Rinaldy POV
Sudah 2 hari Nina tidak hadir, dan gadis itu benar-benar membuatku serba salah. Jika bertanya pada Elsa, ataupun pada Jefri, mereka pasti akan menyebar gosip lagi. Hal itu benar-benar membuatku tidak senang. Abian juga sudah berpuluh-puluh kali bertanya padaku.
“Ayah, mama dimana? Kenapa mama tidak datang ke kantor lagi?”
Suara pelan itu mengalihkan lamunanku. Abian menatapku dengan wajah bangun tidurnya. Senyuman kecilnya membuatku ikutan tersenyum.
“Kemari sayang, kapan jagoan ayah terbangun?”
Malaikat kecil itu lekas memasuki pangkuanku, dan memelukku erat. Jika melihat tingkahnya yang begini, aku jadi teringat saat dia bersama dengan Nina. Sejujurnya, aku bukannya ingin membentak gadis itu 2 hari lalu. Saat dia tertidur di ruanganku dengan Abian.
Tapi…itu terjadi secara refleks saat aku hampir saja ketahuan memperhatikan wajahnya saat tertidur. Sebenarnya, yang terjadi saat itu adalah….
FlashBack
“Apa yang ingin kau bicarakan padaku?”
Frans tetap sopan, sekalipun aku memperlakukannya tidak ramah. Aku tidak peduli, sekalipun dulu dia adalah teman baikku, namun tidak dengan sekarang. Dia adalah penyebab kenapa semuanya harus begini.
“Aku tidak ingin mencari masalah denganmu, Rinaldy. Aku hanya ingin memberitahu jika aku butuh WO-mu untuk pesta pernikahan temanku. Dia melihat WO yang dipakai di pemilik perusahaan itu, jadi dia juga ingin aku mencarikannya. Jadi aku terpikirkan dengan WO-mu!”
“Apa kau hanya ingin mengatakan hal itu?”
“Ya, memangnya apalagi?”
Menghela nafas, aku berusaha untuk tenang dan tidak terbawa emosi.
“Berikan detailnya pada Elsa, aku akan memanggilnya kemari!”
Elsa segera datang, dan kedatangan Frans memang hanya untuk menggunakan WO-ku. Semua konsep yang dia berikan sudah di catat oleh Elsa. Dan gadis itu lekas pergi dari ruanganku saat Frans selesai memberikan detailnya. Menyisakanku dan juga Frans.
Rasanya sedikit canggung, aku juga tidak ingin memulai percakapan dengannya.
“Aldy, aku tahu aku salah di sini. Tapi aku tidak tahu jika kalian, kamu dan Nina, putus gara-gara sebuah kesalah pahaman. Nina memang tidak ingin aku ikut campur dalam…”
“Jika ingin membicarakan masa lalu, sekarang bukanlah waktu yang tepat. Tolong jangan membuatku marah dan malah kehilangan kendali lagi, Frans. Jika sudah selesai, kau tahu jalan pulang bukan?”
Wajah Frans terlihat tidak terima saat aku mengusirnya dengan terang-terangan. Tapi itu demi kebaikan kami berdua. Aku tidak ingin melukai diriku sendiri hanya karena masa lalu itu. Karena aku juga berusaha untuk melepaskan Nina dari ingatan, dan juga dari lubuk hatiku yang paling dalam.
Frans bangkit dengan wajah kecewa.
“Aku tahu kau pasti akan menyesal jika tahu aku dan Nina tidak pernah menjalin hubungan seperti yang kau pikirkan, Aldy. Dia hanya membutuhkan uangku saat itu, adiknya sakit parah dan butuh uang operasi, tapi kau malah bertindak berlebihan. Aku pergi, mungkin kau tidak ingin mendengar penjelasan dariku!”
“Tunggu dulu, adik Nina sakit? Sudah berapa lama?”
Tanpa aku sadari, aku bangkit berdiri dengan wajah yang penuh pertanyaan.
“Kau tidak suka mengungkit masa lalu, aku pergi dulu, Rinaldy!”
“Frans…”
Sial. Lelaki itu benar-benar membalikkan keadaan. Dia bahkan sudah menghilang di balik pintu, tanpa mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Jadi, jika mereka tidak pernah menjalin hubungan seperti itu, jadi apa yang aku lihat di foto itu?
Kenapa harus ada foto itu? Jika itu tidak ada, tidak mungkin aku semarah itu pada Nina dan memutuskan hubungan kami tanpa mendengar penjelasannya.
Menghela nafas, aku yakin jika masalah ini akan semakin berat jika aku harus menguak masa lalu. Dengan segera aku melangkah menuju ruangan pribadiku, dan begitu tanganku membuka knop pintu.
Seluruh badanku kaku saat menemukan sepasang mata yang kini tengah terpejam di atas sofa. Juga, malaikat kecilku yang tertidur di dekapan hangat itu.
Aku menutup pintu rapat, lalu duduk di sebelah Nina. Pandangan mataku seolah tidak ingin lepas dari wajah itu, seolah ada magnet yang menarikku untuk semakin dekat dengannya.
Menyentuh wajah Nina pelan, tanganku sampai bergetar hebat. Wajahnya tidak berubah, kecantikan alami yang selalu membuatku bisa pangling. Bertemu kembali dengan Nina adalah sebuah kutukan yang tidak bisa aku salahkan.
Saat bertemu dengannya di taman, sejak itu juga kehidupanku tidak bisa terkontrol. Aku bahkan sampai mencari tahu dimana dia bekerja, dan menguntitnya setiap kali aku tidak sengaja melihatnya menunggu bus di halte.
Aku berhenti beberapa centi, bodoh, aku benar-benar bodoh. Dengan cepat-cepat aku menjauhkan wajahku, apa yang kau pikirkan Aldy? Apa kau ingin menciumnya, seolah dia adalah milikmu? Aku benar-benar merutuki diriku sendiri.
Dan melihat pergerakan dari Abian dan juga Nina, membuatku lekas bangkit, dan sedikit gugup. Wajahku bahkan terasa panas mengingat apa yang hampir saja aku lakukan pada Nina.
“Kenapa kamu berani-beraninya tidur di ruangan saya?”
Aku semakin merutuki mulutku saat kata-kata yang keluar dari mulutku adalah sebuah bentakan. Aku memperhatikan Nina yang terkejut setengah mati, tidak hanya dia, tapi juga dengan Abian yang berlindung di bawah punggung gadis itu.
“Jangan pikir, karena putraku menyukaimu, aku jadi termasuk di dalamnya. Kamu itu hanyalah sampah, dan wanita yang tidak tahu malu karena sudah berani memunculkan wajah di depanku lagi, bukan begitu, Nina?”
Sialan. Kenapa aku mengatakan hal itu? Tidak ada niat sekalipun dariku untuk mengatakan hal itu. Dan melihat wajah Nina yang tersinggung, membuatku benar-benar merasa menjadi lelaki paling bodoh.
“Kenapa diam saja? Apa kamu pikir, kejadian beberapa hari lalu itu mengubahku, dan membuatku menjadi bodoh seperti dulu? Tidak Nina, kamu itu tetaplah sampah yang tidak berguna. Kamu yang selalu merusak hidupku, apa kamu sadar dengan hal itu?”
Wajahku memerah. Entah kenapa aku jadi mengingat saat kejadian tidak sengaja yang terjadi di rumahku. Saat Abian menarik Nina, dan membuat tubuh lemah itu terjatuh di atasku, yang membuat kedua bibir kami saling bersentuhan. Sialan, aku bahkan sedikit menegang mengingat kejadian itu. Aku benar-benar tidak bisa melupakan saat itu, rasanya aku melayang tinggi, lalu dijatuhkan berkeping-keping saat menyadari Nina dan aku tidak bisa bersama.
Aku sama-sekali tidak lagi berani menatap wajah Nina yang sudah hampir menangis. Aku berusaha untuk menahan niatku untuk memeluknya. Sungguh, aku tidak bisa terus-terusan berada dalam keadaan konyol seperti ini.
“Maaf, tidak seharusnya aku terbawa suasana. Pergilah, aku akan membayar untuk hari ini!”
“Pak…”
“Aku mohon, pergilah Nina!”
Suaraku bahkan serak saat memohon padanya. Sekuat tenaga, aku berusaha untuk menahan diriku yang selalu saja tidak stabil. Nina pergi, dan mengunci pintu dengan pelan. Tubuhku terjatuh ke sofa, tanganku menutupi mataku agar tidak melihat kebodohan apa yang aku lakukan hari ini.
“Kenapa ayah sayang bodoh, Abi?”
Tidak ada jawaban. Aku melirik Abian yang masih menunduk dan tidak berani menatapku. Sepertinya anak kecil itu ketakutan saat mendengar suaraku yang tadi sempat meninggi.
Dengan segera, aku membawanya ke dalam pelukanku, dan menenangkannya.
***
Aku memperhatikan ke arah ruang kerja Nina, dan Jefri. Kursi itu masih tetap kosong seperti beberapa menit lalu. Perasaanku sedikit tidak enak, apakah gadis itu marah saat aku mengatakan hal itu? Bahkan tanpa di katakan pun, seharusnya aku sadar jika perkataanku selalu kasar padanya.
Atau, apa gadis itu kenapa-napa? Haruskah aku mencari tahunya saat ini juga?
Tapi dia adalah karyawanku, dia sudah bolos saat yang lainnya sedang sibuk mempersiapkan proposal untuk pernikahan teman Frans.
Kuputuskan untuk beranjak dari ruang kerjaku, namun baru saja beberapa langkah menuju ruangan Elsa, seseorang yang terburu-buru hampir saja menjatuhkan Abian yang kebetulan ikut denganku.
Dan melihat siapa yang melakukannya, membuat amarahku kembali tidak terkendali.
“Kenapa kamu selalu saja membuat masalah, Nina?” bentakku, lalu membawa Abian yang diam saja.
“M…maaf sir, ta…tadi saya tidak…”
“Diam kamu. Dasar tidak becus, apa kamu pikir nyawa Abian ini bisa kamu bayar? Kamu punya apa hah? Dasar miskin!”
Kulihat wajah Nina yang pucat, dia bahkan menunduk dan tidak berani menatapku. Badannya juga kurusan. Kali ini, saat aku membentaknya, tidak ada gosip-gosip dari yang lain. Padahal, biasanya setiap kali aku melakukan hal ini pada Nina, bisikan-bisikan dari karyawan yang lain selalu terdengar.
Elsa yang baru saja keluar dari ruangannya langsung membawa Nina. Tanpa meminta izin padaku lebih dulu.
Bagus, apa sekarang sudah tidak ada lagi tata krama di kantor ini?
“Nina, apa kamu baik-baik saja?”
Samar-samar aku kembali mendengar suara isak tangis dari ruangan Elsa. Sungguh, suara serak itu membuatku merasa bersalah. Apa tadi bentakanku sangat kasar? Tapi aku benar, Nina selalu saja ceroboh, dan tadi, jika aku tidak sigap menangkap Abian. Putraku itu bisa saja terjatuh dan kesakitan.
“Boss…”
Jefri dari ruangannya mendekatiku dengan wajah tertunduk. Seolah dia saat ini tengah berduka.
“Ada apa?”
“Nina sedang berduka, dia juga tidak tidur selama 2 hari ini, adiknya meninggal. Tolong jangan terlalu kasar padanya kali ini, bos!”
Deg—rasanya kepalaku menjadi besar begitu mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Jefri. Ku lihat Elsa yang membawa Nina keluar dari lift belakang. Gadis itu tertatih-tatih, dan tatapan matanya yang berkaca-kaca sempat tertangkap olehku.
“Apa kalian tahu?”
Jefri mengangguk.
“Semuanya tahu bos, apa bos tidak membaca grup?”
Grup? Tidak sama sekali, aku bahkan tidak pernah menganggap penting sebuah grup. Dan mungkin, persepsiku selama ini benar-benar salah. Aku benar-benar merasa terpukul dengan kabar ini. Juga tidak lagi punya wajah di hadapan Nina.
“Jadi, itu sebabnya dia tidak masuk selama dua hari ini?”
Jefri lagi-lagi mengangguk. Bodoh, aku benar-benar bodoh, dan juga merasa marah. Mengapa tidak seorangpun yang memberitahukan hal ini padaku? Kenapa?! Aku pernah mendengar jika adik Nina sakit, tapi kenapa…kenapa aku juga baru tahu setelah Frans memberitahu?