Tertulis nama Acha Juniatha di user name pengirim pesan itu. Tadi siang, mereka berdua memang telah bertukar kontak dan saling mengirim pesan, walau sekedar kata ‘hai’. Saat ini sepertinya teman lama yang kembali dia temukan kembali juga bernasib sama dengannya. Sama-sama terjebak pekerjaan.
Dariel kembali duduk di kursi tempatnya bekerja tadi. Sambil menunggu PC-nya kembali menyala, Dariel membalas pesan dari Acha.
[Jangan remehkan pekerja kantoran. Aku aja sampai bawa kerjaan ke rumah.]
Tak lama kemudian, Acha kembali mengirimkan pesan.
[Iya deh, Bos Besar... Semangat! Adikmu juga mau cari uang dulu.]
Pesan itu disusul dengan sebuah sticker bergerak dengan gambar Pikachu yang membawa bendera sambil tertawa seolah memberi semangat.
“Semangat juga, Adik tua!” Dariel mengucapkan pesan yang dituliskannya untuk Acha.
Lalu, dengan cepat pesan dari Acha kembali datang.
[Biarin lah. Dari situ pada muka tua.]
“Pfft.”
Ternyata mudah sekali mengembalikan mood seorang Dariel bagi Acha. Hanya ledekan sederhana saja sudah bisa membuat Dariel tersenyum dan sedikit melupakan penatnya. Kini pria itu kembali siap melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
*
Di seberang sana, Acha juga kembali meneruskan kegiatannya. Meski lelah, dia tetap harus bekerja demi cita-citanya. Kalau tidak begitu, percuma saja dia merengek-rengek pada ayahnya agar diijinkan keluar dari jurusan kedokteran.
Waktu menunjukan pukul sembilan malam. Dengan langkah tegap, gadis itu menuju ke depan kamera untuk menunjukan kebolehannya dalam berpose.
Beruntung ini adalah busana terakhir yang dia pamerkan hari ini. Jujur saja Acha cukup lelah hari ini. Sedari pagi begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukannya. Ditambah lagi perkerjaan sampingannya. Dia dan Lina juga belum sempat makan malam. Acha bertekad akan membeli beberapa potong ayam di ChicKING setelah ini, lalu tidur. Toh besok dia ada waktu senggang untuk olah raga. Jadi, tidak masalah kalau dia makan banyak malam ini.
Suara jepretan berbunyi beriringan dengan pergantian pose yang Acha tunjukan. Dia tidak mau melakukan kesalahan apapun yang akan memperlama waktu. Hingga akhirnya fotografer berkata, “Ok!” dan pemotretan pun akhirnya selesai.
Lina segera berlari untuk memberikan Acha jaket untuk melindungi bahu Acha yang terbuka dari hawa dingin AC studio.
“Mau liat dulu gak, Cha?” tanya sang fotografer.
“Gak deh, Bang. Yakin deh, kalau Bang David yang foto mah.” Jawab Acha sambil terburu-buru menuju ruang ganti karena ingin segera pulang.
“Awas nyesel lo!” seru pria bernama David itu. Sayangnya Acha tidak mendengar dan sudah tidak terlihat lagi di studio itu.
Acha pun dengan bantuan Lina melepas busana dengan punggung terbuka itu serta hiasan rambutnya yang cukup rumit. Setelah itu Acha memakai kembali pakaian kasualnya, lalu menghapus make up-nya sembarangan dan memoleskan kembali sedikit BB cream dan tinta bibir agar tidak terlihat pucat. Mungkin saja ada yang tiba-tiba memotretnya saat membeli ayam di ChicKING. Kalau dia sampai terlihat jelek, bisa-bisa penggemarnya minggat.
Beberapa menit kemudian Acha selesai ganti baju dan keluar dari ruang ganti. Seperti biasa, dia akan kembali ke studio untuk berpamitan sebelum pulang.
“Guys, hari ini makasih ya! Aku izin pulang duluan!” teriak Acha agar semua kru mendengarnya.
“YO’I! Titidije, Cha! Lina nyetirnya ati-ati!” seru David.
“Siap, Kak! Dah, Semuanya!” Lina ikut berseru.
“See you!” Acha menutup perjumpaan mereka hari ini.
Mereka berdua berjalan menuju parkiran yang ada di samping studio dengan semangat. Acha dan Lina sudah tidak sabar untuk makan dan istirahat.
Setelah merogoh saku jaketnya, Lina memencet tombol untuk membuka mobil. Tetapi, sebelum mereka masuk ke dalam, tiba-tiba mobil di sebelah mereka membunyikan klaksonnya.
‘Buum! Buum!’
Dari mobil sedan warna merah itu keluar seorang pria bermata sipit yang mereka kenal.
“Pak Ryo.” Sapa Acha.
Pria itu tersenyum, lalu mendekati mereka.
“Belum makan, kan?” Ryo sambil menunjukkan apa yang ditenteng di tangan kanannya.
Merasa melihat deja vu, Acha dan Lina pun tersenyum.
“Kok tahu?” tanya Acha.
Dagu Ryo menunjuk ke arah Lina.
“Tadi dia yang bilang.” Jawab Ryo.
Mulut Acha membulat membentuk huruf ‘o’ dengan sempurna. Matanya melirik bergantian menuju asistennya dan Ryo. Kelihatannya benar dugaannya beberapa hari ini bahwa ada ‘sesuatu’ yang terjadi di antara mereka berdua tanpa sepengetahuannya.
Untuk sekarang dia akan diam saja. Karena menurutnya, mungkin kedua orang ini belum sadar akan perasaan mereka masing-masing. Pikirnya nanti ini akan semakin menarik kalau mereka sudah saling sadar. Dan agar itu cepat terjadi, ada baiknya kalau Acha sedikit membantu mereka.
“Hm... Pak Ryo mau ikut kami ke apartmen? Kayaknya ayamnya gak bakal habis kalau cuma kami berdua.” Ajak Acha.
Ryo menggelengkan kepalanya.
“Mungkin lain waktu. Hari ini saya masih ada perlu.” Tolak pria jangkung itu.
“Aa...” Acha kecewa.
“Kalau begitu, saya permisi dulu.” Kata Ryo sambil menyerahkan kresek putih yang cukup besar itu pada Acha.
“Terima kasih, Pak. Maaf loh kalau kami ngerepotin.” Ucap Acha.
“Santai saja.” balas Ryo.
Ryo kembali masuk ke mobilnya. Setelah membunyikan klakson satu kali, dia beranjak keluar dari parkiran yang cukup luas itu. Meskipun mungkin Ryo tidak melihat, Acha melambaikan tangannya hingga mobil merah itu berbelok dan tidak terlihat lagi.
“Udah yuk, Kak. Balik!” ajak Lina.
Asisten pribadi Acha itu membuka pintu belakang mobil, lalu menaruh beberapa barang yang mereka bawa di sana. Tak lupa bungkusan ayam tadi juga dia taruh di sana. Acha sendiri sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang agar lebih nyaman. Setelah selesai dengan barang-barang mereka, Lina masuk ke kokpit pengemudi dan mobil mereka pun mulai melaju.
Sesekali Lina melirik ke arah spion yang memperlihatkan kursi belakang. Dahinya mengernyit saat melihat Acha tersenyum-senyum sendiri ke arahnya.
“Kak Acha lagi seneng ya? Kok senyum-senyum sendiri gitu?” tanya Lina.
Tak ada jawaban dari Acha. Hanya senyumnya saja yang semakin mengembang dengan alasan yang Lina tidak ketahui. Lina curiga jangan-jangan Acha kesambet.
“Kak, jangan serem gitu, ih!” ujarnya.
Tetapi senyuman Acha belum juga terhenti.
“Selamat, ya. Musim semimu udah mau dateng.” Kata Acha membuat Lina semakin heran.
“Musim semi apaan? Di Indonesia kan ga ada musim semi.” Pikir Lina.
Setelah itu Lina tidak bertanya lagi. Sepertinya percuma saja dia bertanya. Nanti justru tambah bingung. Lagi pula dia harus fokus berkendara.
Sesampainya di apartmen, Acha langsung melepas sepatunya dan melemparnya sembarangan. Direbahkan badannya yang lelah di atas sofa, lalu dia peluk boneka bantal sofa berbentuk Jiglipuff*.
“Cuci kaki sama tangan dulu, Kak. Kan abis dari luar kotor.” Tegur Lina sambil membetulkan letak sepatu Acha yang berantakan.
“Males!” tampik Acha.
“Hisss! Katanya mau makan ayam!” Omel Lina.
Mendengar kata ayam, Acha langsung bangun dan berdiri. Tanpa mengatakan apapun lagi dia pergi ke kamar mandi dan menuruti perkataan Lina.
“Ckckck.” Decak Lina kesal.
Barang-barang yang Acha letakkan sembarangan Lina ambil dan dikumpulkan di sebelah meja ruang tengah. Tak lupa ia memisahkan kantung kresek ChicKING di atas meja, kemudian menyusul Acha ke kamar mandi.
Kini mereka siap untuk menyantap potongan ayam gratisan dari Ryo. Acha berdoa agar kisah cinta Ryo dan asistennya bisa berjalan baik tanpa halangan. Jadi, dia akan sering mendapatkan ChicKING gratisan.