Ilona segera kembali menuju ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Ia baru saja menerima telepon dari manajernya untuk mengecek persiapan stand pameran. Ilona memang tidak berkewajiban untuk selalu ada di tempat itu, tetapi minimal dalam sehari ia harus menengoknya meskipun hanya sebentar. Tentu saja karena ada restoran dan kafe yang 'nyata' yang membutuhkan perhatiannya karena Adnan sedang tidak berada di tempat.
Menempuh waktu selama lebih dari 1 jam untuk Ilona sampai ke tempat festival tersebut. Ini semua gara-gara jalan raya yang macet akibat hujan yang mengguyur dengan cukup deras. Ilona segera memarkirkan mobilnya dan meraih payung. Jarak antara tempat parkir dengan gedung cukup untuk membuatnya basah kuyup di saat hujan seperti ini, meskipun sudah tidak terlalu deras.
"Mbak Ilona," panggil Tifany, sang manajer yang akhir-akhir ini semakin sering meneror Ilona dengan panggilan dan pesan-pesannya.
"Gimana? Nggak ada masalah, 'kan?" tanya Ilona to the point saat posisi mereka sudah berdekatan.
"Seharusnya nggak ada, cuma salah satu stand kita agak tertutup sama sound system. Berefek nggak menurut kamu?" Ilona melihat ke arah 2 stand miliknya yang terletak berseberangam. Stand yang pertama terletak di tempat yang sangat strategis sementara stand yang kedua memang persis seperti ucapan Tifany.
Ilona berpikir sebentar guna mencari cara agar stand keduanya bisa tetap dilirik oleh para pengunjung. Meskipun sebenarnya, tidak terlalu berefek menurutnya. Tetapi, ada baiknya ia memikirkan langkah yang lain.
"Ehm, gini aja deh. Coba Mbak besok pendekatan sama MC'nya. Yah, S3 marketing gitu lah. Intinya biar nanti MC'nya bisa kasih cuap-cuap dikit supaya mengunjung nggak lupa mendatangi stand-stand yang ada di sekitar sound system itu. Gimana? Bisa, 'kan?" Bisa atau tidak bisa, Tifany tetap harus melakukannya.
"Kalau untuk urursan S3 marketing, jangan khawatir." Tifany menjentikkan jarinya yang membuat ilona terkekeh.
Keduanya lantas mendiskusikan banyak hal mengenai kebutuhan mereka selama 3 hari ke depan. Terutama untuk urusan distribusi bahan-bahan dari restoran utama. Sekaligus memberikan pengarahan kepada para karyawan yang sebenarnya berstatus magang tersebut.
Ilona sengaja menggunakan jaringan alumni kampusnya karena sangat tidak mungkin ia membawa karyawan tetapnya yang ada di kafe dan resto untuk turut serta dalam festival ini. Akhirnya, Ilona mendapatkan bantuan tenaga dari para adik tingkatnya yang saat ini masih menempuh pendidikan di institut kuliner tempatya menyelesaikan pendidikan Sarjana dulu.
Ada sekitar 1 jam Ilona berada di gedung tersebut. Ia pamit ketika jam sudah menunjukkan hampir memasuki waktu makan siang. Ilona harus ke kafe guna mengecek laporan bulanan. Tidak hanya dari kafenya yang ada di Jogja melainkan juga yang ada di Semarang dan Surabaya. Tak lupa Ilona mengingatkan para pekerjanya untuk bekerja sama dengan solid, dan tentu saja tidak lupa makan.
Setelah melalui perjalanan selama kurang lebih 20 menit, Ilona akhirnya sampai di kafe. Kiara segera menyambutnya dengan beberapa catatan bulanan di tangannya. Ilona merotasikan bola matanya jengah sementara Kiara tertawa geli melihat reaksi bosnya itu.
Ilona mengajak Kiara untuk menuju ke ruangannya. Karena mereka akan membahas masalah yang krusial, maka harus di ruangan yang sepi agar konsentrasi mereka tidak terpecah.
"Jadi gitu Mbak Ilona. Akhir-akhir ini emang menu yang agak 'unik' bisa dibilang sangat laris. Terutama saat akhir pekan," jelas Kiara mengenai progres kafe. Karena pangsa pasar kafe memang para generasi milenial yang terkadang menyukai menu yang cukup 'nyeleneh'.
Terlebih, selama 1 dekade terakhir ini banyak sekali budaya luar yang mulai menyita perhatian para kawula muda, terutama budaya Jepang dan Korea. Tentu saja karena kemudahan akses informasi yang sangat menggila. Jiwa bisnis Ilona sontak bergejolak melihat peluang emas tersebut.
"Mungkin memang ada baiknya kita sedikit menamba porsi beberapa menu ya?" tanya Ilona meminta pendapat Kiara.
"Iya, Mbak. Tapi saran sih jangan terlalu banyak juga. Kan kalau misalkan kita kehabisan, mereka pasti akan beralih ke menu lain. Di lain waktu, pasti akan kembali untuk mecoba menu yang sebenarnya mereka inginkan." Ilona mengangguk, menyetujui pendapat Kiara.
"Oh ya Mbak, ada lagi satu hal. Beberapa waktu yang lalu kan aku liburan ke pantai. Nah aku ketemu sama beberapa nelayan. Intinya mereka semacam sedang mengeluh gitu lah mengenai harga ikan yang nggak stabil bahkan sampai keterlaluan anjloknya. Aku punya pemikiran, gimana kalau untuk ikan dan beberapa komoditas laut lainnya kita ambil dari mereka langsung? Cost-nya lumayan lho, Mbak. Sekalipun terpotong ongkos kirim tapi masih oke lah sama margin kita." Ilona terdiam mencerna uraian Kiara.
"Begitu juga nggak masalah sih. Tapi kan ada kalanya juga tangkapan mereka sedikit sementara kebutuhan kita lumayan banyak."
"Tapi peluangnya lumayan lho, Mbak. Terlebih kalau kita mencari ikan yang musiman, susah banget buat dapetin di pasar." Ilona manggut-manggut setuju akan pendapat Kiara. Sebab, memang ada beberapa komoditas laut yang cukup sulit untuk didapatkan di pasaran. Selain karena sangat bergantung pada musim, biasanyajuga sudah terlebih dahulu diborong oleh restoran-restoran dan rumah makan besar lainnya.
Keduanya melanjutkan diskusi selama hampir 1 jam lamanya. Termasuk membahas mengenai distribusi barang-barang yang dibutuhkan rekan lain di acara festival. Ilona dan Kiara masing-masing merangkum hasil pembicaraan mereka di dalam tablet.
"Mbak Ilona mau makan siang dulu?" tanya Kiara saat pembicaraan serius mereka berakhir. Ilona mengangguk.
"Bikinin ayam geprek aja ya, Mbak. Yang pedes," sahut Ilona tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet di hadapannya. Kiara mengangguk kemudian segera undur diri dan menyiapkan makanan pesanan Ilona.
15 menit kemudian, pintu ruangan Ilona diketuk, tetapi tidak membuat segala kefokusan Ilona berantakan. Gadis itu menjawab dengan lantang untuk mempersilakan sang pengetuk memasuki ruangannya.
"Ilonaaa," sapa seseorang yang suaranya sudah sangat dihapal oleh gadis itu. Ilona hanya memandangnya dengan sebelah alis terangkat melihat orang itu membawakan nampan yang berisi makanan dan es jeruk nipis.
"Untung itu usaha bakpia punya nenek sendiri, cucunya bisa bebas keluyuran," sindir Ilona yang sama sekali tidak membuat sahabatnya itu tersinggung. Justru tertawa lepas karena ucapan Ilona memang benar adanya.
"Aku kangen tahu, Na. Ntar malem kita jalan, kuy," pinta orang itu seraya meletakkan makanan milik Ilona di atas mejanya.
"Sejak kapan kamu bertransformasi jadi orang Malang?" Ilona meraih lunchbox berisi nasi ayam geprek yang ia pesan kepada Kiara tadi.
"Sejak kemarin di outlet, ada rombongan anak-anak SMA Malang. Lah mereka ngomongnya suka dibalik-balik gitu, 'kan? Keseringan denger, kebawaan deh aku."
"Ah, itu mah emang kamunya yang gampang tergoda identitas." Ilona mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
"Kamu udah makan, Di?" tanya Ilona pada Diana yang hanya terkekeh menanggapinya.
"Udah, sebelum ke sini tadi makan dulu. Outlet rame sih seneng, ya. Tapi capeknya lumayan kerasa ternyata." Dana menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Kamu pikir kamu sendirian?" Diana kembali ertawa.
"Salut sama kamu, Na." Diana menyodorkan kepalan tangannya untuk melakukan tos dengan sahabatnya itu. "Ngomong-ngomong, gimana nanti? Bisa?"
Ilona menggeleng pelan, "Kayaknya nggak bisa, Di. Ayah lagi pergi jadi aku harus handle resto sama kafe. Belum lagi acara festival. Outlet kamu nggk ikutan?" Nenek Diana memiliki usaha bakpia yang merupakan salah satu jajanan khas Jogja. Sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu dan memiliki beberapa cabang. Saat ini usahanya itu dikelola sepenuhnya oleh orang tua Diana. Diana, tentu saja ikut bekerja di sana.
"Emang Om Adnan di mana?" tanya Diana penasaran.
"Lagi ke Jakarta. Mau diajak kerjasama gitu sama temennya semasa kuliah buat bikin usaha bareng lagi."
"Lagi?" Diana melayangkan tatapan tidak mengerti. Ilona mengangguk.
"Iya, dulu waktu kuliah Ayah udah pernah bikin usaha restoran dan sangat berkembang di sana. Terus Ayah pulang ke sini, usaha itu dilanjutin sama sahabatnya. Tapi sepertinya mereka akan memulai usaha bersama lagi," jelas Ilona panjang lebar.
"Restoran yang sama dengan yang ada di sini?" Ilona mengendikkan bahunya.
"Belum tahu, sih. Tapi kemarin Ayah kasih tahu kemungkinannya bakal bikin semacam steak house gitu. Ayah minta pendapatku. Ya, kemungkinan besar emang gitu sih." Diana mengangguk mengerti.
"So, habis ini apa kamu ke resto?" Ilona mengangguk.
"Mau ikut? Nanti malem langsung ke tempat festival. Udah ada beberapa stand yang dibuka, sekalian kita cuci mata, gimana? Kali aja ada beberapa yang cocok buat dibeli?" tawar Ilona dengan menaikturunkan alisnya. Diana tersenyum miring dan mengangguk penuh semangat.
"Deal!"
****
"Wuh, akhirnya aku sampai di Jogja," gumam Ilana saat kakinya menapaki apron bandara YIA.
Natalia tersenyum simpul mendengarnya, "Kayaknya kamu suka banget sama Jogja," komentarnya seraya melangkah memasuki bangunan bandara.
Ilana hanya tersenyum, tentu saja ia tidak akan bercerita terhadap siapapun mengenai alasan yang lebih spesifik. Hanya Ilana dan Tuhan yang tahu jika di sini, ia juga berharap bisa bertemu dengan ayah dan saudara kembarnya.
"Ini kita ke mana, Mbak?" tanya Ilana saat keduanya mengantri koper.
"Kita ke hotel dulu buat istirahat sebentar. Terus nanti sore kita ketemu Mbak Dian di lokasi acaranya sekalian GR," terang Natalia kemudian bergerak untuk mengambil koper miliknya dan juga sang model.
Keduanya segera melangkah menuju pintu keluar. Saat akan menghampiri mobil yang akan membawanya ke hotel, Ilana tidak sengaja mengarahkan pandangannya ke suatu sudut. Matanya mengerjap ketika melihat seseorang yang memiliki siluet tubuh yang mirip dirinya. Namun karena orang itu berjalan menyamping dengan erburu-buru, maka Ilana tidak bisa memastikan apa yang ada di dalam benaknya saat ini.
"Ilana," panggil Natalia saat melihat gadis itu hanya terdiam. Natalia mengikuti arah pandang Ilaa dan mengernyit karena menurutnya tidak ada sesuatu yang menarik.
"Ilana," panggil Natalia sekali lagi.
"Eh, iya Mbak." Ilana mengerjap saat kesadarannya kembali.
"Kamu ngelihatin apa, sih?"
"Ehm, enggak kok Mbak. Cuma kaya lihat seseorang yang nggak asing. Lupain aja, mungkin salah satu temenku waktu kuliah dulu," jawab Ilana diplomatis. Ia segera melangkah memasuki mobil agar Natalia tidak semakin menaruh curiga kepadanya.
"Jangan kebanyakan ngelamun di sini, Na. Ini Jogja lho," kelakar Natalia yang mengikuti langkah Ilana memasuki mobil. Ilana tersenyum geli dan mengangguk.
"Tempat nginep kita jauh dari sini, Mbak?" tanya Ilana sesudah memasangkan sabuk pengaman. Ilana duduk di belakang, sementara Natalia duduk di samping sang sopir.
"Lumayan, Na. Sekitar 1 jam mungkin. Iya 'kan, Pak?" Natalia meminta kepastian dari san sopir yang kemudian mengangguki ucapannya.
"Benar, Bu. Bandara ini kan ada di ujung seatan kota Jogja. Jaraknya sekitar 1 jam karena memang belum ada jalan tol. Mungkin nanti kalau wacana jalan tol sudah direalisasikan, akan lebih cepat."
"Kamu tidur aja dulu nggak pa-pa, Na," saran Natalia yang dijawabi gelengan oleh Ilana.
"Aku baru ke sini pertama kali, Mbak. Sayang banget untuk melewatkan semuanya." Natalia hanya tersenyum tanpa membantah keinginan snag model. Jika sudah begitu keinginannya, Ilana akan susah sekali dicegah.
Mobil hitam itu membawa Ilana dan Natalia menuju Mataram guest house. Sebuah resor yang cukup mewah dan bernuansa tradisional. Natalia sengaja memilih tempat itu karena Ilana mengatakan ingin benar-benar menikmati suasana Jogja. Ilona berpikir, empat seperti itu menurutnya lebih sesuai karena jika menginap di hotel bintang 4 ataupun 5, kemungkinan besar rasanya akan sama saja dengan hotel-hotel yang pernah ia kunjungi sebelumnya.
"Wah, suasananya bener-bener Jogja banget," seru Ilana saat kakinya melangkah memasuki tempatnya menginap tersebut. Sejak masih berada di meja resepsionis, ia sudah tidak sabar untuk memasuki kamarnya. Apalagi, hidangan yang disediakan benar-benar khas.
"Semoga kamu suka. Aku baca-baca review, tempat ini memang sangat direkomendasikan." Natalia dibantu oleh seorang room service yang membawakan barang-barang mereka.
Ilona memilih berkeliling terlebih dahulu. Ruang tamu yang berada di tengah dan menghadap langsung ke arah kolam renang pribadi. Meskipun tidak terlalu luas, tetapi kolam iu memiliki bentuk persegi panjang Selain itu dapur pribadi dan meja makan juga berada di tepi kolam. Sangat sejuk dan alami menurutnya.
"Kita GR jam berapa ya, Mbak?" tanya Ilana sebelum memasuki kamarnya.
"Kita berangkat jam 2. Masih ada waktu kalau kamu ingin tidur. Nanti jam 1 Mbak bangunin kamu."
"Siap." Ilana mengacungkan ibu jari kanannya, sementara Natalia juga bergegas memasuki kamarnya yang ukurannya tidak seluas kamar sang model kesayangannya itu.
Begitu sampai di kamar, hal pertama yang dilakukan Ilana ialah menghubungi sang ibu dan kekasihnya melalui pesan chat. Ini adalah jam kerja dan Ilana nyaris jarang sekali menghubungi dua orang penting dalam hidupnya itu melalui sambungan telepon, kecuali jika tidak benar-benar penting.
Tak perlu menunggu lama, 2 balasan datang berurutan baik dai Aulia maupun Liandra. Ilana lantas meletakkan ponselnya karena ia ingin segera mandi. Daam hatinya, Ilana berharap agar ia bisa bertemu dengan sang ayah dan juga adiknya. Ilana akan sangat bahagia jika Tuhan berkenan mengabulkan doanya.
****