Chapter XXIV

1169 Words
Wartawan itu senang karena pulang dengan membawa berita yang cukup menarik. Bukan hanya tentang keterlibatan Acha di sinetron terbarunya, tetapi juga tentang Dariel. “Kenapa kamu bohong?” tanya Dariel pada Acha begitu mobil mereka melaju di jalanan. “Aku tadi salah ngomong toh... bukannya kamu emang sedang mempelajari bisnis dunia hiburan?” Acha balik bertanya. Sekarang Dariel yang bingung kenapa ceritanya tiba-tiba menjadi seperti itu. Dia pikir seharusnya Acha tahu bahwa tujuannya datang ke lokasi syuting adalah agar Juwono mau memberikan kesempatan pada Melati. Dan karena itu dia mencoba dengan memberikan investasi pada sinetron maupun film yang disutradarainya. “Gini deh, Kakakkuh yang ganteng. Memangnya kamu main investasi aja gak pake belajar tentang film gitu?” jelas Acha. Dariel menjentikkan jarinya. Kini dia paham maksud Acha. “Emang gak salah sih kalau aku masih belajar bisnis entertainment. Tapi, tadi tuh kesannya kayak aku mau bikin perusahaan entertainment.” Ujar Dariel. “Ya kenapa gak bikin aja?” celetuk Acha. Sejenak Dariel berpikir, kemudian berkata, “Iya juga ya.” Tak terasa mereka telah tiba di apartmen Acha. Mobil Alphard biru itu berhenti tepat di depan loby apartmen yang cukup mewah itu. “Hm? Itu bukannya asistennya mamaku ya?” mata Dariel tertuju pada seorang pria jangkung yang berdiri di samping pintu loby. Di salah satu tangannya, tertenteng sebuah kresek besar dengan tulisan besar ChicKING’s Chicken. Pria itu terus-terusan melirik jamnya. Kelihatan sekali kalau dia sedang menanti seseorang. “Pak Ryo ngapain ke sini ya?” Acha juga ikut penasaran. Acha membuka pintu mobil, kemudian turun dari sana. Tak lupa dia membawa barang-barangnya di belakang yang sudah diambilnya lebih dulu dari asrama. Untung saja barang-barang yang dia bawa hanya beberapa baju ganti dan make up yang muat hanya dengan koper berukuran sedang. Jadi, tanpa Lina pun dia bisa membawanya. Namun sepertinya Dariel tidak sependapat. Merasa Acha sedang kerepotan, Dariel lalu turun juga dari mobil bermaksud untuk membantu Acha. “Ih, segini mah biasa aja kali.” Ujar Acha saat sebuah tangan ikut mengambil kopernya hingga turun ke lantai. Gadis itu menengok ke arah pemilik tangan itu. “Pak Ryo?” Pria sipit itu menyunggingkan senyumnya dengan lembut. Saking lembutnya, Acha sampai hampir terpana. “Saya bawakan sampai ke atas.” Kata Ryo. “Nggak usah, Pak.” Tolak Acha yang tak dihiraukan oleh pria itu. Dariel yang terlanjur turun hanya bisa terdiam melihat Ryo yang sedang membawa koper Acha menuju ke dalam apartmen. Dia perhatikan Acha juga tak berbeda dengannya. Hanya ekspresinya saja yang agak terlihat risih. “Mau aku temenin ke atas, Kak?” tawar Dariel. “Ja...” hampir saja Acha menolaknya, tetapi dia pikir ini adalah kesempatan untuk lebih dekat lagi dengan Dariel. “Ok!” sahut gadis itu. “Aku parkir dulu bentar.” Kata Dariel. Diparkirkannya mobil alphard besarnya di parkiran pengunjung apartmen yang tak jauh dari sana. Tak butuh waktu lama, Dariel pun kembali ke pintu loby untuk bertemu Acha. “Ayok!” ajak Acha seraya masuk ke dalam gedung. Tidak ada yang tahu bahwa ini adalah awal dari suasana canggung yang melanda apartmennya. Kini, mereka bertiga sudah duduk di ruang tengah. Sudah bermenit-menit mereka diam begitu saja tanpa ada orang yang memulai obrolan. Dariel sedari tadi memperhatikan perabotan dan hiasan yang ada di rumah Acha. Dia begitu takjub dan tertarik dengan banyaknya pokemon di rumah itu dari yang dia kenal sampai yang baru pertama kali dia lihat. Sebetulnya dia ingin melihat figure Pokemon yang ada di lemari kaca, tetapi dia merasa tidak enak. Apalagi ini adalah pertama kali dia datang ke sana. “Kamu suka banget Pokemon kayaknya.” Akhirnya Acha merasa agak lega karena ada yang memulai pembicaraan. “Iya.” Jawab Acha. “Betul sekali, Mas. Dan Pokemon favorit Mbak Acha adalah Bulbasur.” Tambah Ryo yang membuat Acha menengok ke arahnya. Bagaimana bisa pria ini tahu pokemon mana yang paling dia sukai? Begitu pikir Acha karena dia tidak merasa pernah memberitahu Ryo tentang kecintaannya pada makhluk fiksi berwarna hijau itu. “Oh, ya? Kalau aku suka Jiglipuff.” Tanggap Dariel sambil mengambil boneka bulat warna pink di sebelahnya. “Wow!” kagetnya. “Kenapa? Terlalu feminin ya? Tapi, Jiglipuff itu hebat, loh. Kalau dia udah nyanyi, susah banget ngalahinnya.” Dariel memberi alasan. “Iya lah! Orang pada ketiduran kalau dia nyanyi.” Sahut Acha. Dari situ, dimulailah obrolan tentang Pokemon antara Acha dan Dariel. Tidak disangka keduanya memiliki kesamaan yang cukup unik. Sementara Ryo, dia masih tetap diam saja sambil membuka bungkusan ChicKING’s Chicken yang dibawanya. “Saya pamit ambil piring dulu ya, Mbak.” Ryo meminta izin. “Ok.” Jawab Acha. Kini fokus Dariel berganti menuju Ryo. Dia merasa Ryo sudah sangat terbiasa berada di apartmen ini. Bahkan dia tahu di mana letak piring Acha. “Mas Ryo udah pernah ke sini, Cha?” tanya Dariel pada Acha. Gadis itu memiringkan kepalanya, lalu menjawab, “Udah beberapa kali, sih. Kamu jangan bilang-bilang, ya.” Acha mendekat pada telinga Dariel. “Kayaknya dia naksir sama asistenku, si Lina.” Bisik Acha. Dahi Dariel berkerut karena terkejut. Dia tak menyangka asisten ibunya yang dia pikir pendiam dan dingin ternyata sedang jatuh cinta. “Tapi asistenmu kan lagi gak ada. Kok dia di sini?” tanya Dariel dengan suara yang pelan juga. Sambil melirik ke arah Ryo, Acha kembali berbisik, “Kayaknya dia gak tahu kalau Lina lagi cuti.” Dariel hanya mantuk-mantuk menanggapinya. “BABA(1)!!” Terdengar suara bentakan Ryo dari arah dapur yang membuat Acha dan Dariel terperanjat. Saat mereka mendekatinya, ternyata Ryo sedang berbicara di telfon dengan badan yang membelakangi mereka. Salah satu tangannya berkacak pinggang dan sesekali mengusak-asik rambut klimisnya. “Kan aku udah bilang kalau ga usah ikut campur, Mbok! Tinggal nunggu doank! Sabar aja ngapa, sih?” bentaknya sekali lagi. Ryo menengokkan badannya dan saat itu dia baru sadar kalau dia sedang di rumah orang lain. Tanpa sengaja dia sudah berbuat seenaknya saja. “Ada apa, Pak?” tanya Acha. Pria jangkung itu mematung karena merasa bersalah. “Eh, suara wedok sopo kui?” sayup-sayup terdengar suara wanita berlogat jawa dari ponsel yang Ryo pegang. “Bukan siapa-siapa.” Jawab Ryo. “Ciieee! Akhirnya punya cewek juga nih bocah tengik.” ujar perempuan itu lagi, kali ini dalam bahasa Jepang. Rasa-rasanya Acha pernah mendengar suara itu entah di mana. Kesannya sangat familiar. “Kasih teleponnya ke dia donk, Ryo!” teriak perempuan itu lagi. “Ogah! Gak usah ngawur, deh!” balas Ryo. Berkali-kali Acha mengedipkan matanya. Kurang lebih dia tahu apa yang mereka bicarakan dan menurutnya ini memang sungguh mengagetkan. Bukan karena volume bicaranya. Tetapi, karena dia tidak menyangka Ryo yang biasanya sopan padanya bisa berbicara kasar dengan bahasa lain. Iya. Cara bicara mereka itu sangat kasar dan tidak boleh ditiru. Terjemahan yang kalian baca saat ini sudah diamplas supaya lebih halus dan layak terbit. “Hay, Sayang! Saya ibunya Ryo! Boleh kenalan gak?!” teriak perempuan di telfon itu. Rupanya perempuan itu juga bisa berbahasa Indonesia. Suara teriakannya begitu keras sampai-sampai Ryo menjauhkan ponselnya dari telinga. “Okaa-sama!!” rajuk Ryo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD