Cinta adalah luka. Cinta adalah air mata, siksa, derita. Setidaknya itu yang kudapatkan dari mencintai makhluk sepertimu.—Renjana Kiara
.
00.30
Laki-laki sudah berada di kamarnya sejak beberapa jam yang lalu, belum juga bisa memejamkan mata.
Berulang kali Helio mengacak-acak rambutnya, namun, setiap ucapan Kiara masih saja terngiang. Semuanya terdengar menyakitkan.
Namun, yang paling sakit adalah kalimat,
"Aku tidak mencintai kamu lagi Helio."
Riuh d**a Helio mengingatnya. Padahal, sejak dia tahu perasaan Kiara terhadapnya. Laki-laki itu semakin muak dan jijik tiap kali melihat wajah istrinya itu.
Logika Helio juga membuatnya tersadar. Akan sangat memalukan jika dia tidak segera angkat kaki dari apartemen Kiara. Mukanya tidak cukup tebal untuk bertahan di sana lebih lama lagi, sementara kelakuanya pada sang istri sama sekali tidak bermoral.
"Argh ...! Apa yang harus kulakukan sekarang? Bagaimana aku bisa berhadapan dengan Papa Kiara saat di kantor, setelah apa yang kulakukan pada putrinya?" monolog Helio dengan wajah kusut.
Tuan Aimantino memang tidak tahu apa-apa tentang mereka, tapi, Helio tetap merasa malu dengan diri sendiri.
Sejauh ini, Helio sama sekali tidak khawatir dengan kepergian Kiara. Ke mana wanita itu menuju, Helio bahkan tidak ingin tahu. Yang laki-laki itu pusingkan hanya tentang harga diri dan sedikit perasaan bersalah. Sedikit saja.
Saat tengah memikirkan bagaimana menjalani hari esok seperti tidak ada terjadi apapun di malam ini. Ponselnya berdenting.
Ting.
Sebuah pesan singkat dari Anna, yang menyuruh Helio untuk segera berkunjung ke apartemen wanita itu.
Anna cukup pintar menggoda Helio dengan kata-kata vulgar yang cukup menggoda. Hingga tanpa perlu dua kali, laki-laki yang kini berusaha 27 tahun itu segera meraih kunci mobil dan pergi menemui Anna.
"Aku segera ke sana."
Send.
Sebelum melajukan mobilnya, Helio menyempatkan untuk membalas pesan kekasihnya.
Sedangkan Kiara, entah ke mana arah yang dituju, di tengah malam gerimis. Seperti kondisi hatinya. Hujan darah meruntuh di langit d**a wanita malang itu. Tidak. Bodog lebih tepatnya, Kiara sendiri bahkan mengakui kebodohannya.
"Aku benci diriku yang seperti ini! Menyedihkan!" teriaknya suatu malam di sudut kamarnya, dengan suara yang timbul tenggelam dalam isakan. Saat pertama kalinya mengetahui sang suami sering tidur di apartemen kekasihnya.
"Sebenarnya siapa yang salah di sini? Aku atau mereka?"
"Bukan aku yang datang mengemis pada Helio, tapi sebaliknya. Lalu, kenapa harus aku yang dikorbankan?"
"Mereka benar-benar jahat. Hiks."
Kiara sungguh payah dan malang. Beruntung, kewarasan telah menghampirinya sekarang.
.
Di apartemen Adriana.
Wanita berambut pirang itu sudah siap menyambut Helio dengan lingerie seksi yang dikenakannya seperti malam-malam yang telah lalu.
"Sayang, akhirnya kamu datang," ujar Anna diiringi kecupan singkat saat Helio muncul di balik pintu.
"Sorry, Ann. Tapi, situasi hatiku sedang buruk."
Anna mengikuti Helio yang menjauh ke sofa, dengan perasaan kesal.
"Tidak biasanya kamu menolakku, Yo. Apa ini karena wanita itu?" cerca Anna yang mencoba merayu Helio kembali.
"Maksud kamu Kiara?"
"Siapa lagi? Sejak di acara reuni, kuperhatikan kamu tidak pernah mengalihkan pandangan darinya."
Mengetahui kekasihnya menyadari satu hal, Helio mencoba menyambut pancingan Anna. Helio tidak mau Anna merajuk apalagi sampai marah hanya karena Kiara.
"Bukankah kamu tahu, kalau aku tidak pernah bisa menolakmu. Lupakan Kiara, dia bukan hal penting yang harus kita pikirkan," bisik Helio di telinga Anna. Terdengar menggoda.
Kejam sekali.
'Aku tidak akan pernah membiarkan Kiara masuk dalam pikiranmu, sedikit pun,'
Anna tersenyum puas, sebelum akhirnya ritual yang biasa mereka lakukan terulang kembali.
.
Karena kesiangan, Helio tidak sempat kembali ke apartemen Kiara untuk bersiap-siap. Jadi, dia pergi ke kantor dari apartemen Anna.
Seperti di apartemen Kiara, di sana segala keperluan Helio juga tersedia. Mengingat, bukan sekali dua kali dia bermalam di tempat kekasihnya.
"Sayang, aku berangkat, ya. Kalau sudah bangun jangan lupa habiskan sarapan yang sudah kusiapkan."
Cup.
Manis sekali perpisahan mereka. Beda ketika Helio sedang bersama dengan istrinya. Pagi-pagi sekali, sebelum berangkat ke butik, Kiara sudah disibukkan dengan menyiapkan sarapan dan keperluan Helio yang lain.
Lalu, mereka saling berpisah dalam kebisuan, untuk memulai aktivitas masing-masing. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulut Helio, bahkan untuk sekedar ucapan terima kasih.
Entah rumah tangga macam apa yang dijalani dua anak manusia itu.
.
Ketika sedang di jalan, entah setan apa yang menghasut Helio agar memilih jalan yang melewati butik milik Kiara. Sayangnya, bangunan besar dengan pintu bermaterial kaca itu masih dalam keadaan tertutup.
Helio memilih abai, tidak ingin mengambil pusing dengan segala hal yang berhubungan dengan wanita yang semalam sempat berbicara sebagai sahabatnya.
'Kenapa aku harus melewati jalan ini? Harusnya aku tidak perlu mencari tahu apapun yang berhubungan dengan dia.'
Ya. Sekarang hatinya kembali seperti semula. Hati yang menyimpan kebencian untuk Kiara.
.
Tiba di kantor, laki-laki itu berjalan seperti biasa ke ruangannya. Meski kondisi pikiran Helio tidak setenang biasanya.
Setelah berdiri di depan lift, tangan Helio menekan tombol yang membuat pintu lift terbuka, detik berikutnya, dia segera masuk ke dalam sana dan menekan nomor lantai yang akan laki-laki itu tuju.
Sepertinya ketenangan Helio memang sedang diuji hari ini. Terbukti saat pemilik tubuh jangkung itu keluar dari lift, di koridor, seseorang telah menghadangnya dengan kata-kata yang cukup menohok.
"Wah, rupanya hari gini, benalu masih ada dan tumbuh makin subur, ya."
Langkah laki-laki dengan setelan jas mahal itu terhenti seketika. Rahangnya mengeras mendengar hinaan dari mulut pedas wanita yang berdiri di depannya.
Itu Madeline. Kakak sepupu Kiara.
Madeline telah lama membenci Helio, sejak diam-diam memergoki laki-laki itu bersama Anna.
Selama ini Madeline selalu menatap Helio sinis tiap kali mereka berpapasan di kantor. Jika bukan karena Kiara, sudah dari dulu Madeline menghempaskan laki-laki di depannya itu dari keluarganya.
"Aku sangat mencintai Helio, Kak. Kumohon jangan sentuh dia," mohon Kiara suatu hari.
"Tapi, Ra. Laki-laki itu berselingkuh di belakangmu."
"Beri aku waktu. Aku yakin bisa membuat Helio membalas perasaanku."
"Baiklah. Ini sudah setahun lebih. Aku akan menunggu sampai dua tahun usia pernikahan kalian. Apa itu cukup, Ra," tawar Madeline yang sebenarnya geram dengan kebodohan adik sepupunya.
"Baiklah, Kak. Kumohon jangan beritahu Papa, Mama dan yang lainnya."
Saat itu Madeline menyanggupi permintaan Kiara. Dan sekarang waktu telah tiba sesuai tempo yang disepakati.
Dan Madeline ... mulai habis kesabarannya.
"Apa maksud kamu?" tanya Helio pura-pura tidak mengerti dengan apa yang baru saja sepupu istrinya katakan.
"Sudah puas menyakiti adikku?"
Deg.
Bersambung ...