"Aryanti ...."
Wajah Heru berubah menjadi pias saat menyadari siapa yang sedang berdiri di sebelahnya. Sebenarnya Heru sudah tak sanggup bertemu dengan Aryanti lagi. Sisi hatinya tak mampu menyakiti hati gadis impiannya itu, akan tetapi sisi hatinya yang lain mengharuskan berbuat tega agar harapan Aryanti tidak penuh tertumpu terhadapnya. Dengan cepat Heru segera beranjak dan menggeser kursi yang dari tadi dia duduki.
"Ma_maaf aku tidak ingin ada kesalah fahaman jika Bu dhe Ramly sempat melihat kebersamaan yang kita lakukan saat ini," tatap Heru lekat ke wajah Aryanti.
"Mas ... ku mohon jangan begini. Tolonglah, aku sangat memerlukan bantuanmu."
"Bantuan? Apa yang sanggup aku berikan? Aku tak memiliki kuasa apapun. Maaf jika akhir akhir ini aku berusaha menjaga jarak denganmu, bukan aku ga mau lebih lama berdiri dan berbincang dengan kamu kali ini. Akan tetapi sekarang kamu sudah menjadi istri saudara sepupuku. Aku tak ingin ada fitnah di antara kita."
Heru menggesar tubuh Aryanti yang tengah menghalangi langkahnya dengan pelan. Kemudian dia melanjutkan ucapannya, "Permisi!"
Namun dengan gerak cepat Aryanti menarik lengan Heru untuk menghentikan langkahnya yang akan segera berlalu meninggalkan meja makan tempat mereka berdiri.
"Pliss ... beri aku waktu untuk berbicara sebentar," ucap Aryanti tercekat. Dia begitu takut membayangkan jika Heru tak mau menolongnya.
"Aryanti ...,"
"Tolong kasihanilah aku, jangan bersikap acuh begini terhadapku," lanjutnya tak ingin memberi kesempatan Heru untuk menyela ucapannya sedikitpun.
"Biarkan aku pergi. Aku hanya berusaha menjaga marwahmu."
"Ke pada siapa lagi aku harus meminta bantuan, Mas. Tidak ada yang kupercaya di rumah ini selain Kamu. Ku mohon ...," ucap Aryanti gugup ketika melihat Heru melepaskan lengannya dari cekalan tangan Aryanti.
"Sungguh aku tersiksa dengan pernikahan ini, Mas. Aku sudah tak sanggup lagi." Heru hanya mampu mendesah dengan berat. Melihat kurangnya respon Heru, akhirnya Aryanti terisak. Kekhawatiran akan pupusnya harapan yang dia labuhkan untuk seorang Heru begitu kuat.
Aryanti menarik napas dalam, kemudian melanjutkan kata katanya dengan terbata, "A_aku ... aku ingin kamu membantuku kabur dari sini," lanjut Aryanti sambil tangannya tak henti bergerak memilin ujung bajunya. Dia tak ingin gagal dalam membujuk Heru. Karena hanya ke pada Herulah satu satunya harapan untuk dia kabur.
Heru terkejut dan dia mendongakkan kepala dengan cepat. Kemudian dengan kasar dia mengusap wajah. Tak pernah menyangka bahwa Aryanti akan mengajukan permintaan yang begitu memberatkan dia. Ada terbersit keinginan untuk membantu Aryanti, tapi dia juga takut. Selama ini walau tertekan Maupun terdzolimi, tak pernah ada tindakan apapun darinya untuk melawan keluarga ini. Jika kali ini dia lakukan itu, dia yakin konsekuensi apa yang akan menimpa dia bahkan ibu dan juga adik adik kandungnya.
Jika konsekuensi itu hanya dia seorang yang menanggung, mungkin dari dulu pemberontakan itu sudah dia lakukan. Masalahnya ini menyangkut masa depan adik adiknya. Heru kini dalam dilema besar.
Bu Sakinah adalah istri dari Pak Wiryo yang tak lain adalah adik bungsu Pak dhe Ramly. Mereka satu ayah lain ibu. Pak Wiryo meninggal terkena penyakit tetanus pada saat Heru menginjak umur enam tahun sepuluh bulan, saat itu bertepatan dengan adik ke tiganya yang berumur tujuh bulan dalam kandungan. Dengan kejadian meninggalnya suaminya itu membuat Bu Sakinah syok dan dia mengalami pendarahan yang mengakibatkan dia harus menjalani bed rest. Mempunyai anak tiga yang masih sangat kecil-kecil membuat Bu Sakinah tidak mampu secara penuh untuk menjalani masa bed restnya. Karena dia tidak menjalankan protokol bed restnya dengan baik akhirnya pendarahan semakin keluar banyak. Dan semua itu mengharuskan bayi di dalam kandungan dia harus cepat dilahirkan dengan prosesi secar. Tentu saja biaya yang tidak sedikit harus dikeluarkan ibunya Heru untuk biaya persalinan. Untung saat itu Bu dhe Ramly bersedia membiayai seluruh pengeluaran dan t***k bengek biaya rumah sakit lainnya. Semenjak ayahnya meninggal Herupun akhirnya dibawa keluarga Pak dhe Ramly untuk diasuh.
"Kamu kemaren bilang mencintaiku. Apakah itu hanya sebuah bualan semu?" ucap Aryanti memotong segala lamunan Heru tentang keluarganya.
" Tidak Aryanti! Bukan begitu. Ini masalahnya bukan perkara cinta atau tidak cinta terhadapmu. Masalahnya permintaanmu ini sungguh sangat berat. Ada banyak hal penting yang akan aku korbankan jika aku melakukan itu. Dan aku tak sanggup membayangkan akibatnya," ucap Heru penuh penekanan.
"Lalu ... menurutmu, apakah aku bukan salah satu hal terpenting dalam hidupmu, begitu?" ucap Aryanti menelisik.
"Kamu tega terhadapku, Mas," Gumam Aryanti lirih sambil menghapus airmata yang sejak tadi ingin lolos melewati pipi ranumnya.
Heru semakin salah tingkah. Perasaan cinta terhadap Aryanti membuat hatinya ikut perih melihat wanita pujaannya itu sekarang sedang bersedih dan kini menangis pilu di hadapannya.
"Bukan begitu. Maafkan aku" ujar Heru melemah.
Aryanti semakin terisak.
"Sudah ... sudah jangan bersedih lagi. Hapus sudah air matamu, jangan bikin aku ikut sedih. Sekarang jelaskan apa yang bisa kulakukan agar dapat membantumu keluar dari masalah ini?"
"Ya itu tadi. Aku ingin ... aku ingin kabur dari sini." Aryanti berucap takut-takut.
" Hmmm ... baiklah kasih aku waktu. mudahan secepatnya aku bisa mendapatkan cara untuk jalan kamu keluar dari tempat ini. Jangan sampai keduluan Anthony kembali ke rumah ini."
"Sungguh? Kamu akan mencarikan aku jalan untuk kabur dari neraka ini?"
Mata Aryanti membulat.
"Yeeeyyy ...," teriak Aryanti melompat kegirangan.
Binar kebahagiaan mencuat dari pancaran matanya. Semua itu tak sengaja membuat Heru terbahak. Namun kemudian dia buru-buru menutup mulutnya. Matanya nyalang menatap pintu kamar Bu Dhe Ramly yang tertutup. Dia khawatir akan kepergok saat sedang bersamaan dengan Aryanti. Bagaimanapun juga saat ini tidak ada yang boleh tau rencana dia membawa kabur Aryanti dari tempat ini.
"Ga usah takut, ibu lagi ga ada di rumah. Dia tadi dibawa kerumah sakit karena ketika dosis suntikan obat tidurnya habis, dia tiba-tiba jatuh dari pembaringan ketika mau turun."
"Jadi ... waktu dibawa ke rumah sakit, Bu dhe Ramly pingsan lagi?" Heru bertanya kaget.
"Enggak! Mabuk saja, bilang dia sih kepalanya berputar Serasa naik kapal laut dalam ombak besar. Bapak kemudian panik jadi habis itu langsung membawa ibu ke rumah sakit," jawab Aryanti.
"Waaahhh yang benar saja ... jadi di rumah ini, kita cuma berdua?"
Heru tersenyum sambil mengerlingkan mata jail. Alisnya dinaik turunkan untuk menggoda Aryanti hingga membuat wanita itu tersipu malu. Dia mendekat ke arah Aryanti perlahan-lahan. Tubuh Aryanti tiba-tiba menegang. Bulu-bulu halus di tubuhnya berdiri dengan tiba-tiba. Desiran halus kemudian menguasai hatinya. Perlahan-lahan selangkah demi selangkah dia menapakkan kaki mundur ke belakang mencoba menjauhi Heru yang semakin mendekatinya.
Bersambung ...