Pintu besi itu bergetar hebat karena hantaman kecil dari tangan mungil Rana. Suara tinjunya yang tak seberapa keras justru terdengar pilu, berulang-ulang memantul di ruangan serba putih itu. Rana ketakutan setengah mati diruangan ini. “Bukaaaa! Bukaaa pintuuuu!” teriaknya, suaranya serak bercampur tangis. Rana menggedor dengan kepalan tangan kecilnya, lalu dengan telapak, hingga tangannya memerah. “Rana nggak sukaaa di sini! Lepasin Ranaaa!” Ruangan itu terlalu sunyi, terlalu bersih dengan cat putih tanpa noda. Dinding, lantai, bahkan tirai tipis di jendela kecil di atas pintu—semuanya putih menyilaukan. Bagi anak kecil seusianya, bagi Rana yang mengidap leukofobia, warna itu bukan ketenangan, melainkan neraka. Dadanya terasa sesak, seakan udara tipis tersedot keluar dari paru-parunya.

