Chapter XVIII

1181 Words
Butuh waktu yang cukup lama untuk Acha meyakinkan Juwono bahwa tidak akan ada berita scandal tentangnya dan Dariel. Bahkan sampai-sampai Dariel ikut berbicara pada sutradara yang telah meramu puluhan sinetron dan film itu. Untungnya mereka berhasil dan suasana kondusif pun terjaga. Saat ini Dariel sudah beranjak dari lokasi syuting. Nampaknya pria itu memang tak memiliki tujuan selain untuk menyerahkan kartu namanya pada Juwono. Sayang sekali tadi Acha sudah hampir kepedean. Dia hampir saja Acha mengira bahwa Dariel mampir demi dirinya. Tetapi, begini saja menurut Acha sudah cukup. Tidak perlu terburu-buru untuk memakan bagian ternikmat dari sebuah hidangan. Sedikit demi sedikit lama-lama juga dia akan berhasi. Toh hari ini dia untung cukup banyak. Hubungan mereka sudah semakin dekat dan Acha juga sudah tukar kontak pribadi dengan Dariel. Bukan nomor dari kartu nama yang tadi diberikan Dariel pada Juwono. Pada dasarnya misi kali ini memang cukup mudah untuk Acha. Dia sudah lama kenal dengan Sarah. Tetapi kalau tentang Dariel, jujur saja dia baru ingat dengannya ketika Sarah meminta bantuannya. Lagi pula itu kenangan belasan tahun lalu. Wajar saja kalau Acha agak lupa. Setelah itu Acha tinggal memanipulasi banyak hal lain, misalnya tanggal lahirnya. “Firna! Kamu senderan di meja terus liatin Rara sama Kris yang tajem, ya!” perintah Juwono. “Ok!” sahut Acha yang kemudian menuruti perintah Juwono. Firna adalah nama tokoh yang diperankan oleh Acha kali ini, seorang guru Bahasa Inggris yang jatuh cinta pada tokoh utama pria, Kris, rekannya sesama guru. Demi mendapatkan Kris yang diperankan Rake, Firna rela melakukan apapun. Tetapi, akhirnya dia tahu bahwa diam-diam Kris jatuh cinta pada muridnya, Rara, yang diperankan Aika. Sesuai perintah Juwono, Acha memperhatikan dua orang yang sedang mengobrol di meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Karena tidak terlalu paham dengan rasa cemburu, Acha hanya memperhatikan mereka dengan penuh rasa benci dan kesal. “Cut!” seru Juwono. “Bungkus dulu. Kita fokus ke Kris sama Rara.” Lanjut Juwono mengarahkan. Dan dengan ini, adegan pertama Acha sudah selesai. Setelah ini masih ada beberapa adegan lagi dan harus pindah lokasi, jadi Acha memutuskan untuk membaca skenario hari ini. Untuk itu dia keluar ruang syuting. Lina yang sudah datang sebelum syuting dimulai, menghampiri Acha untuk menyerahkan minum. “Aku gak haus, Lin. Taruh dulu aja.” Tolak Acha. Lina menaruh botol minuman itu di atas meja dekat tempat duduk Acha. Tadinya dia ingin langsung menanyakan tentang kemajuan hubungannya dengan Dariel, tetapi dia urungkan. Lina paham betul kalau sedang konsentrasi, Acha tidak mau diganggu. Konsentrasinya bisa langsung buyar, dan ending-nya dia yang kena masalah. Saat masih masa percobaan dulu, Lina ingat hal itu pernah terjadi padanya. Ini adalah pertama kali Lina ikut Acha ke lokasi syuting sinetron. Sebelumnya dia cuma mengikutinya saat syuting iklan, peragaan busana dan pemotretan saja. Karena itu, Lina pikir dari pada melamun lebih baik dia mengintip proses syuting saja. Lagi pula ini adalah kesempatan langka. Melalui jendela ruangan, Lina mengintip akting Aika dan Reka. Jika empat bulan yang lalu ia tidak nekat melamar pekerjaan ini, pasti sangat mustahil bisa bertemu langsung dengan dua orang artis top itu. Sudah begitu, artis yang dia ampu juga tidak kalah populernya. Padahal menurut seniornya, biasanya artis yang sudah terkenal hanya mau bekerja dengan asisten berpengalaman. Sampai sekarang masih menjadi misteri bagi Lina tentang alasannya diterima menjadi asisten pribadi Acha Juniatha. Beberapa saat kemudian, sutradara kembali memberi arahan untuk membungkus adegan yang sudah diambil tadi. Artinya sudah saatnya mereka siap-siap untuk pindah lokasi. Rake masih duduk di bangku yang sama, sedangkah Aika entah pergi ke mana. Padahal tadi Lina hanya sedikit menengok ke arah beberapa kameramen, tetapi tahu-tahu Acha sudah menghilang. “Dor!” Lina terkaget dengan seruan itu. Rupanya itu adalah suara Aika. “Kemarin-kemarin kita belum sempet kenalan, kan? Kenalin aku Aika.” Gadis manis itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya. “Sa... saya Lina. Asistennya Kak Acha.” Dengan gugup Lina membalas jabatan tangan Aika. “Ok. Salam kenal, ya.” Ucap gadis berdarah campuran Jepang itu. “Salam ken...” sebelum Lina membalas, Aika lebih dulu melanjutkan kata-katanya, “Jaga jari kelingkingmu*, ya.” Aika masih tersenyum padanya, akan tetapi entah kenapa Lina merasakan hawa dingin dari tatapannya. Rasanya dia pernah melihat tatapan seperti itu entah di mana. “Ya udah. Aku ke tempat Kak Acha dulu. Bye!” ujar Aika yang kemudian langsung melepas genggaman tangannya dan pergi begitu saja menuju Acha. Acha yang masih membaca skenarionya seketika kaget karena Aika tiba-tiba memeluknya. “Udah saatnya pindah tempat, loh. Masih baca aja.” Kata Aika sambil menyandarkan dagu di atas kepala Acha. “Oh ya?” Mata Acha memperhatikan sekelilingnya yang sudah mulai beres-beres. Lina menghampiri Acha yang nampaknya sudah boleh diajak bicara. Diambilnya tas dan botol minuman milik Acha. “Habis ini kita mau pindah, Kak. Kakak masih mau baca di mobil atau bukunya dimasukkan ke tas sekalian?” tanya Lina. “Oh, Acha mau ikut di mobil aku. Jadi, masukin aja skenarionya di tas.” Malah Aika yang membalas. Dahi Acha mengerut bingung. Rasa-rasanya dia tidak ingat ada janji untuk semobil dengan Aika. Namun melihat kerlingan mata Aika padanya, Acha yakin keinginan Aika akan sulit untuk ditolak. “E... iya. Kamu jalan sendiri aja dulu. Ini naskahnya dibawa aja.” Ujar Acha. “Oh... Ok.” Sahut Lina. Jadilah Acha berangkat ke lokasi selanjutnya dengan Aika. Pemutar musik langsung dinyalakan begitu Aika duduk di kursi pengemudi. Rupanya Aika menyetir sendiri. Entah kemana manager dan asistennya. Padahal Acha yakin dia melihat mereka berdua tadi. Berbeda dengan Acha yang hanya memiliki Lina sebagai asisten, Acha juga memiliki manager yang dia butuhkan untuk mengurus jadwalnya. Dan asistennya juga biasa diajak kemana-mana karena keperluan Aika lebih ribet darinya. Jadi, bisa gawat kalau dua orang itu tidak ada. Apa lagi Aika itu orang yang cukup sembrono. “Kita langsung cabs, Cha. Pasang sabuk pengaman.... dan berangkat!” seru Aika. “Lah, manager sama asistenmu gimana?” tanya Acha. Aika hanya nyengir kuda tanpa menjawab pertanyaannya. Instingnya berkata kalau dia harus cepat-cepat menghubungi Lina agar bisa menumpangkan dua orang bernasib sial itu. “Tadi itu target kamu kali ini, Cha?” tanya Aika. “Iya. Kenapa? Mau gantiin? Jangan ya. Aku udah dibayar di muka.” Jawab Acha. “Nggak lah... kupikir lumayan aja gitu. Manis.” Kata Aika. Teman sejawatnya ini adalah salah satu orang yang mengetahui rahasianya. Awalnya Aika adalah salah satu ‘korban’ Acha. Ayah Aika yang seorang bos yakuza tidak setuju dengan mantan pacar Aika. Dari situlah pertama kali mereka saling mengenal. “Kamu kalau butuh bantuanku bilang aja, Cha.” Aika menawarkan diri. Awalnya mereka memang selalu bertengkar. Bahkan Aika sangat membenci Acha. Tapi sekarang, tiap bertemu maunya pasti menempel terus. Tiba-tiba ponsel pintar Aika berdering. Sebuah panggilan telepon dengan huruf kanji yang tak bisa Acha baca nampak di layar ponsel itu. Aika pun menggeser logo telepon ke kanan untuk menerima panggilan. “Moshi moshi*.” Sapa seorang pria di seberang sana dengan Bahasa Jepang. “Ryonii, moshi moshi.” jawab Aika. “Roni?” gumam Acha lirih, namun masih terdengar oleh Aika. Ternyata Aika lupa mematikan bluetooth­-nya sehingga suara pria di teleponnya dapat terdengar jelas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD