Nina POV
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depanku saat tanganku baru saja membuka knop pintu. Rasanya mobil yang ada di depanku saat ini terasa berbeda. Merasa mobil itu tidak ada kepentingan denganku, aku hendak berlalu.
“Ni!”
Suara yang cukup familiar itu membuatku berhenti. Frans keluar dari dalam mobilnya dengan senyuman cerah. Rambut ikalnya sangat khas, membuatku tertegun sejenak.
“Frans? Ada apa?”
“Masuk aja, aku nganterin kamu ke kantor pagi ini. Gak masalah kan?”
Aku sedikit gugup. Seharusnya sih tidak masalah, tapi aku takut jika hal ini nantinya akan menyebabkan skandal yang tidak ingin aku denger. Aku sudah cukup muak dengan skandal-skandal aneh di kantor akhir-akhir ini.
Tapi melihat senyuman, dan juga tatapan cerah Frans, yang berkata seolah tidak ingin ditolak membuatku jadi 2 kali berpikir. Dan akhirnya memilih untuk mengangguk setuju, dan memasuki mobilnya.
“Mobil kamu baru lagi?”
“Kamu sadar juga ya!” Frans tersenyum lebar, “kamu benar, mobil kemarin lagi dipake sama sepupu aku. Jadi aku make ini deh, sekalian lewat daerah kamu, tiba-tiba aku ingat kalo kamu juga ada di sekitar sini!”
Aku mengangguk. Sedikit legah saat mengetahui jika kedatangan Frans bukan semata-mata hanya untuk mengantarkanku. Bisa merasa bersalah jika begitu.
“Kamu sudah sarapan, Ni? Kamu kurusan kelihatannya!”
“Ahh…” aku merasa sungkan, “mungkin kelihatannya aja kali, Frans. Karena aku emang gak kurusan kok. Cuman berat badan aku menurun sedikit saja!”
Tawa Frans meledak, bahkan matanya sampai berkaca-kaca. Namun, hal yang tidak aku mengerti kenapa dia sampai ketawa sehebat itu? Padahal, jokesku tadi sangat-sangat tidak ada faedahnya.
“Ada-ada saja kamu. Oh ya, aku mau ketemu sama Rinaldy juga, ntar kalo kamu memang belum sarapan, aku bakal ngajakin kamu.”
“Ketemu Rinaldy?Buat apa?” rasanya sedikit janggal, dan aku sedikit khawatir jika Frans akan menyinggung masalah beberapa hari lalu.
“Aku mau adain kerjasama lagi kok. WO kalian kemarin bagus, temen aku ada yang mau nikah, jadi dia minta tolong sama aku, jadi, karena ada kamu, kenapa harus yang lain?”
Aku mengangguk. Mobil Frans berhenti di parkiran, aku masih terjebak di dalam. Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa, dengan lekas aku berlari memasuki lobby. Dan setelah meminta Frans untuk tidak turun sebelum aku sampai dengan selamat.
Namun di lobby, baru saja kakiku hendak melayang ke anak tangga pertama, sebuah pelukan hangat di kakiku membuatku tertegun.
“Mama!”
Dan panggilan itu lagi-lagi sanggup untuk membuat jantungku berdebar. Menatap ke belakang, wajah Abian yang terlihat baru bangun membuatku kehilangan kata-kata.
“Abi?”
Melepaskan tangan lelaki kecil itu, aku lekas turun dari anak tangga, dan menunduk di depannya. Abian langsung memasuki pelukanku, dan menguap lebar.
“Mama…aku pengen bobo bentar. Jangan tinggalin Abi ya!”
“Tapi…”
Sepasang sepatu hitam yang kelihatan sangat maskulin berhenti tepat di depanku. Aku menengadah untuk melihat siapa sosok pemilik sepatu itu. Dan wajah kusut, rambut yang sudah mulai memanjang, dan rambut-rambut tipis di sekitar dagu Rinaldy cukup untuk membuatku hampir bertanya, apa yang sedang terjadi.
Namun aku mengurungkan niat, saat sadar tidak ada apa-apa di antara kami.
Mata lusuh itu menatapku sejak tadi. Aku lekas bangkit berdiri, memuat Abian mengeratkan tangannya di leherku.
“Pa…pak? Maaf, saya tidak ada niat apa-apa kok, tadi Abi sendiri yang…”
“Tolong temani dia istirahat di ruangan saya. Hari ini kamu gak usah kerja dulu, nanti aku bakal bayar untuk ini. Dia gak tidur semenjak kejadian di pesta itu. Dan, saya juga…”
“Rinaldy!”
Suara itu membuat Rinaldy berhenti bicara. Kami kompak menatap ke arah pintu, dimana Frans yang baru saja memasuki lobby cukup terkejut.
“Lo?” suara Rinaldy memelan, terkesan tidak ramah.
“Ah…gue mau ngomong sama lo. Ini masalah pekerjaan kok, gue butuh…”
Rinaldy menaikkan tangannya. Mendadak Frans berhenti berbicara.
“Kita bicara di ruangan sebelah aja.” Ucap Rinaldy pelan, dia kembali menatap ke arahku, “tolong jagain putraku ya, Na. Dia terus mimpi buruk, kalo kamu butuh apa-apa langsung bilang ke Elsa atau Jepri aja. Kamu paham kan?”
Kepalaku mengangguk kaku. Meskipun masih tidak yakin jika apa yang aku alami saat ini adalah sebuah kenyataan. Namun merasakan kehangatan dari badan Abi, membuatku cukup tahu jika ini jelas bukan mimpi.
Dengan segera, aku melangkah kembali, dan memutuskan untuk menggunakan lift. Dan memasuki ruangan Rinaldy yang juga terlihat berantakan.
Nafasku sedikit tercekat melihat ruangannya. Seingatku, Rinaldy tidak pernah memiliki ruangan yang berantakan seperti ini. Rasanya sedikit berbeda, saat melihat rak bukunya tidak di tata sesuai dengan pengarang, dan ukuran buku.
“Maa…”
Suara serak Abian membuatku lekas membawa bocah kecil itu ke sofa, dan membaringkannya. Namun, tangannya benar-benar tidak lepas dariku. Abian tetap memelukku erat, seolah tidak ingin aku pergi.
“Aku bakal di sini kok, Abi. Gak bakal ninggalin Abi sendirian lagi!” ucapku pelan, sambil mengusap rambutnya yang ikal bergelombang.
Abian adalah anak kecil paling imut yang pernah aku temui. Matanya berkedip-kedip beberapa kali, membuatku tersenyum hangat.
“Mama jangan tinggalin Abi ya, di pesta itu, ayah marah karena lihat mama sama om yang tadi.”
Deg—jantungku kembali berpacu dua kali lebih cepat. Jadi, Rinaldy marah ketika melihatku bersama dengan Frans? Tapi kami bertemu di depan pintu lift, tidak mungkin dia melihat apa yang terjadi di lobby, bukan begitu?
Tapi tunggu dulu, saat itu aku mendengar ada orang lain yang memanggil namaku, kecuali Frans. Apa mungkin itu adalah…dia?
Aku menggeleng, berusaha untuk mengenyahkan pikiran bodoh yang entah kenapa hinggap di pikiranku. Itu jelas tidak ada hubungannya denganku. Rinaldy sudah punya istri, dia sudah menikah. Aku tidak boleh berharap jika masa lalu itu bisa kembali berputar.
“Ayah marah kalo mama deket-deket sama cowok lain. Ayah gak mau gitu, mama harus di sini, jagain Abi ya…!”
Suara serak itu membuatku tersenyum. Mau tidak mau, terpaksa aku harus naik ke sofa, dan memeluk tubuh kecil Abian yang memelukku dengan erat. Mata Abian perlahan kembali terpejam lagi, dia menguap lebar, membuatku ikut tersenyum. Dan entah kenapa, rasanya aku juga mengantuk. Mungkin, aku bisa istirahat dalam beberapa menit saja.