“Akhirnya selesai semua.”
Saat ini Kina sedang duduk di halte kampus sembari membaca brosur yang baru ia dapatkan dari fakultas. Ia baru saja selesai mengurus semua keperluannya setelah wisuda. Bahkan ia sudah mendapat legalisir untuk ijazah dan transkrip nilainya dalam kurun waktu kurang dari sehari.
“Makan dulu kali, ya. Biar nanti sampai rumah bisa langsung tidur.”
Kina bangkit dari tempatnya lalu berjalan menuju warung ayam geprek langganannya selama kuliah. Tempatnya kecil, namun selalu ramai pengunjung karena harganya yang murah dan rasanya yang lezat. Setelah memesan, Kina memilih tempat duduk yang dekat dengan kipas angin, panasnya hari ini benar-benar membuat kulit terasa terbakar.
“Maaf,”
Acara makan siang Kina terganggu oleh seorang laki-laki yang menyapanya. Mau tidak mau Kina harus berhenti sejenak dan menjawabnya. “Ya?”
“Kina, benar?”
“Anda siapa, ya?”
“Wisudawan dari Fakultas Ekonomi, yang kemarin wisuda bareng kamu.”
“Oh, iya.” Jawab Kina singkat. Ia tidak mengenal siapa orang ini, ia juga tidak ingin banyak bicara dengan orang yang tidak dikenal mengingat banyak tindak kejahatan yang terjadi saat ini.
“Kamu tau NZ Company?”
“Siapa yang nggak tau perusahaan raksasa itu.”
“Mendingan kamu cepat buat lamaran dan serahin ke kantor pusat NZ deh, mereka pasti langsung nerima orang hebat kayak kamu tanpa banyak pertimbangan.”
“Kenapa nggak kamu aja yang kirim lamaran? Ngapain malah nyuruh orang lain.”
Laki-laki itu tersenyum. “Karna aku nggak perlu buat lamaran lagi.”
Setelahnya, ia bangkit dan meninggalkan Kina yang masih heran dengannya. Sesungguhnya Kina masih sedikit tersinggung dengan perkataan orang itu. Entah pujian atau bukan, Kina merasa kata ‘orang hebat’ tidak pantas disematkan pada dirinya. Ia merasa hidupnya biasa saja, nilai yang ia raih pun standar. Kina berpikir sejenak, mengangkat kedua bahunya lalu kembali menyantap makanannya seakan tidak terjadi apa-apa.
Tidak disangka, ucapan laki-laki tadi ternyata cukup untuk menjadi pikiran Kina. Sejak awal masuk kuliah, tidak ada dalam pikiran Kina akan melamar pekerjaan di NZ Company. Ia sadar kalau kemampuannya tidak memadai untuk bekerja di sana. Namun sepertinya saat ini ia sudah berubah pikiran.
***
Hampir sepuluh amplop cokelat berisi dokumen untuk melamar kerja sudah Kina serahkan ke kantor yang sedang membuka lowongan pekerjaan untuk lulusan baru. Tinggal satu amplop cokelat yang tersisa, yang sudah Kina persiapkan untuk NZ Company. Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya Kina memberanikan diri untuk melamar kerja di sana. Diterima atau tidaknya sudah tidak ia pedulikan, yang penting dirinya sudah berani melangkah.
“Permisi, Pak. Saya mau menaruh lamaran kerja.” Kata Kina pada petugas keamanaan yang ada.
“Boleh, Mbak. Ditaruh di sini aja. Silakan isi nama dan nomor telepon yang bisa dihubungi di buku ini.” Kata petugas keamanan seraya membuka buku tamu.
“Baik.”
“Oh, Mbak ini yang namanya Kina. Kalau sudah selesai nulisnya biar langsung saya antar ke ruang interview.”
Kina mengangkat kepalanya. “Maksudnya?”
“Saya dititipkan pesan sama Kepala HRD kalau ada pelamar atas nama Kina, langsung di suruh antar untuk bertemu mereka.”
“T-tapi pakaian saya nggak sopan, Pak. Saya hari ini niatnya cuma nganterin lamaran ke kantor-kantor.”
Ya, untuk saat ini pakaian Kina memang kurang pantas untuk wawancara kerja—sepasang celana jins hitam dengan kemeja lengan pendek yang pastinya sudah bau keringat dan asap kendaraan.
“Kayaknya sih nggak masalah, Mbak.”
“Y-yaudah deh, Pak. Ini, saya udah selesai nulisnya.” Kata Kina sembari menyerahkan buku tamu.
“Mari, Mbak, ikuti saya.”
Kina mengikuti langkah petugas keamanan hingga sampai di lantai tiga, ruangan khusus proses perekrutan. Setelah mengucapkan terima kasih, Kina memilih untuk duduk di salah satu kursi yang ada sembari menunggu pegawai yang akan mewawancarainya. Dengan cepat ia sedikit memoleskan bedak dan lipstik di wajahnya agar terlihat lebih segar dan bisa memberikan—setidaknya sedikit—kesan baik terhadap dirinya.
“Selamat siang.”
Suara seorang perempuan yang sangat ramah memenuhi seluruh ruangan. Dengan cepat Kina berdiri untuk menyambutnya. “Selamat siang.”
“Halo,” Sapa perempuan itu seraya mengulurkan tangan sambil tersenyum. “Kina, ya? Saya udah nunggu kamu satu minggu ini. Silakan duduk.”
Kina pun menyambut uluran tangannya. “Terima kasih.”
“Perkenalkan nama saya Cla, hari ini saya ditunjuk untuk mewawancarai serta memberikan beberapa tes untuk mengetahui apakah kamu dapat diterima di sini atau tidak. Jadi, apa bisa kita mulai sekarang?”
“Tapi mohon maaf sebelumnya, Bu, sepertinya pakaian saya kurang pantas untuk wawancara hari ini.”
“Bukan masalah, begini saja sudah cukup rapi,” Jawab Cla. “Kita mulai sekarang, ya?”
Tepat setelah Kina menganggukkan kepala, proses rekrutmen pun dimulai. Seluruh wawancara dan tes yang dikerjakan menghabiskan waktu cukup lama. Mulai dari wawancara awal, psikotes, tes tentang perusahaan, juga tes kesehatan. Bahkan Kina sampai melewatkan makan siang karena ia menyelesaikan wawancara terakhirnya saat matahari mulai tenggelam. Namun rasa lapar yang Kina tahan berbuah manis setelah ia dinyatakan diterima menjadi bagian dari NZ Company.
“Nggak kerasa udah mulai gelap ternyata,” Kata Cla sembari merapikan kertas di hadapannya. “Selamat bergabung di NZ Company, Kina. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik di perusahaan ini.”
“Terima kasih banyak, Ibu Cla. Semoga saya bisa memberikan yang terbaik untuk perusahaan.”
Begitu lah Kina mendapatkan pekerjaan pertamanya, bahkan di perusahaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Jika hari itu Kina tidak bertemu dengan laki-laki itu, mungkin saat ini ia sedang rebahan di rumah sembari menyiapkan amplop cokelat yang akan ia antar esok hari.
“Aku harus berterima kasih sama orang itu,” kata Kina sembari mengetikkan alamatnya pada aplikasi ojek online. “Tapi gimana caranya? Aku tau namanya aja nggak.”
Sembari menunggu ojek online pesanannya datang, Kina memandangi jalan raya sembari terus memikirkan bagaimana cara agar dirinya bisa bertemu dengan laki-laki itu. “Karena dia nyaranin buat ngelamar di NZ, apa dia kerja di sini juga? Kalau memang iya, bakalan sedikit mudah jalan aku buat nyari dia,” kata Kina. “Mulai besok, bakal aku cari dia sampai ketemu."