PART 1

1315 Words
     Sea mengedarkan pandangannya dan sejenak dia merasa kerdil di ruangan yang sangat luas dengan interior mewah itu. Pandangan mata Sea menjelajah hingga ke anak tangga yang mengular di ujung ruangan dan Sea mendongak hingga pandangannya mencapai anak tangga teratas. Sebuah pesta...      Kalau bukan karena Kakaknya yang memaksanya ikut, Sea memilih berdiam diri di rumah menemani Nenek nya yang mempunyai bau khas wanita tua yang menyegarkan. Berada di pesta yang penuh dengan bau parfum berkelas seperti sekarang ini justru membuat Sea merasa tak nyaman. Orang-orang pintar cenderung jenius yang berkumpul dan tenggelam dalam dunia mereka, suasana pesta yang sedikit kaku karena justru banyak dari mereka para tamu terlihat membahas pekerjaan yang seharusnya mereka lakukan di balik meja kerja atau di ruang sidang.      Sea berulang kali menghela napas menyadari bahwa dia terjebak dalam situasi yang membuatnya tak nyaman. Dia merasa berkali lipat lebih tua. Dan lagi...Kakaknya meninggalkannya entah kemana! Sungguh bukan tipe pria yang menjaga gadis yang menemaninya ke pesta dengan baik. Sea menebak, Kakak laki-laki nya yang berusia 30 tahun itu tengah melobi sana-sini.      Sea berdiri di pinggir ruangan tepat di dekat sebuah patung marmer seorang dewa Yunani yang seronok. Dia meminum coktailnya pelan dengan masih mengedarkan pandangannya. Lalu lalang dan manusia-manusia yang bergerombol di hadapannya semakin banyak.      "Baiklah...sebaiknya aku berkeliling dan menemukan kesenangan sendiri." Sea membatin kata-katanya dan dia melangkahkan kakinya ke arah kiri. Perlahan dia menyusup ke dalam ruangan yang ada di sebelah aula besar itu. Dan yang Sea temui adalah sebuah lorong panjang penuh pajangan foto-foto keluarga. Keluarga besar sang Tuan rumah pesta. Sea mendengar mereka masih keturunan bangsawan atau semacamnya.      Sea terus melangkah menyusuri lorong itu dan sebuah taman yang segera saja membuat Sea berbalik cepat. "Kenapa mereka harus b******u di saat pesta seperti ini? Menggelikan."      Sea menaiki tangga lagi dan memutuskan kembali ke aula. Namun langkahnya terhenti. "Aku seperti mengenal pria itu. Oh..tidak mungkin...benarkah?"      Sea baru saja akan melangkah turun lagi untuk memenuhi hasrat ingin tahunya, ketika derap langkah cepat melewatinya.      "Maria...come on...aku tidak bermaksud seperti itu.." Seorang pria menyusul wanita yang baru saja melewati Sea. Pria itu sejenak terpaku dan menatap Sea yang berdiri menyandar pada pilar tangga karena terkejut.      "Aku tidak melihat apa pun, Sir." Pria itu mengernyit dan Sea segera menutup mulutnya. Kata-katanya justru menegaskan bahwa dia sudah melihat sesuatu terjadi.      Pria itu melangkah menjauh dan Sea menghela napas lega. Dadanya bergemuruh bukan karena dia merasakan takut dituduh mengintip atau semacamnya. Bukan karena itu. Tapi karena pria itu adalah Earth Ackerley. Pria yang selalu dia lihat di rumah menulis dan menjadi obyek fantasi liar nya setahun belakangan ini.      Sea menatap jam di pergelangan tangan kirinya dan memutuskan dia harus kembali ke aula. Dia tak yakin Kakaknya akan mencarinya, tapi dia harus pulang karena ini hampir jam malamnya. Dan kalau Lander Bailee, kakaknya itu khilaf dengan pekerjaannya melobi peserta pesta, maka dia akan pulang dengan menggunakan taksi.      Sepanjang langkah kaki menuju aula Sea berpikir bahwa selama ini dia pandai bergaul. Dia punya banyak teman di universitas. Dia tidak mempunyai sahabat tapi dia tidak bermasalah dalam pergaulan. Tapi dia tak pernah mempunyai nyali yang besar untuk sekedar menyapa seorang Earth Ackerley. Seperti tadi ketika dia seperti mati kutu di hadapan pria itu, yang memberinya tatapan yang begitu dingin.      "Sea, darimana saja kau? Ayo pulang." Sea mendongak dan menemukan sang Kakak, Lander tengah menatapnya penuh tanya.      "Okay..." Sea mengikuti Land yang terlihat semringah. Kalau dilihat dari wajahnya yang cerah ceria seperti itu, Sea yakin, Kakaknya berhasil menjalankan misinya. Sea mengangguk mengerti saat Land dengan cepat menceritakan beberapa keberhasilan nya. Land memang mewarisi bakat Ayahnya. Menjadi seorang pengacara. Land adalah pengganti ayahnya yang sudah pensiun dua tahun lalu. Dan Ayahnya itu sekarang beralih profesi. Menjadi pengawas bagi Sea. Dia akan menilai para pria yang sedang mendekati Sea. Pekerjaan yang menggelikan karena Ayahnya tiba-tiba saja rajin mengangkat barbel seakan dia akan menjadi seorang bodyguard yang harus mempunyai tubuh prima.      "Sea..." Land menarik lengan Sea yang berdiri termangu di teras rumah besar itu.      "Kau mengenal Earth Ackerley? Kau menatapnya seakan dia adalah udang tepung kesukaanmu." Memang benar. Sekarang ini Sea sedang menatap Earth yang tengah menunggu mobilnya di ujung teras. Dan Earth bersama dengan wanita yang tadi bersamanya di taman. Wanita bernama Maria entahlah...      "Wanita itu...Maria Shiver. Cantik dan berbakat. Tapi dia juga berbahaya." "Berbahaya?"      "Dia...penakluk pria dan kudengar Earth salah satunya." Sea hanya bergumam dan melirik Earth yang membukakan pintu mobil untuk Maria. Wajar saja julukan penakluk pria itu. Wanita itu terlihat seksi dengan bibir penuh, rambut berombak dan tubuh bagus. Sangat seksi khas Latina.      "Itu mobil kita..." Land menarik lengan Sea dan membawanya masuk ke dalam mobil mereka. Land langsung sibuk dengan komputer jinjingnya dan Sea sibuk menatap ke depan. Ke arah mobil yang membawa Earth dan wanita bernama Maria itu. Dan entah mengapa supir keluarganya seakan mengerti bahwa mereka harus mengikuti mobil di depan mereka itu. Lalu lintas yang tak begitu padat membuat Sea leluasa mengamati.      Dua puluh menit kemudian Sea mendongak. Sebuah nama Hotel berbintang lima terpampang di atas sebuah gedung super mewah di kanan jalan. Dan mobil yang membawa Earth masuk ke dalamnya!      Sea luruh ke jok mobil dan sejenak membuat Land menoleh padanya. Dan Land yang tengah sibuk hanya mengusap kepalanya pelan, mungkin dia menyangka bahwa Sea sedang bosan. Land kembali menekuri laptop nya dan Sea sibuk meramu khayalan nya.      Apa yang dilakukan Earth di hotel itu? Bukankah rumah Earth di pinggiran kota? Apakah karena wanita itu menginap di hotel itu? Apa yang di lakukan dua lajang berbeda jenis kelamin dalam hotel? Apakah...      Sea memijit pelipis nya pelan sambil sedikit melirik Land. Sungguh dia merasa harus mengakhiri semua lamunannya. Jelas sekali lama kelamaan dia akan merasa sakit hati. Oh...Earth yang seksi dengan lengannya yang berotot. Bagaimana rasanya memeluk pinggang Earth yang menggoda itu?      Sea menggeram pelan dan sekali lagi itu membuat Land menoleh. Dan untung saja mobil sudah berbelok ke halaman kediaman Arnold Bailee, jadi Land urung mengajukan pertanyaan. Sea keluar dari mobil dan tanpa menunggu Land dia melangkah setengah berlari ke dalam rumah.      Suasana rumah sudah senyap. Sepertinya semua sudah beristirahat. Sea masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri.      Duapuluh menit kemudian adalah saat Sea memaksa matanya untuk terpejam dan mencoba mengenyahkan bayangan Earth dari pikirannya. Dan yang terjadi adalah Sea yang bolak-balik mengubah posisi tidurnya.      Malam menggantung sunyi di kejauhan. London pertengahan tahun yang terasa begitu lembab dengan sedikit sinar matahari di siang hari, semakin lembab saat malam menjelang dini hari seperti ini. -------------------      Benar saja. Matahari seakan malu-malu menampakkan dirinya di langit London. Atau bahkan di seantero Inggris Raya?      Sea berjalan berjingkat menyusuri blok menuju rumah menulis. Dia baru saja menyelesaikan kuliah nya. Jurusan yang dia ambil sangatlah berbeda dengan pencapaian Kakaknya. Tapi orangtuanya tak pernah membuatnya berkecil hati. Sea pintar menggambar sedari kecil dan dia mengambil Desain Interior. Jurusan yang kata Land keren tapi Sea seakan mendengar Kakaknya itu tak terlalu setuju dengan pilihannya.      Sea mendorong pintu rumah menulis dan melongok ke dalamnya. Seperti biasa, pandangannya akan langsung terpaku pada tubuh seseorang.      Earth Daniel Ackerley. Pria itu di sana. Tempat duduk favorit nya. Dan seakan sudah menjadi hak yang dipatenkan olehnya. Pengunjung lain seakan sudah tahu, kursi dan meja itu adalah tempat Earth. Dan mereka akan memilih mencari tempat lain.      Sea berjalan pelan melewati sosok dengan harum kayu hutan itu dan duduk tepat di hadapannya. Selalu seperti itu sepanjang tahun dan...tak saling menyapa.      Sea melesakkan b****g nya di kursi. Meja yang cukup lebar nyatanya tak mampu membuat Sea bisa berhenti menghidu aroma Earth. Dia melakukannya bahkan sambil meletakkan buku gambar dan tasnya pelan.     "Berhenti mengendusku, young lady!" Aksen British yang sangat kental. Penekanan setiap kata dalam satu kalimat singkat yang sangat seksi. Suara yang berat dan terdengar sangat menggairahkan...dan...      Mata abu-abu yang berkilat sangat kesal... Suara pertama yang keluar dari mulut Earth Ackerley setelah sekian lamanya. ***    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD