Earth meraih gelas kopinya dan menyesap isinya pelan. Di hadapannya Theo terlihat duduk dengan membawa tangannya ke dagu.
"Apakah kau benar sudah berubah haluan? Sikapmu pada Miss Bailee jelas aneh bagiku."
"Tidak ada yang berubah dan...aku tidak memendam perasaan apapun pada gadis itu."
Alis mata Theo terangkat.
"Kau mengantarnya pulang. Dan kau memperlihatkan wajah yang..."
"Tidak ada apa-apa Theodore dan sebaiknya kita sudahi pembicaraan tidak penting ini."
"Baiklah..." Theo terus memperhatikan gerak-gerik Earth. Jelas sekali Earth terlihat sedikit berbeda. Dia bahkan mengenakan kemeja yang berwarna soft. Dan sebuah kemeja kotak-kotak membuatnya terlihat lebih muda. Gaya berpakaian Earth yang seperti ini lain dari biasanya. Selama ini Earth lebih banyak mengenakan pakaian berwarna gelap yang terkesan dingin dan misterius. Dan sekarang...
"Oh come on Theo. Jangan mencurigaiku."
"Tidak. Hanya saja kau memang sedikit lain. Gaya berpakaianmu seakan kau ingin terlihat muda untuk seseorang."
Earth mengibaskan tangannya. "Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya ingin sedikit saja merubah suasana."
Theo mengangguk-ngangguk tak yakin dan itu cukup menyebalkan bagi Earth.
"Lander Bailee jelas mempunyai potensi untuk masuk ke dalam ruang lingkup kerja kita, Theo. Bagaimana menurutmu?."
"Hmm...sepak terjangnya luar biasa. Tapi aku belum mengetahui secara pasti bagaimana kehidupannya setelah semua pekerjaannya selesai."
"Aku sudah menyelidikinya. Dalam beberapa kasus dia sangat keras pada pendiriannya dan...dari sekian banyak kasusnya adalah pembelaan terhadap hak orang lain yang tidak mempunyai kekuatan apapun."
"Baiklah. Dan dia Kakak dari Sea Bailee..."
"Tidak masalah. Aku akan bicara pada Lander besok siang."
"Perpaduan yang sangat unik bukan?"
"Huum..." Earth tak menanggapi dan dia sibuk dengan file di hadapannya.
"Sea terlihat sangat ringkih."
"Dia tak terlihat seperti yang kau saksikan. Dia mengerikan..."
Kali ini Theo yang mengabaikan Earth. Theo sibuk mengamati pergerakan seekor ikan di dalam bejana di meja Earth.
"Kau tak berniat mencarikannya teman?"
Earth menatap sekilas bejana dan ikan yang bergerak lincah di dalamnya.
"Tidak."
"Aku pernah beberapa kali menonton porn film...dan gadis Asia itu..."
Earth menghela napas dan menatap Theo memperingatkan.
"...sebagian dari mereka berisik saat bercinta." Theo mengabaikan tatapan mata Earth dan dia melanjutkan kata-katanya. Dan Earth tentu saja merasa pembahasan kali ini tidak bermutu sama sekali.
"Kembalilah bekerja Gresley sebelum aku melemparkanmu dari ruangan ini. Dan jangan berpikir macam-macam tentang Miss Bailee."
Theo berdiri dan melangkah mendekati pintu.
"Seakan kau perduli padanya saja."
"Seharusnya kau bersyukur kita bersaudara, Theo...seandainya tidak...aku pasti sudah memukulmu." Yang terdengar kemudian adalah suara gelak tawa Theo dan bantingan ringan pintu ruangan Earth. Earth memutar kursi sepenuhnya menghadap jendela kaca di belakangnya. Pemandangan London yang sedikit menjemukan. Dengan awan abu-abu mengggantung di kejauhan menyapanya. Tidak ada yang aneh, karena memang London terlihat sedikit muram beberapa hari ini. Earth menghela napas pelan. Mau tidak mau pikirannya melayang pada percakapan ringannya dengan Tho. Earth mengepalkan tangan dan memukul lengan kursinya pelan. Dia merasa tidak nyamam saat seseorang--sekalipun itu Theo, saudaranya--membicarakan Sea seperti tadi. Terdengar tidak senonoh dan tiba-tiba Earth tak menyukai siapapun membicarakan Sea. Ingatan Earth melayang pada kejadian malam itu. Bayangan Sea saat bergerak begitu ringan menghajar dua preman yang mempunyai bobot dua kali lipat bobot tubuhnya mengganggu tidur Earth semalam. Sea terlihat perkasa dengan tubuh kecilnya. Dan terlihat ringkih saat Earth memberinya sebuah pelukan tanpa alasan.
Tanpa alasan? Earth menggeram.
"Itu pelukan karena aku begitu khawatir. Tapi kenapa aku harus khawatir sementara dia bahkan bisa menjaga dirinya sendiri?" Earth merasa pelukannya salah alamat. Sea tidak membutuhkan pelukan itu. Dia gadis yang kuat...dan mengerikan...
Ketukan pintu membuat Earth berpaling dan memutar lagi kursinya. Maria Shiver melangkah anggun mendekati Earth dengan senyuman di bibirnya. Sejenak Earth berpikir, wanita seperti Marialah yang selama ini menjadi idolanya. Matang, cerdas dan mempesona dengan tubuh bagus. Dan mereka saling merasa puas saat di ranjang. Lalu apalagi yang kurang? Rasanya tidak ada.
"Hai...apa kau memikirkan aku? Wajahmu terlihat...cerah?."
Earth mengangkat tangannya dan menerima Maria ke dalam pelukannya. Maria duduk di pangkuan Earth dan mereka saling berciuman. Bayangan Sea melintas begitu saja dan...
"Duduklah. Kau kemari untuk mengajakku makan siang bukan? Tunggulah. Aku harus menandatangani beberapa file."
Earth melepaskan rengkuhannya pada pinggang Maria dan wanita itu berdiri dengan pelan. Tatapan matanya tajam mengamati pergerakan Earth yang segera saja terlihat sibuk dengan file-file di hadapannya. Maria memilih untuk berdiri di belakang Earth dan menjatuhkan pandangannya pada pemandangan di hadapannya. Tepat membelakangi Earth. Langit London yang kian kelabu. Limabelas menit kemudian Earth dan Maria keluar dari ruangan Earth dan mobil Earth meninggalkan kantornya.
--------------------------------
Pertemuan ke sekian yang bukan di rumah menulis.
Sea menatap Earth yang juga menatapnya dengan tatapan yang sukar untuk jabarkan. Earth terlihat seperti pria yang ketahuan berselingkuh. Gesture tubuhnya terlihat tidak nyaman.
"Mr Akckerley. Kau ingin memasak?"
"Tentu saja. Apalagi? Kami ingin memasak sendiri makan malam kami."
Jawaban bukan keluar dari mulut Earth melainkan dari mulut Maria yang terlihat sibuk memasukkan kentang ke dalam troli belanja mereka. Wanita itu sibuk tapi tak pernah melepaskan tatapan tajamnya pada Sea dan juga interaksinya dengan Earth. Maria terlihat mendorong troli lebih maju dan meraih sebotol besar s**u segar.
"Bagaimana lukamu?"
"Hmm...tidak apa-apa. Sudah membaik. Aku rajin mengganti plesternya."
Sea mengangkat kakinya dan memperlihatkan lututnya yang waktu itu terluka. Earth terlihat terkesiap. Earth melangkah dan berhenti tepat di samping Sea.
"Jangan memakai rok sependek ini..."
"Kenapa? Pacarmu itu melakukannya. Dan bahkan roknya sangat ketat."
"Dia...wanita dewasa..."
"Bukan alasan. Kau tak mempermasalahkannya. Dan seharusnya juga kau tak mempermasalahkan rok pendekku."
"Sea...."
"Kecuali kau mempunyai kekhawatiran berlebihan karena akan banyak pria menatap kakiku, Earth..."
"Aku? Kenapa aku harus melakukannya? Maksudku...kenapa aku harus khawatir?"
"Well...tanya pada dirimu sendiri Mr Akckerley." Sea melangkah menjauh. Langkah yang bertolak belakang dengan Earth. Sea berniat meneruskan belanjanya dan mengabaikan pria yang sudah mempunyai kekasih tapi bersikap labil bernama Earth Akckerley itu.
"Apa salahnya rok yang aku pakai?" Sea menggeram dan semakin menjauh. Tak memperdulikan Earth yang menoleh padanya dan menghela napas pelan.
"Roknya sangat mengganggu. Dan akan banyak pria menatapnya. Ooh...shit! Seharusnya aku tak seperti ini." Earth menoleh pada Maria yang menatapnya heran. Earth melangkah dan dia mengikuti Maria yang terus bertanya apalagi yang harus mereka beli. Konsentrasi Earth terpecah dan dia beberapa kali menoleh pada Sea yang tengah sibuk memilih jus.
"Oh...baiklah. Siapapun gadis itu Earth! Dia harus lenyap dari pikiranmu. Kau..." Earth mengangkat tangan pasrah saat Maria terdengar merajuk dan menariknya kasar. Maria selalu seperti itu saat cemburu. Dan kali ini mungkin instingnya benar. Perhatian Earth sudah terbagi.
-----------------------------
Setelah pertemuan dengan Highlander Bailee, Kakak Sea yang baru saja Earth tahu nama lengkapnya...Earth berdiam diri di rumah menulis. Sudah satu jam lebih dan kursi di hadapan Earth masih kosong. Entah sudah berapa kali Earth menghela napas putus asa. Entah sudah berapa kali Earth menoleh dan menatap pintu masuk dan tak menemukan apa yang menjadi pikirannya. Earth kembali menekuri laptonya hingga lima menit kemudian terdengar lesakan pelan pada kursi di depannya yang sontak membuat Earth menghela napas lega.
"Kau terlambat."
"Apa kau merindukanku, Earth?"
"Aku?"
Sea mengangguk dan tersenyum begitu magis. Senyum yang membuat Earth membeku. Senyum jenaka yang begitu menggoda. Dan Earth menyukainya...senyum Sea yang mengenakan jepit rambut semacam pita.
"Tidak. Tidak ada alasan untuk merindukanmu."
Sea mengangkat bahu dan mengalihkan tatapan matanya pada kertas gambar di hadapannya.
"Apa kau mau menonton film setelah dari sini?" Suara Earth tercekat dan dia menyesalinya. Kenapa seakan suara itu keluar begitu saja dari mulutnya.
"Baiklah. Kita berkencan setelah dari sini."
"Kencan? Bukan. Maksudku..."
"Kita berkencan atau tidak sama sekali, Mr Akckerley. Aku tidak menyukai sesuatu yang bersifat abu-abu. Aku menyulai segala sesuatu yang nampak jelas dan sesuai aturan."
Suasana lalu hening saat Sea menyelesaikan kalimatnya. Mata Earth menangkap sesuatu yang serius dari mata Sea. Mata cantik yang terlihat kecil namun sangat tajam.
"Baiklah. Kita berkencan..."
Sea lalu menunduk. Mengabaikan Earth yang terus menatapnya. Dan lalu menyerah. Memilih menyelesaikan pekerjaannya.
----------------------------