Hujan kedua di bulan ini membuat pemilik kafe meningkatkan suhu penghangat ruangan di dalam kafe. Beberapa orang yang memasuki kafe sebagian besar adalah orang yang tengah dalam perjalanan dan hanya orang lewat. Dilihat dari apa yang mereka kenakan dan bawa. Misal di depan sudut meja Lutfian, ada dua pasangan yang menikmati hot cokelat namun mereka menenteng keranjang piknik. Dilihat dari warna kulit dan wajah , jelas mereka bukan keturunan Eropa melainkan Asia. Disampingnya lagi ada seorang dengan pakaian formal yang sedikit basah.
Namun daripada itu, sosok anggun yang duduk berseberangan dari meja Lutfian jauh menarik perhatian. Dia memiliki wajah campuran antara Asia dan Eropa. Namun fitur wajahnya terlihat klasik. Seolah di jaman sekarang seseorang akan sulit menemukan wajah seperti itu. Jika kebetulan seorang pencari bakat melihatnya, dapat dipastikan dia akan menjadi incaran. Dia terlihat berumur tidak lebih dari ukuran dua puluh. Memiliki rambut perak seperti bulu kucing terlihat lembut. Hidung mancung,bibir manggis merah alami dan sepasang matanya adalah hal yang paling menjadi daya tariknya.
Bahkan sebagai lelaki Lutfian tidak tahan untuk mencuri lihat lelaki itu. Pantas saja beberapa gadis mulai memasuki kafe dengan baik. Hampir dua kali lipat dari pelanggan lelaki. Terus meneliti bagaimana keindahan itu terlihat, lelaki itu secara tiba-tiba menoleh kearahnya. Bertemu dengan sepasang mata hijau jernih teduh, Lutfian tidak bisa merasakan nafasnya sendiri. Bibir lelaki itu terbuka dan bergerak. Lalu sebuah senyum terbit dari bibir lelaki itu.
"Kamu melakukan hal baik."
Lutfian tertegun meramalkan ucapan lelaki itu. Apakah lelaki itu mengenalnya?
***
Di tempat lain Mio disibukkan dengan si kecil Maudy. Mio mengunci diri di kamar mandi lalu melotot pada hantu kecil di depannya.
"Katakan padaku. Kenapa kau terus mengganggu makanku? Aku pasti akan membantumu. Tapi tidak sekarang. Aku bahkan bingung menyelamatkan diriku hari ini. Bagaimana kamu tega membuatku harus menahan makan?"
Mata si kecil Maudy berkedip lucu.
"Kau berjanji."
"Aku tahu."
"Kau harus menepatinya."
" tentu saja." Mio memutar bola matanya. Tapi tidak sekarang juga kan? Kau pikir menemukan orang di sini seperti membeli lolipop?
"Tapi kakakku ada disini. Kau harus memberitahunya sekarang."
“ oh kakakmu ada disini?" Mio mangut-mangut tapi kemudian sadar sesuatu.
"Kakakmu ada disini?"
"Dimana?" Sambung Mio. Mungkinkah salah satu pelanggan?
"Dia kakak di depanmu."
“Hm?"
“Lelaki berambut biru dan iris mata samudra. Dia kakakku."
Lelaki berambut biru dengan iris mata samudra...Mio memiringkan kepalanya.
"Sepertinya aku tahu . Itu seperti..." mata Mio membulat.
"Kau tidak mengatakan kalau Lutfian adalah kakakmu kan? Ha-ha ini komedi."
Tapi jawaban si kecil membuat Mio ingin menertawakan takdirnya sendiri.
"Memang. Dia kakakku. Mama pernah memperlihatkan fotonya padaku sebelum aku meninggal. Aku yakin itu dia."
"Bisa jadi kamu salah ingat." Please! Dunia tidak begitu sempit hingga jauh-jauh ke Los Angeles dan Mio mendapat kejutan menemukan anak yang hilang dari keluarga kan?
"Tidak ada orang seperti keluargaku yang memiliki ciri fisik yang sama dan unik. Dia lelaki asli berambut biru dan iris mata senada. Itu pasti keluargaku. Jika bukan kakakku, dia mungkin pamanku."
Mio tidak dapat berkata-kata.
***
Indonesia, Guan Mansion
At 9 pm
"Bagaimana hasilnya?"
"Bagaimana kalian belum bisa menemukannya? GPS selalu terpasang di handphone miliknya." Sean mengerutkan kening tidak suka. Kabar menghilangnya Mio membuat Sean bergegas kembali ke mansion hanya untuk meminjam peralatan lengkap sistem pelacak kakeknya.
Besok adalah pertemuan besar keluarga. Jika tebakannya benar, maka kakeknya pasti akan membicarakan masalah pernikahannya. Jika Mio menghilang bagaimana dia menjelaskan pada keluarga Nakamura? Tidak. Bukan itu yang membuat Sean panik. Namun mendengar dia tidak dapat melihat bagaimana gadis itu beraktifitas, ada sesuatu yang salah dengan hatinya. Sean tidak bisa tenang sama sekali.
"Bagaimana kamu melupakan ponselnya?!!"
Di seberang Philip tidak berani bersuara. Sean mengambil nafas dalam-dalam. Ini adalah kali pertamanya dia berteriak pada Philip dan itu justru karena untuk seorang gadis.
"Lakukan pencarian lagi. Cek cctv taman namun jangan libatkan polisi. Aku tidak mau media meliput. Dan jangan sampai berita ini bocor di kakek."
Setelah mendengar jawaban iya dari seberang, Sean mematikan earphone di telinganya.
Sean menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia memijat dahinya. Jika bukan karena pertemuan membahas pernikahannya, Sean pastikan tubuhnya akan terbang ke LA saat ini juga.
"Gadis itu-" Sean tidak bisa tidak mendesah. Bagaimana bisa gadis itu menghilang hanya dengan sedikit kebebasan yang dia berikan?
Suara ketukan pintu membangunkan Sean dari pikirannya.
"Masuk."
Sosok anggun muncul di ambang pintu begitu pintu terbuka. Anastasya muncul dengan nampan di tangannya.
"Mami boleh masuk?"
"Um."
Anastasya berjalan beberapa langkah dari pintu dan dia sudah ada di samping Sean.
"s**u hangat akan menenangkan tubuhmu." Anastasya meletakkan nampan di meja. Dengan biskuit cokelat menyertainya.
"Aku lebih suka kopi."
"Kamu sudah terlalu sibuk. Bagaimana bisa kamu masih menumpuk kafein dalam tubuh?"
"Setidaknya bukan susu."
Anastasya menggeleng, " s**u baik untuk tubuh."
"Apa ada masalah?"
"Kenapa mami bertanya?"
"Ciel terlihat repot minggu ini. Dan papamu mengatakan beberapa file bulan depan sudah ada di mejanya untuk acc. Apa kamu sedang mengejar target?"
Sean menatap maminya sejenak sebelum berkomentar, " tidak ada."
Anastasya tidak percaya tapi tidak mau memaksa anaknya. Dia hanya memilih mengganti topik.
"Bagaimana keadaan Mio?"
Karena Anastasya terus memperhatikan Sean, dia dapat melihat bagaimana Sean terlihat tertegun ketika nama Mio disebutkan. Meski hanya beberapa detik namun Anastasya yakin dia tidak salah.
"Dia baik." Semoga ,tambahnya dalam hati.
"Begitukah?" Nada ragu dari Anastasya jelas terlihat.
"Apa kalian ada masalah?"
Masalah? Sean bahkan bingung bagaimana dia dan Mio selalu terlibat masalah yang tidak kecil. Tapi jika itu masalah mereka, mungkin Sean dapat mengatakan tidak ada.
"Tidak ada."
"Kamu yakin?" Anastasya ragu mereka ada masalah. Melihat bagaimana kepribadian ceria Mio, dia tentu bisa mencairkan dinginnya anaknya. Anastasya tidak tahu apakah anaknya sudah melupakan Grace atau belum. Sean tidak pernah membawa gadis selain Grace. Jadi Anastasya berpikir bahwa anaknya akhirnya jatuh cinta. Dia bersyukur akan hal itu. Namun dia harus menerima ketika hal tragis itu terjadi.
Sean tidak menunjukkan banyak ekspresi ketika kematian Grace. Dia bertindak secara cepat menyelesaikan masalah dan profesional. Namun bagaimana Anastasya tidak tahu kesedihan Sean kehilangan Grace? Gadis itu akan menjadi miliknya tidak lama. Namun kemudian Tuhan berkehendak lain. Dan sekarang, sejak bertemu dengan Mio, Sean mulai kembali normal. Dia tersenyum, dia marah, bahkan dia kesal. Hal ini membuat Anastasya bertanya-tanya, dari apa yang dilihatnya, yang manakah gadis diantara Grace dan Mio yang membuat Sean paling berubah?
Melihat Sean uring-uringan beberapa hari ini apalagi hari ini, apakah ada sesuatu terjadi tentang Mio? Anastasya berpikir mungkin bisa menanyakan hal itu pada Philip nanti.
"Baiklah kalau kamu tidak mau cerita. Makanlah biskuit itu dan habiskan s**u ini. Mama tau kamu terlambat makan beberapa hari ini. Jangan sampai kamu sakit ."
"Um." Sean mengangguk tidak berpikir lebih dalam.
"Mami akan keluar."
"Ya." Sepeninggal maminya, Sean melirik s**u diatas meja. Lalu beralih melirik gelang di tangannya. Dia membelai gelang itu. Masih ada jejak kehangatan bagaimana gadis itu memakaikan gelang di tangannya meski dengan kata-kata abnormal. Gadis materialistis. Namun Sean tidak membencinya. Dimana dia?
***
Los Angeles
Kafe
Mengesampingkan kebimbangan Sean, beralih pada Mio yang saat ini menatap Lutfian penuh perhatian sambil memakan pesanannya. Mio mengingat percakapannya dengan Maudy di toilet beberapa waktu lalu.
"Kau bilang Lutfian kakakmu? Karena dia memiliki fisik unik?"
"Ya. Seluruh keluargaku memiliki gen baik" Maudy mengangguk penuh kebanggaan. Disisi lain Mio tidak bisa mencibir dalam hati. Menjadi hantu tapi sombong, saat hidup dia pasti gadis kecil ini sangat arogan.
"Bagaimana kau yakin?"
"Kita bisa melakukan tes DNA?"
Mulut Mio memompa. Anak kecil ini, bagaimana dia bisa mengerti hal seperti tes DNA? Sebenarnya kapan dia mati sih?
"Baik, anggaplah kita melakukan tes dna. Lalu bagaimana cara mencocokannya? Siapa darah yang akan dibandingkan?"
Lucunya Maudy langsung menjulurkan tangannya dan berkata, " kau bisa ambil darahku."
Bibir Mio berkedut. Demi apa hantu ini mengatakan bisa mengambil darahnya?
"Maaf sebelumnya, hanya untuk memastikan aku mau bertanya, kau tau kan kau sudah..." Mio memperagakan tangannya memotong lehernya.
"Mati?" Ucapnya.
Benar saja, gadis itu langsung membeku. Lalu kemudian mulai terisak.
"Huhu...Maudy lupa...huhu...bagaimana hantu tidak bisa memiliki darah? Huhu...teman-temanku memilikinya. Tapi aku tidak ."
Mio menepuk kepala Maudy, " tidak apa-apa. Walaupun hantu setidaknya kau menjadi hantu yang imut. Hantu tanpa darah adalah hal baik." Mio mencoba menghibur meski dalam hati mengutuk kebodohannya. Jika hantu memiliki darah yang bisa diambil, maka eksistensi manusia hanya akan menjadi bayangan.
"Lalu bagaimana kita melakukan tes?"
Mio pura-pura sedih, "lebih dari itu biaya tes DNA itu mahal. Aku tidak punya uang." Jika Sean mendengarnya dia pasti akan membenturkan kepalanya kedinding melihat bagaimana Mio berbohong dengan wajah lurus. Tapi kali ini Mio tidak berbohong. Dia memang tidak memiliki uang dolar. Tapi dia memiliki rupiah gendut beberapa minggu ini.
"Aku punya uang banyak. Keluargaku kaya. Jika mereka menemukan kakak, kau akan menerima imbalan baik."
Benar saja. Seperti biasa. Wajah Mio yang meredup langsung naik ke tingkat kecerahan tertinggi.
"Aku pasti akan membantumu!"
Kini Mio bingung bagaimana dia mengatakan pada Lutfian masalah ini. Mereka baru kenal. Mana mungkin Mio mengatakan.
"Hei lut, kamu tau? Kamu ternyata anak orang lain? Mau mencoba tes DNA? Aku tau dimana keluargamu ."
Membayangkan dirinya mengatakan hal itu pada lelaki yang resmi dikenalnya hari ini Mio merinding . Jangankan percaya, lelaki itu mungkin tidak segan memanggil petugas rumah sakit jiwa untuknya. Ah...menjadi indigo itu sulit. Jika bukan karena hati nurani, Mio tidak akan mau.
Tapi tanpa disadari Mio, Lutfian pun melakukan hal yang sama. Berbeda dengan Mio, Lutfian masih berpikir lelaki asing yang meninggalkan pesan padanya.
"Karena kau membantunya, sebagai balasan kau akan menerima seperempat restuku dan menemukan keluargamu."
Saat itu tidak tau bagaimana lelaki itu berjalan, Lutfian baru menyadari lelaki asing itu sudah ada di dekatnya berbisik padanya. Dia datang tiba-tiba dan menghilang tiba-tiba. Saat tersadar Lutfian hanya mendengar lonceng pintu bergerak dan lelaki itu sudah tidak meninggalkan jejak di derasnya hujan.
Apa maksud lelaki itu? Siapa gadis yang dimaksud lelaki itu? Kenapa dia terus mengulang kata 'menolong gadis' padanya?
"Aku"
"Aku."
terkejut menemukan mereka membuka suara disaat yang sama.
"Kamu dulu."
"Kamu dulu."
Lagi-lagi mereka berkata secara kompak. Keduanya tertegun sesaat sebelum terkekeh bersama.
"Baik ladies first." Ucap Lutfian.
"Oke." Mio tidak menolak.
"Aku ingin bertanya. Tapi mungkin ini tidak sopan. Sebelumnya aku akan mengatakan padamu bahwa aku sungguh indigo. Sama seperti Grace. Kamu percaya?"
Lutfian tidak tahu mengapa gadis di depannya menjelaskan hal itu padanya, tapi dia tetap mengangguk.
"Aku bisa melihat mahluk astral. Kamu percaya?"
"Tentu."
"Nah kalau begitu bagus. Maka aku akan bertanya padamu, apakah kamu...bukan asli keluarga william?"
Lutfian membeku. Hening menyelimuti beberapa saat sebelum menjawab.
"Siapa yang memberitahumu?" Wajah Lutfian tidak seramah tadi. Ditatap seperti itu Mio merasa dia disalahkan.
"Tidak ada. Hanya saja 'seseorang' datang menemuiku yakin bahwa kamu adalah keluarganya. Dia memintaku untuk memberitahumu. Kamu tau bukan 'seseorang' yang aku maksud?"
Mendengar kata keluarga, jantung Lutfian melonjak. Sejak membuka mata di rumah sakit Inggris. Lutfian menemukan dirinya dibawa oleh bibi Marry. Mengatakan dia ditemukan di perbatasan Inggris menjadi salah satu warga sipil yang ikut menjadi korban kecelakaan terencana keluarga Marquis. Saat itu semua korban dibawa ke rumah sakit dengan biaya yang ditanggung pihak Marquis. Hanya saja Lutfian tidak mengingat apapun saat dia bangun. Jadi setelah satu bulan menunggu keluarga kehilangan, menemukan dirinya tidak dijemput oleh siapapun, bibi Marry akhirnya membawanya. Dia adalah kepala pengurus panti asuhan swasta di daerah Seanwart- Inggris. Lutfian tinggal dua tahun disana sebelum Miranti mengadopsinya. Tidak ada yang tau masalah ini kecuali William sendiri dan sedikit dari keluarga Guan.Fisiknya memang unik, namun karena Miranti memiliki rambut dan sepasang mata yang lain dari kebanyakan orang, tidak ada yang curiga apapun tentang fisik Lutfian. Saat William mengenalkannya ke dalam publik, mereka hanya mengatakan bahwa Lutfian lahir dengan fisik tidak begitu baik jadi bersembunyi selama ini demi kesehatan.
"Apa yang kamu katakan benar?" Lutfian akhirnya membuka suara. Sebagai psikolog Mio dengan teliti dapat mendengar suara Lutfian sedikit sengau. Dia mungkin menahan tangis.
"Aku tidak tau. Tapi dia memberiku alamat dimana harus menemui seseorang yang mungkin ibumu. Kita dapat melakukan tes DNA."
"Apa kamu setuju?" Mio bertanya.
Jawaban Lutfian tidak tampak berpikir. Lelaki itu langsung mengangguk.
"Aku setuju. Dan kamu dapat memanggilku Lut untuk memudahkan."
"Kalau begitu kamu bisa memanggilku Mio."
***
Rencana Mio dan Lutfian adalah pergi segera setelah makan untuk mencari alamat itu. Namun setelah Lutfian melihat alamatnya, dia menemukan bahwa ada dua alamat. Satu beralamat jauh dari kota dan butuh waktu enam jam untuk sampai. Dan satu alamat lagi bahkan berada di Inggris setelah mereka mencari di google maps. Melihat hal itu Lutfian semakin mempercayai bahwa apa yang dikatakan Mio benar. Bagaimanapun Inggris adalah kota pertama dimana dia membuka mata. Tidak ada yang tahu kecuali Miranti--mamanya.
Jadi setelah berunding, Lutfian memutuskan untuk menyewa mobil esok harinya dan berangkat pada pagi hari. Mio hanya setuju. Toh sekarang si kecil Maudy entah tengah bergentayangan kemana. Jadi Mio sedikit rileks.
"Aku akan mengantarmu pulang ."
Mendengar kata pulang Mio langsung meringis, "sebenarnya aku tidak ingat alamat tempat tinggal sementaraku."
"Ya?" Lutfian memasang wajah blank.
"Hehe..." Mio tertawa garing.
"Jujur meski aku tidak bodoh. Tapi aku buta arah. Aku hanya tau kalau aku tinggal di rumah orang yang tidak bisa aku sebutkan." Mio ingat dia harus merahasiakan masalah hubungannya dengan Guan. Jika dia mengatakan dia tinggal dengan Guan, bukankah akan ada masalah?
Apa itu dapat dikatakan alasan? Jujur Lutfian sanksi akan hal itu. Namun ketika melihat wajah serius Mio, Lutfian tidak berdaya untuk menolak alasan itu.
"Lalu dimana kamu akan pergi?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak punya uang. Dan aku juga tidak membawa ponselku." Mio berharap Lutfian akan menawarkan uang untuk menginap di hotel. Namun sayang perkataan Lutfian selanjutnya menanggalkan gagasan itu.
"Kamu mengingat nomor ponsel orang disini?" Tanya Lutfian. Sebenarnya Lutfian sanksi Mio ingat. Alamat saja tidak apalagi nomor?
Tapi Mio justru mengangguk, " aku tau. Bisa aku meminjam ponselmu?"
"Aku tidak membawanya. Kita bisa menelepon di telepon umum." Saran Lutfian.
Mio mengangguk menyetujui. Namun sayangnya setelah mencari telepon umum, mereka tidak menemukan satupun kecuali telepon rusak yang tengah dalam perbaikan. Mio merasa tertekan. Philip pasti mencarinya. Dan Sean pasti sudah mendengar laporannya. Dan dia pasti akan dimarahi. Lalu uang jajannya dipotong. Memikirkan uangnya akan dikurangi Mio merasakan dorongan untuk membunuh siapapun yang mengejarnya tadi.
"Aku akan menunggu di taman tadi. Orangku pasti akan menemukanku disana." Mio tidak yakin jawabannya namun tidak ada salahnya mencoba.
Tapi Lutfian tidak setuju, " bisa jadi penjahat itu masih mengejarmu. Bagaimana jika mereka menemukanmu?"
"Itu benar..." Mio menunduk lesu.
Lutfian menatap gadis di depannya yang mulai terlihat ingin menangis. Entah bagaimana tampilan kasihan Mio dengan ujung hidung merah pertanda dia merasa dingin mengingatkan Lutfian akan Grace. Tanpa sadar tangan Lutfian terulur menyentuh puncak kepala Mio mengusapnya lembut .
"Jangam cemas,eh?" tangan Lutfian berhenti. Ketika Mio mendongak Lutfian sadar akan ketidaksopanannya dan segera menarik tangannya.
Dia berdehem sebelum berkata, " bagaimana jika mampir di apartemenku? Ada ponselku disana."
Jika gadis lain mungkin akan marah dan merasa terhina ketika diajak ke apartemen sehari setelah pertemuan, tapi Mio justru merasa senang. Mio melihat Lutfian orang baik. Memiliki cinta lebih pada Grace. Tidak akan meliriknya.
"Ide bagus! Mereka akan menjemputku kalau begitu."
Mereka pulang dengan menggunakan bus. Daripada mengajak ke apartemennya, Lebih tepat Lutfian mengajak Mio ke tempat Grace. Tapi kemudian setelah membereskan beberapa barang, Lutfian mengatakan harus kembali ke apartemennya. Mio tentu saja mengikutinya.
Sesampainya di apartemen Lutfian setelah satu jam perjalanan, hal pertama yang Lutfian lakukan adalah menyerahkan ponsel miliknya untuk Mio.
"Kamu bisa menghubungi seseorang dengan ini. Sebenarnya ada telepon rumah. Namu aku belum pernah mengisi kartu."
Mio mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Dia melihat Lutfian naik ke lantai dua dengan barang-barang di dalam koper kecil sebelum beralih melihat ponsel. Mio hendak menekan nomor Philip. Namun sebelum meneleponnya, jari Mio berhenti di udara.
"Tunggu." Mio merenung.
"Jika aku meneleponnya, dia akan segera menjemputku. Jika benar itu, aku tidak akan bisa ikut perjalanan ke rumah keluarga Lut. Mungkin aku harus menghubunginya besok setelah perjalanan?" Mio bergumam. Memikirkan pro dan kontra atas keputusannya.
"Baik! Sean adalah orang yang berpikiran terbuka. Jadi dia pasti tidak apa-apa. Lagipula aku bukan asli tunangannya." Mio akhirnya memutuskan.
Hal yang tidak diketahui oleh Mio adalah bahwa keputusannya telah membuat Philip dalam keadaan sulit oleh Sean. Dia bahkan belum memberitahukan jenis kelamin Miss Han. Jika Sean tahu juga masalah ini, Philip pasti tidak akan hidup.
"Kamu sudah menghubungi orangmu?" Lutfian datang dengan membawa setumpuk pakaian.
Mio menoleh lalu mendapati Lutfian menempatkan sepasang pakaian hangat di meja tak jauh darinya berdiri. Itu untuknya? Mio bertanya dalam pikirannya.
"Aku akan menelepon mereka nanti."
Alis Lutfian menyatu, "kenapa?"
"Aku masih harus memenuhi janjiku untuk mempertemukanmu dengan keluargamu. Jika aku menelepon orangku, aku akan dijemput dan tidak akan diijinkan pergi ." Mio menjawab jujur.
"Kamu pasti sangat disayangi keluargamu."
Mio tersenyum, " kurang lebih." Mio tidak memasukkan kata-kata Lutfian. Daripada disayangi bukankah lebih tepat dia dikekang? Tapi karena uangnya terus bertambah dan celengannya terus gemuk, Mio suka dikekang. Sean juga melakukan hal baik untuk semua kebutuhannya.
"Baiklah. Ini adalah pakaian Grace. Kamu bisa memakainya. Ini lebih hangat. Kamar mandi ada di ujung lorong. Dan semua peralatan mandi baru sudah aku siapkan. Kamu bisa memakainya."
"Oh terimakasih." Mio tersenyum.
"Aku akan pergi ke penyewaan mobil. Jika kamu lapar, kamu bisa delivery order ke nomor 299. Aku belum mengisi kulkas." Lutfian tidak pernah menempati apartemen ini. Jadi kulkasnya otomatis kosong. Bahkan air mineral saja sudah kadaluarsa. Pilihan saat ini adalah dia akan membeli barang di minimarket setelah menyewa mobil. Namun Moo terlebih dulu menginterupsi gagasannya.
"Dimana minimarket disini?" Tanya Mio.
"Apa kamu ingin berbelanja?"
"Jika kamu meninggalkan uang aku lebih suka memasak untuk makan. Aku sedang dalam diet makanan sampah.Tidak bisa makanan instan seperti junk food order ."
Lutfian melirik Mio sesaat. Memang penampilan Mio dapat dikategorikan sederhana. Namun jika dilihat jelas semua pakaian yang menempel pada tubuhnya bermerek. Dari gucci hingga sepatu chanel. Semua keluaran terbaru meskipun salah musim. Lutfian diam-diam berpikir mungkin gadis di depannya adalah seorang terkemuka yang tengah berlibur? Atau justru disini rumahnya? Dan di Indonesia dia hanya menyamar? Melihat bagaimana penampilan Mio pertama kali melihat, sangat berbeda dengan saat ini.
"Minimarket ada di bawah." Lutfian menuju tirai jendela apartemen, membukanya. Begitu terbuka, diluar memperlihatkan secara menyeluruh pemandangan kota Los Angeles. Lutfian melambaikan tangan pada Mio. Lalu menunjuk pada salah satu titik dari kaca jendela.
" itu minimarket, disampingnya juga ada beberapa penjual khas disini." Lutfian menjelaskan pada gadis yang sudah berada di sisi kirinya.
"Itu sangat indah!" Daripada melihat minimarket, Mio justru tertarik pada hamparan pemandangan kota yang klasik. Nuansa klasik memang sangat berbeda.
Lutfian tersenyum menawan, " kamu salah fokus."
"Hehe."
Lutfian terus menjelaskan sambil menunjuk titik-titik dari jendela sebelum akhirnya menyerahkan sebuah kartu pada gadis itu.
"Kamu dapat membeli makanan apapun. Yah, anggap sebagai kompesensi karena mau menemaniku."
"Hm?" Mio merasa ada yang salah. Sepertinya kalau Mio tidak salah ingat, dia yang diselamatkan kan? Tapi dia yang mendapat makanan gratis, ongkos bis gratis, pakaian gratis, apa dunia sudah berubah?
Melihat diamnya Mio, Lutfian hanya tersenyum tipis. Dia lagi-lagi tanpa sadar menepuk kepala Mio seperti halnya dia melakukan pada Grace dan berkata, " jadilah baik. Aku akan segera kembali."