Sungguh sabtu pagi yang cerah. Hanya saja ingin rasanya Acha membanting timbangan berat badannya pagi ini. Hanya karena lima potong ayam kemarin malam, berat badannya nyaris naik sebanyak 3 kilogram. Yang membuatnya lebih marah lagi, Lina yang makan sampai enam potong tidak naik berat badan sama sekali.
“Tapi gak keliatan kok, Kak.” Hibur Lina pada Acha yang masih berlari di atas tread mill.
“Gak mungkin, Lin. Ini pipiku aja jadi gembung gini.” Sanggah Acha.
“Salah siapa makan malem jam 9?” gumam Lina lirih.
“Ya salah yang gak update jadwal lah!” jawab Acha yang ternyata mendengar gumaman Lina.
Tak ada pembelaan yang bisa Lina katakan. Kemarin memang salahnya yang tidak melihat pesan dari David yang mengabarkan perubahan jadwal. Di jadwal awal mereka akan mulai pemotretan pukul 10 malam, tetapi ternyata jamnya dimajukan ke pukul 7 malam. Padahal mereka baru selesai syuting pukul 6 sore dan jarak lokasi syuting dan studio memakan waktu kurang lebih satu jam dengan mobil. Mana sempat mereka makan.
“Iya, deh. Maaf...” sesal Lina.
Entah tread mill ini alat keberapa yang Acha coba dari deretan alat weigh lifting sampai beberapa gerakan aerobik sudah dicobanya. Tetapi, Acha belum juga merasa puas hingga tak terasa waktu telah lama bergulir.
Begitu mengecek jam di ponsel pintarnya, Lina kembali berkata, “Bentar lagi waktunya ke lokasi syuting, Kak. Pulang yuk.”
Acha lalu mematikan mesin lari otomatis itu. Sambil mengusap peluh dengan handuk di lehernya, Acha pun turun dari mesin itu.
“Hari ini di lokasi katanya ada catering makan siangnya, jadi aman. Atau kakak mau beli makanan lainnya?” tanya Lina.
“Gak usah lah. Mubazir kalau cateringnya gak dimakan.” Jawab Acha.
Mereka akhirnya beranjak dari gym setelah puas membuang peluh selama lebih dari dua jam. Tak lupa Acha memakai topi, kacamata dan masker agar tidak ada yang tahu bahwa dia adalah Acha Juniatha, sang artis terkenal.
Bagaimanapun gym yang mereka datangi berada di dalam mall. Apalagi ini week end. Pasti banyak sekali pengunjung yang datang untuk berbelanja atau sekedar jalan-jalan menghilangkan penat. Kalau tidak menggunakan penyamaran, bisa-bisa mereka terlambat pergi ke lokasi karena harus menghadapi fans Acha.
Melalui elevator, mereka turun menuju lantai atas mall tempat mobil mereka diparkir. Beberapa orang yang kebetulan naik bersama mereka terdengar berkusuk-kusuk.
Lina berpikir, ternyata benar perkataan Acha tempo hari bahwa tidak ada seleb yang bisa bersembunyi hanya dengan tiga item penyamaran. Kacamata, topi dan masker semuanya percuma saja dipakai. Semua itu tidak bisa menyembunyikan aura mereka. Tetapi, dengan memakai pakaian seperti itu setidaknya bisa memberikan kode pada orang lain. Kode bahwa sang selebriti tidak mau diganggu orang lain.
Beruntung orang-orang itu turun di lantai sebelum tujuan Acha dan Lina. Lalu, kini mereka sampai di lantai paling atas.
Saat pintu elevator terbuka, mereka berpapasan dengan sepasang kekasih yang mereka kenal. Pasangan yang belakangan ini paling sering mereka bicarakan secara diam-diam.
“Lho? Dari nge-gym, Kak?” tanya Dariel saat sadar bahwa orang di depannya adalah Acha.
“Iya, nih. Duluan ya, Kak!” Jawab Acha sambil melangkah keluar dari box besi itu dan berikutnya giliran Melati dan Dariel yang masuk ke dalamnya.
“Ok. Ati-ati di jalan.” ujar Dariel sambil melambaikan tangan.
Acha mundur dan membalas lambaian tangan itu, lalu berseru, “Bye, Mel! Bye, Kakakkuh! Selamat olah raga!” kemudian pergi menuju mobilnya disusul oleh Lina.
Seperti biasa, Lina lah yang mengemudi dan Acha kali ini memilih untuk duduk di kursi depan.
“Kok kita langsung cabut sih, Kak?” tanya Lina sambil menyalakan mesin mobil.
Senyum licik tersungging di bibir Acha.
“Satu. Kalau kita ngobrol dulu di sana, kita bakal telat ke lokasi.” Acha mengacungkan jari telunjuknya.
“Dua. Nanti rencana kita terlalu kentara. Terus ketahuan, deh. Gagal kita.” Lanjutnya.
Lina mengangguk paham. Rupanya jalan pikirannya terlalu simple. Dan dia juga baru ingat kalau mereka tidak ada rencana sama sekali untuk bertemu dengan sepasang sejoli itu. Mereka ke mall ini murni karena Acha yang memaksa harus turun berat badan hari ini.
“Sejak kapan kamu makin akrab sama Kak Acha?” tanya Melati setelah Acha dan Lina pergi.
Dariel memencet beberapa tombol elevator. Kotak besi seluas 2,25 meter persegi itu pun membawa mereka turun ke lantai yang lebih rendah.
“Hm... Ceritanya lumayan panjang, sih...” Dariel agak ragu untuk menjelaskan. Tetapi kekasihnya nampak sangat penasaran.
“Jadi, beberapa hari lalu kami ketemu... gak sengaja pas jemput mama. Terus ngobrol, deh. Eh, ternyata kami tuh pernah ketemu pas masih SD. Akrab banget malah.” Jelas Dariel.
“Oh, ya?” Melati cukup terkejut.
“Tapi, yah... namanya udah belasan tahun lalu. Aku sama Kak Acha sama-sama lupa. Baru inget pas Kak Acha ngomongin ayahnya yang dulu tanganin operasi mama pas keguguran adekku.” Tambah Dariel.
“Oh... Kok Kak Acha sampai panggil kamu pake ‘Kakak’?” tanya Melati lagi.
Dari pertanyaan itu Dariel mulai sadar. Agaknya kekasihnya ini sedang cemburu. Kalau seperti ini rasa-rasanya Dariel ingin menggoda Melati.
“Soalnya dulu aku sama Kak Acha itu semacam Kakak-Adek zone. Dan aku kakaknya. Lucu banget. Dulu saking manisnya Kak Acha, aku iyain aja jadi kakaknya.” Beber Dariel.
Dahi Melati mengerut dengan alis yang terangkat. Dia tak percaya Dariel tega bercerita tentang gadis lain di depannya. Apalagi sampai memuji gadis itu dengan sebutan ‘manis’.
“Tapi, kayaknya wajah kamu yang lagi cemburu lebih manis.” Dariel menggombal.
Spontan saja wajah Melati merah redam. Tangannya mengipas-ipasi wajahnya agar tak terlalu panas. Sungguh pria yang seharusnya menjadi kakaknya ini pandai sekali berkata-kata. Padahal tadi amarahnya sudah mulai tersulut, tapi sekarang api lain yang seakan membakar pipi dan hatinya.
Melati sadar seharusnya dia tidak seperti ini. Apalagi dia tahu sedari awal bahwa Dariel adalah kakak kandungnya. Akan tetapi, perasaannya pada pria ini tak bisa diredam. Melati terlanjur jatuh ke dalam jurang bernama cinta. Dan sayangnya, jurang itu adalah jurang terlarang dengan landasan berbatu tanpa tanaman apapun yang bisa menghindarkannya dari luka.
Karena itu lah Melati bertekad akan terus merahasiakannya. Tidak ada yang boleh tahu tentang siapa dia sebenarnya. Dan dia juga tidak ada niat sama sekali untuk memberi tahu siapapun. Melati hanya bisa berharap bahwa ini adalah rahasia yang hanya dia dan tuhan ketahui.
*
Acha dan Lina masih berada dalam mobil yang berjalan menuju lokasi syuting. Selama perjalanan, mereka ditemani lagu-lagu favorit mereka yang terdengar dari pemutar musik di ponsel Acha. Tiba-tiba, sebuah pesan mengganggu keasyikan mereka bernyanyi bersama.
‘Maaf, Mbak. Saya tidak memberi tahu lebih dahulu kalau Mas Dariel akan ke gym. Sayang sekali. Padahal tadi kalian bertemu.’
“Elah. Ternyata calon pacarnya Lina yang kirim pesan.” Ujar Acha.
“Apa sih, Kak!?” seru Lina risih. Belakangan artisnya ini sering sekali menggodanya dengan mengatakan bahwa Ryo menyukainya.
‘Gak papa, Pak. Saya juga sebenarnya mendadak saja ke gym hari ini.’
“Kirim.” Ucap Acha setelah membalas pesan dari Ryo.
Belum juga dua detik pesan terkirim, Ryo sudah membalas.
‘Sekali lagi maaf.’
Acha mengerutkan dahinya. Dia berpikir bahwa Ryo adalah orang yang terlalu serius. Padahal ini hal biasa saja. untuk apa dia sampai minta maaf sebegitunya? Lagi pula siapa juga yang bisa mengira kalau mereka akan bertemu hari ini?
“Wait...” seketika sebuah pikiran terlintas di kepala Acha tentang Ryo.
“Kok Pak Ryo bisa tahu kalau kita ketemu sama Dariel dan Melati?”