Sea menoleh ke kanan dan ke kirinya. Semua orang terlihat menempati kursi dan meja yang berjauhan.
"Kau bicara padaku, Sir?"
Sea menatap Earth penuh minat. Seakan menunggu jawaban Earth sama menariknya dengan menunggu Ibunya selesai membuatkan nya udang goreng tepung kesukaannya.
Tapi yang terdengar hanya geraman dari mulut Earth dan kilatan mata kesal nya berubah menjadi putaran mata yang sama kesal.
"Siapa lagi gadis kecil?"
"Aku mungkin terlihat awet muda. Tapi aku dua puluh, Sir. Tidak kecil lagi. Dan aku sudah...montok."
Sea menggerling ke arah dadanya sendiri.
"Kau gila."
"Aaah...aku bersyukur kegilaan ku mampu mengambil atensimu, Sir."
"Apa kau selama ini melakukan hal itu...maksudku...mengendus untuk mengundang atensi ku?"
"Apa kau berpikir seperti itu?"
"Aaargh...sudahlah. Diamlah dan...jangan mengendus."
Earth seakan menyerah menanggapi kekonyolan yang terjadi antara dirinya dan Sea. Dia terlihat memakai kacamata nya lagi dan mulai menekuri komputer jinjingnya lagi.
"Aku Kayoona Sea Bailee. Kau bisa memanggil ku Sea, Earth...tidakkah nama kita cocok? Sea and Earth?"
Tak sadar Sea bertepuk tangan sehingga beberapa pengunjung menoleh padanya. Sea hanya menarik bibirnya serupa cengiran meminta maaf. Earth terlihat mengusap kening nya.
"Diamlah."
"Baiklah..."
Mereka berbisik dan berdebat sampai akhirnya Earth menyerah sekali lagi dan mengabaikan Sea sedemikian rupa hingga Sea larut pada coretan di kertas gambarnya.
Tiga puluh menit kemudian Sea beranjak dan keluar terlebih dulu daripada Earth. Land jelas mengganggu kesenangannya dengan mengatakan dia harus mampir ke sebuah toko peralatan berkebun dan membelikan pupuk tanaman mawar untuk Ibunya. Dan Land mengatakan bahwa dia mengundang Connie pacarnya untuk makan malam. Jadi, Sea harus berada di rumah sebelum makan malam.
Lima belas menit kemudian Sea turun dari taksi dan berjalan masuk ke sebuah kafe.
Melupakan sejenak tujuan awalnya ke toko alat berkebun. Dia ingin memenuhi hasrat laparnya. Sea memesan makanan dan menikmati makan siangnya dengan lahap sebelum akhirnya dia keluar dari kafe dan menaiki lagi sebuah taksi berwarna hitam untuk menuju ke toko alat berkebun. Pengunjung toko tak terlalu banyak. Sea masuk dan menuju koridor tempat pupuk tanaman berada. Dia lalu memilih dengan membaca dengan teliti pupuk mana yang dia butuhkan. Dia sudah terbiasa dengan tempat ini maka dia merasa tak perlu bingung dan meminta seseorang menemaninya.
Saat Sea hendak ke kasir, dia segera saja mengurungkan niatnya dan meletakkan sekantong pupuk di tangannya ke tempat semula. Dia berjalan pelan menghampiri seseorang yang membuatnya tersenyum sumringah.
"Earth? Apa kau perlu bantuan?"
Pria itu tak menoleh tapi bahunya luruh seakan kehadiran Sea adalah petaka baginya. Dia nampak putus asa.
"Tidak."
Earth menjawab singkat dan melangkah perlahan sambil mengamati pot-pot kecil.
"Apa kau berniat menanam kaktus kecil-kecil? Ku sarankan kau membeli besi yang sudah dirangkai untuk kaktus-kaktusmu. Melingkar lebih bagus. Tapi berundak juga bagus."
Earth tetap dia acuh. Tetap melangkah pelan dan mengamati.
"Hmm...kurasa rumahmu harus dicat ulang. Itu terlalu suram untuk seorang yang tampan sepertimu."
Seketika langkah Earth terhenti. Dia berbalik cepat dan menatap Sea tajam.
Sea bahkan harus berpegangan pada pinggiran sebuah kotak tempat display biji-bijian demi menjaga jarak dengan Earth yang tiba-tiba saja sudah mencondongkan tubuh ke arah nya.
"Selain mengendus apa kau juga menguntit?"
"Aku...tidak. Tentu saja tidak. Aku kebetulan lewat dan melihatmu."
"Haaah...kau tak bisa di percaya. Let me tell you something..." Earth semakin mencondongkan tubuhnya ke arah Sea.
"Berhenti bertingkah konyol di hadapanku. Apapun alasan di balik semua tindak-tandukmu itu..."
"Aku menyukai karya-karyamu. Itu saja." Sea menjawab cepat dan Earth menegakkan tubuhnya.
"Anything. Termasuk...sekalipun karena kau menyukai karya-karyaku. Just back off. Atau aku akan melaporkanmu pada Highlander Bailee. Dia Kakakmu, right?"
Sea mengangguk dan merasa Earth tak main-main.
"Don't ever try to seduce me, chassing me, or anything else. Just back off."
Sea terdiam.
"Aku bisa membantumu menata taman..."
"Aaah..." Earth mengangkat tangannya. Menyerah. Merasa konyol dengan kelakuan gadis di hadapannya itu.
"Apapun. Jangan melakukan apapun."
Earth melangkah menjauh dari Sea. Sea meniupkan udara keluar dari mulutnya dan menghempas poni rambutnya. Earth benar-benar seksi. Dan dia bukan seorang perokok. Well..selalu menjadi sebuah kelebihan di mata Sea ketika seorang pria tidak merokok. Seperti Ayahnya. Sea menatap punggung Earth yang semakin menjauh.
"Menyerah? Tidak semudah itu, Sir."
Sea tersenyum membesarkan hatinya sendiri. Jelas sekali ini bukan sebuah awal yang baik untuk setahun penuh penantian nya. Setahun adalah waktu yang sangat lama untuk sebuah kediaman. Untuk sebuah cinta yang terpendam. Dan jelas, bukan hal ini--mendengar Earth marah dan merasa terganggu--yang menjadi mimpi-mimpi Sea selama ini. Sea berbalik dan kembali ke display pupuk dan mengambil pupuk yang menjadi tujuannya ke toko itu. Dia berjalan ke kasir dan mengedarkan pandangannya. Dia sudah tidak melihat sosok Earth dimanapun. Sea berjalan cepat dan keluar dari toko dan menaiki taksi untuk pulang.
------------------------------
"Hati-hati dengan map itu Sea. Itu berisi file-file penting. Tolong kau antarkan dengan benar."
"Apa Connie tidak apa-apa? Bagaimana dia bisa jatuh dari tangga dan terkilir?"
"Entahlah, Sea. Aku harus ke sana."
"Okay. Aku akan menyelesaikan sarapanku dan langsung mengantarkan file ini."
Sea menatap file di sampingnya saat Land mengusap kepalanya lembut dan melesat keluar dari kediaman Bailee. Suasana rumah besar itu seketika menjadi lengang, apalagi kedua orangtuanya sedang pergi. Sea memilih menghabiskan sarapannya cepat dan menyambar file di meja makan. Dengan taksi, Sea akhirnya sampai di pusat kota setengah jam kemudian. Kini dia tengah berjalan menyusuri lobby Ackerley and Partners Law Firms. Nama yang tidak asing. Sea tersenyum. Sebuah keberuntungan atau apa? Dia akan bertemu Earth pagi ini di tempat yang berbeda. Bukan di rumah menulis seperti sepanjang hari lalu, tapi di tempatnya bekerja. Dengan langkah tegap Sea menghampiri meja resepsionis. Seorang wanita dengan lipstik nude lembut tengah mengecat kukunya. Dan wanita itu tersenyum dan menghentikan kegiatannya.
"Aku mengantar dokumen untuk Mr Ackerley. Bisakah aku menemui nya langsung."
"Tunggu sebentar."
Sea mengangguk dan menunggu wanita yang segera saja melakukan panggilan telepon.
"Silahkan ke lantai lima dan temui sekretaris Mr Ackerley. Dia akan mengantar Anda."
"Terimakasih banyak. Dan...jangan terlalu menekan kuas cat kukumu. Hasilnya akan kurang bagus."
Wanita di hadapan Sea tersenyum lebar dan Sea melangkah menuju lift. Di dalam lift Sea meregangkan tubuhnya. Di lantai tiga lift berhenti dan beberapa orang masuk bersamaan.
"Oh, ya Tuhan...maafkan aku."
Sea tersentak saat merasakan panas pada dadanya dan dia mendongak. Pria yang meminta maaf padanya tanpa sengaja menumpahkan kopi dari cup di tangannya ke arah Sea. Sea mengibas-ngibaskan bajunya dan sedikit merutuk. Kopi itu lumayan panas.
"Nona, apa kau perlu ke dokter? Kau juga harus mengganti bajumu. Aku bisa melakukan sesuatu..."
"No its okay. Tidak apa-apa."
"Tapi Nona..."
Sea tersenyum maklum.
"Aku terburu-buru. Maafkan aku. Ini kartu namaku. Hubungi aku kalau kau membutuhkan bantuanku. Sekali lagi, maaf."
Sea menaikkan satu alis nya. Pria itu keluar begitu juga dengan Sea. Tujuan mereka sama. Lantai lima. Sea menyusuri koridor dan segera saja menemukan sebuah meja dengan sebuah papan nama. Sekretaris. Dan seorang pria berkacamata tebal tersenyum padanya dan menanyakan keperluannya.
"Aku harus mengantarkan file pada Mr Ackerley."
Pria itu mempersilahkan Sea mengikutinya. Pria itu mengetuk pintu dan terdengar sebuah teriakan mempersilahkan dari dalam. Sea masuk saat sekretaris itu membuka pintu. Dan menutupnya kembali. Lalu Sea merasa seharusnya dia menitipkan saja file itu pada sekretaris Earth. Sea menegaskan pandangan matanya sambil melangkah maju. Earth Ackerley berada di kursi kebesarannya. Bersama Maria Shiver dalam pangkuannya, bergelayut manja.
"Nona..."
Dan pria tampan yang menumpahkan kopi panas ke dadanya yang meninggalkan rasa nyeri terbakar.
Dan semakin nyeri saat Earth menatapnya dengan tatapan menusuk...
***