First Day

1132 Words
Hye Ju tidak lagi membolos hanya karena bingsu seperti beberapa waktu lalu, ia juga takut jika harus di pertemukan terus dengan Jae Hyuk. Mengesalkan. Pukul 6 sore ketika ia berjalan melewati gerbang sekolahnya, Kang Min Ji bahkan tidak bersamanya gadis bodoh itu sudah kabur lebih dulu karena ingin mampir di toko kue langganannya yang selalu antri, Min Ji tidak benar-benar menyukai kue disana itu lebih kepada pelayannya yang memiliki visual seperti idol. Min Ji menyukainya. "Kau butuh tumpangan?" lelaki yang duduk di motor sport hitam dengan helm di kepalanya itu berhenti tepat di samping Hye Ju memberi isyarat agar Hye Ju naik di belakangnya membuat gadis itu menghentikan langkah dan tak perlu membuka helm untuk Hye Ju mengetahui itu adalah Jae Hyuk. "Tidak, dan tidak akan pernah!" ucap Hye Ju tegas dengan wajah masa bodohnya. Ia berjalan terus sambil melipat tangan di d**a dan mengabaikan Jae Hyuk. "Kau tidak berencana menjawab pertanyaan ku kemarin?" Jae Hyuk melajukan motornya perlahan mengikuti langkah cepat Hye Ju, gadis itu terdiam ia tidak berniat menjawabnya. Memang harus bagaimana ia menjawab? "Kau! Bisakah berhenti mengikuti ku." Hye Ju yang mulai kesal karena Jae Hyuk terus mengganggunya menghentikan langkah kakinya dan bertolak pinggang sambil memandang Jae Hyuk dengan mata melotot namun Jae Hyuk malah menatapnya dengan senyum mengejek jelas mengatakan bahwa ia tidak takut di pandangi seperti itu. "YAAA! Kim Jae Hyuk kemari kau!" seseorang berteriak dari arah gerbang sekolah dengan suara yang bahkan dapat di dengar Hye Ju. Mereka terkejut dan memandang ke arah suara tersebut bersamaan, wajah mereka seketika panik. "Yaa, palli... palli (cepat.. cepat)!" Jae Hyuk segera menyalakan motornya. "Mwo (apa)?" Hye Ju berada di titik antara panik dan kebingungan. "Kau mau dihabisi oleh Hyun Joong?" "Cepat naik!" Jae Hyuk mulai tidak sabar. "Nega wae (kenapa aku)?" "Ahh molla (tidak tahu), tapi dia mengira kau pacarku." Mereka terus berdebat dan membuat Hyun Joong semakin dekat, tanpa berpikir lagi Hye Ju naik di belakang Jae Hyuk dan lelaki itu mempercepat laju motornya, Hye Ju yang panik terus saja menoleh ke belakang memastikan Hyun Joong tidak mengikutinya meskipun ia sendiri tahu tidak mungkin lelaki itu bisa mengejar mereka. Dan ia merasa lega karenanya. Jae Hyuk membawa Hye Ju entah kemana, mereka melewati jembatan sungai Han ketika hujan turun. Hujan di pertengahan agustus menandakan musim sebentar lagi akan berganti, Hye Ju suka hujan ia merentangkan tangan kanannya menanti setiap tetes jatuh membasahi tangan yang ia rentangkan tersebut lelaki di depannya hanya tersenyum melihat Hye Ju dari spion kecil di kiri dan kanan. Lima menit kemudian ketika mereka berhenti di sebuah kedai tteokbokki untuk berteduh, di depan mereka sudah ada rabokki (ramen tteokbokki) dengan warna merah yang menggoda mengepul dari hotpot yang masih panas, dua mangkuk eomuk yang masing-masing berisi 3 tusuk dan seporsi kecil sesuatu yang tidak pernah terlewat, kimchi. "Aku traktir, karna kau sudah mau menurut." "Menurut?" "Naik di motorku." Jae Hyuk mengeluarkan senyum jahil andalannya pada Hye Ju. "Hahhh, aku tidak akan mau naik kalau bukan karena berada dalam bahaya." Ucap Hye Ju sambil mengambil potongan besar tteokbokki dengan sumpitnya. Ia terkejut rasanya terlalu pedas untuk Hye Ju tapi di luar hujan jadi rasa ini sangat pas bahkan untuknya yang biasa menolak makanan pedas. Kemudian ia mengambil satu tusuk eomuk meniupnya sebentar dan menempelkan bibir pada ujung makanan yang di kenal juga sebagai odeng tersebut memastikan makanan itu sudah tidak panas lagi kemudian melahapnya dalam satu gigitan membuat Jae Hyuk menggeleng heran. "Wahh kau, benar-benar." "Mwooo(apa)," tanya Hye Ju kesal, "kau mau bilang selera makan ku luar biasa lagi?" "Ani (tidak) kau benar-benar menggemaskan." Bluuushhhh Pipi Hye Ju memerah, bukan karna rabokki nya yang pedas namun karna ucapan Jae Hyuk yang menggodanya. "Keumanhae (hentikan)!" "Jangan merayuku, itu tidak akan mempan!" Jae Hyuk mendekatkan wajahnya pada gadis itu membuat Hye Ju memandangnya lebih intens dan gugup, ia tidak biasa di pandangi sedekat ini. "Benarkah, Tapi kau terdiam saat aku mengatakannya?" pria itu memainkan matanya untuk melihat manik mata Hye Ju ia memiliki aura penakluk wanita jika saja ingin. "Ya ya ya. Diam kau!" jawab Hye Ju setelah terpaku cukup lama. "Arrasseo (aku mengerti)." "Manhi meokko (makan yang banyak) Hye Ju-ya!" ucap Jae Hyuk sambil tersenyum membuat Hye Ju menatapnya semakin kesal. Jae Hyuk tidak langsung mengajak Hye Ju pulang ia membawanya berkeliling dengan motornya lalu berhenti di pinggiran jembatan sungai Han memarkirkan motornya disana, gadis itu mengikuti Jae Hyuk ia mendekat hingga berdiri disampingnya. Mereka terhanyut memandangi air yang bergerak lambat serta pemandangan yang hanya diterangi lampu-lampu jalan. "Kau bertanya padaku kemarin apa aku punya mimpi?" "Tidak ada." Jae Hyuk menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya, "Hidupku di atur sepenuhnya oleh ayahku, ia ingin aku sekolah hukum menjadi jaksa seperti dirinya." Bagi Hye Ju terdengar seperti luapan emosi yang tidak Jae Hyuk ceritakan pada siapapun. "Karna itu kau tidak serius sekolah? ini bentuk penolakan mu?" Hye Ju bertanya setelah terdiam sejenak memilih kata-katanya. "Ani (tidak) aku hanya ingin bebas." Jae Hyuk menggeleng, Kemudian hening lagi, mereka kembali memandangi riak air membiarkan waktu berjalan begitu saja tak ada yang memulai untuk berbicara satu sama lain. "Aku berubah pikiran." Ucap Jae Hyuk tiba-tiba ketika tidak ada satu pun dari mereka memulai obrolan kembali. "Mwoo?" "Aku akan menjalani hidup yang ayahku inginkan, aku tidak akan berkelahi lagi." jelasnya. Hye Ju mengerutkan kening, mulutnya baru akan terbuka ketika hendak bertanya namun Jae Hyuk mendahuluinya. "Itu hanya jika kau mau menjadi pacarku." Ucap Jae Hyuk mantap sementara Hye Ju terdiam ia bahkan tidak bisa bereaksi, jantungnya berdebar ia bahkan menahan nafasnya sebab takut lelaki di depannya mendengar suara detak jantungnya. "Aku anggap kau menjawab iya jika dalam hitungan 3 tidak kau tetap diam." "Hana, dul, set." Jae Hyuk menghitung dengan cepat bahkan sebelum Hye Ju sempat bereaksi. "Ahh sebentar ... Kau jangan bercanda?" gadis itu memegang kepalanya seperti orang linglung. "Aniyeyo (tidak)." Jae Hyuk menggeleng. "Cukhae Hye Ju ssi (selamat Hye Ju) hari ini kau resmi berpacaran dengan Kim Jae Hyuk!" ia tersenyum senang memandang Hye Ju yang lagi-lagi terpaku. Jae Hyuk mengantarnya ketika hari sudah gelap, ibu Hye Ju tengah membungkus beberapa potong ayam goreng untuk pembeli yang antri disana, lelaki itu memutuskan mampir sebentar untuk berpamitan selayaknya pria sejati. "Ya, kenapa kau turun?" Hye Ju tampak terkejut. "Aku mau menyapa ibu mu." ucap Jae Hyuk sambil berjalan menuju ke kedai mereka. "Ahh tidak usah, ibu ku sedang repot aku juga harus segera membantunya. Kau pulang saja!" Hye Ju mengibaskan tangannya di depan Jae Hyuk. "Aahh. Begitukah?" "Arrasseo, aku akan menelepon mu nanti." "Mwoo, W-wae??" tanya Hye Ju gugup, apa maksud dari ucapan lelaki itu ia masih sedikit bingung. Namun Hye Ju di abaikan, Jae Hyuk menggunakan helmnya lagi dan naik ke motor. "Gomawo Hye Ju-ya!" Jae Hyuk mengacak rambut gadis yang terdiam itu. Hye Ju juga tidak menolak atau bahkan mengomel seperti biasanya ketika lelaki itu menjahilinya. 's**l' Batin Hye Ju.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD