Rasa panik menghantui pikiran Dariel sepanjang jalan. Dia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada kekasihnya, Melati. Bahkan rasa takut itu juga tak kunjung hilang saat melihat Melati yang sedang memakan apel saat dia sampai di rumah sakit. “Sayang?” sapa Melati sambil tersenyum. Dariel yang masih terengah-engah tak habis pikir, bagaimana bisa orang yang dikhawatirkannya beberapa hari ini bisa tersenyum seenteng itu. Padahal Dariel sudah sangat panik saat mendengar berita kecelakaan Melati dari Hans. “Haaaarrrgghhh...” erang Dariel. Pria itu seolah melepaskan seluruh bebannya yang memuncak sedari tadi. Keringat dan air matanya seolah menjadi satu, sampai tak ada yang bisa membedakannya. “Sayang, kamu nangis? Hahaha!” bukannya bersimpati, gadis yang ditangisinya justru menerta

