PIL PAHIT YANG HARUS DITELAN

1117 Words
Hari berganti hari Aryanti lalui. Kini genaplah sebulan dia menjadi Nyonya Anthony. Gelar yang seharusnya membuat dia bangga. Anthony adalah anak tunggal dari seorang peternak terkaya di desanya. Anthony lelaki tampan yang kaya dan secara otomatis akan menjadi pewaris tunggal kekayaan orang tuanya. Tapi kenyataan pahit harus kembali ditelan Aryanti. Setelah dia menikah, hari demi hari baru sadar ada yang tidak beres dia rasakan terhadap mental suaminya. Dan kenyataannya suaminya ternyata kurang waras. Anthony akan terlihat tenang dan bahkan elegan jika emosi dia stabil, namun ... kalau emosi dia tersulut maka temperamental yang tidak wajar akan terlihat. Sebulan selepas menikah Anthony ditugaskan Bapaknya untuk mengurus peternakan di desa sebelah. Dan tentu saja itu telah membuat pasangan yang baru menikah ini menjalani hubungan jarak jauh. Pasangan yang masih hangat-hangatnya ini harus rela untuk berjauhan karena tugas sang Bapak. Hangat? Mungkin itu yang dirasakan Anthony, tapi tidak buat Aryanti. Ketika suaminya berada jauh dari dia, Aryanti merasakan kebebasan walaupun perlakuan mertua tidak juga ada baik-baiknya, setidaknya dia bebas dari salah satu iblis yang selama ini menyiksa raga batin dan menyiksa seksualnya. Tidak akan ada yang menyangka suaminya yang tampan adalah maniak s*x yang menakutkan. Selama ini Aryanti tidak mengira, bahwa dia akan menjadi tokoh utama dalam cerita-cerita yang sering dia baca. Tentang kekerasan dalam rumah tangga. Tentang mertua yang jahat terhadap menantunya. Mempunyai keluarga sakinah mawadah wa ramah hanyalah impian yang tidak akan dapat dia wujudkan. Selama dia masih terperangkap oleh keluarga pilihan orang tuanya ini. ** Pagi ini cuaca begitu cerah. Matahari menerobos terang di sela-sela gorden yang tak sengaja tertiup angin dari kipas. Tapi pagi ini tidak secerah hati, pikiran, dan raga Aryanti. Badan dia rasakan serasa remuk. Tidak dapat dibayangkan kejadian setiap malam yang dia lalui semenjak Anthony pulang dari peternakan. Lelaki tampan itu tidak setenang penampilannya. Dia seperti sosok iblis yang menjelma dengan ketampanannya. Aryanti menggeliat saat tubuhnya kembali ditarik paksa oleh sebuah tangan. Dengan terburu dia turun dari ranjang setelah tau siapa yang telah menariknya. Dengan rambut basah Anthony mendekat ke arah Istrinya. "Sayang aku mau lagi. Sini mendekatlah. Aku tidak menyangka bersamamu serasa aku tidak ingin jauh lagi darimu. Kau begitu pintar membuat aku mabuk kepayang." Anthony menyandarkan kepalanya di bahu Aryanti, sambil tiada henti menciumi bahu dan lehernya. Tangannya terus meraba setiap lekuk tubuh sang istri. "Thon ... Pliiss kumohon jangan paksa aku lagi, aku capek." Aryanti bersimpuh mengiba di kaki Anthony dengan berurai air mata. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa selama ini telah menikah dengan lelaki yang sangat kejam. Semenjak menikah, setiap melakukan hubungan badan Anthony selalu memaksa, bahkan cenderung brutal. Mata Anthony berkilat. Dia tidak pernah mendapatkan penolakan, jangankan dari orang tuanya. Apa yang dia mau selalu ada. 'Kini hanya seorang Aryanti berani menolak keinginannya' pikirnya penuh dengan amarah "Kamu milikku, aku berhak berbuat apa saja terhadapmu?" teriak Anthony sambil memukul tembok kamarnya. "Ka_ka_kamu tidak seharusnya melakukan ini terhadapku. Kamu tidak pantas memaksaku. Tolong ... lepaskan aku." Aryanti terus beringsut mundur ketika Anthony mendekatinya dengan perlahan. Sendi di lututnya sudah melemas menahan rasa takut sejak tadi. Sungguh tidak bisa dia bayangkan ketakutan ini akan menguasainya. Lelaki yang seharusnya menjadi belahan jiwanya itu merangkak bagai monster yang sangat mengerikan. Dia mengendap-endap mendekatinya bagai ingin menerkam mangsa. Krakkk .... Anthony menarik baju Aryanti dari belakang ketika dia menyadari Aryanti berusaha melepaskan diri dari kungkungannya. Plakk ... tangan Anthony melayang dengan ringan ke pipi Aryanti. Anthony melotot penuh dengan kemarahan. Dengan brutal Anthony mendorongnya ke tembok. Aryanti meringis menahan sakit di punggung akibat hempasan yang terlalu kuat. "Mau kemana kamu? Sudah bosan hidup 'kah kamu. Jangan kira aku akan melepaskanmu dengan mudah. Kamu istriku jangan lupa itu!" "Aku hanya mau istirahat sebentar, Thon. Percayalah aku tidak ke mana-mana." "Istirahat? Dari subuh kamu tidur, Yan. Itu bukan istirahat 'kah?" ujar Anthony sambil melotot garang. Rahangnya terkatup dengan kuat menandakan kemarahan yang luar biasa. "Tapi dari semalam kamu sudah minta 'itu' padaku, Thon. Bahkan sampai subuh. Aku ca ..." Belum sempat Aryanti meneruskan ucapannya Anthony sudah menarik rambut Aryanti dengan kasar. "Kamu bisa diam tidak! Tidak bisakah kamu menuruti kemauan suamimu tanpa membantah!" Aryanti menjerit pilu ketika melihat rambutnya dijambak semakin keras. Helai demi helai rambutnya berjatuhan ke lantai. Perih, seolah batok kepalanya ikut terkuliti. Ketika tanpa sadar tangan Anthony melonggar kesempatan itu tidak disia-siakannya. Dengan sekuat tenaga tubuh Anthony dia dorong, karena kurangnya persiapan diri sehingga membuat tubuh Anthony mudah terjengkang. Dengan cepat dia berdiri dan berlari menuju pintu. Belum sempat sampai ke pintu, tangan Anthony bergerak menangkap kaki Aryanti, sehingga membuat wanita cantik itu jatuh terjerembab ke lantai dengan kerasnya. Dengan kasar Anthony menyeret kaki sang istri supaya lebih dekat dengan dia. Anthony merangkak menaiki tubuh Aryanti penuh nafsu bercampur amarah. Entah mengapa melihat keadaan seperti itu nafsu menginginkan Aryanti dia rasakan semakin besar. Aryanti semakin ketakutan melihat suaminya menyeringai. Sehingga dengan membabi buta kakinya menendang-nendang. Akhirnya tanpa sengaja kakinya menendang area vital Anthony, sehingga membuat lelaki itu meringis kesakitan. Sekali lagi, kesempatan itu tidak Aryanti sia-siakan. Segera dia merangkak ke arah pintu yang tidak jauh lagi dari jangkauannya. Dengan susah payah dia membuka pintu yang memang dikunci dari dalam. Dengan cepat dia memutar anak kunci, namun ... ketika pintu itu hampir terbuka, sosok tubuh besar Anthony telah mengungkungnya dari belakang. "Mau ke mana Sayang ..." ucap Anthony sambil menekan pintu sehingga pintu yang akan terbuka itu kembali menutup. "Coba dari tadi kamu tidak melawan mungkin rasa sakit itu tidak akan kamu rasakan" ujar Anthony sambil kembali melancarkan aksinya yang tadi sempat tertunda. Dia sibuk mencumbu dengan tersenyum penuh nafsu. Sang istri hanya mampu menangis pilu sambil memejamkan mata. Tiada lagi kini harapan yang bisa dia wujudkan. Dia hanya mampu pasrah dengan apa yang terjadi. Saat ini hanya itu yang mampu dia lakukan. ** "Tidak bisakah sifat membangkang yang kamu miliki itu dibuang!" ujar wanita di hadapanku itu penuh penekanan. Jujur demi apapun aku membenci keluarga ini. Tidak anak tidak ibu sama jahatnya. Keluarga macam apa yang sudah aku miliki ini. Ya Tuhan ... ada pernah dosa apa aku terhadapMU. "Lain kali jangan biarkan suamimu marah. Kamu tahu 'kan bagaimana kalau dia marah. Kalau kamu luka kayak gini, toh aku juga yang repot" ujar wanita itu masih dengan gerakannya mengobati lebam di mukaku. "Sebenarnya kamu juga tahu, dia akan baik kalau kamu tidak berulah. Kamu mengerti tidak! Jangan berulah!" Dia menekan luka lebamku dengan keras. Wanita itu melotot, tak kalah mengerikan dengan mata anaknya. Aku sampat berfikir, 'Sifat kurang waras dari si b******k itu jangan-jangan turunan dari emaknya.' Aku meringis menahan sakit, ketika wanita itu semakin menekan luka lebamku dengan keras. Aku sakit, sakit jiwa dan tentu raga. Entah sampai kapan aku terperangkap di keluarga ini. Tuhan ... tolong seandainya ini mimpi bangunkan aku segera. Aku takut ikut menjadi kurang waras seperti mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD