2

1238 Words
Kina menikmati perannya sebagai salah seorang pegawai di NZ Company. Selain karena gaji yang lebih dari cukup untuk seorang staf, tapi juga karena lingkungan kerja dan peraturan jam masuk dan keluar kantor yang sangat teratur. Ditiadakannya waktu untuk lembur membuat Kina—dan seluruh pegawai tentunya—dapat menghabiskan akhir pekan dengan tenang bersama keluarga, teman, atau hanya dengan diri sendiri. “Siang, Mbak Cla.” Sapa Kina saat mereka bertemu. Kina yang baru saja kembali dari pantry berpapasan dengan Cla yang baru saja selesai rapat dengan departemen lain. “Siang,” Sapa Cla, mereka pun masuk ruangan bersama. “Kamu lagi sibuk, nggak?” “Nggak, Mbak. Ada apa?” “Kebetulan. Aku tadi dititipin dokumen tambahan dari Departemen Legal, disuruh sampaikan ke Direktur Utama. Tapi aku nggak bisa, soalnya masih ada rapat lain dan udah mepet banget waktunya. Bisa tolong aku, nggak? Kasih aja sama sekretarisnya, bilang dari Departemen Legal.” “Oh, iya. Siap, Mbak.” Jawab Kina seraya menerima dokumen dari Cla. “Makasih, ya. Aku pergi dulu.” Setelah mengambil tas, Cla pun kembali pergi. Kina yang sudah diberi amanat juga kembali meninggalkan ruangan menuju ke lantai 8, tempat ruangan para Direktur berada. Tidak seperti biasa, lantai 8 hampir tidak ada orang. Hanya ada satu-dua pegawai yang sibuk dengan komputernya. Saat sampai di depan ruang Direktur Utama, sekretarisnya pun tidak ada di mejanya. Kina ragu jika harus menaruh dokumen tersebut di meja sekretaris, karena bisa saja ada orang jahat yang mencuri dokumen ini. Setelah berpikir sejenak, ia pun memutuskan untuk langsung menaruhnya di ruangan. Kina mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban dari dalam. Sekali lagi ia mencoba, namun tetap tidak ada jawaban. Perlahan Kina membuka pintu ruangan, ia berharap semoga langkah yang ia ambil benar. “Permisi,” kata Kina seraya mulai melangkah masuk. Betapa terkejutnya Kina saat ia mendapati seorang laki-laki bertelanjang d**a dengan rambut basah sedang berdiri memandanginya. Langsung saja Kina memejamkan mata dan membalikkan badan dengan cepat. “M-maaf, Pak, saya nggak bermaksud lancang. Saya cuma mau menyerahkan dokumen dari Departemen Legal yang dititipkan oleh Ibu Cla. Ibu Cla nggak bisa antar ke sini karena beliau masih ada rapat, jadi saya yang ke sini.” “S-saya nggak kasih ke sekretaris Bapak karena mejanya kosong, saya juga nggak berani taruh dokumen penting di luar, makanya saya masuk ke sini. M-maafkan saya, Pak.” Tambah Kina terbata-bata. “Nggak sopan kamu membelakangi lawan bicaramu.” “T-tapi—” “Saya udah pakai baju.” Kina membalikkan badan dengan mata yang masih terpejam. Perlahan ia membuka matanya. Dan benar, sang Direktur Utama sudah memakai kemejanya. Tapi sekarang, Kina malah lebih terkejut dari sebelumnya. “Katakan lagi apa yang kamu katakan tadi.” Katanya sembari duduk di belakang meja kerjanya. Sebelum mulai bicara, Kina menatap papan nama yang berdiri gagah di atas meja. Theodore. “Ibu Cla dititipkan dokumen oleh Departemen Legal dan diminta untuk memberikannya ke Bapak, tapi karena beliau masih ada rapat lagi, jadi beliau menyuruh saya untuk membawanya kemari.” Jelasnya. “Tadinya saya disuruh untuk memberikannya pada sekretaris Bapak, tapi karena mejanya kosong dan saya nggak berani taruh dokumen penting di luar, jadi saya memberanikan diri untuk masuk ke sini. Begitu.” “Oke, alasanmu saya terima.” Kata Theo. “Tapi karena kamu sudah melihat apa yang tidak seharusnya kamu lihat, kamu harus menerima hukuman.” “Hukuman? Tapi kan saya nggak sengaja, Pak.” “Tapi sempat melihat, kan?” Tidak ada yang salah dari ucapan Theo yang akhirnya membuat Kina terdiam. “Sederhana saja, ini bukan surat peringatan atau pemotongan gaji. Kamu hanya perlu membantu saya.” “Apa yang bisa saya bantu?” “Jadi pasangan saya di depan keluarga saya.” “Tunggu,” Kina berusaha berpikir jernih dan tidak berpikir macam-macam dengan orang yang ada di hadapannya saat ini. “Ini pasti demi harta dan jabatan seperti yang ada di drama atau film. Iya, kan?” “Nggak ada yang seperti itu. Ini pure karena mereka mau lihat saya punya pasangan, sedangkan selama ini saya lebih nyaman sendiri.” Kina terdiam. “Saya akan berikan bayaran disetiap pertemuan.” Kata Theo seraya menunjukkan layar ponsel dengan nominal yang akan Kina dapat jika ia menyetujuinya. “Jadi gimana rencana Bapak?” Demi uang, aku bakal lakuin apa pun yang dia mau. Theo tersenyum. “Nggak sulit, kamu cuma perlu siap setiap saya harus bertemu dengan keluarga. Nggak perlu pakai pakaian mahal karena keluarga saya tidak memandang derajat orang lain, cukup pakai pakaian yang sopan dan tidak berlebihan.”  “Baik, Pak.” “Perlu kamu garisbawahi kalau hubungan kita berlangsung saat berada di depan keluargaku saja. Di luar itu, kita bersikap tidak saling mengenal pun saya tidak peduli,” tambah Theo. “Dan usahakan supaya tidak ada satu orang pun yang tau tentang hal ini, termasuk seluruh pegawai kantor. Status kita tetap sama. Saya sebagai Direktur Utama, dan kamu sebagai salah satu staf di Departemen Human Resources.” Kina diam sejenak. “Tapi apa mungkin kalau orang kantor nggak tau, Pak? Namanya gosip apalagi tentang petinggi perusahaan pasti mudah menyebar, kan?” “Selama kabar itu bukan keluar dari mulut kita, kamu nggak usah pedulikan pandangan orang lain. Dan baik sebelum atau sesudah gosip tentang hubungan kita tersebar, kita harus tetap bersikap seperti biasa supaya mereka juga berhenti membicarakan kita.” “Baik, Pak.” Sekali lagi Theo tersenyum, kemudian ia menyodorkan kertas dan pena pada Kina. “Kalau begitu, tinggalkan nomor ponsel dan nomor rekeningmu di sini. Saya akan menghubungimu saat saya harus bertemu dengan keluarga.” “Dan satu lagi,” Theo kembali bicara saat Kina sedang menulis. “Saya nggak tau harus sejauh apa dan berapa lama kita harus berpura-pura seperti ini, entah statusnya hanya sebatas berhubungan dekat, pacar, atau malah sampai menikah. Tapi tenang, kamu boleh pergi kalau sudah bosan. Tinggal katakan saja, dan kita bisa mencari waktu yang tepat secepat mungkin untuk mengatakannya kepada keluarga saya.” “Bapak bisa sepercaya itu sama saya?” tanya Kina seraya menyerahkan kertas berisi nomor ponsel dan rekeningnya. “Nggak mau buat perjanjian dengan materai, gitu? Biar saya tutup mulut dan juga nggak bisa kabur dari tanggung jawab setelah menerima bayaran.” “Nggak perlu, karena saya tau kamu juga otomatis tutup mulut setelah menerima uang. Dan juga saya baru akan mengirimkan bayaran tepat setelah pertemuan selesai. Kalau kamu mau kabur ditengah-tengah pertemuan, kamu yang rugi. Bukan saya.” “Iya juga,” kata Kina. “Tapi Pak, Bapak bisa diskusi sama saya dulu sebelum misalnya keluarga Bapak meminta kita untuk menikah, kan?” “Tentu saja. Seperti yang saya bilang sebelumnya, kamu boleh pergi asal kamu bilang sama saya.” Kina mengangguk mengerti. “Baik, Pak.” “Oke, kamu boleh keluar sekarang. Terima kasih juga atas dokumennya.” “Baik, Pak. Saya permisi.” Setelah menutup pintu, Kina tidak percaya kalau ia bisa bertemu dengan laki-laki itu lagi. Tiga bulan lamanya Kina mencari dalam diam, tidak disangka hari ini ia malah bertemu bahkan tanpa usaha sedikit pun. Ya, laki-laki yang menemuinya di warung ayam geprek dan menyuruhnya melamar di NZ adalah Theo. Kina mengembuskan napas panjang, lalu kembali mengetuk pintu dan membukanya kembali. “Pak Theo,” Theo mengalihkan pandangannya dari dokumen yang sedang ia buka. “Ya?” “Terima kasih karena hari itu udah nyaranin saya untuk melamar di perusahaan ini.” “Kamu ingat ternyata,” kata Theo sembari tersenyum kecil. “Sama-sama.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD