Chapter XVII

1195 Words
    Kini Dariel dan Acha hanya berdua di dalam mobil. Sudah beberapa menit perjalanan berlalu dan belum ada seorang pun dari mereka berdua yang memulai pembicaraan. Dariel merasa canggung dengan keadaan ini. Mereka baru kenal tak lebih dari seminggu.     Acha merasa tidak akan ada perkembangan apapun kalau mereka terus diam seperti ini. Dia memang tidak terburu-buru, tetapi jangan sampai ia menyia-nyiakan waktu.     “Gimana kalau aku turun aja?” Acha pun memecah keheningan itu.     Dariel menengok sebentar, lalu kembali melihat ke depan.     “Maksudnya?” tanya Dariel.     “Ya... kayaknya kamu gak sreg aku di sini. Lagian kalau kita ketahuan semobil berdua, bisa muncul gosip lagi.” Jawab Acha.     Sebetulnya dia ingin mengetes Dariel. Jika Dariel memintanya turun dan memesankan mobil lain untuknya, berarti dia harus menambah trik yang lebih jitu untuk menaklukan pria itu. Sedangkan, kalau Dariel tidak menurunkannya berarti jalannya bisa lebih mulus. Tentu itu juga tidak berarti bahwa Dariel sudah tertarik padanya.     “Nggak gitu, Kak. Aku cuma canggung aja. Kita kan baru ketemu lagi setelah besar. Aku aja baru ingat tadi kalau kita pernah bertemu saat kecil.” Tanggap Dariel sedikit berbohong. Dia sudah tahu sejak beberapa hari yang lalu bahwa mereka adalah teman masa kecil.     “Makasih, ya. Ngerepotin nih.” Kata Acha.     “Ya nggak, lah. Kak Acha kan adikku. Masa ngerepotin?” Dariel mengingatkan guyonan mereka saat kecil.     “Hahaha... Mana ada adik dipanggil ‘Kakak’.” Sanggah Acha.     Dariel hanya terkekeh. Aneh memang. Sedari tadi Dariel memanggil Acha dengan Kakak, tetapi saat kecil Acha meminta Dariel untuk jadi kakaknya.     Acha sendiri merasa canggung dengan kenangan mereka ini. Seandainya saja ingatan seseorang bisa dimanipulasi, dia ingin Dariel mengingat dirinya sebagai gadis kecil yang manis. Lalu, Dariel yang masih polos pun jatuh cinta pada gadis kecil yang manis itu. Sayangnya belum ada alat untuk memanipulasi masa lalu dan dia juga tidak bisa menghipnotis orang.     Kini mereka mulai menanyakan hal-hal seputar keseharian mereka. Tentang kabar ayah Acha saat ini dan tentu saja tentang pacar Dariel, Melati.     “Kamu ada rencana bikin mama kamu deket sama Melati atau apa gitu?” tanya Acha.     Dariel mengangkat bahunya, lalu menurunkannya kembali dengan pasrah.     “Udah pernah, sih. Cuma ya... mama kayak gak ada respon sama sekali waktu itu. Malah akhirnya mama pulang duluan.” Jelas Dariel.     Acha manggut-manggut.     “Kayaknya Tante Sarah emang keras sih orangnya.” Ujar Acha.     “Tapi kalau sama Kak Acha, Mama tuh termasuknya friendly banget, loh.” Kata Dariel.     “Oh ya?” Acha terdengar tak percaya.     “Aku agak kepikiran. Jangan-jangan mama lagi jodohin aku sama Kak Acha dari tadi.”     Acha tertawa mendengar ucapan Dariel yang sebenarnya hampir benar.     “Hahaha... kalau iya, menurut kamu aku mesti gimana?” tanya Acha.     Dariel nampak berpikir. Dengan salah satu lengannya Dariel menopangkan dagu.     “Hm... kakak ada niatan deketin aku? Jujur aja Kak Acha itu bukan tipe yang bisa aku benci, sih. Tapi kalau Kak Acha ada niatan buat pisahin aku sama Melati, lebih baik Kakak urungkan saja. Karena aku sama Melati gak mungkin pisah. Dan aku juga gak akan biarkan hidup Kak Acha tenang setelahnya.” Ancam Dariel.     Salah satu sudut bibir Acha terangkat. Ini sangat konyol baginya. Karena memang itulah tujuan Acha mendekati Dariel. Dan kalaupun ancaman Dariel benar-benar terjadi, dia tidak takut sama sekali.     Dengan ringan Acha memukul lengan Dariel.     “Kak Dariel serius amat. Pfft... kayak gak ada cowok lain aja sampe ngejar yang udah taken.” Ucap Acha.     “Ya kali! Kan aku ganteng!” seru Dariel pede.     “Idiiiih... jijay!” balas Acha.     Seolah kecanggungan yang terjadi sebelumnya adalah bohong, kini mereka nampak akrab. Candaan demi candaan mengalir di antara keduanya, seolah mereka tidak pernah terpisah sama sekali. Hingga akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.     Mobil Alphard yang warna biru tuanya sengaja di-custom itu berhenti di parkiran lokasi syuting. Acha yang memiliki kepentingan pun turun sambil membawa tas kecilnya. Dia kira, dia akan berpisah dengan Dariel begitu saja. Ternyata Dariel juga ikut turun dari mobil yang memuat cukup banyak orang itu.     “Kok turun? Ntar masuk infotainment lagi, loh!” Acha mewanti-wanti.     “Nggak. Aku tinggal bilang aja ke medianya kayak kemarin. Gampang, lah!” Dariel meremehkan.     “Uwih, sultan sombong banget!” Acha memajukan bibirnya sebal.     Sekali lagi tawa renyah terdengar dari mulut Dariel. Entah kenapa perempuan ini begitu mudah membuatnya tertawa. Sampai-sampai Dariel curiga kalau Acha bukan aktris atau model, tapi pelawak.     “Ya udah. Masuk yuk!” ajak Dariel yang langsung melangkahkan kakinya ke area lokasi syuting. Dengan sedikit berlari, Acha mengikuti langkah Dariel yang cukup lebar itu.     Bagi Acha ini memang menguntungkannya. Hanya saja pergerakan Dariel yang seperti ini di luar dugaannya. Dia tidak mengira Dariel akan mengantarkannya bahkan sampai ke dalam lokasi.     Lokasi syuting kali ini adalah ruang kantor guru di sebuah sekolah menengah atas. Mereka menggunakan studio yang diubah menjadi sedemikian rupa hingga mirip seperti yang ada di sekolah. Begitu masuk ke lokasi, Acha langsung menyapa seluruh kru yang ada di sana. Termasuk juga Juwono yang sudah memelototinya sejak Acha berdiri di pintu masuk.     Juwono pikir Acha sama sekali tidak mengindahkan perkataannya tempo hari. Dari mata pria itu saja Acha sudah tahu bahwa dia akan dimarahi setelah ini.     “Permisi, Mas. Anda Mas Juwono kan? Sutradara yang terkenal itu?” sapa Dariel.     Tatapan tajam Juwono kini berpindah pada pria yang sejengkal lebih tinggi darinya itu, kemudian menjawab, “Saya tidak tahu saya terkenal atau tidak. Tapi bentul saya sutradara dan nama saya Juwono.”     Saat di mobil tadi, Acha sudah bercerita tentang Juwono yang tidak suka kalau aktris-nya mendapatkan skandal. Apalagi skandal dengan anak bos besar sepertinya. Karena itu, Dariel paham arti pandangan tersebut.     “A... begini... nama saya Dariel.” Dariel memulai strategi marketingnya.     Kalimat rayuan satu persatu keluar dari mulutnya. Lalu di akhir Dariel berkata, “Ini kartu nama saya. Rencananya saya ada project untuk film dan saya berniat untuk bekerja sama dengan Mas Juwono. Jika berminat, saya harap Anda menghubungi nomor ini.” jelas Dariel.     Sekarang Acha paham apa tujuan Dariel. Sepertinya Dariel sedang berusaha membukakan pintu selebar-lebarnya untuk karir sang kekasih. Pikir Acha, sebenarnya cara Dariel cukup lumayan. Jika ingin disebut sempurna, seharusnya Dariel tinggal mengerahkan kekuatan tim marketingnya untuk melakukan promosi habis-habisan di seluruh negeri.     “Ok. Saya simpan. Tapi, berhubung saya sibuk, saya tidak tahu bisa menelpon atau tidak. Silakan hubungi kantor saya kalau ingin lebih cepat lanjut kerja samanya.” Juwono masih berbicara ketus pada Dariel.     Dariel hanya tersenyum kecut. Tetapi, dia ingin membahagiakan Melati. Dan Dariel tahu betul, bahwa Melati tidak suka kalau dia menggunakan kekuatan uangnya. Karena itu, dia memilih untuk bertemu langsung dengan salah satu sutradara ternama ini.     Melihat wajah Juwono yang masih terlihat jengkel, Acha lalu mendekati pria tambun itu.     “Mas. Masih marah, ya? Ntar dikira cemburu terus malah dimarahin Mbak Siska, loh.” Acha menyebutkan nama istri Juwono.     Pria tambun itu tak menjawab apapun. Hanya matanya saya yang memutar karena malas.     “Mas Ju, dia ini temenku dan anaknya salah satu bos-ku. Ya wajar aja kali bisa bareng gini.” Acha memberi alasan.     Juwono mendengus kasar.     “Ter-se-rah!” seru pria itu.     Setelah ini Acha harus memiliki tenaga ekstra untuk membujuk pria idealis ini. Kalau tidak, suasana tempat kerjanya akan rusak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD