Part 9
Ibu mertua melangkah lebar dengan mengangkat kain jarik yang dipakainya. Mungkin karena tidak mendengar langkahku yang tertinggal di belakang. Ibu kemudian berhenti dan berbalik menghadapku yang kini tengah mendekatinya sambil berlari.
"Jangan berjalan seperti siput!" bentaknya dengan keras. Tangannya dengan kasar menarikku.
Tergopoh-gopoh aku menjajari langkah ibu mertua keluar dari pagar Budhe Kasminah. Langkahnya benar-benar membuat aku terengah-engah mengejarnya. Ditambah lagi cekalan tangan yang dari tadi tak dia lepaskan dari tanganku. membuat langkah ini seolah bagai sapi yang ditarik induk semangnya.
Dia masih terus berjalan dengan muka yang terlihat memerah. Seperti memendam bara, wajah itu memancarkan hawa mengerikan.
"Sudah ku bilang, dan itu tidak sekali dua kali. Bahkan sudah berapa kali. Ini yang tidak pernah aku harapkan. Ini yang selalu aku tekankan. Harusnya aku tidak menurutimu membiarkan dia tadi ikut berkumpul di acara itu." Sambil masih menyeretku ke dalam rumah, suara ibu mertua menggema di seantero ruang tamu rumah megah ini. Aku terhuyung menubruk kursi yang sedang diduduki Bapak mertua.
"Kamu kan sudah aku peringatkan, Pak. Tapi kamu ngeyel. Kamu bilang tak akan terjadi apa apa kan? Terus siapa yang musti tanggung jawab dengan semua ini jika yang aku khawatirkan terjadi. Mukaku serasa disiram kotoran! Kamu nih memang lelaki yang tidak berguna. Dari dulu Kau memang tidak pernah berguna," ucap ibu mertua sambil memandang nyalang ke arah Bapak mertua.
"Huaaahhh...."
Aku berjingkat ngeri dan beringsut menuju pojok ruangan. Kemarahan ibu mertua kali ini benar-benar berada di puncaknya. Aku hanya mampu berlutut di pojok ruangan mendengar dia yang terus berteriak lantang. Untung rumah ini di bikin dengan kedap suara. Hingga teriakan yang mengerikan itu hanya bisa kami dengar jika kami juga ikut berada di dalam rumah.
Badanku gemetar memandang dia yang seperti orang kesurupan. Dia terus mencakar rambut dan badannya sambil mengomel seputar kejadian di tempat Budhe Kasminah. Aku benar benar tak menyangka jika dia sedang kalab. Bahkan tak pernah terpikir bahwa aku akan melihat kekalab-annya. Tak ubahnya sebegitu mengerikan seperti Anthony anaknya. Kulihat, Bapak mertua hanya duduk diam tanpa berusaha menenangkan.
Penampilan ibu yang semakin acak-acakan meninggalkan kesan elegan yang tadi disandangnya ketika akan berangkat ke rumah Budhe Kasminah. Lengan bajunya koyak dia cakar, rambut panjangnya yang tadi tersanggul rapi kini terurai berantakan tak beraturan. Sebagian menutupi wajah hingga menampilkan kesan angker bagi setiap insan yang melihatnya. Jari tangannya terlihat mengucurkan darah karena kuku tangannya tercabut ketika dia dengan beringas mencakari ubin di depannya.
Fix Maghrib yang kini menjelang terkesan begitu menyeramkan. Aku serasa melihat film horor yang dulu sering aku tonton di layar kaca, tapi kini terpampang dengan jelas di depan mata. Dan parahnya kini aku ikut bermain di dalamnya menjadi peran utama.
'Gustiii kenapa dia begitu mengerikan terlihat' gumamku dalam hati.
"Stop! Mau ke mana kamu, Mantu kurang ajar!"
Aku menghentikan gerak merangkak ketika mendengar suaranya menggema. Aktivitas yang kulakukan secara perlahan tadi kini disadarinya. Aku yang beringsut menuju pintu kamar yang berada di sebelah kiriku ketika mendapat sedikit kesempatan akhirnya segera menghentikan gerakan. Takut itu benar-benar telah menguasai jiwa dan ragaku sehingga tanpa sadar harus membasahi celana dengan air kencing sendiri.
"Apa kamu puas menorehkan malu di keningku?" ujar ibu mertua sambil melotot memandangku tajam.
Dia yang tadi beringas mencakari apa yang ada di dekatnya kini beringsut mendekatiku. Kaki yang gemetar benar-benar tidak mampu ku andalkan lagi untuk menopang tubuh. Wajah beringas yang tadi ada agak jauh di depanku kini sedang menyalang pandang padaku. Gerak lambat dan pasti dia semakin dekat merayap menuju arahku bersimpuh. Bagaikan seorang Kunti di film horor dia terus merangkak dengan rambut berantakannya. Karena kaki yang sulit digerakkan bukannya berlari aku malah menjerit-jerit sambil menutup mata dengan kedua belah tangan.
'Mati aku kali ini matiii ...' ratapku dalam hati.
Sepersekian detik aku seolah terasa melayang. Antara sadar dan tidak aku merasa ada sebuah tangan menarik tubuhku dengan paksa. Kedua tangan yang tadi kubuat menutup wajah perlahan kubuka. Hahhh ... baru kusadari kini tubuhku tengah berada dalam dekapan seorang pemuda.
"Ka_kau ...." Dengan terbata aku memandang nanar ke arah pemuda yang kini menggendongku. Menjauhkanku dari gapaian tangan ibu mertua yang hendak mencerideraiku.
Rasa kagetku tak terlukiskan setelah melihat dengan jelas siapa pemuda itu. Yach ga salah lagi. Dia adalah pemuda yang dulu pernah di ajak ibu mertua untuk melamarku. Pemuda yang sempat pernah membuat hatiku layu sebelum berkembang. Detak jantungku tiba-tiba memburu. Rasa itu masih ada, meski bagaimana dia telah menorehkan luka.
Dia menurunkan tubuhku dengan perlahan setelah aku meronta dari gendongannya. Pandangan mata kami masih saling terkait. Sadar kejadian sebelumnya dengan rasa takut netraku nyalang memandang ke arah ibu mertua yang kini sedang terbaring lemah.
"Sabar Yo, Nduk. Tenanglah ibumu sudah mendapatkan suntikan penenang," ujar Bapak mertua sambil mengelus kepalaku. Rupanya beliau tau kalau aku benar-benar merasa trauma dengan segala tingkah polah istrinya. Sedangkan di sampingnya seorang dokter kulihat sedang konsentrasi memeriksa kondisi sang ibu mertua.
"Kamu tidak perlu terlalu kawatir setelah ini. ibumu akan sedikit melupakan kejadian tadi. Namun ... kamu ga usah menanyakannya lagi kejadian ini yo, Nduk. Anggaplah kejadian ini ga pernah terjadi. Menjaga kemungkinan saja jika emosinya akan tersulut lagi."
Aku hanya bisa menangis tergugu mendengar ucapan panjang Bapak. Segala ucapan itu belum mampu kucerna dengan akal sehat. Semua kejadian berseliweran di kepala tanpa mampu aku menemukan solusi dan jawabannya. Aku hanya mampu membayangkan segala kengerian yang baru saja aku alami. Aku sempat bertanya dalam hati apakah akan terjadi lagi? Bagaimana jika tadi tidak ada seorangpun bersamaku. Apa yang akan dilakukan wanita itu jika dia dalam keadaan tidak sadar seperti tadi. Kenapa aku merasa bahwa di dalam rumah ini tidak hanya Anthony dan ibunya yang kurang waras bahkan ... tiba-tiba aku menatap bapak mertua dengan bergidik ngeri. Perasaan ngeri itu hadir, membayangkan satu-satunya manusia yang kuhormati di dalam rumah ini akan memiliki tabiat dan sifat yang sama seperti anak dan istrinya.
**
Sementara itu lelaki yang tadi sempat menolong Aryanti dari keganasan cakaran Bu Ramly, kini dia terlihat sedang duduk di kursi ruang tamu. Seraut wajah kebingungan tampak dari netranya. Hmmm ... apa yang dipikirkannya? Dan kenapa dia baru muncul sekarang setelah Aryanti dan Anthony terikat dalam mahligai perkawinan?