KEJADIAN DI ACARA TETANGGA

1029 Words
Part 8 Kami memasuki rumah Budhe Kasminah dengan beriringan. Sebuah senyum bertengger di bibir ibu mertua sejak kami keluar dari pintu gerbang rumah kami. Senyum itu dihadirkan s olah menunjukkan kehidupan kami sangat bahagia. 'pencitraan' gumamku dalam hati. Aku sebenarnya tidak menyukai kemunafikan ini. Tapi di sini, sedikitpun aku tidak bisa menjadi diri sendiri. Arus membawa air kemana, itu yang harus kuikuti. Setidaknya bila ingin ragaku tidak babak belur. "Haiii ... ini to sekalinya menantu Bu Ramly." Sambil tersenyum ibu mertua mengeratkan genggaman tangannya ke padaku saat mendengar sapaan seorang tetangga. "Hmmm cantiknyaaa." "Siapa namamu, Cah Ayu?" "Kamu anak mana?" "Dah isi belum, nih?" Pertanyaan-pertanyaan candaan lainnya berseliweran ketika aku memasuki pekarangan belakang rumah Budhe Kasminah tempat mereka berkumpul. Tidak bisa kubayangkan perasaan senang hatiku mendapat sambutan hangat dari mereka. Layaknya seorang putri raja baru keluar dari istana semua berduyun menyalami dengan diiringi segala pujian. Entah karena lama tidak bertemu orang asing, yang pasti aku sangat bahagia di tengah-tengah kerumunan mereka. Senyum manis selalu kusunggingkan menyambut sapaan mereka. Tak ingin meninggalkan kesan negatif aku mengangguk setiap mendapat pujian. Di pojok ruangan mata tajam ibu mertua tak lepas dari segala gerak gerik yang kutampilkan. Sepanjang hari aku tersenyum, karena mendengar celoteh tetangga-tetangga yang umurnya sebaya maupun di atasku. Ada saja kelucuan yang mereka lontarkan di tengah pekerjaan yang kami seleseikan, sehingga tanpa sengaja membuat aku hanyut dalam Canda tawa mereka. Sejenak duka nestapa yang setiap hari aku alami terlupa. Luka lara itu terkikis dengan banyolan-banyolan sederhana yang memang sangat aku rindukan. Bak burung dalam sangkar yang terlepas, aku mengepakkan sayap-sayap yang hampir patah karena lama tidak digerakkan. Kebahagiaan itu sederhana, bisa bebas seperti ini aku sudah sangat merasa bersyukur. Tidak perlu hal mahal untuk membuat kita bahagia. "Tumben kamu di bolehkan keluar sangkar?" Pertanyaan dari salah satu tetangga sempat membuat aku melirik posisi ibu mertua. Aku benar-benar takut jika pertanyaan mereka membuat kebahagiaan sementara ini akan ternoda. "Aneh lo kamu bisa kerasan jadi istrinya Anthony." Kembali sebuah pertanyaan sensitif itu terlontar. Aku hanya menunduk tak berani menjawab. Hanya ketakutan yang tiba-tiba menelusup dalam kalbu. Sungguh aku takut jika Sang mertua salah sangka terhadapku. Susana yang tadi hingar bingar kini serasa senyap. Hari ini aku ingin perasaanku bebas tanpa embel-embel rasa takut yang tidak bertepi. Tapi pertanyaan itu telah mengubah suasana yang awalnya riang menjadi hening. Aku tau mereka menunggu jawabanku. Rupanya dari tadi mereka menunggu kesempatan untuk mempertanyakan ini. Ketika melihat ibu mertua beranjak masuk ke dalam rumah, Mereka tidak menyianyiakan kesempatan itu. Pertanyaan-pertanyaan yang sensitif itu akhirnya terlontar. Bagai api dalam sekam, mereka berlomba mengajukan pertanyan-pertanyaan yang tentu saja segera memerlukan jawaban. Manusia tetaplah manusia yang mempunyai kadar ingin tahuan yang tinggi. Apalagi kehidupan keluarga Anthony ibarat selebritas kampung. Siapa yang tidak kenal mereka. Keluarga mereka sangat disegani, aku hampir lupa bahkan terkesan ditakuti. Jika yang bersangkutan berada di sekitar mereka jangankan memandang buruk, menggunjingpun mereka tak akan berani. Namun jika yang bersangkutan sudah tidak berada di tempat berduyun-duyun mereka menceritakan segala kekurangan dan keburukan keluarga Anthony yang sudah seperti menjadi rahasia umum. Mereka hormat tanpa berani wajah diangkat ketika keluarga Anthony berada di tempat. Munafik. Sebuah kata tiba-tiba terbersit dalam angan dan pikiranku. Dalam hati aku tersenyum miris, ternyata selama ini tidak hanya di dalam rumah bagian di luar pagarpun aku dikelilingi oleh orang-orang munafik. Aku mendongak menatap wajah mereka satu persatu. Wajah-wajah yang masih menunggu jawaban yang tidak seharusnya mereka kejar. "Harusnya kamu tidak menikah dengan dia, kamu tahu dia itu gila." "Di desa ini, walau dia kaya raya mana ada perempuan yang mau dengan dia." "Pulang saja kamu sama orang tuamu. Nggak usah ngarepin lagi kehidupan bahagia dengan lelaki macam dia." Aku menggeleng menanggapi pertanyaan mereka. Bukan aku tidak mau lepas, tapi aku benar-benar tidak mampu. Bagaimana caraku lepas jika tidur saja aku seolah diawasi. "Atau jangan-jangan ... " Salah satu dari mereka menggantung pertanyaan sambil mendekatkan wajah ke padaku. "Kamu dijual sama keluargamu," lanjutnya tanpa ragu. "Ouw ... Mungkin kamu dan keluargamu sama matrenya. Sehingga nggak peduli walau bagaimana rumah tangga yang sedang kamu jalani." Aku melotot dengan pertanyaan terakhir mereka. Mulutku terkuak spontanitas tak mampu berkata, tak habis pikir dengan segala imajinasi yang ada di otak mereka. 'Benar-benar gila paparazi kampung ini. Bertanya sendiri dijawab sendiri. Mereka sibuk berargumen tanpa memahami perasaan mangsanya.' "Minta cerai saja. Anthony dan keluarganya itu sama-sama kurang warasnya." " Iya sebelum terlam ..." Brakkk ... Gebrakan meja di belakang kami menggantung ucapan-ucapan mereka. Wajah-wajah brutal mereka terlihat ketakutan. Aku menoleh ke belakang ketika kakiku menyentuh sesuatu yang mengelinding. Sebuah gelas plastik terpental dari atas meja ketika ibu mertua menggebraknya. "Ada yang bisa menjelaskan ucapan kalian tadi? Suara siapa tadi yang bilang jika seluruh keluargaku kurang waras?" Suara ibu mertua menggelegar di keheningan ruangan. Tampak sekali mati-matian dia sedang menahan amarah. Tidak ada yang berani angkat bicara seperti tadi. Bahkan suara yang bagai lebah berdengung tadi tiba-tiba hening. Semua menunduk ketakutan. Tidak terkecuali aku. Tanganku gemetar menunggu kejadian selanjutnya. "Taukah kalian. Ucapan kalian itu bisa kulaporkan ke polisi dengan pasal pencemaran nama baik jika aku mau. Jangan pernah menganggap remeh keluargaku, apalagi menganggap remeh aku. Kalian mengerti!" "Sudah Mbakyu ... sudah. Jangan diperpanjang lagi. Mereka memang kurang kerjaan. Tolong di acara ini pandanglah aku sekali saja, biarkan aku saja nanti yang mengurus mereka. Jika ada kehilafan, maafkan aku sebagai tuan rumah, Mbakyu." Budhe Kasminah menjawab sambil terus mengelus punggung ibu mertua berusaha untuk menenangkannya yang sedang naik pitam. "Maaf Budhe ... acara Budhe kali ini biarkan kami sekeluarga tidak menghadirinya. Dari pada emosiku aman selalu tersulut jika melihat muka mereka. Mendingan kami pulang saja. Aku juga tidak mau menjadi penyebab gagalnya hajatan di tempatmu." "Kita pulang Aryanti." Suara ibu kembali menggema, dan sekarang ditujukan ke arahku. Aku yang masih gemetar dengan kejadian itu akhirnya tergopoh-gopoh mengikuti langkah lebar ibu mertua. Kasak kusuk saling menyalahkan terdengar dari arah belakang saat kami melangkah keluar pintu. Ada saja yang tidak kuinginkan terjadi. Ketika sampai rumah aku yakin wanita ini pasti akan melimpahkan kemarahan terhadapku seperti yang sudah-sudah. Hanya merasakan kebahagiaan sebentar saja aku harus menanggung konsekuensi berat. Tak kupikirkan mereka tadi sedang berbicara apa di belakang kami. Yang kupikirkan sekarang adalah apa yang akan terjadi terhadapku setelah kami nanti tiba di dalam rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD