PART3

1238 Words
Sea mendorong map yang sudah dia letakkan ke meja Earth dan mengangguk. "Saya mengantarkan file ini dari Mr Lander Bailee. Permisi dan selamat pagi." Sea membungkuk hormat dan berbalik. "Aku akan mengantarmu keluar..." Suara pria yang menumpahkan kopi. "Dia sudah besar dan tak perlu di antar." Suara Earth terdengar memperingatkan. Sea tak menggubris dan menjangkau gagang pintu. Lalu dia mendengar pintu kembali dibuka dan... "Nona..." "Tidak perlu repot, Tuan..." Sea merogoh sakunya. Mengambil kartu nama yang sempat diselipkan oleh pria itu, tadi sebelum mereka benar-benar keluar dari lift. "Theodore Gresley? Kau putra hartawan William Gresley?" "Kau bisa memanggilku Theo. Dan...kita akan mengobrol banyak. Jangan menolak. Dan..ya...aku anak William Gresley." Sea mengangkat kedua tangannya pasrah dan mereka melangkah beriringan menyusuri koridor. Sea berpikir Theo tak kalah tampan dari Earth dan ditambah keramahannya, Theodore menjadi lebih tampan. Dan dia anak William Gresley. Seorang hartawan murah hati yang bahkan mendapatkan gelar Sir dari Her Majesty Queen Elizabeth II karena kontribusinya yang luar biasa pada Inggris Raya. Dengan statusnya itu, seakan semua keberuntungan tumpah ruah pada Theo. "Siapa namamu?" "Huum...Sea...Kayoona Sea Bailee." "Kau?" Tatapan Theo menelisik. "A half Korea." "Aaa...a good combination." Sea tertawa karena merasa Theo sedang menilainya. Saat tiba di lobby gedung, Theo mempersilahkan Sea berjalan lebih dulu namun sesaat kemudian Theo dengan ramah membukakan pintu mobilnya untuk Sea. Sea melirik gedung gagah yang mulai ditinggalkan oleh mobil Theo. Dan Sea merasa gedung itu sama angkuh dengan pemiliknya. "Bagaimana sekolahmu?" "Sekolah? Aku sudah di perguruan tinggi..." "Really? Kau terlihat seperti masih duduk di high school." "Aaaa...mungkin itu yang dipikirkan oleh temanmu itu." "Earth? Well...dia tidak pernah benar-benar menyukai perempuan muda." Sea menyimak sambil menyibak rambut panjang hitam kecoklatannya. "Apakah aku bisa mengartikan bahwa dia menyukai perempuan matang?" "Huum...boleh dibilang seperti itu. Dalam sejarah percintaannya...dia selalu berkencan dengan wanita yang jauh di atasnya. Seperti Maria Shiver." "Hmm...bukankah pria lebih suka memegang kendali. Mengencani wanita di atas mereka jelas membuat mereka tak bisa memegang kendali. Dari pola berpikir saja tentu sudah berbeda bukan? Dan Maria..." "Dia empat tahun lebih tua dari Earth." Sea mengangguk-angguk. Seberapapun tebal make up yang dipakai Shiver dan dia nampak berkilau, semua itu tak bisa menutupi usia sesungguhnya. "Kau menyukai Earth?" "Siapa yang tidak? Sekali pandang, banyak gadis muda sepertiku pasti akan menyukainya." "Selamat berjuang kalau begitu...akan sangat sulit perjuangamu. Jangan menyia-nyiakan waktumu." Mereka berdua tertawa. Sea merasa Theo adalah orang yang sangat ramah dan humoris. Akan sangat mudah jatuh cinta pada pria seperti Theo. Tapi Theo bukan Earth. Dan Sea hanya menyukai Earth. ---------------------------------- Sea mendorong pintu rumah menulis dengan enggan. Bahkan ketika dia menjumpai punggung Earth menyapa pandangan matanya. Dia berjalan pelan. Lalu meletakkan bokongnya begitu saja ke kursi di hadapan Earth. "Kau kenapa?" Seperti halnya kemarin. Sea menoleh ke kanan dan ke kiri. Memastikan bahwa Earth bertanya padanya. "Aku?" "Iya kau...siapa lagi?" "Aku...tidak apa-apa." "Kau tidak mengendus seperti biasa." Sea memundurkan tubuhnya dan menatap Earth sedemikian rupa. "Kau mengamatiku..huuuh?" "Aku...?" "Kau menantikan saat aku mengendusmu." Sea berkata dengan nada sangat yakin tanpa mengalihkan tatapannya pada Earth. "Baiklah. Kau gila dan sudahi saja pembicaraan ini." Sea mengangkat tangannya dan mulai menekuri kertas gambar di depannya. Dia mencoret-coret dengan sangat serius dan segera saja melupakan sekelilingnya. Termasuk Earth yang terlihat sibuk dengan laptopnya. Walaupun tak dipungkiri bahwa Earth berulangkali mendongak untuk memastikan Sea tetap berada di depannya.  Hingga Earth melihat pesan masuk di ponselnya satu jam kemudian yang memaksanya beranjak. Dia tak melihat Sea mendongak seperti hari-hari lalu. Dari wajah gadis itu akan terlihat kekecewaan karena Earth akan pergi. Tapi tidak hari ini. Sea tak melakukannya dan itu membuat Earth mengeryit dalam. Earth berjalan keluar dan menutup pintu. Sekali lagi dia menoleh dan dari balik kaca dia melihat Sea tetap sibuk menekuri kertasnya dengan sesekali menyibak rambutnya. Earth masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya pelan. Dia menggeleng seakan mengusir sesuatu yang mengusik pikirannya. Dan itu berlangsung berulangkali setelah dia tertawa seakan mengingat sesuatu yang menggelikan. "Tidak mungkin aku terpengaruh dengan gadis ingusan seperti itu bukan?" Earth mengajukan pertanyaan itu pada dirinya sendiri dan merangkai penyangkalan-penyangkalan pada setiap jawaban yang muncul secara spontan di kepalanya. Dan dia merasa dia sudah gila. ------------------------------ Malam menebar jaring pekat di seantero bumi Britania Raya ketika sesosok pria berpakaian perlente duduk di sebuah kursi dan dengan tenang menatap sebuah obyek di hadapannya. "Kau melakukan kecurangan Tuan Ackerley." Pria tercekal tangan besar berotot milik seorang pengawal di sisi meja itu mencoba melepaskan diri. Earth Akckerley tertawa pelan. "Bagaimana kalau kau tekankan perkataanmu itu pada dirimu sendiri Tuan Robert s***h? Aku hanya mempermudah jalanmu agar tak sampai ke persidangan. Kasusmu sangat berat. Dan...pada dasarnya aku adalah orang yang tidak suka bertele-tele." "Kau main belakang. Aku semakin yakin bahwa selama ini kau adalah dalang di balik semua kasus penting di negeri ini yang berakhir dengan merugikan pihak sepertiku." "Aaah...menjadi tahu diri itu sangat sulit Tuan s***h. Terkadang orang salah paham pada sebuah pertolongan. Mereka akan berpikir bahwa aku merugikan...tapi kenyataannya hal yang kau sebut sebagai sebuah kerugian itu tidaklah seberapa bila di banding kasus sepertimu ini keluar ke ranah publik dan menjadikanmu harus menghadiri sidang yang bertele-tele dan menguras uangmu dan..." Earth mengambil mapas lelah dan sedikit jengkel sebelum akhirnya meneruskan kalimat yang ditekannya sedemikian rupa. "...akan membuatmu berakhir.  Sentence life in prison without parole? Atau itu yang kau mau?" Suasana lalu hening. "Kau memakan uang kami." "Kau tahu dengan pasti kemana uangmu akan pergi Tuan Slah. Kembali pada mereka yang kau rugikan." "Kau bertindak layaknya Robin Hood." "Aku anggap itu sebagai sebuah pujian. Dan...aku hanya mengambil hak mereka yang terampas olehmu. Aku cukup kaya raya kalau harus mengambil satu penny uangmu s***h. Aku tidak akan melakukannya karena aku cukup makmur." Pengawal Earth melepaskan cekalan tangannya setelah Earth mengibaskan tangan memberi perintah agar melepaskan Robert s***h yang sedikit lagi akan berakhir dengan pingsan kehabisan oksigen. "Kediamanmu aku anggap kau setuju s***h. Aku menunggu semua beres sampai besok pagi. Dan kau tahu konsekuensinya kalau kau ingkar..." Earth berdiri menjulang. Mengibaskan tangannya membenahi jasnya yang sedikit kusut. Dia lalu melangkah meninggalkan ruang remang milik Robert s***h diikuti pengawalnya. Sebelum benar-benar keluar, Earth menekan tombol di dekat pintu dan seketika ruangan menjadi benderang. Bantingan pintu membuat Robert s***h terlonjak dan dia segera saja dengan gemetar menjangkau komputer jinjingnya. Melaksanakan perintah Earth Akckerley atau dia akan menjadi bangkai di penjara esok hari. Malam semakin pekat dua jam kemudian saat Earth duduk di ruang kerjanya di rumahnya di pinggiran London. Kabut turun tipis-tipis bersama lembabnya udara. Di hadapan Earth adalah laptopnya yang menampilkan naskah ke sekiannya yang hampir saja selesai. Naskah yang menggantung ending dan akan tamat saat Robert s***h melaksanakan keseluruhan perintahnya. Earth melirik komputer di sisi kiri mejanya dan tersenyum samar. Robert cukup pintar menyikapi kasusnya. Nominal yang tertera di komputer Earth sangat pas. Dan Earth menganggap kasus Robert selesai. Dan Earth akan sejenak beristirahat dari dunianya ini. Dunia yang bertolak belakang dengan dunianya di luar sana. Dunia yang kata sebagian besar dari para koruptor dan para penjahat pengambil uang rakyat adalah dunianya sebagai Robin Hood. Merampas harta mereka dan mengembalikan harta itu kepada yang berhak secara diam-diam. Earth membawa kebahagiaan bagi mereka yang teraniaya. Di rekening mereka yang di rugikan akan kembali terisi dengan jumlah uang  mereka yang hilang tanpa tahu Earth yang melakukannya. Earth melimpah doa dari banyak orang. Tapi... Hidupnya juga sangat berbahaya. Dia mempunyai banyak musuh karena pekerjaannya itu. Sudah tak terhitung berapa kali seseorang melakukan percobaan pembunuhan padanya. Dan sejauh ini memang tak ada yang berhasil. Tapi Earth selalu merasa...hidupnya selamanya tak akan mudah. Baginya dan juga bagi orang-orang yang dekat dengannya. Tangan Earth menjangkau laptop dan menuliskan beberapa baris ending dalam naskahnya. Dan dia kembali termenung setelah menekan tombol save. Dia akan merevisi naskah itu di rumah menulis esok hari. Dan dia akan melihat gadis itu. "Sea..." Earth melafalkan nama itu berulangkali. "Kau tak cukup kuat untuk bersamaku gadis ingusan..." Earth menggeram pelan dan menggelengkan kepalanya. ----------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD