Bab 4 Sebagai Teman

1168 Words
Tatapan laki-laki bermata gelap itu tampak menantang wanita yang masih berdiri termagu di samping kulkas, dengan gelas di tangannya. Apartemen yang mereka tempati memang tidak memiliki sekat antara dapur dan ruang tamu. Jadi, rahang tegas yang tampak mengeras itu tertangkap dengan jelas oleh manik Kiara. Sempat bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat laki-laki yang pernah berstatus sahabat terbaik itu kembali dalam keadaan marah. Marah sekali. 'Apa Anna baru saja mencampakkannya?' batin Kiara. Sekejab, wanita itu menggeleng-geleng kepala. Baginya sangat mustahil, jika sampai dua sejoli itu berpisah tiba-tiba. Sementara saat di acara tadi, keduanya tampak begitu mesra. Derap langkah Helio mulai terdengar, saat dia mencoba mendekat pada Kiara. Tapi, wanita itu bersikap cuek saja, karena Kiara mengira dirinya tidak sedang membuat kesalahan apa-apa. Setelah menuangkan air ke dalam gelas, Kiara segera membasahi kerongkongannya, dan berniat untuk kembali ke kamar. Namun, sebuah tangan kekar yang sedikit kasar, mencengkram lengan Kiara, saat keduanya berpapasan. "Lepas," ujar pemilik rambut tembaga itu pelan. Menurutnya, laki-laki yang kesehariannya irit kalimat itu, aneh malam ini. "Lepas! Kau menyakitiku!" bentak Kiara sembari menghentakkan tangannya agar cengkraman Helio segera terlepas. Glek. Laki-laki itu tersentak ke belakang. Tidak percaya Kiara berani membentak dan melawannya, laki-laki itu semakin kesal. Matanya membeliak nyalang. Namun, wanita di depannya hanya menunjukkan raut wajah biasa. Ke mana Kiara yang lemah lembut, penurut dan bucin dan sering mengemis perhatian darinya? Pikir Helio. "Kenapa kamu sangat aneh, malam ini? Dan siapa laki-laki yang bersamamu tadi?" tanya Helio tajam. Mendengarnya, Kiara melirik Helio dengan ekor mata. Sinis. "Aneh? Aku tidak merasa begitu. Laki-laki tadi itu, dia temanku," jawabnya tanpa menatap Helio. Kemudian meneruskan langkahnya untuk ke kamar. "Teman? Kalian bahkan berdansa dengan mesra. Apa itu cocok disebut teman?" sinis Helio membuat langkah Kiara terhenti seketika. Sudut bibir Kiara terangkat, sesaat sebelum dia membalikkan badan ke arah suaminya. Suami di atas kertas. "Kalau pun lebih dari sekedar teman, apa hubungannya denganmu?" Helio mati kutu. Luar biasa sekali perubahan Kiara malan ini. Entah bagaimana laki-laki di acara reuni itu mempengaruhinya. Pikir Helio. "Ingat Helio, selama ini aku tidak hidup dari hasil keringatmu. Malah yang ada sebaliknya, jadi kuharap kamu tahu diri dan tetap pertahankan sikapmu untuk tidak mencampuri urusanku. Karena mulai sekarang ... aku juga tidak lagi tertarik untuk mencampuri urusanmu," katanya lembut tapi tajam. "Kiara!" "Kenapa? Apa aku keliru, Helio? Bukankah selama ini kau juga memberi separuh gajimu dari hasil bekerja di perusahaan Papaku untuk kekasihmu itu? Ingat, kalau masih ingin menumpang hidup di perusahaan Papaku, jangan macam-macam denganku." Deg. Helio tercekat di tempat, sementara Kiara sudah menghilang di balik pintu kamarnya. Setiap kalimat yang baru saja terdengar seperti penghinaan untuknya. 'Kurang ajar, dia baru saja berani menginjak harga dirku.' Helio terduduk di sofa ruang tamu sembari memijit kepalanya. Banyak tanda tanya besar yang tiba-tiba berkelindan. Termasuk sejak kapan dan bagaimana Kiara bisa tahu kalau selama ini dia memberikan separuh gajinya pada Anna. Sebagai laki-laki, Helio marah mendengar ucapan kurang ajar yang dilontarkan Kiara. Ditambah, selama ini wanita itu tidak pernah bersikap tidak sopan padanya. 'Bukankah dia cinta mati padaku. Sampai tiap melihatku marah dia sangat takut dan memohon-mohon agar aku tidak meninggalkannya. Lalu, kenapa sekarang Kiara berubah?' Laki-laki yang masih berbalut jas itu tengah dihampiri kebingungan besar, sampai mengabaikan WA dari Anna. Juga panggilan masuk yang ditolak hingga beberapa kali. Belum tenang perasaan Helio yang dibuat down dengan kata-kata Kiara. Sekarang laki-laki itu semakin terkejut melihat istrinya keluar dari kamar dengan pakaian rapi serta sebuah koper di tangan. "Kau ... mau ke mana?" Helio hendak bangkit menghampiri istrinya, namun, diurungkan saat melihat Kiara berjalan mendekat ke sofa. Dan menghempaskan tubuh di samping laki-laki itu. "Helio, sebelum pergi, aku berbincang sebentar denganmu sebagai seorang teman," ujar Kiara yang lagi-lagi membuat Helio hanya bisa menelan ludah. Laki-laki itu mulai mengingat satu hal, bahwa dulu, Kiara adalah teman baiknya. Teman yang sudah dua tahun ini dia lupakan statusnya, karena suntikan nasehat dari Anna. Wanita yang sudah bertahun-tahun bersamanya. Helio sudah lama lupa siapa Kiara sebenarnya. Selain sebagai musuh, karena mengira telah menghasut almarhum ibunya, yang telah berpulang tidak lama setelah pernikahan mereka. "Eum, memangnya apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Helio tergagap. "Bukan hal serius. Tapi, aku merasa perlu menyampaikannya padamu." "Katakan saja," ujar Helio tanpa menatap Kiara. Kali ini bukan perkara tidak sudi, tapi, laki-laki itu tidak punya cukup keberanian beradu pandang dengan sepasang mata amber itu. "Sebelumnya, aku mau meminta maaf atas ucapanku tadi." Kiara berucap sungguh-sungguh. Tapi, rekaman dari setiap ucapan pedas itu, masih tersimpan rapi dalam hati suaminya. "Terus?" tanya Helio dingin. "Eum ... kau tahu bukan, pernikahan kita telah membuatmu dan Anna membenciku. Ditambah setelah kau tahu perasaanku terhadapmu, itu membuat kamu semakin muak." Kiara menjeda ucapannya dan menarik nafas beberapa kali. Wanita itu berusaha mengontrol perasaannya, agar tidak terbawa suasana. Kiara sudah berjanji untuk tidak terlihat lemah dan menyedihkan lagi di depan Helio. "Tapi, mulai sekarang kamu tenang saja. Aku sudah sadar setelah membaca pesanmu tadi. Kamu dan Anna memang seharusnya hidup bersama. Sebaiknya kalian segera merencanakan pernikahan, agar tidak terus-terusan terjerumus dalam zina," kata Kiara setenang mungkin. Air matanya memberontak keluar, tapi, wanita itu mati-matian menahannya. "Ba—bagaimana ... kamu bisa tahu soal itu?" tanya Helio gelagapan. "Tentu saja aku tahu kalau kamu sering menginap di apartemen Anna. Termasuk saat kamu membangun sebuah restauran untuk Anna kelola. Maaf, kalau aku lancang menguntitmu selama ini. Tapi, kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan memberitahu Papaku soal itu termasuk hubungan kalian. Dan sekarang aku harus pergi untuk menenangkan diri sebentar sebelum mengakhiri pernikahan ini," ujar Kiara sembari tersenyum. d**a Helio bergemuruh seketika. Laki-laki itu tidak percaya mendengar cerita yang keluar dari mulut istrinya. Helio tidak menyangka jika selama ini Kiara tahu kelakukan busuknya. Entah apa yang merasuki Helio, hingga setitik rasa bersalah perlahan menusuk hatinya. Ingin sekali mengucapkan satu kata 'maaf' pada Kiara. Tapi, hanya sampai di kerongkongannya. "Jadi, kamu ingin mengakhirinya pernikahan ini? Kenapa?" Sungguh bukan itu yang ingin Helio katakan. Dalam hati, laki-laki itu mengutuk mulutnya sendiri, karena berani mengeluarkan pertanyaan memalukan setelah apa yang dirinya perbuat pada Kiara. "Selama ini, aku lelah mencari jalan menuju hatimu. Mungkin sudah saatnya aku menyerah. Semoga hidup barumu lebih berwarna tanpa aku. Aku tidak lagi mencintai kamu, Helio." Deg. Ada perasaan tidak rela di hati Helio mendengar istrinya berkata seperti itu. "Ra ...." "Kamu tenang, saja. Aku tidak akan memberitahu siapapun mengenai masalah rumah tangga kita. Dan kamu juga boleh tinggal di sini sementara, sampai menemukan tempat tinggal yang baru. Kamu juga masih bisa bekerja di perusahaan seperti biasa. Saat berpisah nanti, aku akan memberi alasan yang tidak membuat kamu dibenci orangtuaku. Kalau begitu, aku pergi dulu. Kalau ada perlu kamu hubungi saja aku di nomor biasa. Jangan pernah mencariku ke rumah, aku tidak pulang ke sana. Aku tidak mau orangtuaku tahu ini semua. Selamat tinggal, Helio." Beberapa saat Helio mematung, berusaha mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Kiara. Menit kemudian, laki-laki itu tersadar, namun, pintu baru saja tertutup dan Kiara telah menghilang di baliknya. "Kiara." Helio menyebut nama istrinya pelan. Matanya menatap kosong ke arah pintu ber cat hitam itu. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD