Nina merebahkan diri di kasur, menatap jam yang terus berlalu. Dia benar-benar kehilangan fokus, dan tidak tahu harus melakukan apa-apa. Bahkan Harry yang berkali-kali datang untuk membujuk untuk keluar dari kamar sama-sekali tidak Nina hiraukan.
Ting
Notif yang masuk ke ponselnya membuat Nina mengalihkan perhatian. Kening Nina mengerut begitu mendapat sebuah tawaran pekerjaan.
Merasa tidak yakin, Nina lekas beranjak ke kamar mandi, dan membasuh wajahnya. Berusaha untuk menghilangkan rasa malas yang terus menyerangnya sejak pagi tadi.
Nina kembali memeriksa, dan ternyata benar. Ada tawaran pekerjaan dari kantor—Rinaldy? Nina jelas tidak salah melihat jika notif itu dikirimkan oleh email Elisabeth. Mendadak debaran jantung Nina kembali berpacu, kenapa mendadak?
Apa mungkin terjadi sesuatu? Atau Rinaldy termakan oleh omongannya saat itu?
“Ni…kamu udah bangun? Makan siang yok, aku dah buatin nasi goreng!”
Mendengar suara dari luar kamarnya, Nina lekas beranjak dan menghampiri Harry dengan wajah penuh kebimbangan.
Dan Harry tahu jika wajah yang kini dipasang Nina adalah wajah-wajah minta tolong plus wajah kebingungan.
“Kamu kenapa?”
“Coba baca deh, Ry. Aku gak salah baca email ini kan?”
Ponsel Nina sudah beralih, dan kini berada pada Harry. Kerutan di kening Harry juga terbentuk usai membaca baris demi baris. Dia menatap Nina dengan penuh pertanyaan.
“Bukannya kamu di tolak ya, Ni? Kok tiba-tiba ada email ginian lagi, kamu yakin itu email salah satu pegawai di sana?”
“Yakin, Ry. Itu emailnya Elsa, dia malah pengen ajak aku ketemuan jam 2 ini di gerai kopi sebrang kantor Rinaldy. Tapi Ry, aku…gak yakin!”
“Kita makan siang dulu, dari pagi kamu gak makan loh. Ntar sakit, aku lagi yang repot!”
Nina hanya bisa tercengir, dan lekas berjalan menuju ke arah meja. Gerai kopi milik Harry masih sepi di siang hari. Namun berbeda jika itu sudah di malam hari, gerai kopi Harry benar-benar akan sangat ramai.
Makan siang berlangsung dengan cepat.
“Menurut kamu sendiri gimana, Ni? Mau nerima atau enggak?”
“Lia sudah dapat donor, Ry. Tapi…biayanya gak tanggung-tanggung, aku gak yakin bisa bayar kalo cuman kerja sama kamu doang!”
“Aku paham. Tapi ini masalahnya gak cuman di pekerjaan doang, Ni. Tapi juga sama hati kamu. Aku yakin kalian pasti bakal canggung, dan menurut aku sendiri, ini cukup gak masuk akal. Aku gak yakin jika tujuan si bodoh itu baik. Gini aja, Ni. Kamu yang sabar dulu, aku juga lagi bantu…”
“Ry, kalo aku nerima, kamu gak setuju ya?”
“Bukan gak setuju, Ni. Cuman, aku gak mau lihat kamu nangis lagi. Padahal kamu jelas-jelas gak bersalah loh, Ni. Seharusnya kamu gak usah nunjukin muka kamu lagi di hadapan dia. Biar dia yang sadar sendiri!”
“Tapi Lia yang sakit kalo aku egois, Ry!”
Harry bungkam. Sebagai teman, dan yang tahu keadaan Nina, Harry benar-benar tidak bisa melakukan hal banyak. Dia sudah berusaha untuk membantu perobatan adik Nina—Lia, namun untuk jumlah yang dikatakan oleh Nina, itu mustahil bagi seorang Harry.
Dia juga masih harus membayar biaya cicilan utang keluarganya.
“Ry, aku udah cukup berterima kasih banget sama kamu. Selama ini, kalo bukan karena bantuan dari kamu, mana mungkin Lia masih bisa bertahan. Jadi…mungkin aku bakal ambil job itu, apapun resikonya.”
Harry menghela nafas.
“Kamu yakin, Ni?”
“70%, sisanya gak tahu kemana!”
Mendengar jawaban itu, Harry hanya bisa tersenyum, dan menarik nafas dalam. Ini bukan sebuah keputusan yang mudah, mengingat jika Nina harus berhadapan dengan mantannya dulu.
“Okey, aku setuju kamu ambil jobnya. Tapi kalo dia berani nyakitin kamu, aku gak bisa tinggal diam, Ni.”
Siang usai sarapan, Nina di sibukkan dengan dirinya sendiri. Nina memperhatikan pakaiannya yang kini berantakan di kamar. Entah kenapa Nina menjadi seperti ini, padahal dia bukannya ikut kencan buta atau semacam ngedate.
Cuman mau ngomong sama Elisabeth. Dan waktu Nina hanya tersisa 15 menit lagi.
Memantapkan hati, Nina mengambil blouse berwarna dusty pinknya, dipadukan dengan jeans berwarna biru malam.
“Udah, Ni?”
“Aku pergi dulu, Ry. Doain yang terbaik ya!”
Punggung Nina menghilang di balik pintu gerai kopi miliknya. Harry menghela nafas, dan menatap lurus kedepan. Andai saja dia sedikit lebih kaya, mungkin bisa membantu adik Nina yang saat ini benar-benar butuh dana.
Dan Nina akhirnya tiba tepat waktu. Sebelum dia masuk, Elsa sudah lebih dulu melambaikan tangannya dari dalam. Kaca yang membatasi gerai itu dari luar memudahkan Nina menemukan keberadaan gadis yang saat ini di balut dengan pakaian keluaran Gucci terbaru itu.
Melihat pakaiannya sebentar, Nina tetap tersenyum dan bersyukur.
“Maaf, Elsa. Tadi ada macet di jalan, apa sudah lama menunggu?”
“Tidak, aku tiba 2 menit lebih cepat darimu. Dan juga masih tidak memesan, kau mau memesan apa? Aku yang traktir, atas kejadian beberapa hari lalu!”
“Maaf, aku hanya pesan minuman saja. Temanku tadi membuat makan siang yang cukup enak!”
Elsa tersenyum manis.
Beberapa jenis minuman dan juga makanan ringan sudah ada di atas meja. Sambil makan, Elsa sesekali menjelaskan job desk yang akan dilakukan oleh Nina.
“Tunggu dulu, jadi aku akan bekerja sebagai…Project Manager?”
Elsa mengangguk.
“Pak Rinaldy yang mengatakannya. Kamu tenang saja, sebelum kamu mengisi bangku itu, kamu masih dimarahin sama mantan pengurus sebelumnya kok, Ni. Tidak usah panik.”
Bukannya tidak senang diberi jabatan seperti itu. Tapi hal itu justru membuat Nina bertanya-tanya, kenapa Rinaldy tiba-tiba mengubah pikirannya dan menempatkannya di bidang itu?
“Ni, maaf ya, mungkin aku terlalu kepo. Tapi, apa kamu sama pak Rinaldy itu ada hubungan masa lalu gitu ya? Kalo aku dengar dari percakapan kalian kemarin, rasanya kalian memang pernah saling kenal satu sama lain!”
Nina terdiam. Tidak tahu harus mengatakan seperti apa hubungan mereka di masa lalu. Itu terlalu sakit untuk di ungkit kembali.
“Maaf jika terlalu bertanya banyak, tidak usah dijawab jika itu terlalu sulit, Ni!”
“Aku masih tidak ingin membicarakannya untuk saat ini, Elsa. Maaf, mungkin untuk lain kali saja!”
“Tidak masalah. Jadi…kau sudah bisa bekerja besok, dan jangan lupa jika masuk pukul 7 pagi, pakaiannya formal saja!”
Nina mengangguk.
Mereka keluar dari gerai bersama-sama. Elsa lebih dulu pamit dan pergi meninggalkannya. Nina menghela nafas, dia mendapat pekerjaan, namun rasanya ada yang janggal. Dan itu cukup membuat Nina merasa sedikit pusing.
Langkah Nina tertuju pada taman kota yang juga dipenuhi dengan anak-anak kecil. Dan melihat anak kecil, Nina teringat dengan bocah kecil yang menangis di pangkuannya hari itu.
***
Pagi harinya, sebelum pukul 7, Nina sudah berangkat ke kantornya. Berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa semua will be okay.
Nina sempat berpapasan dengan Rinaldy di parkiran, dan tatapan lelaki itu tetap sama saja. Tatapan tidak mengenal, bahkan lebih cenderung menatapnya jijik.
Namun Nina berusaha untuk menebalkan mukanya. Dia hanya memerlukan uang, bukan hal lain.
“Kamu…Nina? Ditempatkan di Project manager ya?”
Seorang lelaki berambut cepak, dan kaca mata tebal menghampiri Nina begitu tiba di lantai satu. Suasana kantor tidak terlalu ramai, dan atas penjelasan Elsa, hanya ada beberapa orang yang bekerja di kantor ini.
“Iya, saya Nina!”
“Good. Aku Jepri, ketua project manager sebelumnya. Ikut aku, kita langsung ke atas aja. Bel, jangan lupa kasih laporan sama pak bos ya kalo Nina udah aku handel!”
Bella, penerima tamu itu mengangguk dengan senyuman ramah.
“So…kamu mungkin masih baru di dunia seperti ini. Tujuan utama kita adalah mengambil klien sebanyak-banyaknya. Kamu di sini bertugas untuk mengatur, dan memimpin kalo kita kita dapat projek. Biasanya aku sering pergi sama pak bos kalo survey lapangan. Ini semua jobdesk yang kamu harus pelajari.”
Nina mengambil benda pipih kecil berwarna merah—Flasdick.
“Semuanya sudah ada di sana, kalo kamu bingung, langsung tanya ke aku aja. Atau ke GM kita—Elsa.”
“Nina? Udah datang?” Elsa yang kebetulan lewat menyapa. Hanya sebentar, karena gadis itu kini sudah terhanyut dalam pekerjaannya.
“Dia memang super sibuk, maklum, dia itu tangan kanannya pak bos. Dan akhir-akhir ini kita lagi dapat projek besar. Anaknya pemilik perusahaan PT Gudang Garam lagi nikah, dan nyerahin projek weddingnya ke kita. So…welcome di hari pertama yang udah sibuk!”
Nina mengikuti Jepri yang kini kembali membuka sebuah ruangan. Dimana terdapat beberapa orang yang juga tengah sibuk sendiri.
“Yang lagi duduk di dekat jendela itu Kana, dia admin projek. Kalo misal lo ada bingung atau klien ada yang komplain, lo lempar dia aja, itu jobnya dia. Lalu itu cowok yang sok sibuk, sok misterius, dia Juan. Dia mengatasi berbagai macam yang berbaur dengan IT, yang kita-kita gak paham langsung gas ke dia aja!”
Juan dan Kana melambaikan tangannya dari dalam ruangan, Nina membalas dengan senyuman.
“Lalu cewek yang gak pernah mandi udah setahun itu, namanya Salsabila. Dia Marketing Projek, cuman masarin sana promosi kita aja sih. Ntar lagi dia pasti sudah balek ke alamnya lagi.”
Gadis berambut keriting itu melambaikan tangannya semangat.
“Mungkin perkenalannya segini dulu, Ni. Aku lihat dari CV kamu kemarin, kamu cukup bisalah di sini. Dan sekarang, kita langsung sibuk aja yes, baca-baca jobdesk yang gue kasih aja tadi. Btw, kita make lo gue, gapapa kan ya? Gue gak terbiasa formal sama teman sekantor gini!”
“Gak masalah kok!”
“Okey siap, yok balek ke kandang…maksudnya, ke ruangan kita!”
Nina sedikit terkekeh. Ternyata teman sekerjanya tidak seburuk yang dia pikirkan sebelumnya. Nina dan Jefri kini disibukkan dengan kegiatan masing-masing.
Hingga tidak ada yang sadar jika seseorang tengah memperhatikan mereka dari balik kaca transparan. Sosok itu menyeringai dan menatap Nina dengan tajam.
“Selamat datang di neraka, Nina.”