Pagi ini merupakan hari keberangkatan Ilana ke Yogyakarta. Ia akan berada di Kota Pelajar itu selama kurang lebih 3 hari lamanya. Agenda untuk fashion shownya memang hanya satu hari esok dan sisanya akan digunakan Ilana untuk menikmati liburan, sebab memang sudah cukup lama Ilana tidak melakukan apa yang disebut dengan berlibur.
"Kamu yakin nggak mau Bunda temani, Sayang?" tanya Aulia saat keduanya baru saja menyelesaikan sarapan.
Ilana menggeleng pelan, "Nggak pa-pa, Bunda. Kan Ilana pergi juga nggak lama. Eh, tapi kalau Bunda ikut, Bunda kan juga bisa cari keberadaan Ayah sama Ilona, ya." Ilana memangku dagunya seolah berpikir. Ucapan Ilana membuat Aulia tiba-tiba diam membatu.
"Huss, kamu itu. Bunda sama Ayah kamu kan sudah berpisah. Bunda udah nggak boleh dong mencari-cari Ayah kamu." Aulia mengatakan hal itu dengan perasaan yang terasa bergemuruh. Entah mengapa, setiap mengingat Adnan selalu saja membuat hatinya merasakan sesuatu yang lain.
"Maksud Ilana, Bunda mencari Ayah untuk menemui Ilona. Nggak pa-pa dong, Bunda," ucap Ilana dengan senyum tertahan. Ilana bisa menebak, ada hal yang diembunyikan oleh wanita yang sangat disayanginya itu. Tetapi Ilana tidak mau berlebihan menggoda sang ibu.
"Kenapa mendadak Bunda takut, ya?" Aulia menggumamkan argumennya. Ilana menatap sang ibu dengan kedua alis berkerut.
"Takut apa, Bunda?"
"Takut kalau Ayah kamu masih marah sama Bunda. Takut kalau Adik kamu juga marah sama Bunda. Atau mungkin...."
"Mungkin apa?" buru Ilana tidak sabar karena Aulia menjeda ucapannya.
"Ayah kamu sudah menikah dan Ilona sudah memiliki Ibu baru." Wajah Aulia tertunduk dengan air mata yang mulai menggenang. Adnan menikah lagi adalah sesuatu yang paling ia takutkan. Bukan semata karena mantan suaminya, tetapi Aulia takut jika Ilona sudah memiliki ibu baru dan tidak mengenalinya.
Ilana bisa mengerti kekhawatiran sang ibu. Gadis itu menggenggam erat tangan yang sudah merawatnya selama ini dengan penuh rasa sayang dan cinta itu.
"Bunda kan pernah bilang kalau Ayah itu orang yang sangat bijaksana. Ilana yakin, Ayah nggak akan sampai hati merahasiakan hal itu dari Ilona. Atau mungkin, Ilona justru udah lebih tahu tentang kita tapi belum ada kesempatan untuk kita bertemu."
Aulia mengusap setetes air mata yang jatuh membasahi pipinya, "Makasih ya, Sayang. Karena kamu nggak marah sama Bunda. Padahal, kesalahan Bunda sangat besar pada kamu dan Adik kamu," ucapnya seraya membalas genggaman tangan sang putri.
"Kalaupun Ilana marah, apa yang bisa Ilana lakukan, Bun? Semuanya sudah terjadi. Selama ini Bunda sudah sedemikian menyayangi Ilana, Ilana sudah sangat senang dan bersyukur. Kalau Tuhan mengizinkan, Ilana pasti akan bisa bertemu dengan Ayah. Bunda juga akan bisa bertemu sama Ilona, 'kan?"
"Sejak kapan kamu menjadi sedewasa ini, Sayang?" Ilana tersenyum lantas mendekati kursi Aulia. Tentu saja untuk memeluk wanita yang sudah melahirkannya ke muka bumi itu.
"Kamu jadi mampir ke kantornya Liandra?" tanya Aulia saat keduanya kini berjalan menuju teras. Barang-barag milik Ilana sudah dimasukkan ke dalam mobil oleh manajernya. Sang manajer wanita itu juga menunggu di dalam mobil.
"Iya, Bun. Ilana cuma sebentar kok ke kantornya Liandra. Cuma pamit. Bunda tahu sendiri kan dia pasti bawel kalau Ilana mau pergi-pergi tapi nggak pamit langsung sama dia." Dumalan Ilana membuat Aulia tertawa geli.
"Ya sudah. Tapi inget, jangan asal masuk ke kantornya Liandra, ya. Karena kamu baru menjadi kekasihnya, kamu nggak boleh bertindak semaunya sendiri." Ilana mengangguk yakin.
"Ilana ngerti, Bunda. Ya udah, Ilana pergi dulu, ya. Bye, Bun." Terlebih dulu Ilana memeluk dan mengecup pipi Aulia.
"Bye, Sayang." Sepeninggal Ilana, Aulia juga bergegas untuk menuju butiknya.
Begitu memasuki mobil, ponsel Aulia berdering dan menampilkan nama dari seorang costumer yang sudah biasa membeli pakaian di butiknya. Kali ini Aulia bersyukur sebab ia tidak jadi memutuskan untuk mengikuti Ilana ke Jogja. Jika ia tetap memilih untuk pergi dan menutup butik, pasti banyak pengunjung yang akan merasa kecewa. Terlebih jika mereka ingin membuat janji khusus dengan dirinya.
"Jadi mampir ke kantornya Liandra?" tanya Natalia sebelum sang sopir melajukan mobilnya. Ilana yang duduk di kursi belakang mengangguk sekali.
"Jadi, Mbak. Daripada dianya ngomel-ngomel," ucapnya seraya mengenakan sabuk pengaman. Natalia hanya terkekeh kemudian memerintahkan sang sopir untuk melajukan mobilnya menuju sebuah pusat perkantoran.
Natalia memutuskan membawa sopir hari ini sebab ia dan Ilana akan menggunakan moda transportasi udara untuk sampai ke Jogja. Awalnya Ilana ingin sekali menggunakan kereta api, tetapi Natalia melarangnya karena waktu tempuhnya lebih lama. Sebagai gantinya, Natalia menyanggupi saat mereka kembali ke Jakarta nanti, ia akan membawa Ilana menaiki kereta api.
"Mbak, jadwalku selama di sana bener-bener cuma 1 hari buat fashion show-nya?" Natalia mengangguk membenarkan.
"Iya, Mbak Dian Nurmala memang dapat jadwalnya besok. Meskipun begitu, besok itu panggung sepenuhnya milik Mbak Dian. Sedangkan yang hari-hari sebelumnya atau selanjutnya, katanya sehari bisa untuk 3 sampai 4 desainer," jelas Natalia panjang lebar.
"Emang banyak banget ya Mbak baju-bajunya Mbak Dian yang bakal dibawa?" Natalia mengendikkan bahunya pelan.
"Sepertinya gitu. Apalagi atensi masyarakat untuk acara ini kan sangat besar, Na. Meskipun diadakannya setiap 2 tahun sekali tapi selalu sukses. Bukan cuma masyarakat lokal tapi juga sampai wisatawan mancanegara. Dan juga menurut mereka, Mbak Dian dapet jatah sehari penuh karena paginya ada semacam seminar kebudayaan terlebih dulu gitu. Jadi nyambung sama tema yang akan dibawain tim-nya Mbak Dian." Ilana manggut-manggut mengerti.
"By the way, kok aku deg-deg'an Mbak," aku Ilana jujur yang memantik tawa Natalia.
"Udah jelas, lah. Kamu kan dari dulu ngefans banget pengen pakai bajunya Mbak Dian." Ilana ikut tertawa.
Sekitar 15 mneit kemudian, mobil hitam itu sampai di deoan sebuah gedung setinggi 25 lantai. Gedung yang tentu saja menjadi kantor Liandra. Ilana lantas menelepon sang kekasih.
"Ya, Sayang?" sapa suara di seberang begitu panggilan terubung.
"Aku udah di depan kantor kamu. Kamu lagi di mana?"
"Kamu langsung masuk aja, Sayang. Aku juga baru banget nyampek soalnya." Nyali Ilana mendadak menciut mendengar ucapan Liandra.
"Yakin nih?" tanyanya memastikan.
"Ah, kalau gitu kamu tunggu sebentar. Biar aku minta Mira jemput kamu di bawah." Tanpa menutup panggilannya, Liandra memerintahkan sekretarisnya itu untuk menjemput sang kekasih di lantai bawah. Tentu saja Mira akan melakukannya dengan sennag hati. Memangnya ia bisa menolak perintah dari atasannya yang sangat ketus itu?
Suara ketukan pada jendela membuat Ilana mengalihkan pandangannya. Setelah kurang lebih 5 menit menunggu, Ilana kemudian mengikuti langkah Mira mmeasuki gedung tinggi itu. Beruntung, Ilana selalu berpenampilan rapi dan biasa saja dalam kesehariannya. Busananya pun tidak terlihat jauh berbeda dengan busana para karyawan yang bekerja di kantor sang kekasih. Karyawan di perusahaan Liandra memang mengenakan baju kerja bebas, tanpa seragam. Yang membedakan antara karyawan dan pengunjung hanyalah tanda pengenal yang pasti akan selalu terkalung di leher masing-masing pegawai.
"Hai Ilana." Sapaan seseorang terdengar saat keduanya berjarak beberapa langkah dari lift. Ilana menoleh dan mendapati keberadan Rebeca tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"Oh, hai, Beca."
"Mau ketemu Pak Liandra, ya?" tanya Rebeca setelah posisiya dekat dengan Ilana. Ilana mengangguk sekali.
"Iya, soalnya hari ini mau ada acara di luar kota." Ketiga wanita itu melangkah memasuki lift.
Ilana tahu jika Rebeca sudah berteman dengan Liandra dan Dimas sejak mereka masih kecil. Rebeca merupakan seorang staff bagian legal di kantor Liandra. Dan sudah sekitar 3 tahun gadis itu bekerja di sana, atau lebih tepatnya setahun sebelum Liandra pulang dari Amerika.
"Kamu juga mau ke ruangan Andra?" Rebeca menggeleng kemudian menekan tombol 20. Lantai di mana ruangan Dimas berada.
"Aku mau ke ruangan Pak Dimas," jawabnya seraya menunjukkan map berwarna merah di tangannya. Rebeca akan selalu menggunakan bahasa formal jika sedang berada di kantor. Beda cerita jika mereka berada di luar kantor.
"Ilana duluan, ya," pamit Rebeca ketika lift berhenti di lantai 20.
"Oke, Beca. See you." Ilana dan Rebeca saling melambaikan tangan. Meskipun keduanya tidak tergolong akrab secara pribadi, tetapi selama ini hubungan keduanya baik-baik saja.
"Silakan masuk, Bu Ilana. Pak Liandra sudah menunggu di dalam," ucap Mira saat keduanya sampai di depan ruangan Liandra.
Terlebih dahulu Ilana mengetuk pintu, begitu mendapat jawaban dari dalam ia segera melangkah masuk. Sementara Mira juga kembali ke meja kerjanya yang entah sejak kapan sudah dipenuhi oleh dokumen-dokumen yang psti akan membuatnya pusing hari in.
"Selamat pagi, Pak Liandra," sapa Ilana dengan tawa tertahan. Liandra yang tampak fokus di meja kerjanya sungguh membuat aura karismatiknya semakin bertambah.
Liandra tersenyum seraya menutup dokumen yang sempat dibacanya. Dengan isyarat tangan, ia memanggil Ilana agar mendekatinya. Begitu sang kekasih sampai di sampingnya, Liandra memutar kursinya untuk menghadap Ilana dan menarik gadis itu hingga terduduk di pangkuannya.
"Akh! Andra." Ilana membulatkan mata karena terkejut atas perbuatan Liandra yang kini justru tertawa.
"Jangan ketawa, sama sekali nggak lucu," peringat Ilana seraya memukul pelan pundak kekasihnya itu.
"Berapa lama kamu pergi, Sayang?" tanya Liandra yang kini sudah menyandarkan kepalanya pada permukaan ddada Ilana.
"3 hari. Nggak usah pakai drama, deh. Kan udah tahu dari kemarin-kemarin," balasnya seraya mengusap lembut rambut Liandra.
"Padahal besok malam minggu. Dan itu jadwal untuk kita kencan." Liandra menggerutu sementara Ilana justru tertawa.
"Emang selama ini jadwal kencan kita cuma malam minggu?" Ilana menaikkan sebelah alisnya.
Liandra berdecak, "Tapi kan enak kalau malam minggu, Sayang."
"Pesawat kamu jam berapa?" sambungnya kemudian.
"Satu jam dari sekarang," jawab Ilana dengan melirik arlojinya. Gadis itu menjauhkan wajah sang kekasih dari dadanya kemudian merangkumnya dengan tatapan penuh cinta.
"Jangan macem-macem pas aku pergi," peringat Ilana tegas. Ilana memang memiliki sifat yang cukup mudah cemburu apalagi wajah Liandra yang begitu tampan mampu membuat para kaum hawa akan dengan suka rela bertekuk lutut padanya bahkan menyerahkan segalaya.
Liandra tertawa geli mendapati peringatan itu, "Aku juga nggak punya keinginan untuk macem-macem, Sayang. Apalagi Bianca lagi di rumah. Pasti bakal ke mana-mana dibuntutin sama itu anak."
Ilana tersenyum mengembang, kemudian ia melabuhkan sebuah kecupan pada dahi Liandra. Tidak hanya pada kening, melainkan juga pada pipi dan ujung hidung mancung Liandra yang sangat disukainya.
Ketika Ilana sudah menuntaskan kecupannya, kini giliran Liandra yang mengecupi satu persatu bagian wajah kekasihnya itu. Ilana yang merasa geli bahkan sampai tertawa lepas. Untung saja ruangan Liandra kedap suara dan Ilana sudah mengunci pintu saat ia memasuki ruangan itu tadi
"Andra, stop it!." Ilana berusaha menjauhkan bibir Liandra yang masih mengecupi pipinya.
Liandra akhirnya menghentikan aktivitasnya dengan tidak rela. Sebab ia tidak mau kebablasan melakukan hal yang iya-iya dengan kekasihnya. Setelah Ilana berpamitan sekali lagi, Liandra akhirnya mengantar gadisnya itu menuju ke lantai bawah agar Ilana bisa segera berangkat ke bandara.
****
"Ayah yakin udah nggak ada yang ketinggalan?" tanya Ilona sebelum menutup pintu rumah. Pagi ini ia akan mengantar Adnan menuju bandara YIA karena sang ayah akan bertolak ke Jakarta.
"Sepertinya nggak ada. Lagipula Ayah di sana cuma sebentar, Sayang. Paling lusa ayah udah pulang." Ilona mengangguk kemudian menutup dan mengunci pintu berwarna cokelat muda itu. Sementara Adnan sudah terlebih dulu duduk di kursi kemudi mobil sang putri.
Membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk keduanya sampai di bandara terbesar yang dimiliki Kota Gudeg tersebut, yang juga menjadi salah satu bandara terbesar di Indonesia.
Alihalih memarkirkan mobilnya di area drop point, Adnan memilih untuk parkir di tempat parkir umum. Tentu saja atas permintaan sang putri. Adnan segera mengeluarkan barang-barangnya yang berupa koper berukuran sedang dan tas kecil.
"Ayah," panggil Ilona ketika keduanya berjalan memasuki pelataran bandara.
"Kenapa, Sayang?"
"Seumur-umur, Ilona belum pernah naik peswat, lho. Padahal Tantenya Ilona mantan pramugari kelas Dewa," aku Ilona dengan raut wajah polosnya yang memantik tawa sang ayah.
"Kamu mau ikut Ayah?" tanya Adnan menggoda.
Ilona menatap Adnan lekat untuk sesaat, "Kalau Ilona ikut Ayah, besok kita nggak usah jadi ikut pameran ya?" tanyanya balik menggoda.
"Eh, jangan dong," sergah Adnan cepat. "Lain kali aja kalau gitu." Ilona tertawa geli atas ucapan sang ayah.
"Ya udah, Ayah berangkat dulu, ya." Adnan berpamitan karena waktu untuk check in tinggal sebentar lagi.
"Hati-hati ya, Ayah." Ilona memeluk Adnan begitu erat.
"Kamu juga hati-hati. Jangan ngebut," peringat Adnan dengan tegas. Gadis itu mengulum senyum geli.
"Baik, Tuan Raja."
Ilona memilih untuk melihat sang ayah hingga memasuki gate keberangkatan. Barulah setelah itu, ia kembali menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Ilona harus segera sampai di pusat kota guna mengecek persiapan festival dari stand resto dan kafe miliknya.
****