Chapter XIX

1207 Words
    Aika dengan gugup mematikan bluetooth ponsel pintarnya yang terhubung ke speaker mobil. Agar semakin tidak terdengar, dia juga mengecilkan volume ponselnya. Dibawanya ponsel pintar dengan soft case motif bunga itu ke telinga kirinya.     “Kok tumben nelfon? Kayak ingat aku aja.” Tanya Aika pada orang di seberang telfonnya.     Jawaban dari penelepon hampir tidak terdengar sama sekali oleh Acha. Hanya terdengar sungutan dengan nada sebal dari Aika yang membuat Acha berpikir bahwa orang bernama Roni ini telah membuat Aika marah.     “Iya, deh. Yang pedulinya sama orang lain, gak sama aku. Aku mah apah?” sungutnya lagi.     Cukup dengan gaya bicaranya saja Acha sudah mengerti bahwa yang sedang berbicara dengan Aika saat ini cukup dekat dengan gadis itu. Dari yang dia ketahui, Aika memang gadis yang cukup ramah. Tetapi, dia agak sulit untuk akrab dengan orang lain sampai bisa berbicara santai seperti ini.     Pembicaraan mereka di telfon tidak terlalu lama. Di akhir-akhir, meskipun dengan nada ketus, Aika hanya menjawab ‘iya’ dan tak lama kemudian telfon pun diakhiri.     “Ish... dasar orang mah kalau lagi kasmaran gini banget!” ketusnya sambil menaruh sembarangan ponsel pintar itu di depannya.     “Tadi pacar baru kamu?” tanya Acha.     ‘CKIIIIIITTTTT!!!’     Mendadak Aika mengerem mobilnya. Beruntung jalanan tidak terlalu ramai, sehingga mereka aman.     “Ya gusti pangeran! Apaan sih, Aika!” bentak Acha.     Saking kagetnya, napas Acha sampai tersengal-sengal.     “Sori sori.” Aika mengangkat kedua tangannya.     “Ya kamu nyetir yang bener, donk!” bentak Acha lagi.     “Maaf... Soalnya tadi kamu ngomong yang gak jelas, sih.” Aika memberi alasan.     ‘Beep!! Beep!!’     Suara klakson mobil terdengar dari belakang mobil yang mereka tumpangi. Kelihatannya pengemudi mobil itu cukup kesal karena mobil Aika berhenti tepat di tengah jalan. Jelas itu sangat membahayakan.     “Udah lah, nyetir yang bener!” seru Acha.     “Iya...” sahut Aika pasrah.     Mobil pun kembali melaju. Tujuan mereka cukup dekat, sehingga Acha tidak terlalu terburu-buru dalam mengendarai mobilnya. *     Hari bergulir begitu cepat bagi penghuni kediaman Hardiansyah. Tetapi, kesibukan mereka belum berakhir hanya karena jam pulang kantor.     Dariel saat ini sudah berada di meja kerjanya di rumah. Pekerjaan kantornya terpaksa dia bawa ke rumah karena belum juga selesai dikerjakannya. Meskipun bisa dibilang dia adalah seorang bos, tetapi bukan berarti dia bisa leyeh-leyeh seenaknya. Dia tetap harus mengejar target perusahaan yang dia pimpin.     ‘Tok tok’     “Belum tidur, Sayang?” tanya Sarah yang melihat anaknya masih berkutat di atas meja kerja.     Dariel hanya tersenyum.     “Mau mama bantu atau gimana gitu?” tanya Sarah lagi.     “Nggak usah kok, Ma. Ini juga sudah hampir selesai.” Dusta Dariel.     “Ya udah, deh.” Sarah pasrah.     Dia paham betul puteranya. Walaupun diminta tidur, Dariel akan diam-diam mulai bekerja lagi jika ditinggal.     Sarah masih terduduk di atas kasur Dariel. Pikir Dariel, sepertinya ada yang ingin dibicarakan oleh mamanya.     Disingkapnya kertas dokumen yang sedang dia baca saat ini. Kemudian, Dariel berdiri dari kursi kerjanya dan duduk di sampi sang mama.     “Mama mau ngomong sesuatu?” Kini Dariel yang bertanya.     Sarah tersenyum, kemudian menggenggam tangan Dariel.     “Gini. Mama mau tanya aja. Tadi di lokasi syuting-nya Acha gimana?”     Dariel sedikit memiringkan kepalanya, lalu menjawab, “Ya kayaknya lumayan seru. Kirain kalau syuting drama sekolah itu di sekolah beneran. Ternyata nggak.”     “Maksud mama... di sana kamu sama Acha gak ngapain atau gimana gitu?”     Sarah terlihat sangat penasaran. Dariel sebetulnya menangkap maksud dari pertanyaan Sarah. Tetapi, barang kali saja dia salah. Jadi, Dariel tidak ingin menebaknya langsung.     “Ya memangnya aku mau ngapain, Ma? Kan mama sendiri yang minta buat antar. Ya aku cuma antar, masuk liat-liat sebentar. Udah.” Jelas Dariel.     Sarah mendengus kesal pada jawaban Dariel yang tidak sesuai harapannya. Dalam hati dia sampai kesal dan berpikir jangan-jangan Acha tidak ada niat untuk memikat Dariel.     “Lagian ya, Ma. Di sana kan banyak kamera. Kalau aku sok akrab sama Acha, takutnya Acha masuk infotainment lagi. Kan kasihan. Melati juga nanti cemburu. Runyam aku, Ma.”     Mendengar nama Melati disebut, Sarah tak dapat menyembunyikan perasaan kesalnya lagi.     “Oh, kamu masih sama dia?” Sarah berdiri dari duduknya.     Suara dengusan kasar terdengar dari perempuan paruh baya itu. Dia tak sudi mendengar nama perempuan itu keluar dari mulut puteranya.     Ingin sekali dia mengungkap siapa sebenarnya perempuan yang dikencaninya itu. Tetapi, ingatan saat suaminya meninggal membuatnya mengurungkan kembali niat itu. Dia tidak ingin mengecewakan puteranya yang begitu menghormati dan menyayangi sang Ayah.     “Mama. Mama kenapa sih sama Melati? Dia kan perempuan baik-baik. Profesinya juga sama kayak Acha. Malah mereka satu agensi. Apa sih, yang membuat mama percaya sama Acha, tapi tidak sama Melati?” tanya Dariel dengan menaikan nada bicaranya.     “Perempuan baik-baik? Hah?”     Emosi Sarah akan membuncah bila dia terus berlama-lama mendiskusikan perempuan yang dianggapnya telah mengganggu hidupnya itu. Karena itu, dia tidak menjawab pertanyaan sang putera dan beranjak dari kamarnya.     Dariel mengerjar mamanya keluar. Dia merasa harus segera mengalah dan meminta maaf. Mungkin saja kata-katanya tadi telah menyakiti ibunya. Dan dia juga tidak ingin ada rasa canggung di antara mereka.     “Ma.” Panggil Dariel seraya memeluk bahu Sarah dengan lembut.     “Maafin aku, ya. Aku lagi pening banget banyak pekerjaan. Makanya aku agak emosi.” Ujar Dariel.     Sarah juga tidak ingin berlama-lama bertengkar dengan puteranya. Perempuan itu menggenggam tangan putera tunggalnya yang sedang memeluk pundaknya, lalu berkata, “Ya sudah. Mama juga lumayan capek. Kamu tidur dulu, gih. Besok saja lanjut kerjanya.”     “Iya, Ma.” Dariel mengangguk.     “Mama juga istirahat. Ini udah malem.” Lanjut Dariel.     Sang mama lalu berjalan menuju kamarnya sendiri, begitu juga Dariel. Dia kembali masuk ke kamar. Tetapi, niat untuk melanjutkan pekerjaannya telah sirna entah ke mana. Dia hanya termenung di atas kasur.     Sepertinya dia perlu istirahat sebentar, lalu lanjut. Mungkin dia perlu mandi untuk menyegarkan pikirannya.     Tanpa pikir panjang, Dariel melepas kaus putihnya dan dia lemparkan begitu saja di atas kasur. Dibukanya pintu kamar mandi pribadinya, lalu dia menyalakan pemanas air di shower. Baju bawahnya dia tanggalkan satu per satu. Barulah ia membasahkan diri di bawah shower.     Dariel masih kepikiran dengan alasan Sarah yang ingin memisahkannya dengan Melati. Padahal saat mereka bertemu, Dariel yakin Melati sudah berlaku sopan dan baik. Kekasihnya itu bahkan beberapa kali membawakan makanan dan selalu menunjukkan rasa sayangnya pada calon mertuanya itu. Karena itu lah Dariel merasa bingung. Apa yang membuat sang mama sampai ragu?     Dariel merasa tahu betul siapa pacarnya. Tidak mungkin orang yang telah menyelamatkan hidupnya dengan mengorbankan dirinya sendiri bukan orang baik-baik. Sampai sekarang dia juga masih merasa bersalah pada Melati. Karena dirinya, dulu Melati sampai harus masuk rumah sakit. Jika bukan karena perempuan itu, bisa jadi dia tidak ada di dunia ini lagi. Bagi Dariel saat ini, tidak ada yang lebih baik dari Melati.     Ah, ternyata mandi pun tidak ada gunanya. Pikirannya malah ke mana-mana dan semakin tidak jelas.     Diraihnya handuk dan bath robe yang tergantung di dinding kamar mandi. Dikeringkannya seluruh badan dengan handuk itu. Lalu, barulah Dariel membungkus badannya dengan Bath robe dan keluar dari kamar mandi.     Saat sudah memakai kembali bajunya, Dariel meraih ponsel pintar di nakasnya untuk memeriksa notifikasi di sana. Dan ternyata memang ada sebuah notifikasi dari aplikasi pesannya.     [Kak, kerja kantoran kayaknya enak, deh. Jadi model kerja sampe malam gini belom kelar. Hiks...]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD