Sudah dua hari ini Acha menginap di penginapan dekat lokasi syuting. Karena ini dia sama sekali belum bertemu dengan Dariel. Tapi, tidak hari ini. Malah rencananya pria itu akan datang ke lokasi syuting siang ini setelah Acha meminta.Awalnya Dariel ragu-ragu, kemudian setelah memastikan jadwalnya longgar hari ini dia pun setuju. Apalagi tujuan tersembunyinya kalau bukan untuk berbicara dengan Juwono. Pria itu dengan serius ingin membuka jalan untuk kekasihnya. Acha sendiri memanfaatkan keinginan ini untuk jadi lebih dekat dengan Dariel.
Kini tinggal lima belas menit lagi sebelum waktu istirahat makan siang. Acha yang sudah tidak ada scene hari ini duduk di kursi teras ruang kelas. Berkali-kali diliriknya gerbang sekolah yang bisa langsung dilihatnya dari sana. Tetapi yang dia harapkan belum kunjung datang.
“Oi!” sebuah colekan diiringi dengan suara pria yang cukup dalam mengagetkan Acha.
“Lah! Kok datengnya gak kelihatan? Sejak kapan sampai?” tanya Acha.
Dariel kemudian duduk di samping Acha. Dilingkisnya kedua lengan kemejanya sampai sesiku karena panas. Di saat seperti itu, Dariel terlihat agak berbeda di mata Acha. Selama ini, selama bertemu dengannya pasti Dariel sedang berpakaian rapi atau sedang berpakaian olah raga. Apalagi rambutnya yang saat ini agak berantakan, membuat Acha tanpa sadar memegangnya dan mengusapnya.
Sekejap Dariel terperanjat, lalu dia bertanya “Apa sih, pegang-pegang?”
Saat itu juga Acha tak kalah terperanjatnya dengan Dariel. Ditariknya kembali tangan yang sedang mengusap rambut pria tampan itu.
“Sori. Gatel banget liat rambut kamu.” Ucap Acha canggung.
“Halah. Gatel liat rambutku apa gatel liat aku, Kak? Eh... dek!” goda Dariel.
“Kamu tuh yang kegatelan!” hardik Acha sambil menoyor pundak Dariel yang super keras.
“Eh, jawab dulu! Sejak kapan sampai? Tadi aku gak liat kamu di gerbang.” Lanjutnya.
Dariel menunjuk ke arah yang berseberangan dengan gerbang yang dimaksud Acha tadi, lalu menjawab, “Emang kamu gak tahu kalau gerbang sekolah ini ada dua?”
“Eh, iya juga ya.” Acha menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Sekarang karena orang yang dia tunggu sudah datang, Acha berdiri dari duduknya.
“Yuk!” ajaknya.
“Mau ke mana?” tanya Dariel.
Acha mendengus, lalu menjawab, “Ya ketemu sama Mas Ju lah! Aku tinggal, nih.”
Kemudian, Dariel juga ikut berdiri dan mengikuti langkah Acha.
Sampai di setting sinetron, mereka ternyata masih harus menunggu lagi karena masih ada adegan yang perlu diambil.
“Love Knot? Tali Cinta... hm... judulnya klise banget.” Komentar Dariel yang melihat sebuah naskah skenario tergeletak di atas meja putih dekat mereka berdiri.
“Judul kayak gitu tuh yang bakal bikin penonton lihat tahu.” Bela Acha yang tak mau sinetronnya diejek.
“Hmm... kali ini bakal tayang di mana?” tanya Dariel.
“TvL mulai tanggal 30 September pukul 18.00 WIB. Jangan lupa nonton, ya biarpun lagi di jalan!” Acha mempromosikan diri.
“Iya deh, Adik Tua.” Sahut Dariel yang membuat Acha menggembungkan pipinya.
Jujur saja Acha agak sebal dibilang tua. Apalagi dibilang muka tua. Padahal akhir-akhir ini Acha juga menyebut Dariel dengan muka tua. Tetapi, sebetulnya itu adalah bentuk pelarian Acha dari kenyataan hidupnya.
Sebetulnya wajah Acha tidak bisa dikatakan muka tua sama sekali. Dia tumbuh dengan visual yang sesuai umurnya. Hanya saja, ada salah seorang yang seumuran dengannya, yang tak lain adalah Aika yang saat ini berperan sebagai murid sekolahan. Padahal Acha berperan sebagai guru. Menurut Acha, ini adalah sebuah ketidak adilan.
Dariel membuka-buka naskah itu dan membacanya dengan seksama. Di luar dugaannya, ternyata sinetron ini memiliki cerita yang cukup menarik. Dia sampai terlena dan terus membacanya sampai beberapa halaman. Sayangnya, kegiatannya itu terganggu karena tangan Acha yang menghalangi bacaannya.
“Bacanya sampai situ aja ya, Kak. Soalnya itu spoiler.” Kata Acha.
Terpaksa Dariel menutup buku naskah itu dan menaruhnya kembali ke atas meja.
“Loh, Cha? Belom pulang lo?” Juwono muncul dari belakang Acha.
Pria berbadan tambun itu pun bertemu mata dengan Dariel. Seketika ekspresinya berubah masam.
“Siang, Mas Juwono.” Sapa Dariel.
“Siang.” Jawabnya jutek.
Pandangan Juwono berpindah pada Acha. Tangannya memberi kode pada Acha untuk mendekat.
“Cha, ngapain ini sales datang ke mari?” tanya Juwono dengan suara yang cukup besar agar Dariel mendengarnya.
Acha terpaksa menahan tawanya. Bagaimana tidak? Seorang bos dari perusahaan besar dibilang sales.
“Dia cuma mau jemput aku, kok. Kan Lina lagi cuti hari ini.” jawab Acha.
“Yakin jemput doank? Kok pake jemput lo segala?” tanya Juwono lagi.
“Ya gak tahu.” Acha menaikan pundaknya, lalu dia memanggil, “Kak! Sini, deh!”
Merasa dipanggil, Dariel pun mendekat pada Acha.
“Nah, silakan.” Acha lalu mundur.
Juwono yang merasa dijebak hanya bisa melotot. Bisa-bisanya Acha kabur di saat dirinya sedang dalam masalah.
Setiap orang memiliki kelemahan. Dan bagi Juwono, kelemahannya adalah salesman. Setiap kali ada sales yang menawarkan barang dagangannya, dia pasti akan langsung menghindar. Apalagi pada sales yang senyum bisnisnya sangat kentara. Bagi Juwono, senyum sales lebih seram dari senyum Godzilla yang entah pernah tersenyum atau tidak.
Jadilah, karena jebakan Acha, Juwono tidak bisa berkutik dan terpaksa mendengar tawaran bisnis dari Dariel.
“Jadi begini, Mas. Rencananya saya ingin berinvestasi untuk sinetron ini. nanti... bla bla bla.” Dan dimulailah kuliah bisnis Dariel selama setengah jam.
Acha melihat Juwono yang sedang menderita sambil menutup mulutnya yang tak tahan lagi untuk tertawa.
“Apa sih, ketawa sendiri, Say?” Aika mengikuti arah pandangan Acha yang menuju Juwono dan Dariel.
“Wah, mas-mas itu lagi.” Ujar Aika.
Aika mengenali Dariel yang tempo hari juga datang ke lokasi syuting mereka. Bagaimana tidak? Pria itu memiliki ketampanan yang khas. Bisa dibilang wajahnya membuat orang lain susah lupa walaupun tidak ada perasaan apapun seperti suka ataupun cinta.
Sekitar lima belas menit kemudian, Dariel meninggalkan Juwono. Rupanya kuliahnya cukup singkat karena Juwono hanya menjawab seadanya.
“Yuk pulang!” ajak Dariel yang dijawab dengan anggukan oleh Acha.
“Duluan ya, Beb! Semangat syutingnya!” ujar Acha pada Aika.
“Iya, Say! Ati-ati, ya!” jawab Aika sambil melambaikan tangan.
Mobil Dariel ternyata tidak terlalu jauh dari setting tadi. Tinggal belok sedikit, lalu mobilnya pun langsung terlihat. Tetapi, nampak seorang pria yang berdiri menyandar mobil sambil membawa kamera di sebelah mobil itu.
“Kamu bawa temen, Kak?” tanya Acha.
“Nggak.”
Mereka pun mendekat ke mobil itu dan pria itu langsung siap sedia.
“Sebentar, Kak Acha. Saya Saiful wartawan dari Eenfotainment TvL, apa boleh saya wawancara sebentar?” tanya Acha.
“Maaf, tapi...” tolak Dariel.
“Nggak papa.” Acha mencegah tolakan Dariel.
“Dia dari stasiun TvL kok. Gak mungkin lah mereka jatuhin sinetron sendiri.” Jelasnya pada Dariel.
“Tapi di sini saja ya, Kak Saiful. Soalnya saya capek banget dari semalam belum istirahat.” Lanjut Acha.
“Ok, Kak.” Sahut Saiful.
Dalam sekejap Saiful sudah mendapatkan berbagai informasi mengenai Acha dan perannya di sinetron Love Knot. Dia juga mendapatkan informasi tentang sedikit spoiler cerita sinetron itu.
“Yang terakhir, Kak Acha. Saya boleh tanya hubungan kalian gak? Kan kalau gak salah Kakak ini putera dari Bu Sarah yang merupakan pemilik Hardiansyah Group. Lalu, sejak kapan kalian kenal?”
“Kamu...” Dariel merasa geram.
Tangan Acha memegang pundak Dariel untuk menenangkannya.
“Santai aja, Kak. Jawab seadanya aja lah.” Kata Acha.