“Sudah, kandunganmu baik-baik saja!” guman Angga usai memeriksa Nina, “jadi kapan akan kau beritahu kepada mereka mengenai penyakitmu ini?” Angga lagi-lagi bertanya sambil membantu Nina untuk berdiri. Lelaki itu mengeratkan balutan luka di tangannya, berjalan ke arah lemari pendingin yang berisi banyak minuman. Angga biasanya menyediakan minuman untuk pasiennya, setidaknya dia bisa mengajak pasien berbicara dengan santai. Angga mengambil 2 botol minuman dingin, dan 1 kotak s**u untuk Abian yang terlihat senang menerima. Lelaki itu kecil itu memasuki pangkuan Angga, dan memainkan bulu tangannya. Perasaan Angga sedikit geli diperlakukan seperti sekarang ini, namun dia juga senang mendapatkan perhatian dari Abian. “Sayang, jangan. Nanti paman marah, mama kan sudah bilang jangan pernah memai

