46

1124 Words

Mesin mobil sudah menyala, aroma bensin tipis bercampur dengan udara pagi yang masih segar. Sekar duduk di kursi pengemudi, tangannya mantap menggenggam setir. Di sebelahnya, Raka bersandar dengan wajah masam, lengan kirinya yang terbalut perban jadi alasan dirinya tak bisa mengambil alih kemudi. “Sekar, aku bilang kita pakai sopir saja.” Suara bariton itu tegas, nada dinginnya masih kental. “Aku nggak suka kamu menyetir. Bahaya.” Sekar mendengus, matanya menatap lurus ke jalan di depan. “Bahaya apanya? Aku bisa bawa mobil. Jangan lupa, sebelum nikah sama kamu, aku udah terbiasa sendiri. Jadi nggak usah lebay" Raka menggeram rendah, rahangnya mengeras. “Jangan bicara sembarangan. Tidak perlu diingatkan juga. Kalau mau pun dulu aku nggak ninggalin kamu. Lagian aku bisa nyetir dengan tang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD