Aku hanya bisa menangis pilu mendengar ucapan panjang Bapak mertua. Segala ucapan beliau itu belum mampu ku cerna dengan akal sehat. Ucapan itu hanya mampu masuk lewat telinga kanan dan langsung keluar lewat telinga kiriku, tanpa sempat singgah di otak sama sekali. Semua kejadian berseliweran di kepala tanpa ada titik temu solusi dan jawabannya. Aku hanya mampu membayangkan segala kengerian yang baru saja terjadi di depan mata.
Sempat kengerian itu hadir bertahta. Ada banyak pertanyaan dalam d**a,, apakah akan terjadi lagi? Bagaimana jika terjadi lagi? Dan bagaimana jika tadi tidak ada seorangpun bersamaku. Apa yang akan dilakukan wanita itu jika dia dalam keadaan tidak sadar seperti tadi. Banyak sekali pertanyaan yang tanpa mampu terjawab, hingga akhirnya hanya mampu membuat kepalaku semakin terasa berputar saja.
Tiba-tiba tubuhku bergidik ngeri, membayangkan yang ada di pemikiran jika menjadi nyata. Bagaimana jika di dalam rumah ini tidak hanya Anthony dan ibunya yang kurang waras? Bahkan ...
Pandangan mataku beralih menatap bapak mertua dengan nanar. Perasaan ngeri itu hadir, membayangkan satu satunya manusia yang kuhormati di dalam rumah ini akan memiliki tabiat dan sifat yang sama seperti anak dan istrinya.
Bukan tanpa alasan aku mempunyai perasaan seperti ini. Karena trauma mengguncang dengan segala kejadian yang tiada berkesudahan membuat pikiranku melanglang tanpa batas. Membayangkan hal hal buruk yang tiada ujung. Perasaan takut membuat aku terburu buru meninggalkan Bapak mertua yang masih sibuk mengurusi istrinya yang memang sengaja diberi suntikan tidur.
Sambil berjalan sekilas pandanganku terarah kepada pemuda yang tadi menolongku, dia menatap kepergianku dengan pancaran mata yang entah bagaimana aku sulit mengekspresikannya. Ada kemarahan, ada kerinduan, ada kekecewaan terpancar di sana.
"Ke mana lagi aku harus melangkah. Di rumah ini aku ibarat sedang tinggal bersama dengan sekelompok hewan buas yang sedang tertidur. Suatu waktu tanpa mampu kucegah dan kusadari mereka bisa bangun dan menerkamku."
Ku langkahkan kakiku dengan gontai masuk ke dalam kamar. Anganku melayang keperistiwa tadi saat bersama pemuda itu ketika ibu mertua lagi ditangani Dokter.
"Pemuda itu ...."
Pemuda yang sebulan lalu sebelum pernikahanku dengan Anthony menjadi salah satu orang terpenting dalam kehidupanku. Dia sempat membuatku melabuhkan hayal dan harapan yang akhirnya membuat jiwa dan ragaku tersungkur.
Flash back on
"Hai namaku Heru. Maaf jika selama ini aku memakai nama Anthony untuk mengenalmu," ujar dia sambil mengusap kepala dia di bagian tengkuk. Ada kegugupan dalam setiap geraknya yang kurasakan.
"Okey kita ulang dari awal perkenalan ini. Perkenalkan lagi, Namaku Heru. Herundra tepatnya. Bolehkah aku mengenalmu, Duhai gadis pencuri hati?"
Aku hanya tersenyum sinis. Kuabaikan uluran tangannya yang ingin berkenalan. Benar benar tak habis pikir, kok ada pemuda picik seperti dia. Begitu mudahnya dia berujar tanpa berfikir dia telah mempermainkan perasaanku dengan telak.
"Anthony itu sepupuku."
Dia melanjutkan ucapannya dengan mengulas sebuah senyum ketika seper sekian detik aku hanya merespon setiap gerak bibirnya dengan membelalakkan mata terhadapnya. Ku rasa dia ingin mencairkan suasana yang memang sangat kaku. Di tariknya kembali tangannya yang sempat menggantung di udara karena tak ada balasan dariku.
'Hehhh Buseeet asa hendak ku catuk pala nih bocah yang sok kecakepan itu. Dia pikir aku akan begitu mudah menerima perkenalan dia.' pikirku sebal.
"Pertama kali aku melihatmu, aku begitu tertarik."
"Sungguh!" Sambil mengangkat kedua jari telunjuk dan jari tengahnya dia memberikan intonasi penekanan terhadap ucapannya ketika melihatku semakin membelalakkan mata.
"Namun ...,"
Aku mencebikkan bibir, dengan sengaja ku biarkan dia menggantung ucapannya yang menurutku hanya sebuah basa basi belaka.
"Dayaku tidak ada. Kamu dijodohkan dengan sepupuku. Aku ga mungkin membalas budi keluarga Anthony yang telah merawatku sejak kecil dengan merebutmu dari dia."
"Aku benar-benar tidak bisa melepas pesonamu di awal kita ketemu, Aku benar benar mencintaimu, untuk itu aku nekat menghubungimu dengan mengatas namakan Anthony," lanjutnya ketika aku masih belum merespon ceritanya.
"Please, Yanti, maaf ...," ujarnya sambil menangkupkan kedua tangan di depan d**a.
"Suatu masalah itu tinggal bagaimana cara kita untuk menyingkapinya, ini hanya masalah sepele. Jangan terlalu membuat sulit suatu masalah, karena jatuhnya akan terasa semakin su ...."
Plakkk
Tanpa menunggu ucapannya selesei, telapak tanganku mendarat dengan keras di pipi bagian sebelah kanannya. Sungguh tanganku terasa gatal ... aku tak sanggup lagi membiarkan dan mendengarkan segala argumen dia yang pada akhirnya ku rasakan sangat egois.
"Sepele? Kamu bilang sepele? Kamu mampu berfikir apa tidak! Kamu sedang mempermainkan perasaanku, dan itu kamu bilang sepele."
Akhirnya terhambur ucapan yang sedari tadi mengganjal di kepala. Aku berucap dengan penuh berapi api. Emosiku yang sejak tadi terpendam di dalam pikiran akhirnya meledak tak terkendali saat perasaanku dianggapnya sepele.
"Ka_kau ... dasar manusia egois!";
Karena tak mampu lagi mengucapkan kata kata banyak akhirnya dengan terburu buru kutinggalkan dia menuju kamar.
Flash back end
"Haaahhh ...."
Aku berteriak tertahan. Baru sadar kalau aku masih membutuhkan dia. Dia satu satunya harapan yang mungkin bisa mewujudkan aku kabur dari neraka ini.
"Aku tidak boleh gegabah."
"Tuhh bocah pasti sangat marah terhadapku. Aku harus menemuinya. Mudah mudahan dia. Mau memaafkanku"
"Jika aku ingin perlindungan dari dia, bagaimanapun caranya aku harus bisa minta maaf ke dia."
Bergegas aku keluar kamar tempat berkurung. Kulangkahkan kaki dengan perlahan karena tak ingin membuat kesalahan yang sama terulang kembali. Mengendap-endap kuhampiri pemuda itu yang kini sedang melamun di teras depan.
Kupandang sosok itu dari belakang dengan seksama. Darah tiba-tiba berdesir. Rasa itu masih ada, dan itu tidak bisa kupungkiri. Semua itu membuat telapak tanganku menjadi dingin tiba-tiba. Nervouse, takut, merasa bersalah. Perasaan itulah yang kini sedang melandaku dengan dahsyat.
"Heru ...."
Ku sentuh pundak itu dari belakang. Perlahan kepalanya bergerak melihatku. Namun tak ku lihat senyum menghiasi bibirnya.
"Ma_maafkan aku ... eumm ... aku hanya syok dan tak habis pikir kenapa kamu bisa sejahat itu terhadapku. Kenapa kamu tega dan kenapa harus kamu yang ikut menjadi bagian dalam rencana jahat mereka terhadapku."
Terbata bata aku mengucapkan patah demi patah kata. Sekilas dia memandangku dan menghela nafas. Kemudian fokusnya kembali mengarah ke depan.
"Aku mencintaimu Heru," ucapku melanjutkan ketika tak ku lihat sedikitpun respon darinya.
Shiitt! Dia mengabaikanku, seolah tak pernah melihatku ada di hadapannya. Tidak sabar aku berjalan mendekat ke arahnya.
"Stop! Mengertilah kenapa aku melakukan itu."
Ku tarik lengannya dengan keras ketika tiba-tiba dia berdiri dan mencoba beranjak untuk meninggalkanku. Sejenak kami saling adu pandang. Ada kilat rindu di sana yang sempat tertangkap dan itu membuat hatiku berbunga. Namun dengan cepat wajah itu kembali datar. Tanpa berkata apapun, perlahan dia melepaskan cekalan tanganku yang berada di lengannya. Kemudian melangkah pergi dengan tidak menoleh kebelakang sedikitpun.
Syok, kecewa sudah pasti itu yang terasa. Seakan ada harapan yang tiba-tiba menghilang seiring langkah dia yang semakin menjauh memasuki sebuah kamar di lantai atas. Ku tatap punggung yang kian menjauh itu dengan tatapan hampa. Kini luruhlah sudah air mata yang tadi sempat mengambang di pelupuk mata.