Bukan hanya sebatas wacana, Helio dan Bu Zulaikha benar-benar menemui Tuan Aimantino dan Nyonya Angelina untuk melamar Kiara.
Seperti yang pernah Bu Zulaikha duga, keluarga terpandang Tuan Aimantino, tidak pernah mempermasalahkan status sosial, selama putri mereka bersedia menerima lamaran tersebut. Pasangan suami istri itu pun tahu siapa Helio, berdasarkan cerita dari putrinya.
Sementara Kiara yang bingung dengan sikap sahabatnya yang tiba-tiba datang dengan maksud ingin melamar. Meminta waktu untuk bicara berdua dengan Helio.
Kiara bukan wanita egois. Dia mengesampingkan perasaannya sama sekali. Menurutnya sangat salah jika Helio melamarnya sementara Anna adalah kekasihnya selama ini.
"What's wrong?" tanya Kiara pada Helio setelah mereka berdiri di samping kolam renang.
"Ibuku ingin aku menikahimu. Dia sangat menginginkan kamu untuk menjadi menantunya," jelas Helio dengan perasaan berkecamuk.
Malu sekaligus marah. Malu pada Kiara dan keluarganya dan marah pada Bu Zulaikha.
"What?" Mata Kiara membeliak, kaget, " lalu, Anna?" tanyanya pelan.
"Entahlah. Aku tidak punya pilihan selain menuruti keinginan Ibu. Tolong aku, Ra. Kesehatan Ibu sedang menurun. Dia bahkan mengatakan ini sebagai permintaan terakhirnya."
"Yo, tapi, ini tentang pernikahan. Tidak bisa kita buat main-main. Bagaimana kita menikah sementara kamu adalah pacarnya Anna. Dan juga ... kita tidak saling mencintai."
Kiara memelankan suaranya saat mengucapkan kalimat terakhir. d**a wanita itu kembali bergemuruh, nyatanya bukan mereka tidak saling mencintai. Tapi, Kiaralah yang mencintai sendirian di sini.
"Aku mohon, Ra. Kita bisa memulai semuanya dari awal. Nanti biar aku bicarakan masalah ini dengan Anna."
"Bagaimana bisa?" Kiara menatap tidak percaya pada sahabatnya. Pada laki-laki yang sudah lama mengaduk-aduk perasaannya.
"Anna pasti akan mengerti, Ra. Dia wanita yang baik dan sangat pengertian. Itu yang membuatku tidak bisa berpaling dari Anna."
Nyes.
Tergores hati Kiara mendengarnya.
'Kenapa kamu tidak pernah menyadari perasaanku, Yo?'
"Berikan waktu untukku berpikir, Yo."
"Baiklah. Kuharap kamu bisa menolongku mengabulkan permintaan Ibu, Ra."
Sejak pembicaraan tidak masuk akal itu, selama beberapa hari, Kiara tidak tenang. Takut, bingung, gelisah. Bercampur jadi satu.
Sekalipun cinta sudah menjalar hingga ke sudut-sudut ruang dadanya. Kiara tidak pernah berniat menyakiti sahabatnya, Anna.
Namun, desakan dan janji-jani manis Helio, akhirnya membuat Kiara menyerah. Dia mulai lemah saat perasaan mengambil alih akal sehatnya.
Kiara bahkan menyanggupi permintaan aneh Helio, yang meminta agar pernikahan mereka dilaksanakan secara tertutup dari pihak luar. Hanya keluarga dan kolega bisnis orangtuanya Kiara saja yang hadir.
Saat itu, Helio beralasan, dia merasa malu tidak siap jika teman-temannya tahu dirinya telah menikahi Kiara. Kesenjangan status sosial yang menjadi penyebabnya.
Setelah mereka menikah, dengan alasan ingin hidup mandiri, Kiara mengajak Helio pindah ke apartemennya. Bagaimanapun, wanita itu menyadari akan ketidakberesan dalam pernikahannya. Dan Kiara tidak ingin hal itu sampai terbaca oleh orangtuanya.
Sebab dalam hati gadis cantik itu telah bertekad, dia ingin memperjuangkan cinta suaminya. Kiara telah siap menerima konsekuensi dari langkah yang telah dia ambil. Termasuk Anna yang pasti akan memebencinya.
Dalam pernikahan yang tidak diharapkan itu, Kiara mengerahkan segalanya, perasaan, kasih sayang, juga materi yang dia berikan untuk Helio. Tak tanggung-tanggung, setelah tiga bulan berkerja di perusahaan ayah Kiara, laki-laki itu langsung diangkat sebagai Manajer Keuangan.
Dan setelah enam bulan berlalu, Helio sang sahabat terbaik muka menunjukkan taringnya.
Dengan teganya memberitahu Kiara, kalau dia masih menjalin hubungan dengan Anna. Helio juga menuduh Kiara yang menghasut ibunya agar menikahi mereka, setelah laki-laki mengetahui perasaan Kiara terhadapnya. Ditambah Anna yang terus menghasut dari belakang.
"Kamu sengaja kan, mempengaruhi ibuku untuk memaksaku menikahimu? Aku tidak habis pikir, Kiara, kamu tega menyakiti sahabat kamu sendiri! Dasar kejam!" bentak Helio di suatu hari.
"Sumpah, Yo. Aku tidak pernah punya niat sejahat itu."
"Alah, tidak usah berkilah! Kamu itu memang kejam, untung saja waktu itu Anna tidak sampai memutuskan hubungannya denganku."
"Ja—di, kalian tidak pernah putus?"
"Tidaklah. Bagaimana kami bisa berpisah setelah menjalin hubungan bertahun-tahun. Kami bahkan sudah merencanakan pernikahan, dan semuanya berantakan gara-gara wanita jahat seperti kamu!" tunjuk Helio tepat di hadapan wajah Kiara.
"Yo, kenapa kamu sejahat ini sama aku? Jadi, apa alasan kamu tidak pernah menyentuhku selama ini karena Anna?"
"Tepat sekali. Aku sudah berjanji pada Anna untuk tidak mengkhianatinya. Jadi, meskipun kamu mengemis, aku tidak akan pernah menyentuhmu."
Sejak saat itu, pernikahan yang semula bukan impian telah berubah jadi neraka untuk Kiara. Wanita malang itu tersiska, tapi cinta telah lebih dulu membuatnya buta.
Kiara yang pintar berubah seperti orang bodoh di hadapan Helio. Tak bisa berkutik sama sekali.
Kiara terus menanti dengan harapan yang begitu besar, saat-saat di mana Helio akan memandangnya. Sementara di lain sisi, hubungan Helio dan Anna malah semakin jauh.
Helio sampai menyisakan separuh gajinya untuk Anna, dan memdirikan sebuah restauran untuk wanita itu. Suami Kiara juga sering menginap di apartemen milik Anna, yang itu juga hasil pemberian Helio. Kiara tahu semuanya, berdarsarkan informasi dari seseorang yang disuruhnya mematau keseharian sang suami.
Hancur. Tentu saja. Tapi, sekali lagi, otak Kiara tidak lagi bisa bekerja. Kewarasannya telah hilang hampir sepenuhnya karena cinta.
Kiara hanya akan menjadi seorang Kiara ketika sedang berada di butiknya untuk berkerja. Selebihnya di bawah kendali Helio.
Jahat.
Dua tahun Kiara menjalani neraka itu. Dan malam ini, semua akan berakhir. Kiara mulai sadar, otaknya kembali berfungsi, kewarasan telah kembali.
Wanita itu sudah terjaga, setelah cukup lama menyiksa diri sendiri.
Setelah berpisah dengan Jacob di lobi hotel, Kiara langsung menghampiri mobilnya dan langsung pulang ke apartemen.
Tiba di sana, wanita yang seharusnya masih pantas disebut seorang gadis itu, segera melepas gaun dan aksesoris yang melekat di tubuhnya dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Baru kali ini Kiara menikmati pancuran air shower dengan tenang. Sejak kembali dari acara reuni, tidak ada beban yang ikut dibawanya pulang.
Tenang dan menyenangkan. Entah kata mana yang cocok untuk menjelaskan perasaannya saat ini. Telah pulih ataukah baru saja mati.
Selesai dengan ritual mandinya, wanita yang kata Jacob paling bersinar itu, segera mengenakan pakaian tidur, kemudian mengoleskan sedikit skincare di wajahnya, lalu beranjak untuk ke dapur. Kerongkongannya terasa kering, dan Kiara berniat mengambil air di kulkas.
Baru saja air dalam botol mineral itu hendak dituangkan ke dalam gelas. Suara bantingan pintu terdengar begitu keras. Hampir saja gelas di tangan Kiara mendarat ke lantai.
"Helio?"
Kiara menatap heran pada sosok yang baru muncul di balik pintu dengan kilat mata penuh amarah.
Bersambung ...