4

1024 Words
Akhir minggu Kina habiskan untuk bersantai setelah bekerja penuh selama lima hari kerja. Segelas es jeruk yang ia peras sendiri menjadi teman menonton drama kesayangannya. Belum selesai satu episode Kina saksikan, ponselnya berbunyi. Tertera nama Theo di layar yang otomatis langsung membuat Kina menerima panggilannya. “Selamat pagi, Pak Theo.” Sapa Kina. “Berapa kali harus aku bilang kalau nggak perlu formal kalau di luar kantor?” “Saya—ah, aku masih belum terbiasa Pak.” Terdengar Theo mengembuskan napas di ujung telepon. “Kamu sibuk hari ini?” “Nggak,” jawab Kina. “Ada apa?” “Sekitar satu jam lagi aku sampai di rumahmu. Ada hal yang harus kita bicarain langsung.” “Bisa jangan ngobrol di rumah saya nggak, Pak? Saya nggak enak sama tetangga, takut kita jadi omongan tetangga.” “Oke, kita ngobrol di luar aja. Kamu siap-siap.” “Baik, Pak. Sampai jumpa.” Mau tidak mau Kina harus menyudahi acara bersantainya hari ini. Ia harus segera bersiap, jangan sampai ia masih belum siap saat Theo sampai nanti. *** Kina dan Theo sudah dalam perjalan menuju salah satu cafe yang terkenal di Kota. Untung saja saat Theo tiba, Kina sudah siap. Setidaknya Kina telah memberikan kesan baik pada Theo di kencan—bisa dibilang begitu, kan?—pertama mereka. “Aku to the point aja, ya. Kayaknya kamu harus pindah ke apartemenku.” Kata Theo sembari tetap fokus pada jalanan. Kina yang terkejut langsung menatap Theo. “Tapi kemarin kita kan udah nggak setuju, Pak.” “Iya, tapi Mama masih mendesak aku sampai sekarang. Kalau kamu pindah, seenggaknya Mama bisa berhenti mendesak kita untuk melangkah lebih jauh.” “Nggak menutup kemungkinan juga, Pak,” jawab Kina. “Apa drama kita mau selesai di sini aja? Maksudku, kita bisa buat seakan aku nggak nyaman dan akhirnya pergi dari kamu.” “Nggak bisa gitu. Kalau berhenti sekarang, Mama malah curiga kalau kita sebenarnya nggak punya hubungan dekat.” “Kenyataannya memang begitu, kan.” “Kenyataan yang kita tau, kenyataan yang Mama tau kan beda,” kata Theo. “Gini deh, kalau kamu pindah ke apartemenku, aku bakal jamin kalau privasi kamu akan tetap terjaga. Unitku cukup luas untuk kita tetap punya privasi masing-masing. Kita bisa atur jadwal tentang semua kegiatan di apartemen kalau kamu nggak nyaman kita tatap muka terus.” “Nggak perlu sampai segitunya juga,” kata Kina. “Aku boleh mikir dulu, nggak?” Theo mengangguk. “Sampai sore ini.” “Singkat banget?!” “Kita harus gerak cepat biar semuanya cepat selesai.” “Jadi dari awal Pak Theo nggak mau pura-pura begini? Terus kenapa dilakuin? Bisa aja kan Pak Theo bilang ke keluarga kalau emang lagi nggak dekat dengan siapa pun?” “Nggak usah banyak tanya, kita udah sampai.” kata Theo tanpa menjawab pertanyaan Kina. Saat mobil sudah berhenti sempurnya, Kina langsung melepas sabuk pengaman dan berniat untuk keluar. Dengan cepat Theo menarik tangan Kina untuk menahannya. Tanpa bicara, Kina hanya memberikan tatapan meminta penjelasan pada Theo. “Dengar,” kata Theo membuka kalimatnya. “Mobil yang parkir nggak jauh dari pintu masuk itu adalah mobil orang suruhan Mamaku. Suka nggak suka kita harus berakting sedekat mungkin. Di dalam cafe nanti jangan sampai ada bahasan tentang rencana kita. Cukup ngobrol ringan aja. Paham?” “Kata kamu tadi ada yang harus diomongin?” “Tadi udah kita omongin.” “Tentang aku yang pindah ke apartemen Pak Theo?” Theo mengangguk. “Nggak lebih baik kita pulang aja, Pak? Yang mau diomongin juga udah selesai, kan?” “Aku masih harus sama kamu sampai kamu kasih jawaban,” kata Theo. “Ayo.” “E-eh, Pak,” Kali ini Kina yang mencegah Theo. “Gimana kalau kita ke mall atau bioskop aja? Soalnya kalau cuma duduk bareng di cafe, keliatannya bakal susah untuk berakting natural. Apalagi kita udah tau ada yang mengawasi dari dekat.” Theo berpikir sejenak, kemudian mengangguk tanda ia setuju dengan saran Kina. Mereka kembali mengenakan sabuk pengaman, lalu pergi meninggalkan tempat parkir cafe tersebut. Setidaknya kali ini mereka lolos dari mata-mata keluarga Theo. Sebelumnya Kina memang bilang akan melakukan apa pun untuk Theo, tapi setelah dihadapkan langsung dengan masalah, sepertinya sulit untuk Kina memenuhinya. Meski Kina akan diuntungkan jika tinggal bersama Theo, ia masih khawatir akan banyak orang yang membicarakannya. Apalagi jika bertemu dengan orang yang memandang status sosial, itu akan lebih menyulitkan baginya mengingat status sosial Kina dan Theo bagaikan langit dan bumi. Saat sampai di mall, mereka langsung menuju bioskop. Sayangnya tidak ada film yang bagus, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk makan siang bersama. Dua mangkuk mie ramen, dan dua gelas lemon tea menjadi menu makan siang hari ini. Sembari mengobrol ringan, tidak terasa makanan mereka sudah habis. Karena masih tersisa banyak waktu hingga sore nanti, Theo memutuskan untuk mengajak Kina berjalan keliling mall. “Ada yang mau dibeli, Pak?” tanya Kina setelah mereka keluar dari restoran. “Nggak, ada yang mau diliat aja. Tapi kalau cocok, ya beli.” Jawab Theo. Kina mengangguk mengerti. “Oke.” “Kamu ada yang mau dibeli?” “Nggak.” “Beneran?” “Iya, hari ini aku nemenin kamu aja.” “Bilang kalau ada yang mau kamu liat atau beli.” “Iya, Pak.” “Aku merasa lebih tua sepuluh tahun kalau jalan sama kamu.” “Oke, ulang,” Kina tertawa kecil. “Iya, Theo.” Theo pun tersenyum. “Sounds better.” Kina dan Theo berjalan bersama sambil melihat toko-toko yang mereka lewati. Sesekali Theo mampir ke sebuah toko, melihat-lihat, lalu keluar dengan tangan kosong. Tugas Kina kali ini hanya mengikuti kemana pun Theo pergi, namun otaknya tidak berhenti memikirkan tentang haruskah ia pindah ke apartemen Theo atau tidak. Toko brand olahraga terkenal menjadi tujuan terakhir Theo dan Kina. Sementara Theo melihat-lihat, Kina memilih untuk duduk di kursi yang tersedia. Matanya selalu mengikuti kemana pun Theo pergi—melihat pakaian olahraga, melihat tas, mencoba sepatu, hingga ke kasir untuk membayar. Kina bangkit dari tempatnya duduk saat Theo menghampirinya. “Pak—oh no, Theo.” “Hm?” “Aku mau pindah ke apartemenmu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD