Skors
“Maaf, Bu. Akses Ibu ke Ruang Data Akademik sudah dinonaktifkan.”
Kartu identitas yang baru saja Naya tempelkan ke pemindai berkedip merah untuk ketiga kalinya. Petugas keamanan di depan pintu Ruang Data itu menatapnya dengan wajah tidak enak, seolah dia yang paling menyesal di antara mereka berdua.
“Coba tempel lagi, Pak. Mungkin error sistem,” ujar Naya, masih berusaha tenang meski jantungnya mulai berdetak lebih cepat dari biasanya.
Petugas itu menggeleng pelan. “Sudah saya coba tiga kali, Bu. Memang dinonaktifkan dari pusat.”
Beberapa mahasiswa yang lewat mulai melirik, berbisik-bisik. Naya bisa merasakan pandangan mereka menempel di punggungnya seperti jarum kecil.
Dinonaktifkan? Sejak kapan?!
“Ibu Naya, Ibu diminta langsung menghadap Pak Dekan sekarang. Katanya penting.”
Kaki Naya terasa berat begitu berbalik menuju gedung dekanat. Dalam hatinya, seribu kemungkinan berputar liar, tapi tidak satu pun yang terasa masuk akal. Kemarin masih baik-baik saja. Semalam aku bahkan masih mengoreksi tugas mahasiswa sampai jam dua pagi!
**
“Duduk, Bu Naya.”
Prof. Hardian, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tidak menawarkan senyum seperti biasanya. Di mejanya, tergeletak setumpuk kertas dengan logo Yayasan Cakra Widya di sudut atas.
Naya duduk dengan punggung tegak, tapi tangannya diam-diam meremas ujung blazernya di bawah meja.
“Ada masalah apa, Pak?” tanya Naya, berusaha membuat suaranya terdengar setenang mungkin.
Prof. Hardian menghela napas panjang sebelum menjawab. “Divisi Keamanan Data Yayasan melaporkan Ibu mengakses arsip lama Dana Abadi Beasiswa tanpa izin. Untuk studi kasus kelas Ibu.”
Dunia Naya seperti berhenti sepersekian detik.
“Itu—itu hanya studi kasus akademik, Pak. Saya menggunakan data anonim yang tersedia untuk bahan ajar audit forensik. Semua dosen di prodi juga melakukan hal serupa,” jawab Naya, mencoba menjaga suaranya tetap datar meski dadanya mulai sesak.
“Masalahnya bukan di situ, Bu.” Prof. Hardian membuka salah satu lembar kertas, lalu menyodorkannya ke arah Naya. “Data yang Ibu akses ternyata bukan data yang sudah dianonimkan sepenuhnya. Ada beberapa nomor rekening dan nama asli yang seharusnya tidak boleh muncul di sistem pembelajaran.”
Naya menerima kertas itu dengan tangan sedikit gemetar. Matanya menelusuri deretan angka dan tabel yang sangat dia kenali—terlalu dia kenali, sebenarnya. Tahun 2018. Kode transaksi Dana Abadi Beasiswa.
Tidak mungkin. Aku sudah hati-hati sekali. Aku sudah memilah semua data sebelum dipakai di kelas—
“Saya benar-benar tidak sengaja, Pak,” ucap Naya cepat. “Kalau memang ada kebocoran data, saya siap bertanggung jawab, tapi tolong jangan—”
“Bukan saya yang memutuskan, Bu Naya.” Prof. Hardian menyela, nadanya lebih pelan sekarang, hampir seperti permintaan maaf. “Ini instruksi langsung dari pihak Yayasan. Ibu diskors sementara, terhitung mulai hari ini. Semua akses sistem kampus—email, portal akademik, ruang data—dinonaktifkan sampai ada keputusan lebih lanjut.”
“Diskors?” Suara Naya naik satu oktaf tanpa sadar. “Pak, saya sudah kerja enam bulan di sini. Saya tidak pernah bermasalah sekali pun!”
“Saya tahu, Bu. Dan sejujurnya, saya juga tidak setuju dengan keputusan ini.” Prof. Hardian melepas kacamatanya, menggosok pangkal hidungnya yang lelah. “Tapi Yayasan Cakra Widya bukan cuma pemilik kampus ini, Bu Naya. Mereka pemegang semua kontrak kerja kita. Kalau mereka bilang skors, ya… skors.”
Naya menatap kertas di tangannya. Nama-nama asing tercetak di sana, tapi entah kenapa satu baris kecil di pojok bawah membuat dadanya sesak tanpa alasan yang bisa dia jelaskan.
Dana Abadi Beasiswa. Delapan tahun. Kenapa harus tahun itu? Kenapa harus data ini?!
“Ada satu hal lagi,” lanjut Prof. Hardian, membuat Naya kembali menegakkan kepala. “Ibu diminta datang langsung ke kantor pusat Wiratama Group besok pagi, jam sembilan. Yang meminta bukan tim hukum Yayasan.”
Naya mengerutkan kening. “Lalu siapa, Pak?”
Prof. Hardian menatapnya lurus, seolah ragu apakah harus mengucapkannya atau tidak.
“Presiden Direkturnya langsung. Pak Arsakha Wiratama.”
**
Sepanjang perjalanan pulang, Naya tidak ingat sama sekali bagaimana caranya sampai di halte, naik angkot, lalu berjalan kaki menuju rumah kontrakan. Kakinya bergerak sendiri, mengikuti rute yang sudah ia hafal luar kepala selama bertahun-tahun, sementara kepalanya penuh oleh satu nama yang baru saja disebutkan Prof. Hardian.
Wiratama.
Nama keluarga yang selama delapan tahun terakhir selalu ia hindari, ia jauhi, bahkan ia coba lupakan—meski gagal total. Nama itu pernah terpampang di koran-koran lokal, disebut-sebut dalam rapat dewan yang menentukan nasib ayahnya, lalu perlahan menghilang dari ingatan publik seiring waktu. Tapi tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan Naya.
Kenapa harus mereka? Kenapa harus sekarang, di saat aku pikir semuanya sudah aman?!
Ia melewati warung langganan tempat biasa membeli sarapan, tanpa benar-benar melihatnya. Melewati anak-anak yang bermain bola di gang sempit menuju rumah kontrakannya, tanpa mendengar teriakan riang mereka. Seluruh dunia di sekelilingnya terasa seperti berjalan dalam kabut tipis, sementara satu pertanyaan terus berputar tanpa henti di kepalanya: apakah ini sekadar kebetulan administratif biasa, ataukah masa lalu yang selama ini ia kubur rapat-rapat baru saja mulai menggali dirinya sendiri kembali ke permukaan?
Delapan tahun aku berganti nama. Delapan tahun aku memastikan tidak ada satu pun jejak. Apa semuanya sia-sia?
Ponselnya bergetar di dalam tas, cukup keras hingga membuat Naya tersentak dari lamunannya sendiri. Ia berhenti sejenak di depan sebuah minimarket, mengeluarkan ponsel itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal, tanpa nama pengirim, tanpa foto profil, hanya deretan angka asing yang tidak pernah ia simpan sebelumnya.
“Besok jam 09.00. Lantai 42, Wiratama Tower. Jangan terlambat.”
Tidak ada tanda tangan. Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Hanya perintah singkat, padat, dan tegas—seolah pengirimnya tidak merasa perlu basa-basi sama sekali, karena sudah yakin pesan itu akan dipatuhi tanpa perlu dijelaskan alasannya.
Naya membaca pesan itu berulang kali, seolah berharap kata-katanya akan berubah jika dibaca cukup lama. Namun deretan huruf itu tetap sama, dingin dan tak bergeming, seperti baru saja menjatuhkan sebuah keputusan yang sudah lama direncanakan.
Siapa yang mengirim ini? Dan kenapa aku merasa… seperti seseorang sudah menunggu momen ini sejak lama—bukan sekadar menunggu sejak aku diskors tadi siang, tapi sudah menunggu jauh lebih lama dari itu?
Ia berhenti di tengah trotoar, menatap layar ponselnya lama sekali, tidak peduli pada beberapa pejalan kaki yang harus mengitarinya karena berdiri terlalu lama di jalur yang sama. Angin sore berembus pelan, membawa aroma debu jalanan dan asap kendaraan yang biasa, tapi entah kenapa malam itu terasa jauh lebih berat untuk dihirup.
Besok. Lantai 42. Wiratama Tower.
Tidak ada tanda tangan. Tidak ada penjelasan. Hanya perintah singkat yang entah kenapa terasa seperti sudah tahu persis apa yang sedang Naya pikirkan saat ini.
Naya berhenti di tengah trotoar, menatap layar ponselnya lama sekali.
Siapa yang mengirim ini? Dan kenapa aku merasa… seperti seseorang sudah menunggu momen ini sejak lama?
Ia tidak tahu bahwa di lantai empat puluh dua Wiratama Tower, seorang pria dengan setelan jas gelap sedang menatap layar komputernya sendiri—memelototi satu nama di antara daftar dosen yang baru saja diskors hari itu.
Kanaya Mahesa.
Nama yang sudah delapan tahun ia tunggu untuk muncul kembali di depan matanya.