Adnan menarik napas panjang ketika kakinya menapaki apron bandara Soekarno Hatta. Untuk pertama kalinyas setelah sekian puluh tahun berlalu, ia akhirnya memberanikan diri untuk kembali ke kota besar itu. Kota di mana ia menempuh pendidikan, memulai usaha pertama serta di mana ia bertemu dengan Aulia dan sempat merajut mimpi bersama.
Dada Adnan tiba-tiba terasa berdenyut nyeri ketika sampai di bagian itu. Kegagalannya memang memberikan pembelajaran yang begitu penting untuknya dalam menjalani hidup selama ini. Ia memang pernah merasa gagal menjadi sorang kepala keluarga tetapi di balik semua itu, ia juga berusaha menjadi sosok yang lebih mawas diri dan berhati-hati dalam setiap tindakannya.
Jika ada yang bertanya apakah Adnan menyesal telah menceraikan Aulia? Jawabannya adalah iya. Bahkan, sangat menyesal. Dan Adnan baru merasakan penyesalan tersebut beberapa tahun setelahnya. Tetapi, entah kenapa pada waktu itu ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk kembali pada mantan istrinya. Pun dengan mencoba membuka hati untuk orang baru.
Adnan tahu rasa sesaknya tidak akan selesai dalam sehari ini. Terlebih, ia akan menginap di rumah lamanya yang juga sudah bertahun-tahun tidak ia kunjungi. Jika ada alasan khusus selain ajakan Rio untuk kembali membuka bisnis, maka jawabannya adalah rumah lamanya itu. Adnan merasa harus mengeceknya sendiri dan mungkin sedikit merenovasinya. Terlebih, rumah itu pasti akan sering ia tempati jika rencananya dengan Rio berjalan lancar. Bisa dirinya, bisa juga sang putri.
Membahas mengenai Ilona membuat Adnan teringat sesuatu. Ia saat ini sedang menunggu bagasinya di depan conveyor, kemudian merogoh ponselnya untuk menelepon Ilona.
"Halo, Ayah," sapa Ilona saat panggilan tersambung.
"Halo, Sayang. Kamu lagi di mana sekarang? Udah pulang dari bandara?"
"Sudah, Ayah. Ilona lagi di convention ngecek persiapan festival. Habis ini Ilona baru mau ke kafe," beritahu Ilona yang saat itu tengah memberikan pengarahan pada Tifany.
"Ya sudah kalau begitu, Ayah juga baru sampai. Sekarang Ayah masih antri bagasi."
"Iya, Ayah. Jadi Ayah di sana gimana nanti? Dijemput Om Rio?" Adnan spontan mengangguk.
"Sebenarnya Ayah mau naik taksi saja dan ke rumah dulu, tapi Om kamu memaksa untuk menjemput Ayah. Ya mungkin Ayah akan keluar sama Om Rio dulu baru kembali ke rumah," jelas Adnan yang kini tersenyum melihat kopernya datang. Masih dengan ponsel yang menempel di telinganya, Adnan berusaha mengambil benda berbentuk balok tersebut. Untung saja ia hanya membawa koper berukuran sedang jadi tidak mengalami kesulitan yang berarti.
"Mungkin Om Rio masih kangen sama Ayah," kikik Ilana yang membuat Adnan mengulum senyum.
"Bisa jadi." Pria itu berjalan untuk menuju pintu keluar.
"Ya sudah, Ayah mau cari keberadaan Om Rio dulu, ya. Kamu hati-hati di sana. Jangan sampai lupa makan dan istirahat. Kemarin Ayah juga sudah atur semua karyawan di resto supaya tidak terlalu merepotkan kamu," peringat Adnan dengan tegas. Ini memang pertama kalinya mereka berpisah jauh dalam kurun waktu lebih lama dari 1 hari. Dan Adnan tahu persis jika tubuh Ilona sangat mudah tumbang terutama jika terlalu lelah dalam bekerja.
Ilona tersenyum simpul, "Ayah tenang aja. Ilona sanggup kok. Ayah juga hati-hati di sana, ya."
'Semoga Ayah juga bisa bertemu Bunda dan Ilana,' sambung Ilana dengan penuh harap, Tentu saja hanya bisa ia ungkapkan di dalam hati.
"Ayah tutup teleponnya, ya."
"Iya, Ayah."
Begitu panggilan terputus, Adnan mengitarkn pandangannya di sekitar pintu penjemputan. Ia terseyum mengembang saat netra matanya bertemu pandang dengans eseorang yang sebenarnya juga celingukan mencari keberadaannya.
"Gue pikir nggak jadi dateng," celetuk Rio ketika ia dan Adnan sudah berhadapan. Kedanya masih sama seperti dulu, dan masih menggunakan bahasa gaul mereka. Hanya saja, pelafalan Adnan kini sedikit kaku mengingat ia sudah lama tidak berbicara dengan bahasa santai dan gaul itu.
"Jadi, gue udah bilang sama Ilona dan dia mendukung penuh. Kalau gue nggak jadi ke sini, malah dia yang ngamuk." Adnan menyerahkan kopernya kepada sopir Rio untuk dimasukkan ke dalam bagasi. Sopir itu terlihat masih sangat muda, mungkin usianya tidak berbeda jauh dari putrinya.
"Kita langsung jalan aja, ya. Lo nggak mabuk udara, 'kan?" tawar dan tanya Rio berurutan. Adnan menggeleng.
"Sedikit, but it's okay."
Mobil hitam itu melaju membelah jalan bebas hambatan yang sudah mulai terasa lengang. Sebab jam berangkat kantor yang selalu saja membuat jalanan terasa penuh sudah berakhir. Sangat berbeda dengan 1 jam yang lalu.
"Apa lokasinya jauh dari sini?" tanya Adnan pada Rio seusai pria itu menutup teleponnya dari sang istri.
"Nggak seberapa jauh. Dan gue yakin lo pasti suka. Dari dulu, gue selalu suka berbisnis sama lo, peruntungan lo tu bagus kalau kata nyokap gue." Ibunda Rio yaitu Fransisca, memang seseorang yang sangat mempercayai apa yang disebut fengshui, aura dan apapun itu namanya. Sejak awal bertemu Adnan, ia sudah mengatakan pada Rio bahwa Adnan memiliki sesuatu yang menarik di dalam dirinya. Istilahnya, apapun yang dilakukan Adnan pasti akan menghasilkan rezeki. Terlebih, Adnan sendiri memang seseorang yang begitu ulet dan konsisten dalam usahanya.
Semua itu terbukti ketika ia membuka usaha dengan Rio di tahun-tahun akhir kuliah mereka, usaha itu maju pesat. Baik Adnan maupun Rio sama-sama bisa membeli mobil hingga membangun rumah padahal bisnis mereka belum berusia 5 tahun pada waktu itu.
Seperti apa yang dikatakan oleh Rio, tak membutuhkan waktu lama untuk keduanya sampai di tempat itu. Sebuah bangunan baru yang sudah sampai pada tahap penyelesaian. Bernuansa klasik namun terdapat sentuhan modern pada warna cat. Menggunakan cat berwarna terang sehingga membuatnya terlihat mewah dan kekinian.
Tanah yang dibangun itu merupakan peninggalan dari orang tua Rio. Dulunya merupakan bagian dari salah satu kawasan pertokoan namun kemudian dijual per blok. Dan selain calon restan milik Rio itu, ada juga beberapa ruko modern dan kafe-kafe yang lainnya. Karena memang tempat itu terletak di kawasan emas.
Adnan dan Rio memulai pembicaraan mengenai rencana bisnis mereka. Jika beberapa waktu yang lalu saat Rio datang ke Jogja baru sebatas penawaran, maka saat ini sudah memasuki pembicaraan yang cukup serius. Keduanya tentu tidak berbicara di lokasi bangunan itu melainkan di salah satu kafe yang terletak jauh atau lebih tepatnya berseberangan jalan. Kafe yang merupakan milik dari keponakan Rio.
"Ilona ternyata bener-bener fotocopy'an dari seorang Adnan," celetuk Rio ketika pembicaraan berat mereka telah selesai. Waktu sudah memasuki jam makan siang, dan mereka sepakat untuk menyantap hidangan siangnya di kafe tersebut.
"Lalu kenapa Kalina nggak mau meneruskan jejak lo menjadi pengusaha?"
"Kalina itu kepribadiannya fotokopian Dewi, meskipun secara fisik lebih mirip gue." Kalina adalah anak pertama Rio dengan Dewi. Umurnya tidak berbeda jauh dengan Ilona dan saat ini gadis itu baru saja memulai karirnya sebagai seorang dewan pengadil, sama seperti Dewi yang pernah bekerja di bidang tersebut. Sementara anak keduanya yaitu Gibran masih bersekolah di tingkat SMA.
"Gibran juga begitu?" tanya Adnan penasaran. Rio menggeleng.
"Kalau yang satu itu belum terlihat sepenuhnya. Namanya juga anak muda. Tapi sejauh ini, lebih menonjol dibanding kakaknya di bidang bisnis."
Adnan mengangguk mengerti. Tak lama berselang, makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Namun di saat yang bersamaan, Adnan merasakan panggilan alam yang mendesak. Ia baru menyadari kalau sejak turun dari pesawat tadi, atau lebih tepatnya sejak berangkat, ia sama sekali belum ke kamar mandi.
Adnan pamit kepada Rio untuk pergi ke kamar mandi. Rio mengangguk dan sambil menunggu sahabatnya itu, ia memilih untuk mengirimkan pesan pada sang sitri yang katanya akan menikmati makan siang bersama si sulung. Sejak pagi Rio memang sudah melarang Dewi untuk memasak karena ia akan makan siang bersama Adnan.
Bersamaan dengan itu, lonceng pintu berbunyi menandakan jika pintu sedang dibuka oleh seseorang. Rio yang memang duduk dalam posisi menghadap pinti spontan mendongak. Matanya membola ketika melihat siapa yang baru saja memasuki kafe milik keponakannya tersebut. Seorang wanita yang sudah sangat ia kenal.
Wanita itu juga kebetulan melihat ke arah Rio saat akan memesan makanan, kemudian tersenyum sopan.
"Selamat siang, Pak Rio."
"Selamat siang, Bu Aulia."
Benar, orang yang baru saja memasuki kafe itu adalah Aulia. Otak Rio seketika berputar dan ia baru teringat akan satu hal. Fakta jika butik milik Aulia terletak tak jauh dari kafe ini, hanya berjarak beberapa blok saja.
Tunggu, bukankah itu berarti jaraknya juga tak jauh dari lokasi calon restorannya kini yang hanya tinggal menyeberang jalan raya?
"Sedang makan siang, Pak? Bu Dewinya mana?" tanya Aulia sopan. Aulia tentu sangat mengenal Rio karena selain Rio adalah sahabat Adnan, ia dan Dewi juga tergabung di grup arisan sosialita yang sama.
"Istri saya sedang makan siang bersama Kalina. Saya di sini bersama seorang teman bisnis."
"Aa, begitu rupanya."
Percakapan keduanya terhenti kala pelayan memanggil nama Aulia. Aulia memang sudah memesan makanannya sekitar jam 11 tadi jadi kedatagannya kali ini hanya untuk mengambil dan membayar pesanannya.
"Saya permisi dulu, Pak Rio. Mari," pamit Aulia ketika melewati Rio. Hanya sebagai tindakan sopan santun. Tidak mungkin kan Aulia hanya berjalan begitu saja sementara ia menyadari kalau dirinya dan Rio saling mengenal.
"Silakan, Bu Aulia."
Tepat ketika Aulia keluar dari kafe itu, Adnan kembali dari toilet. Rio menghela napas perlahan. Seharusnya Aulia tinggal lebih lama lagi di kafe atau Adnan yang tidak boleh terlalu lama berada di toilet. Dengan begitu, pasti besar peluang untuk keduanya bisa bertatap muka.
Meskipun ia hanya sekadar sahabat dan orang lain bagi Adnan maupun Aulia, tetapi Rio sungguh berharap jika kedua orang yang besar kemungkinan masih saling mencintai itu kelak akan kembali bersama. Bukan tanpa alasan tentu mengapa Rio memiliki pendapat tersebut. Adnan dan Aulia yang masing-masing tak kunjung menikah lagi setelah perceraian mereka. Rio yakin, bukan hanya anak-anak yang menjadi alasan melainkan juga hati keduanya yang sebenarnya masih sing mendamba.
Tik...
Adnan menjentikkan jarinya di depan wajah Rio ketika dilihatnya pria itu tampak melamun. Padahal Adnan sudah memanggilnya berulang kali. Rio mengerjap perlahan lantas tersenyum tipis. Tak masalah jika kini ini Adnan dan Aulia belum bisa bertemu, toh tempat usaha mereka sangat berdekatan. Dan mengetahui fakta jika Aulia sering memesan makan di kafe itu, Rio berpikir peluang untuk mereka kembali bertemu akan sangat besar. Dari mana Rio tahu jika Aulia merupakan sering membeli makanan di situ? Tentu saja karena ia tahu, snag keponakan tidak akan sembarangan menerima pesanan terlebih dengan sistem pembayaran saat mengambil pesanan seperti Aulia.
"Lo ngelamun apaan sih?" tanya Adnan heran melihat raut wajah Rio.
"Enggak, tadi kayak kenal pas lihat seseorang lewat," jawab Rio dilpomatis seraya menunjukan dagunya ke arah luar.
"Siapa? Mantan lo?" tanya Adnan menggoda. Padahal ia tahu, Rio sama sekali tidak memiliki mantan selama mereka kenal. Tetapi kalau ternyata mantannya saat SMA, itu tentu berbeda cerita.
"Bukanlah. Temen lama banget," jawab Rio sambil terkekeh. Keduanya terus melanjutkan obrolan sembari menikmati hidangan makan siangnya.
Menjelang sore akhirnya Rio mengantarkan Adnan menuju rumah lama pria itu. Sebelum menyeberangi jalan raya melalui zebra cross, Adnan tidak sengaja menoleh ke sebuah sudut. Tatapannya terpaku pada papan nama sebuah butik yang entah kenapa begitu menarik perhatiannya. Seolah kembali mengingatkannya pada sang mantan istri.
Adnan menghela napasnya dengan sangat pelan, karena ia tidak mau Rio menyadari hal itu. Meskipun kini ia berada di Jakarta, tetapi tidak ada jaminan jika ia akan bertemu dnegan Aulia dan Ilana, putri yang sangat ia rindukan. Adnan tentu paham betul, Jakarta itu luas.
Jarak dari tempat itu menuju rumah lama Adnan tidaklah jauh, hanya berkisar 15 menit jika jalanan tidak macet. Selama perjalanan, keduanya membicarakan banyak hal terutama mengenai keadaan ibukota saat ini, karena memang sudah sangat lama Adnan tidak mengunjunginya. Selain itu, Adnan melakukan banyak pembicaraan guna mengabaikan sebuah perasaan yang ia sendiri tidak tahu apa maknanya itu.
"Lo nggak mau mencoba untuk menemui Ilana?" tanya Rio beberapa saat sebelum mobil itu memasuki lingkungan perumahan. Lokasi di mana rumah kenangan Adnan berada.
Adnan menggeleng cepat, "Jakarta itu luas, Bro. Gue mau cari mereka di mana?"
"Mereka, huh?" tanya Rio dengan smirk yang terlihat begitu menyebalan. Adnan merotasikan bola matanya jengah.
"Ya mana mungkin gue hanya cari Ilana. Udah pasti sama Ibunya, 'kan?"
"Yah, yah. I know it. Tapi nggak pa-pa juga kalau lo sekalian cari Ibunya. Lo nggak lupa kan kalau Mamanya Kalina pernah cerita dia satu grup arisan sama Mamanya Ilana?" Rio mencoba memberikan peluang kepada Adnan.
"Gue sebenernya udah bisa menebak mereka ada di mana. Thanks buat tawarannya." Rumah ibu mertuanya, tentu saja. Adnan tahu persis di mana rumah itu. Dan pada kenyataannya, memang benar demikian adanya.
Rio tersenyum simpul melihat wajah Adnan yang terlihat cerah. Sepertinya ada harapan yang bisa sedikit diwujudkan. Untuk hal membahagiakan itu, Rio akan selalu mendoakan yang terbaik bagi keduanya.
****