Hari yang ditunggu pun tiba. Yang mana iklan produk kecantikan pertama Acha akan ditayangkan. Bersama itu pula eyeshadow seri terbaru dari Hbeauty pun diluncurkan di pasaran. Hbeauty sangatlah populer di kalangan pecinta make up. Pasti seri terbaru ini akan laris manis. Ditambah lagi dengan Acha yang menjadi bintang iklannya.
Setengah jam sebelum jam masuk kantor, iklan itu juga ditayangkan di salah satu cabang Hardiansyah Group. Setiap kali ada karyawan yang melewati loby, untuk sekilas mereka akan melihat iklan yang ditayangkan di televisi besar itu. Bahkan ada yang akhirnya malah diam menonton saking terpananya dengan pesona Acha.
Salah satu orang itu adalah Dariel. Kalau untuk Dariel, mungkin kata agak terpesona kurang tepat. Dia lebih merasa penasaran pada hasil dari syuting iklan yang tempo hari dia datangi lokasinya.
Waktu itu Dariel hanya melihat Acha mengenakan dress pendek warna hijau. Dia tidak tahu kalau saat itu Acha juga mengenakan busana yang lain. Jujur saja Dariel cukup terpukau. Tak dia sangka iklannya akan sebagus ini. Dan dia juga tidak menyangka teman kecilnya bisa semenawan ini.
“Pfft...” Dariel menahan tawanya.
Tiba-tiba saja dia teringat hal-hal lucu tentang Acha. Menurut Dariel, Acha yang dia kenal adalah orang yang bisa dibilang unik. Kesan pertamanya setelah bertemu kembali saja sudah membuatnya tertawa setiap kali diingat. Tetapi, kalau dipikir lagi sekarang Dariel merasa itu salah satu cara Acha untuk melatih kemampuannya di depan kamera.
Dan karena lagi-lagi terpikir hal itu, tawa Dariel semakin sulit ditahan. Sayang sekali dia adalah seorang atasan di kantornya, kalau tidak saat ini dia pasti sudah terbahan-bahak.
“Sadar, Riel!” gumamnya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Tiba-tiba terpikirkan sebuah ide di kepalanya. Dia ambil ponsel pintar di saku jas-nya, lalu membuka aplikasi kamera. Dia mengarahkan kamera ke layar tv yang cukup besar itu, kemudian memfotonya.
‘Heh! Masih pagi udah bikin galau orang sekantor!’ pesan itu Dariel kirim kepada Acha bersamaan dengan foto tadi.
Sesudahnya, Dariel pun mengayunkan kakinya menuju elevator khusus atasan untuk menuju ruangannya. Saat pintu elevator terbuka, ia segera masuk dan memencet beberapa tombol. Tidak ada orang lain yang naik bersamanya, jadi dia sendiri yang melakukannya.
‘Ping!’
Tanda pesan datang berbunyi. Ternyata itu adalah pesan dari Acha.
‘Cieee... berarti kakak Dariel juga galauin aku donk. Kalau Melati tahu, aku dijambak gak ya?’ Begitu pesannya.
“Hahaha.” Dariel berani melepaskan tawanya karena dia sendirian.
‘Gede rasa. Dasar adik tua!’ balasnya.
Pintu elevator pun terbuka. Dariel segera keluar dari sana dan kembali berjalan beberapa langkah sampai masuk ke ruangan paling pojok.
“Selamat pagi, Pak Dariel. Sepertinya Bapak sedang senang sekali.” Sapa Hani, salah satu sekretarisnya.
“Selamat pagi, Han. Yah... lumayan lah di depan ada yang bikin seger.” Jawab Dariel yang kemudian langsung masuk ke dalam.
Hani menebak, mungkin Melati mengantarkan bosnya ini sampai depan. Di kantor ini semua tahu kalau Melati dan Dariel adalah pasangan yang sangat mesra. Jadi, Hani merasa bahwa Melati lah yang membuat Dariel memiliki mood yang bagus pagi ini.
Bicara tentang mood yang bagus, Sarah juga tak kalah senangnya. Acha memberi laporan padanya bahwa sudah lebih dari seminggu mereka sering chattingan. Bahkan bisa dibilang isi chatnya seperti teman yang sudah sangat dekat. Sarah yakin, misi mereka akan segera berhasil.
Selama di perjalanan, sejumlah reklame bergambar wajah cantik Acha terpasang. Seperti halnya sang putera, Sarah juga tersenyum-senyum melihat wajah itu.
“Bu Sarah. Kalau boleh saya bertanya, apa Bu Sarah serius ingin menjodohkan Mas Dariel dan Mbak Acha?” tanya Ryo di kursi pengemudi pada Sarah yang duduk di kursi mobil belakang.
“Dia cantik, baik, dan lucu. Selain itu dia juga cerdas. Sayangnya... dia agak susah ditebak.” Jawab Sarah.
“Yah... setidaknya dia lebih baik dari anak pela*cur itu.” lanjutnya.
Tak ada tanggapan dari Ryo. Hanya saja seutas senyum tipis tersungging di wajahnya.
“Kenapa tiba-tiba kamu tanya?” Sarah balas bertanya.
“Tidak ada apa-apa, Bu. Hanya sekedar memastikan untuk langkah saya ke depannya.” Jawab Ryo.
“Hmph!” sungut Sarah.
Mata Sarah kembali ke arah jalanan yang cukup ramai. Setelah obrolan tadi, mereka kembali diam hingga mobil akhirnya terhenti di parkiran kantor.
Ryo pun turun dari mobil, lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu belakang agar Sarah bisa keluar. Tadinya mereka akan segera masuk ke dalam gedung bersama, tetapi bunyi telfon menunda Ryo.
“Maaf, Bu. Sepertinya ada telfon.” Pamit Ryo.
“Ya sudah. Saya duluan.” Sahut Sarah.
Dia mengangkat telfon itu segera setelah Sarah meninggalkannya.
“Halo, Okaa-sama(1).” sapa Ryo dalam Bahasa Jepang.
“Halo, Ryo. Okaa-sama dengar dari Aika, katanya kamu lagi suka seseorang. Apa betul?” tanya sang Ibu.
Ryo memutar bola matanya. Mulut adiknya itu benar-benar tidak bisa dijaga. Sedikit-sedikit langsung lapor pada Ibunya.
“Ryo kan udah mau lewat 30 tahun, bagaimana kalau segera mencari istri? Dengan begitu kami juga jadi tenang.”
Anak lajang mana yang tidak berat bernapas setiap kali ditanyakan hal seperti ini. Begitu juga Ryo yang sebetulnya juga sedang berusaha mendapatkan hati orang yang dicintainya.
“Kalau di Jepang mungkin sekarang sudah jam sebelas lebih. Tapi di sini masih jam sembilan, Okaa-sama-ku tersayang. Saya akan putus telfonnya. Pekerjaan saya masih banyak sekali. Maaf.” jawab Ryo yang benar-benar langsung mematikan telfonnya.
Dia pikir sudah tidak ada yang akan mengganggunya lagi, tetapi ternyata sang ibu kembali menghubunginya.
“Oi! Teme(2)! Orang tua lagi ngomong, kok telfonnya diputus? Okaa-sama tempeleng kamu. Mau kamu hah!? Dasar bocah gak ngerti sopan santun!” seru Ibu Ryo dengan suara yang begitu memekik.
Dan keluarlah sifat asli sang Ibunda yang galak dan suka berbicara kasar. Ini bukan pertama atau kedua kalinya Ryo mendengar amukan Ibunya, tetapi pekikan suaranya itu benar-benar selalu membuatnya kaget. Apalagi dengan logat Surabaya-annya yang selalu keluar setiap kali dia mengamuk dengan bahasa apapun.
“Okaa-sama. Bukannya saya tadi sudah minta maaf? Di sini saya sedang sibuk sekali. Kan Okaa-sama sendiri yang suruh saya ke sini.”
Lalu, sekali lagi Ryo menutup telfonnya tanpa mendengar balasan ibunya. Dan kali ini bukan hanya menutup telfon, tetapi Ryo juga mematikan ponselnya. Dia yakin kalau tidak begitu, ibunya akan menelponnya lagi. Ryo paham sekali bahwa Ibunya begitu kangen padanya dan Aika, tetapi beliau selalu saja menelpon di waktu yang tidak seharusnya. Dan ini membuat mereka kerepotan.
Dia memasukan ponsel itu ke dalam saku, lalu mengambil ponselnya yang satu lagi di saku yang lain.
‘Hari ini jangan kira lo bakal selamat, Aika...’ tulisnya dalam pesan.
Setelah itu Ryo akhirnya bisa dengan tenang masuk ke dalam gedung.