PERNIKAHAN YANG TIDAK SESUAI RENCANA

1074 Words
Ya Rabb ... kaki dan tangan terasa bergetar. Seolah bumi ikut bergoncang. Aku duduk dan menatap calon mempelaiku dengan nanar. Mulut terbuka tapi tak mampu terucap sepatah katapun. "Sudah siap, Mba Yanti? Sabar ya kita halalin dulu." Penghulu di depanku berucap sambil tersenyum simpul. Dia menggoda seolah pandangan yang kuarahkan adalah pandangan ketertarikan seorang mempelai wanita terhadap pasangannya. Gemuruh tamu undangan ikut menimpali candaan Pak Penghulu. Mereka ikut antusias menggoda kami. Aku hanyut dengan segala rasa yang ada. Hingga acara sakral itu berlangsung begitu saja, berakhir tanpa kesan sedikitpun. Tak ada perasaan berbunga seperti yang sering kudengar, bahkan perasaan berdesir yang sejak kemarin aku rasakan kini menguar entah ke mana. Yang ada hanya kebingungan dan kegelisahan. Entah kapan dia selesai mengucap ijab qobul itu. Aku tersadar dengan suara para saksi yang menggemakan kata 'sah'. Sah? Bahkan aku kaget dalam hitungan menit statusku telah berubah tanpa kusadari. Anthony ... aku meliriknya. Lalu siapa yang kemaren ikut acara lamaran? Kenapa ga ada laki-laki ini di acara lamaran kemaren? Benang merah ini belum terurai dan itu semua tentu saja membuat mataku berkunang-kunang. Setelah ijab qobul selesai dilaksanakan, kamipun diarahkan untuk sungkem kepada kedua orang tua kami masing-masing. Kepada saudara, kerabat yang ada di ruang akad, dan bahkan kepada saudara dan tetangga yang sedang membantu persiapan pernikahan di bagian dapur. "Begini, Jeng, di rumah kami juga diramaikan. Minta tolong keikhlasannya kalau Nduk Yanti aku bawa ke timur." Sebuah suara wanita yang aku rasa adalah suara ibu mertuaku terdengar di kamar ibu. Setelah aku dengar tidak hanya ada suara ibu mertua di dalam kamar. Kurasa ada Bapak dan mungkin juga Bapak mertua. Karena lelaki yang aku panggil bapak mertua itu tidak terlalu banyak bunyi hanya kadang terdengar kekehan ringan menimpali obrolan mereka. "Baiklah, kita sepakat ya. Besok pagi mereka kami bawa ke timur. Kasihan to tamu undangan kami, masak menghadiri pernikahan tapi mantennya ga ada" ujar ibu mertua diiringi tawa renyah ibu, bapak dan bapak mertua. Untuk membahasakan rumah yang arahnya timur dari rumah kami, penduduk di desaku biasanya menyebut arah saja. karena memang rumah Anthony berada di daerah timur rumah orang tuaku, maka Bapak dan Ibu menyebut ke rumah Anthony dengan sebutan ke timur. Semalaman tamu undangan berduyun tidak ada henti. Padahal kami tidak mengadakan acara besar-besaran, Namun karena ibu dan bapak berasal dari keluarga besar maka tamu undanganpun rata-rata dari pihak keluarga. Tidak ada malam pertama seperti yang sering terlihat di senetron-senetron. Aku sibuk bercengkrama dengan sanak saudara. Sedangkan suamiku. 'Aahh ... entahlah aku seolah tidak mengenalnya.' Bahkan semua itu sampai membuat bingung, kenapa dia berbeda sekali jika sedang chatingan. Entah dimana banyolan-banyolan dia yang sering membuat tertawa lepas ketika membacanya. Sesuai kesepakatan pagi harinya aku langsung diboyong ke rumah suami, karena di sana juga mengadakan pesta hajatan. Kedua adikku, Lek Kardi sekeluarga, keponakan dari ibu dan bapak semua ikut mengantarkan kerumah mertua. Hanya Bapak dan ibu yang tidak ikut. Perjalanan dari rumah ke tempat rumah mertua bekisar tiga puluh menit. Di tengah perjalanan Anthony tak sedikitpun melepas genggaman tangannya terhadapku. Ketika kucoba memandangnya, dia hanya tersenyum mengangguk sambil membelai punggung tanganku. Pandanganku beralih ke kursi depan tempat Bapak dan ibu mertuaku berada. 'Kalian punya hutang penjelasan terhadapku.' Sampai di kediaman mertua, ibu menuntunku menuju kamar rias. "Masuklah! Kamu akan dirias karena harus mengikuti prosesi perkawinan lagi di sini" ujar beliau sambil meninggalkanku di depan pintu kamar rias. Dengan perlahan aku membuka pintu kamar dan di sana sudah menunggu perias yang akan meriasku. " Cepatlah! Kami dari tadi sudah menunggumu" ucapnya sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya sambil mendekat. "Mba, kenapa harus berdandan seperti ini" ucapku kaget kepada perias itu. "Maaf, Mba. Saya hanya menjalankan tugas, jadi kamu bertanya saja sama Bu Ramly." Perias itu berujar menyebut nama ibu mertua yang kebetulan sedang membuka pintu kamar. "Bu, tolong jelaskan. Ibu punya banyak penjelasan terhadapku." Dengan bahasa tubuhnya ibu mertua menyuruh perias itu keluar dari kamar. Kemudian beliau melanjutkan ucapannya ketika pintu kamar sudah ditutup dari luar. "Yanti ... penjelasan mana yang kamu inginkan?" "Dari awal, Bu. Siapa lelaki yang ibu bawa datang melamarku tempo dulu. Kenapa berbeda dengan yang sekarang menikahiku. Terus ... ada apa ini? Kenapa ibu mendaniku dengan baju sesuai kepercayaan ibu. Bukankah sudah ada kesepakatan kalau pernikahan kami memakai upacara kepercayaanku." Aku memberondong ibu mertua dengan segala pertanyaan yang selama ini mengganjal di kepala. Kulihat ibu mertua tersenyum sinis menatapku. "Yanti ... satu yang perlu kamu ingat! Ini rumahku. Jangan pernah membuat intonasi tinggi di rumah ini. Tentang siapa lelaki yang aku bawa buat melamar kemaren, ga perlu dijelaskan lagi. Karena kedua orang tuamu sudah tahu. Lagian ... kamu ga pantas menanyakan tentang lelaki lain, apalagi kepada orang tua suamimu." Aku melongo menatap mata ibu mertua, 'Lelaki lain?' Aku hanya berharap ini hanya sebuah mimpi saat mendengar apa yang beliau sampaikan. Ibu mertua beranjak dan melangkah menuju pintu, sebelum sampai ke pintu dia berbalik. "Satu lagi! Anthony tidak akan keluar dari rumah ini. Dia akan tetap tinggal di sini, kamu boleh dengan kepercayaan yang selama ini Kamu anut, tapi ... jangan pernah sedikitpun bermimpi memaksa Anthony untuk mengikutinya." Ibu mertua keluar dari kamar setelah selesei berkata. Aku menunduk, takut dan sedih kini menguasai batinku. Babak kehidupan apa yang akan aku jalani nanti. *** Akhirnya resepsi di rumah mertua selesei dilalui. Segala macam upacara adat di sana hanya mampu kulalui dengan terpaksa. Pandangan aneh terlontar dari pengiring-pengiring yang tadi pagi mengantarkan ke rumah mertua. Tak ada yang bisa aku jelaskan kepada mereka karena aku sendiri juga dalam keadaan kebingungan. Malampun tiba, tidak seperti keluargaku yang banyak, keluarga dari pihak suami hanya separuh dari keluargaku. Sehingga acara kami cepat selesai. *** "Sini kubantu lepaskan sanggul di kepalamu" ujar suamiku yang tiba-tiba sudah ada dibelakangku. Dari balik cermin kupandang wajahnya dengan lekat. mencari ketenangan di dalamnya. Tanpa kusadari tiba-tiba mata terasa memanas. "Mas ... ada apa ini? Apakah Mas bisa menjelaskan agar aku tidak dalam keadaan kebingungan?" "Ternyata ... kamu cantik, kenapa harus memikirkan hal-hal yang membuatmu bingung. Berhentilah memikirkan hal yang tidak penting. Kelak semua pasti kamu ketahui setelah saatnya tiba. Malam ini adalah malam kita, apakah kamu ingin merusaknya?" Dia berkata sambil membelai pipiku. Aku tahu, malam ini dia menginginkan haknya, dan itu tidak bisa kutolak. Bagaimanapun dia adalah suamiku yang telah sah dari segi agama maupun negara. Itu semua tidak mampu terpungkiri. Akhirnya malam itu kami melewatinya seperti pengantin-pengantin lain. Malam pertama yang seharusnya menjadi malam bersejarah, tapi malam itu tak bisa kujelasakan bagaimana perasaanku terhadapnya. Yang pasti, sungguh demi apapun aku membenci perkawinan ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD