POV Heru
Aku sampai di kamar dengan nafas memburu, seolah ada makhluk kasat mata yang tengah mengejarku. Kututup pintu dengan cepat untuk menyembunyikan segala kelemahan yang ada ... kelemahan seorang pria yang selalu tak mampu dalam memperjuangkan setiap keinginannya.
Sejak aku kecil sampai kini usia menginjak kepala tiga, keinginan dan kemauanku selalu terkalahkan oleh Anthony. Banyak alasan yang mengharuskan aku untuk mengalah dari setiap dia. Selain karena hidupku penuh tanda budi yang disematkan keluarga Anthony, keadaan sikis Anthony juga menjadi pemicu segala keinginan dia harus dinomor satukan. Bukan hanya orang tuanya. Bahkan ibu kandungku pun memaksaku untuk selalu mengalah padanya. Seorang anak yatim yang Bapaknya meninggal semenjak dalam kandungan harus selalu mengalah demi setiap hari bisa makan di tempat di mana saudara telah mau menampungnya. Biarpun aku lelah ... tapi aku tak mampu berbuat banyak.
Pernah di suatu ketika saat masih kecil, aku mengadukan segala keberatan ke pada Pak dhe Ramly, tapi bukan pembelaan yang ku dapat. Walaupun Pak Dhe Ramly berkata tidak sekasar Bu dhe Ramly tapi tetap saja untuk seorang anak kecil, Pak dhe Ramly tidak mampu menjadi pengayom keponakan yatimnya ini. Saat mengadu itu tiba tiba di belakangku sudah berdiri Bu dhe Ramly yang tentu saja tanpa sengaja telah mendengar segala percakapan kami. Dia membentakku dengan keras.
Sambil mendorong dorong kepalaku dia berucap, "Ooo sekaline ngene kelakuanmu nang mburiku. Ora usah ngelunjak, kok pikir Pak dhemu kui nang omah Iki duwe Kuoso opo? Wes untung urepmu tak penakke. Bondo seng digowo Pak dhe mu Lo mong kolor karo isine kok kate kok ndelke."
("Ooo begini sekalinya kelakuan kamu di belakangku. Tidak usah melunjak, kamu pikir Pak dhe mu itu di rumah ini punya kekuasaan apa? Sudah untung hidupmu kubuat enak. Harta yang dibawa Pak dhe mu Lo cuman celana sama isinya. Begitu kok kamu andalkan.")
Ku pandang wajah Pak dhe Ramly dengan pandangan menghiba, tapi melihat perlakuan istrinya terhadapku seperti itu, Pak dhe Ramly hanya menatap sekilas. Tak ada sedikitpun niatan untuk membela. Akhirnya aku hanya pasrah dan menunduk takut mendengar Bu dhe Ramly merepet tak ada berhenti. Seolah tak pernah terbersit setitik rasa iba terhadap seorang anak kecil. Mungkin dia lupa, aku tetaplah keponakannya walaupun dari pihak Pak dhe Ramly.
*************
Di dalam kamar yang berukuran tiga kali tiga meter ini mataku menatap nanar ke langit-langit kamar. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Aku tak pernah membayangkan jika perasaan ini akan berakhir dengan sangat mengenaskan. Selama tiga puluh tahun dalam usiaku, baru kali ini aku merasakan cinta terdalam. Namun akhirnya terhempas tanpa perlawanan. Otakku buntu membayangkan siapa yang akan menjadi penghalangku jika aku nekat meneruskan rasa ini.
Bayangan masa kecil terus menari-nari dalam angan. Ketika anak buangan terdampar numpang di rumah orang. Saudara tidak menjamin akan menerima kita dengan kasih sayang layaknya orang tua. Begitu juga aku, kerja keras sudah terbiasa kulakukan dari sejak umur tujuh tahun. Hidup menumpang harus tahu diri. Pagi buta harus terbiasa membersihkan kandang dan memberi ternak makan. Bukan hal aneh lagi jika sudah jam sepuluh pagi perutku belum terisi secuil makanan.
"Kerja dulu baru makan, agar kelak terbiasa hidup susah," ujar Bu dhe Ramly suatu hari ketika secara sembunyi-sembunyi Pak Dhe Ramly memberiku makan pagi dengan tanpa seijin dia.
"Orip kui ngoyo disek ojo moro moro munggah nang duwur nemplok tembok, mengko ceblok e loro kabeh awakmu,"
("Hidup itu kerja keras dulu jangan tiba tiba naik ke atas seperti nempel di tembok, nanti jika jatuh sakit semua badanmu,")
lanjut Bu dhe Ramly saat mendengar keluhanku jika perutku sakit.
Tak menampik, memang kalau urusan pendidikan, Bu dhe Ramly tidak mengecualikanku. Aku di sekolahkan sampai jenjang perkuliahan. Itu yang kadang membuat aku merasa tidak nyaman untuk bilang tidak dengan segala apa yang dibebankan keluarga ini di pundakku.
"Hutang budi dibawa mati, Le. Jangan pernah merendahkan diri dengan melupakan jasa orang lain terhadap kita. Apalagi ini jasa Pak dhemu sendiri." Masih jelas terngiang ucapan ibu setiap aku mengunjunginya dan itu menjadi cambuk pengingat di setiap waktuku saat aku merasa tidak dihargai di rumah ini.
Baiklah mungkin ini keputusan final bagi aku, bahwa aku tak bisa memberikan harapan apapun terhadap Aryanti bahkan terhadap diriku sendiri. Aku harus mampu membunuh mati rasa dan asa ini. Mungkin tidak mudah untuk awalannya, tapi jika aku berusaha pasti akan ada jalannya. Tak boleh ada kelanjutan dalam cerita cinta ini. Karena rindu dan cintaku terlarang untuknya.
Tok ... tok ... tok
"Mas ... Mas Heru. Bangun, Mas."
Lamat lamat kudengar suara memanggil dari arah luar kamar.
"Hoaaaammm ...." Kukerjap kerjapkan mata sambil duduk di tepi pembaringan. Aku baru sadar jika aku sempat terlena cukup lama.
"Mas ... sudah bangun belum?"
Kembali suara dari luar terdengar setelah beberapa menit aku tak menjawabnya. Kuperjelas pendengaran, baru aku sadar jika itu suara Mbok Jum. Asisten wanita setengah baya itu yang selama ini satu satunya orang yang menyayangiku dengan tulus di rumah ini.
"Mas ...," teriaknya untuk kesekian kali.
"Ya, Mbok. Sebentar, nyawaku belum ngumpul," jawabku sambil berdiri. Ku buka sedikit pintu kamar untuk sekedar melongokkan kepala.
"Mbok kok tahu aku yang ada di dalam?" ujarku sambil mengucek mata.
"Iya, tadi Juragan Bapak yang bilang."
Juragan Bapak adalah sebutan Mbok Jum untuk Pak Dhe Ramly.
"Ayo dah, Mas, makan. Ini loo sudah sore. Sebentar lagi saya pulang."
"Loh, Mbok Jum sekarang ga tidur di sini?"
"Enggak, Mas. Semenjak ada Mba Aryanti Mbok lo disuruh datang pagi pulang sore."
Aku menatap Mbok Jum yang menggidikkan bahunya. Seolah dia tahu dari pancaran mataku aku bertanya. "Kenapa?"
"Ya sudah, Mbok. Tunggu aku di dapur aku tak mandi dulu," ujarku tak ingin dia menungguku terlalu lama.
Bergegas aku masuk ke kamar untuk mengambil handuk dan menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur. Karena di sini hanya ada satu kamar mandi di dalam kamar tidur. Yaitu di kamar tempat Pak dhe dan Bu dhe Ramly tidur.
Setelah selesai mandi aku berjalan menuju meja dapur, suasana terasa sepi.
"Mas Si Mbok pulang dulu yaaa, ini sudah mau Maghrib."
"Iya, Mbok hati hati," ucapku sambil tetap meneruskan makan. Wanita setengah baya itu keluar dari dapur dan menutup pintu bagian belakang karena rumahnya ada di belakang rumah Pak dhe Ramly persis.
"Mas, ijinkan aku untuk bicara."
Aku menghentikan aksi makanku saat mendengar suara seseorang di sampingku.
"Aryanti ...." Wajahku pias saat tahu siapa yang berdiri di sebelahku. Sungguh ... aku tak sanggup bertemu dengan dia. Sisi hati aku tak mampu menyakiti hati dia lagi, akan tetapi sisi hati yang lain mengharuskan aku berbuat tega agar dia tak menaruh harapan penuh terhadapku. Aku menggeser kursi untuk beranjak dari tempatku duduk.
"Maaf aku tak ingin Bu dhe Ramly salah sangka jika melihat kita sedang bersama." Kutatap lekat wajah Aryanti.
"Mas ... ku mohon jangan begini. Tolonglah, aku sangat memerlukan bantuanmu."
Bersambung ...