“Arzan, kamu kenapa?” tanya Lia, menatap lelaki itu dengan kening mengerut. Pasalnya Arzan kembali dengan napas terengah, wajahnya dipenuhi dengan keringat, dan wajahnya terlihat panik. “Lia, aku mohon jangan kemana-mana, cukup di kamar Tante Watika aja,” ujar Arzan, lelaki itu mengabaikan pertanyaan Lia. Dia sangat khawatir saat ini, bagaimana tidak dia melihat kakak sepupunya berada di satu rumah sakit bersama dengan Lia, hanya ruangannya saja yang berbeda. Arzan takut jika nanti mereka akan bertemu, pastilah Lia belum siap untuk itu dan juga pasti Lia akan marah kepadanya karena telah melanggar janji. “Iya kenapa? Kenapa aku harus tetap ada di dalam kamar Mama?” Lia ingin memperjelas semuanya. “Ini sulit untuk dijelaskan. Aku mohon, jangan keluar dari kamar Tante Watika. Jika mau

