Empat hari telah berlalu begitu cepat, kini Faeza sudah kembali pulang dalam keadaan sehat meskipun di tubuhnya masih ada luka tetapi luka itu sudah mulai mengerig. Gadis kwcil itu juga sudah bisa bermain lagi tanpa merasakan nyeri atau perih. Seperti saat ini, gadis kecil yang mempunyai wajah cantik dan imut itu sedang bermain bersama Nora di kediaman Kawindra. Lelaki paruh baya itu sudah tidak lagi merasa keberatan jika Nora bermain bersama dengan cucunya. “Nora, bagaimana rasanya punya Pipi?” tanya Faeza, sontak membuat fokus Nora terpecah. “Rasanya punya Papa itu menyenangkan, apa lagi Papaku adalah laki-laki dengan segala kemampuan yang luar biasa. Papa bisa menjadi seperti Ibu yang bisa mengepang rambutku, menyetrika baju, masak, dan bersih-bersih rumah.” “Wow, ternyata Om Sac

