PART 6

1004 Words
Apa kau menyukai pantai? Seperti namamu." "Ayahku berasal dari Brighton. Hidupnya adalah jutaan liter kubik air yang membentang. Pantai seakan merefleksikan siapa dirinya. Karenanya dia memberi aku nama Sea. Seperti itulah kira-kira." "Hmm...almarhum Ayahku adalah penjelajah. Dia menjaga bumi yang di pijaknya seperti dia menjaga dirinya sendiri. Karenanya Ayahku memberiku nama Earth. Well...begitulah." "Keduanya merupakan dua bagian yang saling terkait..." "Aku menolak gadis muda..." Sea menghela napas. Pernyataan Earth jelas merupakan sebuah peringatan lisan yang mengunci pintu kesempatan yang bahkan belum sempat dibuka oleh Sea. Dalam hati Sea berpikir, Earth sangat egois untuk satu hal ini. Apa yang melatari pemikirannya itu? Sungguhkah karena semata Earth hanya menyukai wanita matang? "Kau seperti mencari sosok seorang Ibu." Sea bertanya dengan hati-hati. "Karena aku tak pernah tahu di mana Ibuku." "So sorry to hear that." "Tidak apa-apa. Aku lelah mendengar desas desus keberadaannya. Jadi aku memilih membiarkannya menguap begitu saja." Sea menatap Earth dan menemukan jejak lelah di wajahnya. "I'm okay..." "Apakah kau tidak pernah berniat mencarinya?" Sea menelengkan wajahnya menatap Earth yang duduk di sampingnya sambil menyilangkan kaki. Pada kenyataannya mereka bukanlah melakukan kencan romantis seperti yang akan dibayangkan oleh para gadis. Mereka justru terjebak dalam hujan di sebuah restoran cepat saji yang sekarang ini sedang sepi pengunjung. Earth terlihat menatap jendela. "Desas desus tentang Ibuku bukanlah sesuatu yang nyaman untuk didengar. Jadi aku tidak berniat menemukannya sebagai sebuah kebenaran. Itu pasti akan sangat menyakitkan. Hmm...menemukan kebenaran yang buruk dari masa kecil?" Earth menatap Sea. Gadis itu yang sekarang menatap jendela. Earth mengeryit. Merasa heran pada dirinya sendiri karena dia dengan mudah menceritakan apa yang menjadi sebuah rahasia baginya pada gadis ingusan itu. "Setidaknya kau harus mencoba. Sekali seumur hidupmu. Jangan meninggalkan dunia dengan membawa duka." Sea menghela napas dan menoleh. Pandangan mata mereka bertemu dan Sea mengulas senyum. "Apakah pemikiranmu selalu sesederhana ini?" Sea mengangguk seakan membenarkan pertanyaan Earth. "Untuk beberapa hal. Tidak perlu membuat segala sesuatu menjadi sulit." Earth menghela napasnya kasar. Dia bahkan terlihat menyugar rambutnya sama kasar dengan helaan napasnya. "Aku tidak punya cukup keberanian untuk melakukannya. Maksudku...mencari tahu keberadaan Ibuku." Sea mengangguk-angguk mengerti. Sea merasa Earth mempunyai trauma yang begitu dalam terkait dengan Ibunya. Apapun itu. Jelas sebuah luka terlanjur tertoreh di hatinya. "Tidak perlu memaksakan diri seandainya memang tidak mau." Sea mengusap bahu Earth lembut dan tersenyum maklum. "Apa aku tetlihat seperti seorang pengecut...?" "Hmm...setiap orang mempunyai pilihan masing-masing. Tapi menurutku...seorang pria nampak sejati saat dia mencintai dan membela seseorang yang menjadi tempat pertama dia tinggal. Seorang Ibu." Sea menyangga dagunya dengan kedua tangannya. Kini dia sibuk menatap jalanan yang tiba-tiba saja dilanda kemacetan dengan hujan yang semakin tumpah ruah. Sementara itu Earth menelisik. Menatap wajah mulus bersih khas Asia yang tersemat pada Sea. Earth mendapati kenyataan bahwa Sea jauh sangat dewasa di balik usianya yang masih 20 tahun. Earth mengikuti pandangan mata Sea dan segera saja ikut menatap kemacetan. Mau tidak mau, kata-kata Sea mengusik hati Earth. Sedikit menusukkan rasa malu pada dirinya. Dan Earth merasa dia tak akan dengan mudah menyudahi dan mengabaikan perkataan gadis itu. Malam semakin beranjak dengan satu dua orang yang datang ke restoran itu untuk makan malam. Dan ketika hujan deras berubah menjadi gerimis, Earth memayungi Sea dengan jasnya dan membawa Sea menuju mobilnya. "Ini sungguh kencan yang buruk." Sea menoleh pada Earth dan menggeleng. "Tidak. Apapun itu. Berkencan denganmu seperti...terpenuhi hasrat yang selalu ini terpendam." "Kata-katamu aneh." Sea tertawa. "Not really...hanya saja...berada dekat denganmu dalam satu ruangan selama setahun lebih tanpa bicara adalah sebuah ujian. Dan kalau pada akhirnya kita bicara...itu adalah nilai yang diperoleh karena aku selesai mengerjakan ujian itu. Yah...seperti itu kira-kira."   Mobil Earth melaju membelah malam yang semakin pekat. Sea menghela napas dan duduk dengan tenang di samping Earth yang terlihat berkonsentrasi menatap ke jalanan di depan mereka. Laju mobil merayap mengikuti ritme kendaraan lain dan mencoba terlepas dari kemacetan. Hingga akhirnya Earth berbelok ke kanan dan melaju di sisi jalan yang lengang. Mereka berdiam diri dan Sea merasa yakin kata-katanya mengusik nurani Earth. Dan Sea merasa bersalah. Terdengar deheman Earth memecah lamunan Sea yang terasa begitu panjang. "Terimakasih." Sea menjejakkan kakinya keluar dari mobil dan menatap sekeliling. Mereka sudah sampai di halaman kediaman Bailee. Sea mengulurkan jas milik Earth dan Earth segera saja memakainya. Tangan Sea terulur membetulkan jas yang tersemat sempurna membingkai tubuh Earth. "Kalau kau pernah mendengar selentingan tentang Lady Rosemary Duffin kurasa kau akan mengerti kenapa aku mempunyai ketakutan untuk mengetahui sebuah kebenaran Sea..." Sea terhenyak dari tempatnya berdiri. Tangannya yang membenahi jas Earth berhenti tepat di d**a Earth. "Aku mengerti. Terimakasih kencannya. Selamat malam Earth." "Selamat malam Sea..." Sea menatap punggung Earth hingga pria besar itu masuk ke dalam mobil dan mobil melaju cepat meninggalkan halaman rumahnya. Sea berbalik dan berjalan pelan menuju teras rumahnya. Tangannya urung menggapai gagang pintu yang naru saja dia sematkan kunci. Sea termenung. Siapapun mengenal Lady Rosemary Duffin. Setidaknya seluruh Britania Raya mengenalnya. Berita tentang dirinya menghiasi setiap headline news surat kabar ternama dan televisi nasional beberapa waktu lalu. Tentang pernikahannya yang merupakan pernikahan ke sekian dengan salah satu bangsawan yang masih merupakan keluarga dekat kerajaan Inggris. Desas desus tentang Lady Rosemary Duffin memang bukanlah sesuatu yang mengenakkan. Tidak ada yang mengenakkan ketika deras desus itu adalah mengenai sebuah skandal perselingkuhan. Sea mendorong pintu rumahnya dan masuk dengan pelan. Seperti remaja lainnya yang pulang larut dari sebuah kencan, dia berjingkat menaiki tangga rumahnya karena tak ingin menganggu keluarganya yang pasti sudah terlelap. Sea masuk ke dalam kamar dan termenung begitu lama setelah dirinya membersihkan diri. Sea merasa Earth telah menutup semua celah yang memungkinkan dirinya masuk ke dalam kehidupannya. Earth tidak menyukai wanita muda. Dan sepertinya...harus menunggu semua gletser di Antartika mencair untuk bisa mengubah pendirian Earth. "Maka ketika harus menyudahi semua ini...rasanya begitu berat. Earth...kau sangat menawan. Tolak ukur seorang pria menurut ukuranku kenapa harus kau Earth? Kau akan sangat sulit digapai karena pemikiran konyolmu itu." Sea menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan mencoba memejamkan mata. Perjalanan ke Brighton besok pagi jelas membutuhkan waktu yang cukup panjang. Tradisi Ayahnya setiap musim liburan tiba adalah menyingkir ke Brighton. Meninggalkan Lander yang menjadi sangat sibuk akhir-akhir ini. Sea mengulas senyum. Brighton dan tepian pantainya. Brighton yang tidak akan ada Earth di sana, mungkin saja mampu mengubah perasaan Sea pada Earth. Mungkin saja... -----------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD