12. REBECA dan BIANCA

2181 Words
Liandra menyandarkan punggunya akibat rasa lelah yang menderanya. Sungguh, pekerjaannya hari ini memang begitu banyak dan seperti apa yang sudah ia duga sebelumnya, sepertinya malam ini ia akan lembur di kantor. Mungkin sampai jam 8 malam. Meskipun hari ini merupakan hari Sabtu, namun aktivitas di kantor Liandra masih berlangsung seperti biasanya karena sudah menjelang akhir tahun. Biasanya, jadwal kerja dikantornya memang hari Senin sampai Jumat. Tetapi jika di akhir bulan Novmber hingga measuki bulan Desember, maka seringkali para karyawan harus masuk hingga hari Sabtu karena banyaknya pekerjaan yang harus dituntaskan sebelum libur akhir tahun. Termasuk Liandra dan juga Dimas. Tidak ada perbedaan sama sekali. Tentu saja Liandra tidak akan bersikap semena-mena terhadap karyawannya. Meskipun hari Sabtu itu terhitung masuk, namun sistem gajinya dinilai sebagai lemburan sehingga nominalnya jauh lebih besar daripada gaji harian mereka. Liandra tentu saja tidak ingin mengambil resiko jika ada pihak yang tidak bertanggung jawab yang mungkin saja bisa mmbahayakan keselamatan perusahaan. Terlebih, di zaman sekarang sosial media sudah menjadi sesuatu yang sangat memasyarakat. Jika terjadi hal yang sedikit tidak wajar, pasti akan dengan cepat menjadi buah bibir. Selain itu, Liandra dan Dimas juga harus menjaga dengan baik integritas perusahaan karena banyaknya proyek kerja sama dengan pemerintah yang mereka ambil. Liandra kemudian bangkit dari tempat duduknya untuk melihat pemandangan yang akan menyegakan indera penglihatannya. Dari ruangannya di lantai 22 itu, pemandangan sore Ibukota terlihat begitu random di matanya. Kemacetan, sudah pasti menjadi pemandangan yang sangat maklum. Sementara di langit, kumpulan awan Cumulonimbus seakan bersiap untuk membasahi seantero jagat raya. Entah bagaimana mengatakannya, tetapi Liandra seolah bisa menebak jika beberapa menit lagi akan turun hujan yang cukup lebat. Suara ketukan pintu membuat laki-laki itu menoleh. Setelah mendengar suara lantang Liandra yang mengatakan mengizinkan orang itu untuk masuk, pintu kemudian terbuka dan menampilkan sosok yang sudah sangat tidak asing baginya. "Ada apa Beca?" Benar, yang baru saja memasuki ruangan Liandra adalah Rebeca, sahabatnya sejak zaman sekolah hingga saat ini. Di tangannya, Rebeca membawakan kopi kemasan untuk Liandra. Gadis itu meletakkannya di atas meja kerja Liandra. Sementara Liandra mengamati setiap pergerakan Rebeca dengan dahi yang mengerut penuh. Pasalnya, baru kali ini Rebeca melakukan hal itu, di kantor. "Gue habis dari kafe bawah tadi, jadi sekalian gue beliin buat lo sama Dimas," ucap Rebeca seolah mengerti isi pikiran Liandra. "Oh, gitu. Gue pikir ada apa. Tumben banget lo kasih kopi ke gue di kantor. Thanks, ya," ucap Liandra tulus seraya berdiri di samping meja kerjanya. Liandra tersenyum mengembang ketika melihat kopi latte kegemarannya tersebut. "Kerjaan lo kayaknya banyak banget?" tanya Rebeca dengan isyarat mata yang tertuju pada meja Liandra. Liandra mengangguk sekali, "Gue mesti periksa proyek pengembangan obat-obatan dari anak Farmasi. Deadlinenya udah semakin dekat." "Lo butuh ditemenin?" tawar Rebeca dan membuat Liandra menatapnya penuh. Kali ini laki-laki itu menggeleng, "Nggak usah, kebetulan Mira juga pulang telat nanti. Kerjaan dia juga lagi banyak." Jelas saja, jika pekerjaan Liandra sedemiian banyak maka pekerjaan Mira juga akan ikut bertumpuk. "Oh, gitu." Rebeca tampak kecewa dengan jawaban Liandra tetapi secepat mungkin ia berusaha untuk tidak menampakkannya. "Ya udah, kalau gitu gue keluar dulu. Jangan lupa diminum kopinya." Liandra mengangguk seraya mengangkat gelasnya, pertanda mengiyakan ucapan Rebeca. Rebeca segera keluar dari ruangan Liandra dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di hatinya. Padahal, beberapa menit yang lalu sebelum ia memasuki ruangan sahabatnya itu, raut wajahnya terlihat begitu cerah. "Apa segitu besarnya perasaan Liandra pada Ilana sampai dia nggak bisa sedikit pun melihat perasaan gue?" gumam Rebeca lirih saat ia berdiri di depan lift. Benar, Rebeca memang sedang terjebak di dalam perasaannya sendiri kepada Liandra. Perasaan yang ia sendiri tidak tahu sejak kapan dan bagaimana bisa bersemi. Yang pasti, Rebeca mulai menyadarinya ketika Liandra akan berangkat ke Amerika, dan ia semakin yakin dengan perasaan itu ketika kecemburuan melanda hatinya kala ia melihat dengan mata kepalaya sendiri bagaimana kemesraan antara Liandra dengan Ilana. Ilana, satu nama yang begitu membuat Rebeca merasa muak setiap bertemu dan mendengarnya. Liandra yang memilih untuk mengajak Ilana untuk berkencan, padahal mereka baru mengenal selama beberapa bulan. Sementara dirinya harus puas memendam semua rasa itu sendirian, dan bersembunyi di balik topeng kata 'sahabat'. Awalnya, Rebeca merasa begitu senang saat Ilana menolak ajakan Liandra. Di dalam pikirannya, ia sempat mencela Ilana yang begitu berani menolak seorang Liandra. Padahal di luar sana, ada banyak sekali perempuan yang mengantri untuk mendapatkan hati Liandra. Bahkan bisa dibilang, akan dengan suka rela melemparkan dirinya kepada laki-laki sempurna itu. Tetapi saat Liandra pulang dari Negeri Paman Sam, kesenangan Rebeca seketika sirna. Berganti dengan kekecewaan yang mendalam kala melihat sahabat yang ia cinta mengecup pipi Ilana dengan begitu mesra. Selama beberapa waktu ini, Rebeca selalu berusaha keras untuk menyembunyikan perasaannya. Meskipun sebaliknya, ia justru sering menunjukkan sikap yang begitu perhatian pada Liandra. Sayangnya, Liandra tidak menganggap hal itu selain sebagai seorang teman. Karena memang Liandra sudah menganggap Rebeca selayaknya saudara sendiri, sama seperti Dimas dan yang lainnya. Mengingat mereka sudah saling mengenal dan bersahabat cukup lama. Kemarin saat bertemu dengan Ilana di dalam lift, rasa panas itu seketika menyebar memenuhi rongga hati Rebeca. Ia sangat tidak suka jika Ilana datang ke kantor Liandra. Berbagai pikiran buruk menghantui pikiran Rebeca mengenai apa saja yang dilakukan Ilana bersama Liandra di dalam ruangan Liandra yang sangat terjaga privasinya itu. Tetapi pengakuan Ilana yang mengatakan akan pergi ke luar kota, seketika membuat hati Rebeca bersorak kegirangan. Dan ia merasa memiliki banyak sekali kesempatan untuk menunjukkan perhatiannya kepada Liandra. Tetapi sayangnya, kemarin ia harus lembur hingga malam bersama dengan Dimas. Pekerjaannya pun begitu banyak bahkan terasa mustahil untuk ditinggalkan meskipun hanya pergi ke toilet. Dan ketika sudah saatnya pulang, Rebeca harus berpuas diri untuk diantar oleh Dimas karena memang hari sudah malam. Jika ditanya, hal apa yang paling diinginkan oleh Rebeca, ia sangat ingin melihat hubungan antara Liandra dan Ilana kandas. Kemudian ia akan menjadi satu-satunya pengisi di dalam hati Liandra. Rebeca memiliki pemikiran, ia dan Liandra sudah saling mengenal terlebih dahulu. Ia yang paling mengerti bagaimana dan apa saja kesukaan Liandra. Hanya dirinya seorang. Bahkan untuk kopi tadi, sebenarnya Rebeca hanya berbasa basi sebab pada dasarnya ia hanya membeli untuk Liandra dan dirinya. Tentu saja dia harus mengatakan juga membelikan kopi untuk Dimas sebagai alasan agar Liandra tidak menaruh curiga kepadanya. Dentingan lift yang berbunyi seketika memutuskan lamunan Rebeca. Gadis itu hendak meangkah memasuki lift, namun langkahnya seketika terhenti ketika menyadari seseorang berdiri dan hendak keluar dari lift. "Hai, Bianca," sapa Rebeca ramah pada adik dari laki-laki yang dicintainya tersebut. Bianca hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Moodnya sedang sangat tidak stabil hari ini jadi ia enggan berbasa-basi dengan siapapun. "Hai juga. Dari mana?" "Dari ruangannya Kakak kamu. Nganterin kopi," balas Rebeca seraya mengangkat gelas kopinya. Bianca hanya mengangguk singkat kemudian segera berlalu untuk menuju ruangan luas sang kakak. Rebeca hanya mengendikkan bahu acuh atas tanggapan dari Bianca. Ia sudah tidak heran lagi karena memang selama ini Bianca sangat acuh dan dingin kepada siapapun. Bukan hanya kepada dirinya. Setahu Rebeca, Bianca hanya akan berubah menjadi sangat manja pada Liandra dan Dimas. Bianca mengetuk meja kerja Mira. Wanita itu snagat fokus pada pekerjaannya sehingga tidak menyadari kehadirannya. Sekalipun itu adalah kantor sang kakak dan ia sendiri juga memiliki kuasa, tetapi Bianca tetap menjunjung tinggi kesopanan pada laki-laki yang sangat disayanginya tersebut. "Eh, Bu Bianca. Maaf saya nggak lihat, Bu," ucap Mira seraya ergerak bangkit dari tempat duduknya. Tetapi Bianca hanya menggeleng dan memberikan isyarat agar Mira kembali duudk. "Kak Liandra di dalam? Nggak ada tamu, 'kan?" Meskipun sudah mengetahuinya secara tidak langsung melalui Rebeca tadi, tetapi sekali lagi ditegaskan jika Bianca sangat menghormati kakaknya. "Tidak ada, Bu. Tadi hanya ada Bu Rebeca yang masuk dan mengantarkan kopi. Baru beberapa menit yang lalu Bu Rebeca keluar," jawab Mira dengan lugas. Sebenarnya ia merasa tidak nyaman jika harus menjawab pertanyaan Bianca dengan posisi duduk seperti itu. Tetapi apa mau dikata, Bianca juga termasuk atasannya dan ia harus mematuhi perintahnya. "Ya sudah, saya masuk dulu. Silakan dilanjut kerjanya," timpal Bianca yang kini melangkah untuk mengetuk pintu ruangan sang kakak. Begitu mendengar suara lantang yang tadi pagi juga meneriakinya itu, Bianca segera melangkah masuk. "Kakak lagi sibuk? Perlu Bi bantu?" tanya Bianca saat melihat tumpukan dokumen yang begitu banyak di meja sang kakak. Liandra mengangguk sekali, "Perlu. Jadi kamu harus segera mulai bekerja." Jawaban Liandra membuat Bianca merotasikan bola matanya jengah, "Kak, Bi masih suka ngurus kafe. "Perusahaan juga butuh kamu, Bianca Isyana Malik," sahut Liandra dengan tatapan mata yang sepenuhnya berfokus pada dokumen di hadapannya. Sementara Bianca sudah duduk di sofa setelah meraih kopi latte pemberian Rebeca kepada Liandra tadi. Jujur saja, Liandra mulai merasa sedikit kewalahan mengurus perusahaan besar itu sendirian. Beruntung, ia masih memiliki Dimas dan juga Rocky, sahabatnya saat menempuh pendidikan sarjana. Jika tidak, Liandra tidak tahu bagaimana nasibnya. Bukan karena ia tidak mau berusaha lebih keras, tetapi Liandra juga manusia biasa yang tentu saja memiliki titik rendah dalam hidupnya. Liandra memang mengharapkan Bianca ikut membantu mengurus perusahaan karena menurutnya, kafe milik sang adik yang berada di Singapura bisa diawasi dari jauh. Bianca memang memiliki usaha kafe di beberapa tempat. Ada yang terletak di sekitar NUS dan NTU serta satu lagi di bandara Changi. Usaha yang berkembang cukup pesat itu sudah mulai dirilis oleh Bianca saat ia mengerjakan proyek akhir kuliahnya di Departemen Bisnis National University of Singapore. Tetapi meski begitu, Bianca masih merasa berat jika tidak mengeceknya sendiri secara langsung. Padahal Liandra tahu betul itu hanya akal-akalan adik cantiknya karena tidak mau berjauhan dengan kekasihnya yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan digital di Singapura. "Kasih Bi waktu ya, Kak. Bianca juga mau selesaiin masalah sama Lucky." "Ada masalah apa lagi kamu sama dia?" Liandra sama sekali tidak heran. Hubungan cinta sang adik memang sedikit lebih dramatis dan rumit. Sebenarnya bukan urusan yang besar, tetapi karena pemikiran keduanya masih sama-sama belum dewasa, bahkan masalah benang kusut saja akan menjadi sedemikian besar dan melelahkan untuk ia dengar. Darimana Liandra mengetahui hal itu? Sudah dibilangkah kalau Bianca itu selain sangat hormat, juga sangat dekat dan manja pada Liandra? Meskipun Liandra seringkali hanya menanggapi curhatannya dengan asal-asalan, tetapi ada kalanya kakak tampannya itu begitu serius. "Nggak ada masalah apa-apa, Kak. Cuma Bi capek sama dia. Pacaran tapi banyak ributnya, giliran diajak putus nggak mau." Bianca mengungkapkan isi hatinya. Jika ditanya perihal cinta, tentu ia sangat mencintai Lucky. Tetapi sikap Lucky yang seringkali membesar-besarkan masalah tentu saja membuatnya lelah. Bianca dan Lucky sudah menjalin hubungan selama kurang lebih 1 tahun, jika ditotal. Karena selama 1 tahun itu, mereka lebih banyak putusnya daripada bersamanya. Masalah yang sering diungkit Lucky ialah karena Bianca jarang ada waktu untuknya. Meskipun mengelola kafe di Singapura, Bianca memang hanya akan berada di negara tersebut selama 4 hari dalam satu minggu. Dan kebanyakan, saat akhir pekan ia akan memilih untuk pulang ke Jakarta. Sementara Bianca sendiri sudah beberapa kali mengosongkan jadwalnya agar bisa berkencan dengan Lucky, tetapi laki-laki yang berusia 2 tahun lebih tua darinya itu selalu memiliki alasan yang terkadang tidak masuk akal. Saat ini pun Bianca pulang ke Jakarta dengan perasaan yang dongkol tak berkesudahan. Ketika ia sudah mengosongkan jadwal dan hendak menemui Lucky di kantornya sepulang bekerja, laki-laki itu justru memilih untuk makan malam bersama rekan-rekan kantornya. Lucky memang mengajak Bianca, tetapi Bianca merasa Lucky mengajaknya dengan asal. Akhirnya ia lebih memilih menyetop taksi untuk membawanya menuju Changi dan membeli tiket penerbangan saat itu juga. Liandra meletakkan dokumen dan bolpoin di atas meja. Kemudian bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Bianca yang memejamkan mata di sofa. Dengan lembut, Liandra mengusap pucuk kepala sang adik. "Kamu perlu bantuan Kakak?" Pertanyaan Liandra sontak saja membuat kedua mata Bianca terbuka. "Nggak, ah. Lucky tahu kalau Kak Liandra itu Kakakku." Tadinya, Bianca ingin mengiyakan tawaran Liandra, tetapi ia ingat jika Lucky mengetahui siapa Liandra. Tentu saja karena Bianca memasang foto keluarga mereka sebagai gambar latar ponselnya. "Kalau gitu, kamu perlu bantuan Rocky?" Tawaran kedua Liandra membuat Bianca mengerjap beberapa kali. Ia sempat tersenyum cerah sebelum kemudian garis bibirnya kembali turun. "Nah loh, kenapa malah cemberut?" tanya Liandra yang heran dengan perubahan raut wajah sang adik. "Nggak, ah. Kak Rocky orangnya mesum." Sanggahan Bianca membuat Liandra membolakan mata. "Kamu pernah dimesumin sama Rocky?" Bianca menggeleng cepat. Ia baru sadar jika ucapannya bisa menimbulkan salah presepsi pada sang kakak. "Bukan, bukan Bi. Tapi Bi perah nggak sengaja denger. Ih, Bi geli sendiri kalau inget itu." Bianca bergidik ngeri ketika otaknya teringat kata-kata yang didengarnya tanpa sengaja dari sahabat sang kakak tersebut. Lianda yang sempat diserang rasa panik, kini hanya terkekeh melihat reaksi sang adik. Tadinya, ia sudah mempersiapkan apa yang akan dilakukan pada Rocky jika benar laki-laki itu berbuat yang aneh-aneh pada adiknya. Meskipun Liandra tahu Rocky menyukai Bianca, ia tidak akan menyerahkannya dengan mudah. "Yah, namanya juga cowok, Bi," sahutnya asal. "Ck, tapi kan ngomongi hal kayak gitu di ruang terbuka agak gimana gitu dengernya, Kak. Kalau ... Eh, tunggu dulu." Bianca menjeda ucapannya sehingga membuat Liandra mengernyit. "Apaan?" "Jangan-jangan?" Bianca menunjuk Liandra, "Kakak juga gitu ya sama Kak Ilana?" Kembali bola mata Liandra dibuat melebar atas ucapan sang adik yang sarat akan tuduhan tersebut. "Enak aja! Kakak kamu ini masih waras, Bianca," bantah Liandra dengan rasa dongkol dalam hatinya. Sementara Bianca hanya terkekeh melihat wajah kesal sang kakak. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD