Suasana tenang di ruangan langsung berubah saat seorang pegawai memberi kabar bahwa Direktur Utama sedang kunjungan mendadak ke setiap Departemen. Tentu saja semua pegawai langsung berusaha membersihkan—setidaknya—meja mereka masing-masing dan membuka dokumen dalam komputer agar dapat memberikan kesan baik pada atasan mereka.
“Selamat siang, semua.” Sapa Theo saat masuk ruangan Departemen Human Resources.
“Selamat siang, Pak Theo.” Sapa seluruh pegawai seraya berdiri dari tempat duduk masing-masing.
“Bagaimana keadaan departemen pada paruh kedua tahun ini? Aman?”
“Aman, Pak. Reward untuk pegawai berprestasi bulan ini sedang kami urus.” Jawab Cla.
“Komputer, printer, scanner, atau alat lain tidak ada masalah?”
Cla menggeleng. “Aman semua, Pak.”
“Bagus,” kata Theo. “Ah, di sini ada berapa orang yang kerja masih dibawah satu tahun? Tolong angkat tangan.”
Kina dan empat orang lainnya angkat tangan.
“Yang dibawah lima bulan?”
Kina sendiri yang angkat tangan.
“Oke, untuk pegawai yang diatas lima bulan, nanti akan ada pelatihan lagi, ya. Dan kamu,” Theo menunjuk Kina. “Yang dibawah lima bulan bisa ikut saya? Saya harus bertanya beberapa hal dulu sebelum menentukan pelatihan awal untuk kamu.”
“Baik, Pak.”
Kina beranjak dari mejanya dan mulai mengikuti rombongan Theo dan sekretarisnya. Setelah sampai di lantai 8, mereka langsung menuju ruangan Theo.
“Tolong follow up ke saya secepatnya.” Kata Theo menutup pembicaraan dengan sekretarisnya.
“Baik, Pak.”
Theo mengangguk, lalu menatap Kina yang berdiri di belakangnya. “Kamu, ikut saya.”
Kina dan Theo masuk ke ruangan. Setelah ia menutup pintu, mereka duduk berhadapan di sofa yang berada di tengah ruangan. Theo menyerahkan satu map berwarna biru tua dengan logo NZ pada sampulnya.
“Sore nanti kamu harus menjalankan tugas pertamamu,” kata Theo. “Orang tuaku mau bertemu denganmu.”
“Tapi saya nggak bawa baju ganti, Pak.” Jawab Kina sedikit panik.
“Cukup pakai bajumu yang sekarang,” jawab Theo. “Karena kita nggak bisa keluar bersama, kamu bisa tunggusaya di halte bus dekat kantor. Saya akan jemput kamu paling lambat duapuluh menit setelah jam pulang kantor. Saya akan pakai mobil lain agar tidak ada yang mencurigaimu.”
Kina mengangguk mengerti. “Lalu ini dokumen apa, Pak?”
“Beberapa hal yang harus kamu tau tentang saya dan keluarga saya, setidaknya hal mendasar harus sudah kamu hafal di luar kepala sebelum kita bertemu sore nanti.”
“Ah, begitu,” kata Kina sembari mengangguk. Ia mulai membuka map tersebut, sepuluh halaman pertama berisi tentang beragam jenis pelatihan—yang merupakan alasan ia dipanggil keluar tadi—dan halaman selanjutnya adalah hal-hal tentang Theo. “Apa saya perlu memberitahu beberapa hal tentang saya juga, Pak?”
Theo menggeleng. “Kamu hanya perlu mengikuti alur obrolan saya.”
“Baik, Pak.”
“Ya sudah,” kata Theo. “Sampai jumpa nanti sore.”
***
Jam kerja Kina baru saja berakhir tepat setelah ia menempelkan tanda pengenalnya pada mesin absen. Ia langsung menuju toilet untuk merapikan riasan wajah dan juga menyisir rambutnya. Kina tidak mau memberikan kesan pertama yang buruk pada keluarga Theo. Setelah ia rasa cukup, Kina pun langsung menuju halte bus tempat Theo akan menjemput.
“Sudah hafal?” tanya Theo tepat setelah Kina menutup pintu mobil.
Sepanjang sisa waktunya di kantor tadi Kina habiskan untuk menghafal informasi yang Theo berikan. Tidak sulit, tapi jumlahnya yang banyak membuat Kina harus menghafalnya berulang kali. “Belum semua, tapi saya rasa cukup untuk pertemuan pertama.”
“Nggak usah formal amat kalau kita lagi berdua dan diluar jam kantor,” kata Theo. “Oke, pertanyaan pertama. Kesukaan Mama?”
“Kalau benda, apa pun itu yang buatan sendiri karena lebih bermakna. Kalau kegiatan, minum teh sore sembari duduk di teras rumah.”
“Makanan?”
“Ng—”
“Lupain. Pekerjaan orang tuaku?”
“Untuk Mamamu, punya usaha kue kering. Kalau Papamu, pengusaha. Punya 1 mall, 1 hotel, dan banyak rumah kontrakan di kota ini,” jawab Kina. “Jangan-jangan rumahku juga punya Papamu.”
“Bisa jadi,” jawab Theo. “Aku sangka kamu nggak bakal hafalin sampai bagian itu.”
“Hebat kan aku,” kata Kina yang sudah mulai ikut menggunakan kata ‘aku’ untuk dirinya sendiri. “Tapi kenapa yang ditanyain tentang itu duluan sih, Pak?”
“Nggak apa-apa.”
“Oh iya, aku sangka NZ itu perusahaan keluarga karena kamu yang umurnya nggak jauh sama aku udah bisa menjabat sebagai Direktur Utama, ternyata bukan.”
“Aku masuk NZ juga melewati tahapan kayak kamu. Aku beruntung aja karena waktu itu langsung bekerja di bawah Direktur Utama sebelumnya,” jawabnya. “Dan tolong panggil aku pakai nama aja, kita udah nggak di kantor lagi.”
“Oke …Theo.”
“Dan aku mau minta maaf karena waktu itu kamu harus liat aku nggak pakai baju,” kata Theo. “Hari itu aku baru selesai main basket sama teman, terus mandi di kantor biar nggak telat. Karena biasanya yang masuk ruanganku cuma sekretaris dan Direktur lain yang memang udah ada janji sebelumnya, makanya aku bisa bebas begitu.”
“Jadi sekretarismu sering liat kamu telanjang d**a dong?!”
“Nggak lah!”
Kina mengangguk mengerti. “Aku juga minta maaf karena asal masuk aja padahal belum diberi izin.”
Tidak terasa mereka pun tiba di restoran tempat Kina akan bertemu dengan keluarga Theo untuk pertama kalinya. Setelah turun dari mobil, Theo mendekati Kina dan langsung menarik tangannya untuk digenggam. Meski sedikit terkejut, Kina harus bisa menyembunyikannya agar rencana Theo bisa berjalan lancar.
Sebuah senyuman yang indah hadir di wajah Mama Theo saat anaknya datang. Papa Theo yang berdiri di sebelah Mamanya pun ikut menyambut anak satu-satunya yang datang dengan pasangan—pura-pura—nya. Setelah saling menyapa dan Theo mengenalkan Kina, mereka pun duduk di meja yang sudah penuh dengan hidangan.
“Jadi Kina kerja di NZ juga?” tanya Papa Theo.
“Iya, Om.” Jawab Kina sopan.
“Wah, dari teman kerja bisa jadi teman hidup nih.” Kata Mama Theo yang tentu saja hanya dijawab senyuman kikuk oleh Kina.
“Kita belum berpikir sejauh itu, Ma,” kata Theo. “Kita juga cuma teman dekat. Aku kenalin dia malam ini ke Mama sama Papa karena kalian mendesak aku terus.”
“Kalau nggak begitu, kamu nggak bakal kenalin Kina ke Mama kan, Nak.”
“Theo ini orangnya memang harus didesak dulu baru mau dijalani,” sambung Papa Theo. “Kalau dia nggak peka, kamu langsung bilang aja apa yang kamu mau.”
“Siap, Om.”
Makan malam bersama malam ini berjalan lancar hingga hidangan penutup tandas. Mereka berjalan keluar dari restoran bersama, bahkan Mama Theo tidak melepas genggamannya pada lengan Kina.
“Ya udah Ma, Pa, Theo mau antar Kina pulang dulu.” Kata Theo saat mereka sudah berada di depan mobilnya. “Nanti Theo pulang ke rumah.”
“Lho, Mama sangka kalian udah tinggal bareng.”
“Ma, apartemen itu Theo beli untuk diri sendiri.”
“I-iya Tante, lagipula Kina dan Theo cuma berteman dekat dan belum ada hubungan lebih, lebih baik tinggal masing-masing. Kalau tiba-tiba tinggal bareng kan bahaya, bisa digosipin tetangga unitnya Theo nanti.” Kata Kina seraya tertawa kecil.
“Ah, orang-orang udah open minded kok. Lagipula kalian pasti udah punya bayangan kan meski tadi Theo bilang masih belum mikirin gimana kedepannya.” kata Mama Theo.
Kina dan Theo saling bertukar tatap, seakan memberi tanda untuk segera menyudahi percakapan ini. “E-eh, Om, Tante, Kina pamit dulu, ya.”
“Iya, Nak,” jawab Papa Theo sembari menyalami Kina. “Hati-hati di jalan, ya.”
“Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya.” Pesan Mama Theo.
“Iya, Ma,” jawab Theo. “Sampai jumpa di rumah.”
Kina baru bisa bernapas lega setelah berada di dalam mobil. Kina dan Theo hanya bicara saat ia harus memberi arah menuju rumahnya, sisanya mereka hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sepanjang perjalanan, Kina berusaha menyimpulkan pertemuan pertama dengan orang tua Theo. Mereka berdua baik, orangnya juga hangat. Namun satu hal yang membuat Kina sedikit tidak nyaman, Mama dan Papa Theo seakan mendesak Theo untuk menikah. Sedangkan kesepakatan yang dirinya dan Theo buat hanya sebatas teman dekat—meski sejak awal Theo sudah bilang kalau ia tidak tahu akan sejauh apa hubungan mereka. Kalau untuk menikah, jika Kina hanya memikirkan uang mungkin ia akan langsung setuju. Tapi tidak, Kina masih harus memikirkan matang-matang karena ini adalah keputusan besar yang tentu saja akan mengubah hidupnya. Dan lagi, ia hanya ingin menikah satu kali seumur hidup dengan orang yang ia cintai.
“Makasih untuk hari ini,” kata Theo setelah mereka tiba di rumah Kina. “Bayaranmu akan aku transfer segera.”
“Aku juga sangat berterima kasih untuk hari ini,” jawab Kina. “Hati-hati di jalan, Pak Theo.”
Tidak lama setelah mobil Theo pergi, ponsel Kina bergetar. Satu pesan masuk dari Bank membuat senyum Kina mengembang. Theo benar-benar menepati omongannya.
“0-nya banyak, hampir sama kayak gajiku sebulan,” kata Kina sembari menatap layar ponsel. “Tenang aja, Pak Theo! Saya akan siap sedia membantu anda jika bayarannya seperti ini!”
Sejak saat itu, Kina benar-benar bertekad akan selalu membantu Theo selama ia mampu. Meski permintaannya tidak masuk akal sekalipun.