akan terbengkalai.
*
Keesokan harinya, sesuai dengan isi pesan, Acha menemui Vino di kantornya. Saat sudah di sana, ternyata Melati juga sudah sampai. Mereka duduk berdampingan di sofa panjang ruangan itu, sedangkan Vino di sofa single.
Dari raut wajahnya saja Acha sudah tahu bahwa Vino sedang bad mood. Alasannya tentu saja karena dia dan Melati yang merupakan bagian dari pilar agensinya akan segera keluar.
Vino sendiri tidak menyukai Acha karena pendapat mereka yang selalu berseberangan. Tetapi, selama ini Acha adalah salah satu dari sumber keuangan perusahaan yang didirikannya bersama beberapa artis senior yang lain. Mana mungkin dia bisa begitu saja melepaskan gadis itu.
Apalagi dulu dia sangat kesulitan untuk membujuk Acha agar mau masuk ke agensi ini. Pria itu sampai harus rela mengorbankan mobil mewahnya hanya untuk berinvestasi pada Acha yang akhirnya terbayar sampai berkali-kali lipat sekarang.
Sedangkan Melati, dia adalah keponakannya. Meskipun belum setenar Acha, Vino merasa dia memiliki bakat besar sebagai model dan akan menjamin masa depan dari agensi ini. Dan itu terbukti dari ketenarannya selama setahun ini.
“Sekarang ada yang mau bicara lebih dulu?” tawar Vino pada dua orang perempuan di depannya.
Acha memutar bola matanya. Sudah jelas maksud Vino adalah agar Acha memberi penjelasan lebih dulu.
“Jujur saya juga baru tahu tawaran ini semalam saat Pak Bos chat saya.” Ucap Acha jujur.
Ya, dia tidak menyangka akan mendapat tawaran dari Dariel secepat itu. Sudah begitu, tidak ada pemberitahuan sama sekali sebelumnya dari Dariel. Padahal hampir setiap hari mereka saling chatting, bahkan kadang telfon.
“Jangan dusta kamu!” bentak Vino tak percaya.
“Serius, Pak. Saya juga baru tahu mereka mau bikin agensi baru siang tadi lewat berita. Harusnya bapak tanya sama pacarnya yang punya gedung, donk!” Acha mengalihkan perhatian ke Melati.
Ya. Vino juga tahu tentang hubungan Melati dan Dariel. Dan agar tidak menimbulkan skandal yang tidak perlu pada artis barunya, dia ikut menyembunyikan hal itu.
“Jadi gimana, Mel?” tanya Vino.
Melati sedari tadi hanya duduk tegap dan terdiam. Pandangannya lurus ke bawah tanpa ada keinginan untuk menatap lawan bicaranya.
“Saya juga tidak tahu.” Jawab Melati.
“Sama seperti Kak Acha. Saya juga baru tahu semalam.” Lanjutnya.
“Tuh kan! Pacarnya aja gak tahu, apalagi saya?” seloroh Acha sambil menyenderkan pundaknya di bantalan sofa.
Vino memijat-mijat dahinya yang berkerut. Rasanya dia mulai pusing karena memikirkan hal ini.
“Saya minta kalian cepat minta penjelasan ke pihak sana. Dan saya akan memberikan kesempatan untuk kalian memberi keputusan. Dan tolong pikirkan baik-baik.”
Acha tak menyangka ternyata Vino selunak ini. Tahu begitu, dari dulu dia melakukan ini saja. Toh dia juga sudah tidak ingin lagi berada di agensi yang tak terlalu menguntungkan baginya ini.
“Kalau begitu, sekarang kalian keluar dan ingat-ingat kata-kata saya tadi. Jangan sampai gegabah.” Pesan Vino.
“Ok.” Jawab Acha.
“Baik, Pak.” Jawab Melati.
Mereka pun bangun dari duduknya. Sebelum Acha, Melati sudah lebih dulu keluar dari ruangan itu. Dia nampak sangat terburu-buru. Acha pikir, mungkin karena dia sangat sibuk hari ini.
“Cha, sebentar.” Vino menyetop Acha yang sudah berada di ambang pintu ruangan.
“Ada yang ingin saya tanyakan.” Lanjutnya.
Acha pun membalik badannya.
“Monggo.” Kata Acha.
Vino menatap Acha dengan tajam. Rasa penasaran dan curiga jelas nampak dari sorot matanya yang licik.
“Sejak kapan kamu tahu kalau Melati dan Dariel berpacaran?”