Rinaldy memijat keningnya. Lalu mengalihkan perhatiannya pada dua manusia yang kini berdiri di depannya dengan kepala ditundukkan.
“Apa aku pernah mengajarkanmu kamu untuk melakukan projek sebodoh ini, Jefri? Projek besar seperti ini, mau kamu buat main-main gini?” bentak Rinaldy.
“Maaf pak, mungkin ada kesalahan teknis. Saya bakal segera perbaiki pak!”
“Saya…saya juga minta maaf, pak. Projek itu saya yang handle!”ujar Nina pelan, dia masih tidak terbiasa menyukapi sikap Rinaldy yang satu ini.
Dia sedikit takut saat menatap wajah keras Rinaldy.
“Kamu saya gaji bukan untuk main-main, jika tidak bisa kompeten, silahkan angkat kaki dari perusahaan ini!”
Nina hendak menjawab, namun Jefri lebih dulu menggeleng.
“Kami permisi dulu pak, nanti malam projek yang baru sudah ada di meja bapak!”
Tidak ada jawaban. Nina hendak angkat bicara namun Jefri kembali menahannya, dan menarik Nina pergi keluar. Ini adalah hari kedua Nina bekerja. Dan sudah di marahi karena projek yang dipercayakan oleh Jefri padanya tidak sesuai harapan mereka.
“Mungkin kita bakal lembur lagi, Ni. Kamu gak papa kan? Gak udah di masukin dalam hati, pak bos emang sering gitu. Padahal dari segi perencanaan, ini sudah benar-benar bagus banget loh. Gue aja gak pernah buat proposal sebagus ini!”
Nina menghela nafas. Dia kini sadar jika Rinaldy memang tengah mempermaikannya.
Dan mungkin juga sengaja.
“Gak papa kok Jef, aku bisa lembur kok!”
“Yakin?”
Nina terpaksa mengangguk. Dia menatap ponselnya yang sudah menunjukkan jam 5 sore, dan presentasi mereka tadi itu hanya berujung sia-sia saja. Mungkin Nina akan mengunjungi adiknya setelah lembur, atau besok sebelum berangkat bekerja.
Dokter Jhon berkata jika keadaan adiknya sedikit mengalami peningkatan. Dan operasinya akan dilakukan 1 minggu lagi. Nina masih bersyukur karena dokter itu bersedia mencari donatur untuk membantu meringankan bebannya.
“Mau makan apa, Ni? Pesan online aja ya, keknya gue gak bisa lama. Anak gue lagi demam soalnya!”
“Kamu…udah nikah?” Nina kaget, dia tidak tahu jika Jefri sudah menikah dan juga punya anak.
Mendengar nada terkejut Nina membuat Jefri terkekeh. Dia sudah tua, hanya saja wajahnya yang tetap terlihat awet muda. Itu sebabnya Elsa sering kali mengatakannya adalah keturunan vampire. Lucu memang, tapi Jefri tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
“Loh, kalian berdua belum pulang? Ini sudah maghrib, jalanan macet lagi!” Kana berhenti di depan ruangan Nina dan Jefri.
“Biasa, Kana. Kami ada lembur. Lo pulang duluan ya? Gue nitip anterin obat dari apotek dong ke rumah gue, tadi gue udah pesen!”
“Anak lo sakit lagi, Jef?”
“Ya gitu!”
“Okey deh. Gue duluan ya, mau mandi juga, gerah banget!”
Kana berlalu duluan, lalu Salsabila dan juga Juan menyusul setelahnya. Jam sudah menunjuk pukul 7 malam, usai mereka makan, Nina kembali lanjut mengerjakan bagiannya yang masih banyak.
Elsa baru keluar dari ruangannya dengan wajah kusut dan sedikit terkejut mendapati dua manusia yang kini masih banting tulang di ruangan mereka.
“Kalian belum pulang? Udah larut banget ini!”
“Biasa bu bos, kita masih banyak kerjaan!”
Elsa mengangguk. “Kalo gitu, aku pamit duluan ya. Btw, jangan lewat dari jam 9 ya, soalnya kantor mesti tutup jam 9. Kecuali kalian mau nginap!”
Jefri tertawa pelan, dia hanya mengangguk dan kembali fokus pada layar di depannya.
Nina hampir menyelesaikan miliknya. Dia benar-benar tidak melewatkan satu halaman pun, dan benar-benar melihat jika pekerjaannya sudah benar.
“Ni, gue pamit sekarang ya. Anak gue makin panas nih, bini gue dah nelpon dari tadi. Lo gak papa gue tinggal sendiri kan? Punya gue udah siap!”
“Iya gapapa, Jef. Take care sama anak kamu aja!”
Jefri sebenarnya tidak ingin meninggalkan Nina seorang diri. Karena itu juga masih menjadi tanggung jawabnya. Tapi putranya makin panas, dan Jefri tidak punya pilihan kecuali pulang lebih awal.
Sesekali Nina menguap. Jam sudah menunjukan pukul tengah sembilan, dan pekerjaan Nina sudah kelar. Dia lekas menggabungkannya dengan milik Jefri.
Sepertinya hanya Nina seorang. Jujur, Nina sedikit trauma dengan ruangan kosong seperti ini. Dia punya pengalaman buruk dengan hal-hal di kegelapan.
Nina mengambil ranslenya, dan mematikan komputernya. Dia hendak beranjak, namun mendengar ada suara pintu baru di tutup, Nina berdiri dengan kaku saat matanya bertabrakan dengan netra yang juga tertuju padanya.
Ingin menyapa, tapi Nina masih takut.
“Ma…malam, pak!”
Tidak ada sahutan. Rinaldy hanya melengos pergi dan meninggalkan Nina di depan pintunya, berdiri dengan menatap punggung Rinaldy yang sudah menghilang di balik anak tangga.
Nina lekas bergegas, dia memutuskan untuk melihat keadaan adiknya sebentar.
Di parkiran, Rinaldy memperhatikan Nina dari dalam mobilnya. Dia memang sengaja ikut pulang larut. Bodoh memang, tapi Rinaldy juga sedikit merasa bersalah saat membentak gadis itu tadi siang.
Padahal proposal karya Nina sudah sangat bagus, dan tidak ada yang seperti itu sebelumnya. Tapi entah kenapa, Rinaldy selalu kehilangan profesionalnya saat menatap wajah gadis itu.
Bahkan, dia tidak tahu kenapa harus merekrut gadis itu lagi.
Motor gadis itu sudah menjauh dari parkiran. Dan Rinaldy masih tetap berada di dalam mobilnya. Dia benar-benar merasa konyol saat ini.
Menunggu gadis itu menyelesaikan pekerjaannya, dan menunggu gadis itu menghilang dari hadapannya.
***
Nina tiba di rumah sakit. Langkahnya bergegas menuju ke ruangan adiknya.
Dokter Jhon yang berada di lobby menatap kedatangan Nina dengan helaan nafas.
“Mau melihat keadaan adikmu lagi, nak?”
“Dokter Jhon? Anda masih berada di sini?”
“Aku jaga malam hari ini, jadi coba ceritakan kenapa wajahmu sangat kusut nak? Apa kau sudah mendapat pekerjaan?”
“Sudah dok, setidaknya gajinya cukup untuk membantu membayar perobatan adik. Apa dia sudah siuman?”
Jhon mengangguk, dan menatap iba pada sosok yang ada di depannya. Sejak Lia masuk rumah sakit, dia memang yang menangani gadis belia itu. Dan melihat latar belakang keluarga mereka, benar-benar membuat Jhon iba.
“Aku punya jatah makan malam yang masih tidak tersentuh, makanlah, kau pasti masih lapar bukan?”
Nina tersenyum ramah seperti biasanya. Perutnya memang tahu saja kapan untuk berbunyi. Dan saat ini, Nina tidak bisa menolak. Dia mengambil kotak makan itu, dan lekas meminta izin untuk mengunjungi kamar adiknya.
Punggung Nina menghilang di balik lift. Jhon dan suster yang berada di lobby saling menatap.
“Kau benar-benar ayah yang baik!”
Suster Teresa tersenyum ramah.
“Dia pasti menanggung beban yang berat. Berat badannya bahkan semakin hari terlihat semakin menurun. Dia pasti kalang kabut mencari pekerjaan untuk membantu adiknya!”
“Well…begitulah hidup. Tidak semua orang punya rezeki yang baik. Dia salah satunya, aku sangat kasihan melihat wajahnya yang selalu pucat seperti itu.”
“Ini sudah 4 tahun adiknya di rawat di rumah sakit. Wajar saja dia merasa sangat berat. Aku berharap dia mengalami hal yang lebih baik kedepannya!”
Percakapan Dokter Jhon dan Suster Teresa terus berlanjut. Membuat Rinaldy yang menatap interaksi ayahnya dan Nina itu mengerutkan keningnya. Dia memang ingin melihat ibunya, namun tertahan saat sadar motor Nina juga menuju ke arah yang sama dengannya.
Ini kali kedua Rinaldy mendapati gadis itu berada di rumah sakit.
Apa jangan-jangan dia sakit? Guman Rinaldy.
Namun Rinaldy lekas menggelengkan kepalanya. Mau apapun masalah gadis itu, tidak ada hubungannya dengannya. Rinaldy memutar balik mobilnya, dan mengurungkan niatnya untuk mengunjungi ibunya.
“Jika tidak sengaja bertemu lagi dan dia sadar, bisa jadi gadis itu menganggapku sebagai penguntit!” guman Rinaldy seorang, dan lekas melaju di jalanan yang mulai sepi.
***
Nina masuk. Membuka pintu ruangan Lia dengan pelan.
“Kakak datang?” sambut Lia yang memang tidak tidur.
Langkah Nina berhenti sejenak. Dia menatap Lia yang tersenyum lebar menatapnya. Nina lekas masuk, dan mengunci pintu.
“Bagaimana kabarmu, hmm?”
“Seperti yang kakak lihat, aku baik sekali. Dokter Jhon memberiku makanan enak hari ini!” bisik Lia di akhirnya.
Nina tersenyum lagi. Tatapannya tertuju pada kepala Lia yang botak, tangannya yang mengurus, bahkan jauh lebih kurus daripada terakhir kali Nina berkunjung. Dia mengambil tangan Lia, dan memeluk adiknya itu erat.
Air matanya selalu saja mengalir saat menatap wajah adiknya itu.
“Kakak menangis lagi? Aku baik-baik saja, dokter Jhon pasti mengadu lagi, begitu bukan?”
Nina menggigit bibir bawahnya pelan. Berusaha untuk menahan derai air matanya. Dia melepaskan pelukannya pada Lia, dan menatap wajah itu.
“Tidak kok. Kakak hanya ingin menangis saja.”
Lia tertawa pelan. Lalu menatap Nina yang sudah duduk di bangku, tepat di depannya.
“Wajah kakak kusut, apa kakak kerja lembur lagi?”
Nina tidak menjawab. Dia membuka bekalnya dan meletakannya di atas meja.
“Apa kau mau?”
“Tidak, aku sudah kenyang. Kakak makan saja dulu. Kakak temenin Lia bobok di sini ya untuk hari ini!”
“Kenapa? Kamu takut?”
Lia menggeleng, dan menatap wajah kakaknya yang bengkak karena dipenuhi dengan makanan.
“Hanya ingin melihat kakak tidur saja, Lia rindu tidur bareng lagi sama kakak. Pasti Lia bakal tidur bareng kakak lagi kalo Lia udah sembuh!”
Lagi. Nina menarik nafas, berusaha untuk menahan air matanya.
“Lia pasti tidur bareng kakak lagi kok. Ntar aku telepon Harry dulu ya, mau ngabari menginap bareng kamu!”
“Kakak tinggal di gerainya kak Harry ya?”
“Iya. Kan gratis toh!” kekeh Nina. Dia segera menyelesaikan makan malamnya yang kedua, dan lekas mengabari Harry.
Mengganti pakaian kerjanya, Nina lekas mengambil kasur kecil dan meletakkannya di bawah ranjang Lia. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam hari, dan ruangan itu dipenuhi dengan canda tawa Lia dan Nina.
“Kamu mau kakak beli apa nanti di hari ulang tahun kamu, dek?”
Nina menatap langit-langit kamar. Namun tidak ada lagi jawaban dari Lia. Membuat Nina beranjak bangkit, dan menatap Lia yang sudah tidur.
Mencium kening Lia lama, Nina memperbaiki posisi selimut Lia dan lekas berbaring juga. Badannya terasa sangat lelah, dan Nina butuh istirahat juga.