18. Dia Bukan Milikmu

3159 Words
"Apa ma? Mio akan menikah?" Lollipop di tangan Riou hampir terlepas dari mulutnya ketika mendengar berita dari mamanya. "Iya." "Ini sungguhan?" Riou menatap mamanya tidak percaya. Bagi Riou, Mio adalah kandidat jomblo sepanjang hayat paling signifikan. Meskipun Mio saat ini tengah 'dibawa' oleh Sean, bagaimana otak jenius Riou tidak tahu itu hanya pura-pura? Mio selalu mencintai dirinya sendiri diatas uang ah maksudnya diatas orang lain. Lalu kedua dia mencintai keluarganya, ketiga uang, keempat adalah teman 'abstrak' miliknya dan kelima tentu saja adalah pangeran uang yang selalu dibayangkan. Tidak ada sama sekali daftar pernikahan dalam otak kakaknya itu Riou yakin seratus persen. "Apa papa tidak sedang mabuk?" Alesya menghembuskan nafas gemas, sejak kapan suaminya peminum? " cepat ganti baju lalu makan." Alesya memilih mengabaikan Riou. "Mama..." Riou merengek. Kakaknya yang menjadi tameng pacar akan diambil orang. Bagaimana Riou bisa tenang? "Gantilah seragammu. Persiapkan dengan baik. Sore ini kita akan ke rumah keluarga besan." yah mama..." Riou merengek. Namun kemudian Riou ingat satu hal. "Ma, bagaimana dengan kakek? Apa dia tau ini?" "Kakek tau dan pernikahan ini rencana kakek." "Tidak mungkin!" Alesya tidak lagi memperhatikan anak keduanya dan kembali berkemas. Tidak banyak yang dia kemas. Dia hanya membuat beberapa oleh-oleh dan kue kering untuk dibawa malam ini ke keluarga Guan. Siang tadi suaminya meneleponnya bahwa malam ini mereka akan mengunjungi keluarga Guan sebagai ganti kunjungan mereka. Hal tersebut terkait dengan penetapan tanggal pernikahan anak mereka. Yuto sengaja membawa Abbas untuk menghitung keberuntungan keduanya. Jadi Yuto meminta Alesya untuk membuat masakan vegetarian untuk Abbas. Tentu saja keluarga Guan tidak akan kekurangan koki untuk membuatnya. Namun masakan Nakamura adalah salah satu syarat Abbas untuk datang. Alesya menjadi sibuk saat ini. Riou yang tidak diacuhkan memasang wajah kesal. Memakan snack dengan rakus Riou bersumpah dia mungkin akan meretas Guan untuk mendapat informasi sendiri. *** Los Angeles Lut's Apartement Mio senang dia bisa memasak nasi. Beberapa waktu lalu Mio telah menghabiskan sebagian besar sore untuk berbelanja di minimarket setelah mandi. Mio tidak membeli banyak. Dia hanya membeli mie kering, daging sapi A2, sayuran untuk salad, zaitun, beberapa buah pir dan apel, dan dengan sangat sulit dia menemukan beras bukan gandum! Meski harga yang ditawarkan cukup membuat Mio menangis meski itu bukan uangnya sendiri. Mio bukan gadis yang pandai memasak atau menyukai hal yang berbau dengan dapur. Jujur, di rumah Mio akan menyerahkan seluruh urusan dapur pada mamanya. Namun setidaknya Mio masih memiliki hal dasar yang disebut 'feeling wanita'. Dengan bantuan YouTube, dan resep makanan di mesin pencari, Mio berhasil memasak beberapa hidangan western biasa. Daging asap saus barbeque, salad, nasi yang dia buat menjadi sushi berisi kubis dan wortel serta jamur. Tidak ada daging karena sudah ada daging asap. Meski dilihat komposisi makanan itu tidak imbang, namun Mio merasa itu tidak masalah. Mio telah menyiapkan masing-masing dua porsi. Namun jika ternyata Lutfian tidak menyukai masakannya, Mio tidak keberatan menghabiskan semuanya. Rasa semua masakan Mio persis dengan lidah Indonesia khusus jawa meskipun itu masakan Asia dan western. Mio menyukai bumbu yang kaya ?. Mio puas menatap hidangan di atas meja makan. Dia mencari penutup makanan, namun karena tidak menemukannya, Mio hanya menutup semuanya dengan tutup biasa bukan tudung saji. Dia lantas mengambil baju yang telah Lutfian siapkan bergegas untuk mandi. Lutfian datang ketika Mio masih berada dalam kamar mandi. Melihat ke sekeliling apartemen Lutfian tidak menemukan gadis itu. Namun indra pemciumannya samar-samar mencium aroma masakan khas indonesia. Mengikuti jejak aroma , Lutfian mendapati dirinya berhenti di ruang makan. "Wow." Lutfian tidak bisa tidak takjub dengan hidangan yang tergelar di atas meja. Campuran masakan Asia dan western cukup memikat di malam yang dingin. Lutfian melihat kearah bingkisan yang dibawa dafi luar. Itu adalah sub asparagus yang dia beli di restoran ketika dalam perjalanan pulang dari menyewa mobil. Tapi melihat santapan dihadapannya, Lutfian merasa sup nya mungkin akan me jadi sarapan mereka. Ketika mencari keberadaan Mio, dia mendapati suara gemericik air kran di kamar mandi bawah. Lutfian langsung pada kesimpulan dimana gadis itu berada. Pintu kamar mandi terbuka. Mio muncul dengan setelan baju Grace dan rambut basah yang tengah digosok dengan handuk. Melihat hal itu Lutfian mengerutkan kening, " kamu mencuci rambut di udara dingin?" "Aku memakai air hangat. Tidak akan terkena flu." " mencuci dengan air hangatpun tidak bagus untuk rambut." Mio meringis, " jika aku tidak mencucinya aku akan kena marah." "Marah?" Lutfian memandang Mio dengan pandangan bertanya. "Lupakan itu. Intinya aku harus terlihat bersih dan rapi dari ujung rambut hingga kaki jika masih ingin uang." "Huh?" Melihat ekspresi bingung Lutfian, Mio hanya tertawa," kamu tidak akan mengerti." "Baik." Lutfian tidak lagi menggali. Dia menunjuk arah laci dan melanjutkan, "pengering ada disana. Keringkan rambutmu." "Oke." Keduanya tidak sadar bahwa meski baru berkenalan secara resmi tidak lama, mereka mudah bergaul. Setelah mengeringkan rambut, keduanya terlibat dalam makan malam hangat.Mengobrol hal-hal ringan dan membahas sedikit kisah Grace. Sup yang dibawa Lutfian ditempatkan di dalam lemari pendingin. Sedangkan untuk makan malam, hidangan Mio sepenuhnya mengisi perut keduanya. Mio tidak menyangka masakan pertama kalinya dapat disukai oleh Lutfian yang anehnya juga mencintai masakan kaya rasa meski dalam bentuk western. Sedangkan suasana keduanya harmonis sebagai teman, hal berbeda terlihat di belahan bumi lain. Di dalam negara tropis yang hanya memiliki dua musim, namum di kedalaman keluarga Guan, suhu ruangan mencapai titik beku. Dan akar penyebabnya adalah lelaki bertubuh tinggi dengan wajah dingin. Lelaki itu adalah Sean. Hilangnya Mio masih menjadi misteri. Beberapa pengawal inti yang dikerahkan Sean bahkan belum menemukan jejak gadis itu. Itu aneh seperti ada seseorang yang menutupi jejak Mio. Tapi siapa? Meski dia menghilang, Sean memiliki kepercayaan bahwa gadis itu tidak berada dalam orang yang berniat buruk. Karena sampai detik ini tidak ada apapun panggilan atau pesan ancaman dengan jaminan Mio. Lalu dimana gadis itu sekarang? Perjamuan makan malam akan segera dilaksanakan. Di dalam keluarganya, menghilangnya Mio sementara hanya dirinya yang mengetahui. Entah kakeknya mengetahui atau tidak. Namun sebisa mungkin Sean akan menutupi hal itu terutama dari keluarga Nakamura. Jika sampai berita Mio menghilang, Sean tidak akan tahu bagaimana ayah Mio akan mengamuk. Lalu membatalkan pernikahan mereka. Tunggu, Sean mengernyit, mengapa dia terlihat cemas jika pernikahan mereka batal? Bagaimanapun seharusnya Sean masih memegang pikiran bahwa keduanya hanya terlibat win win solution. Namun mendapati ancaman kegagalan pernikahan, Sean merasakan hatinya berdenyut. Perasaan tidak enak. Suara ketukan pintu membangunkan lamunan Sean. Seorang pelayan datang mengabarkan bahwa tiga puluh menit lagi jamuan akan segera dimulai. Sebelum jamuan dilaksanakan, Lincolt telah memanggilnya terlebih dulu dengan Yuto. Ketiganya membahas bagaimana perkembangan pembunuh dengan Mio sebagai pancingan. Dan Sean tidak menutupi. Dia menceritakan semua detail. Dari beberapa orang yang menyerangnya, dan enam orang yang tertangkap menyelinap masuk ke 'bangsal Grace' di Elisabet. Kini tiga diantara mereka masih dalam interogasi. Sedangkan tiga lainnya memiliki racun di lidah mereka dan bunuh diri. Yuto sangat tidak puas akan hal itu beberapa kali ingin membatalkan pernikahan ini. Namun mengingat sosok ayahnya, Yuto tidak bisa berbuat apa-apa. Meski enggan, lelaki paruh baya itu menyetujui pernikahan dan menyerahkan semua hal konferensi pers pengenalan Mio sebagai nyonya Guan pada keluarga Guan. "Tuan muda, pakaian anda telah disiapkan di kamar. Dan air hangat telah terisi penuh." "Hm." Sean mengangguk. Pencarian hari ini masih tidak membuahkan hasil meski Sean telah meminjam ruangan penyelidikan kakeknya . Meski Sean masih ingin menelusurinya, namun Sean tahu bahwa perjamuan ini juga penting. Jadi setelah menyuruh pelayan keluar, Sean mengikuti untuk keluar dari ruangan dan pergi menuju kamarnya. *** LOS ANGELES Pusat Kota Pearl hotel- President suite room President suite room- kamar hotel dengan harga nol dibelakang koma dalam dolar. Diantara lantai teratas, sebuah kamar di desain dengan keindahan panorama alam alami. Satu ruangan memiliki kemampuan memanjakan yang fantastis. Sesuai dengan digit dolar yang dikeluarkan. Disana-sosok berambut perak berbaring malas pada kursi rotan menghadap ke jendela kaca. Kaca itu langsung menunjukkan penampakan indah kota diselingi dengan kolam renang besar di bawah yang hanya memiliki segelintir orang berenang. "Orang gila." Lelaki itu bergumam. Memikirkan betapa jaman sungguh berubah drastis. Ada orang di kolam renang di musim dingin? Tapi dia tidak tahu jika fasilitas hotel berharga fantastis permalam ini menyediakan air hangat pada kolam renang. Dia terlahir di era berbeda. Dia membenci perubahan sekeliling. Tidak cukup minat mencaritahu perbedaan zaman. Dia hanya keluar pada saat mendesak. Dan hari ini sangat menyebalkan dia harus keluar dari rumah nyamannya menuju gemerlap dunia yang semakin tua.Dengan wajah klasik yang unik dan penampilan malasnya, dia sungguh terlihat seperti dewa cinta yang siap menghancurkan hati para mahluk fana. Namun sayang dia hanya memiliki penampilan acuh tak acuh. Dan iris mata berbeda warnanya sejauh ini hanya melembut pada dua orang saja. Dia terus menatap keluar jendela meski pandangannya tidak jelas diarahkan kemana. Di tangan kanannya, dia memiliki satu bola kristal bening dengan ornamen unik dan ukiran kuno di setiap lingkaran. Terkadang bola kristal itu akan menyala dan meredup. Ketika menyala beberapa bayangan secara ajaib seolah terpantul seperti slide dalam film. Namun lelaki itu tidak tertarik untuk melihatnya. "Tuan." Menoleh mengikuti sumber suara-namun hanya sebatas itu. Dia tetap mempertahankan sikap malasnya. "Apakah anda akan tetap disini minggu ini?" "Hm?" Memainkan bola kristal, lelaki itu tidak langsung menjawab. "Jika anda cemas, mengapa anda tidak langsung melenyapkan parasit itu Yuujin sama?" Yuujin melirik pelayannya. Lalu mendengus, "umurmu hanya tujuh puluh tahun. Tapi kau sudah tampak tua." Bukan menjawab pertanyaan, Yuujin justru mengalihkan topik. Sayangnya ini langsung menusuk di titik lemah Hiroshi. "Maafkan saya Yuujin sama." Hiroshi tidak tahu harus marah apa menangis. Jika dia memiliki nyawa lebih, dia akan berteriak 'tuan, manusia normal hanya memiliki 90 tahun maksimal hidup! Dan manusia normal memiliki penuaan alami dengan bertambahnya umur! Tidak semua manusia abnormal sepertimu!' Namun meski pikirannya meneriakkan beberapa keluhan, Hiroshi hanya menundukkan kepala diluar. "Jadi maksudmu aku abnormal?" Hiroshi tercengang. Buru-buru menggeleng sambil menahan tangis, kenapa dia lupa tuannya memiliki hal spesial diluar nalar? "saya tidak berani!" "Yah sudahlah. Karena umurmu, aku kira kau harus segera melatih anakmu untuk menggantikanmu. Kau harus meluruskan tulang tuamu." "Ya Yuujin sama." Hiroshi sudah memperhitungkannya. Sebagai pelayan yang turun temurun, dia adalah generasi keenam yang menggantikan melayani Yuujin. Awalnya dia terkejut ketika mendengar dia harus merawat seorang dengan usia dua abad lebih. Namun lebih terkejut ketika mendapari bahwa orang itu bahkan masih terlihat seperti umur dua puluhan. "Hiro, siapkan mobil untukku." "Eh?" Hiroshi blank. Barusan tuannya mengatakan ingin mobil? Apa dunia terbalik? Tuannya yang selalu berjalan seolah menghilang dan muncul tiba-tiba menginginkan mobil? "Mobil sport hitam metalik. Ah siapkan pula pakaian stylish terbaik tahun ini . stylish klasik anak muda untukku." "Tu..tuan menginginkannya?untuk apa?" Tuannya tidak akan mengalami puber menopause kan? "Hm? Untuk apa?" Melirik Hiroshi, iris mata onx itu berubah warna menjadi merah muda terang. Sambil menyeringai Yuujin berkata, " apa? Tentu saja untuk menjemput cucuku tersayang." Dan Hiroshi ingin pingsan seketika. Tuan! Apakah anda menderita grand daughter complex? Memotong rambut, bergaya, apa anda melupakan umur asli? " ne, Hiro, apakah menurutmu aku harus mencabut perlindunganku pada cucuku?" "Ya?" Hiro menatap tuannya bingung. "Yah, jika aku mencabutnya, si bodoh Sean akan mudah menemukan cucuku. Jadi? Apa kau ingin melihat drama menarik? Akhir-akhir ini aku sangat bersemangat ." Ketika anda bersemangat, maka orang lain pasti akan menderita ??. *** INDONESIA Guan Mansion Harum bunga cendawa bercampur dengan rempah-rempah berbaur menjadi satu dengan aroma mint dalam satu ruangan. Lelaki berkepala plontos menyanyikan bait-bait suci. Berkotow beberapa kali di depan altar kecil buatan dengan sumbu terbakar ditangannya. Enam orang duduk melingkar mengamati tanpa membuat suara. Selain suara abbas dan bau dupa terbakar, tidak ada hal lain yang dapat didengar. Ketika sumbu diletakkan di guci tanah, Abbas membuka mata dan bibir yang melantunkan bait suci berhenti. "Ohm syarech ohm syea. Kekekalan takdir bukan milik fana." "Bagaimana Abbas?" Yuto pertama kali membuka suara. Abbas adalah guru spiritual Yuto ketika mengunjungi kuil untuk berdoa. Hanya dia yang tidak sungkan bertanya pada pendeta agung. "Hari baik telah terlihat. Kecocokan keduanya besar. Satu diliputi abu-abu, satu memiliki cahaya terang. Itu seperti keseimbangan ying dan yang." Semua orang tersenyum lega mendapat ramalan Abbas. Namun mereka tidak menarik nafas banyak ketika kalimat Abbas jatuh selanjutnya. "Namum cahaya yang terlalu terang, selalu menarik kegelapan yang haus akan hangatnya cahaya." "Apa maksud Abbas mereka akan mengalami hal buruk?" Kali ini Lincolt bertanya. Lincolt bukanlah penganut agama. Dia atheis. Namun dia menghormati setiap pemeluk agama. Dia juga merayakan natal, lebaran, bahkan menghormati perayaan sakral. Dan pengalaman dengan abbas hari ini adalah hal baru baginya. Ramalan-ramalan di luar nalar bagi para pendeta, Lincolt mempelajarinya dengan baik meski bukan penganut. Jadi dia sedikit mengerti maksud Abbas. Abbas tersenyum ramah, " segala yang ada adalah tidak ada. Dan tiada adalah ada. Kebaikan akan menarik kejahatan. Kejahatan akan menarik kebaikan. Keduanya beriringan dan kenapa dunia seimbang. Gadis ini tidak biasa. Terlalu terang pada dua dunia. Menarik perhatian dua dunia. Ketika dunia lain lebih banyak tertarik, maka keseimbangan akan terganggu. Nasip buruk tidak terelakkan sebagai imbalan." Yuto menarik nafas berat. Pada akhirnya anaknya masih diburu? Yuto melirik kebelakang, sadako dengan manis duduk dibelakangnya. Memainkan rambut panjang dengan kimono tua basah. Sejak Mio pergi, entah kenapa Sadako tidak mengikutinya. Youkai itu sepertinya lebih menyukai rumah barunya di sumur tua belakang rumah. Bahkan meski tidak mengganggu, tapi Yuto merasa sedikit tertekan dijadikan pengganti Mio yang sering diikuti olehnya. Seolah membaca arah mata Yuto, Abbas memandang arah kosong Yuto dengan senyum. "Sebaiknya jangan meraih tangan hal dari dunia berbeda. Jika dikejar, maka hal baik untuk memusnahkan segala yang hitam." Tidak ada yang mengerti maksud abbas. Namun Yuto paham. Keluarganya telah berkecimpung di dunia lain sejak leluhur mereka. Alasan mengapa dia sampai di negara ini pun adalah karena beberapa masalah baik dari kalangan 'astral' maupun dalam konflik keluarga sendiri. "Saya akan merenungkan nasihat abbas." "Bintang ramalan sudah terlihat. Akan bagus melaksanakan pernikahan pada bulan dua belas di tengah tanggal." Selain Riou yang mengantuk, Sean adalah salah satu orang yang pasif dalam pertemuan ini. Meski pasih memasang postur duduk tegap dengan lutut terlipat, namun pikirannya melayang. Dari sudut mata Abbas, beliau memandang Sean penuh arti namun tidak mengatakan apapun. Yang orang lain lihat hanyalah biji kenari dalam tasbih miliknya diremasnya bersamaan dengan lantunan bait suci. Dua biji remuk terpecah di tangan Abbas. Tepat ketika biji kemari remuk, sebuah notif khusus muncul di ponsel Sean. Fluktuasi ekspresi jelas terlihat wajah Sean. Beberapa kali matanya tidak lagi fokus menyimak pembicaraan para penatua. Hanya melihat kearah saku jasnya. Hanya ketika Abbas berbalik, Sean mengeluarkan ponsel miliknya. Satu pesan muncul di atas. 'Tuan, kami berhasil melacak keberadaan nona Mio. Dia berada di kota XX apartemen no x " Tidak perlu menunggu waktu, setelah peramal Abbas undur diri, Sean dengan dalih mengabari Mio langsung undur diri. Dia mengirimi perintah bawahannya untuk memesan tiket malam itu juga. *** Lose Angeless Lutfian's apartement Badai salju yang tiba lebih awal membuat genting dan jalanan tebal oleh salju di sekitar apartemen. Karena cuaca jugalah pagi ini baik Lutfian maupun Mio bangun agak terlambat. Badai salju mengguyur sekitar LA dua satu hari penuh. Dengan pertimbangan hal itu mereka memutuskan untuk pergi ke alamat yang dituju di tunda hingga pagi ini. Mio bangun lebih awal. Menempati kamar tamu yang memiliki jendela barat menghadap langsung ke jalanan, Mio dapat melihat dua mobil pembersih salju di jalanan tengah menepikan salju. Melihat ke depan apartemen, Mio melihat beberapa petugas yang di telepon oleh pihak reservasi keamanan apartemen untuk membersihkan salju yang menebal di sekitar halaman dan tangga. Mio mengulum senyum. Menghirup nafas dalam-dalam aroma basah salju yang berbaur dengan tanaman hijau yang diletakkan di sekitar jendela. Apa yang dilakukan Sean saat ini?" Mio tidak bisa ingin bertanya. Pagi kemarin Mio telah menelepon Philip dalam badai salju. Dia sengaja. Dengan badai salju yang lebat, Mio berpikir tidak mungkin bagi mereka untuk menjemputnya segera. Lalu jikapun mereka menjemput, Mio yakin dia dan Lutfian sudah dalam perjalanan. Jujur saja, bukan Mio ingin menghindari mereka. Hanya saja Mio ingin sedikit bebas dari rutinitas Misa Queen. Memikirkan bagaimana harus belajar etiket, seperti balon kempis mood Mio turun. "Jika dipikir-pikir apa aku sungguh tunangannya?" Tiba-tiba suara ketukan kamar terdengar. Selanjutnya suara bass milik Lutfian terdengar diluar pintu. "Mio, kita akan berangkat dua jam lagi." "Oke . Aku akan segera bersiap." Mio cepat menjawab. Setelah itu diluar kembali hening. Mio memutar tubuh turun dari ranjang--bersiap untuk mencuci muka. Pagi berjalan dengan lancar. Keduanya berinteraksi seperti teman lama. Setelah menghabiskan sandwich dan segelas jus, keduanya bersiap untuk berangkat sebelum sebuah ketukan terdengar diluar. "Mungkin itu petugas pembersih. Aku akan membuka pintu." Lutfian membersihkan mulutnya lalu bangkit dari kursi. Sebelum pergi dia menoleh pada Mio dan berkata, "Kamu bisa mengambil mantel milik Grace di atas meja sebelum kita pergi." Hal yang tak terduga adalah begitu Lutfian membuka pintu , bukan petugas kebersihan yang datang namun melainkan sosok tinggi dengan sorot mata dingin menembakinya. "You..." sebelum Lutfian bertanya, lelaki dengan mantel tebal itu sudah memotongnya. "Selamat lagi Mr. William. Bisakah kamu memanggilkan tunanganku?" Lutfian mengerutkan kening, mengabaikan ketidaksopanan Lelaki di depannya, Lutfian langsung bertanya ," apa maksudmu?" Grace jelas telah tiada. Bagaimana bisa Sean datang kepadanya menanyakan tunangannya? Jangan katakan... Ketika kedua lelaki itu saling menatap bersitegang, sosok ramping yang terbungkus mantel bulu cokelat dan syal pink muncul di belakang. Awalnya gadis itu tidak terlalu menyadari situasi di hadapannya. Bertanya dengan santai sambil membawa tas kecil berisi makanan. "Lut? Kita per-" Mio tertegun. Begitu mendongak, dia hanya bisa menemukan tatapan tajam Sosok tinggi di ambang pintu. "Sean," "Oh? Apa kamu bersenang-senang my fiance?" Sean mengabaikan Lutfian berjalan masuk. Setiap langkah penuh intimidasi. Suhu ruangan jatuh ke titik beku. secara harfiah ini memang dingin. Namun dengan tampang Sean saat ini, Mio dapat merasakan dia menggigil meski sudah memiliki pakaian tebal dan berlapis. Belum sempat Mio menyadari situasi, tubuhnya terlalu lambat merespon ketika tangannya secara kasar ditarik dalam genggaman besar dan menyeretnya. Entah sejak kapan empat pengawal muncul di depan pintu apartemen. Sean menyerahkan Mio pada Philip. Mendorongnya keluar pintu. Liontin biru safir Mio terguncang seolah akan jatuh dari lehernya. Barulah saat itu Mio tersadar. "Sean tunggu!" "Masuk ke mobil." Sean memerintah. Bawahannya jelas mendengarkan perintah Sean. Membawa Mio paksa menuju ke lift meski Mio menolak secara pasif. Meski Mio dapat menggunakan bantuan 'teman' untuk menyingkirkan pengawal Sean, namun Mio tidak ingin melakukannya atau Sean akan lebih berbahaya. Ketika tubuh Mio sudah memasuki lift , Sean berbalik menghadap Lutfian. "Terimakasih atas tumpangannya selama ini. Aku akan pergi." "Apa pembicaraan kosong ini? Bagaimana bisa kamu menyebutkan dia tunangan? b******k!" Lutfian mengayunkan tinju. Karena tidak bersiap, tinju berhasil memukul sudut bibir Sean. Belum puas Lutfian menarik kerah Sean dengan amarah meraung, " KAU BERTUNANGAN DENGAN GADIS LAIN HANYA DUA BULAN KEMATIAN GRACE???!! DIMANA PERKATAAN CINTAMU PADA GRACE ?KURANG AJAR!" Mengingat betapa Grace mencintai lelaki di depannya, dan lelaki ini dengan mudah menggantikannya dengan gadis lain, Lutfian merasa amarahnya memuncak. Lebih dari itu, kenapa gadis itu harus... "Apa kamu sudah selesai?" Sean menepis tangan Lutfian dan berdiri memperbaiki penampilannya. "Sepertinya kita selalu terlibat pada gadis yang sama. Namun Lut, gadis ini...bukan juga milikmu. She-is-not-Yours!" Ketika kalimat itu jatuh, Sean langsung mengangkat kakinya meninggalkan apartemen Lutfian .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD