Mohon bantuannya untuk vote ya ;)
________________________________
Setelah terlelap selama beberapa saat lamanya, Ilana terbangun kala suara Natalia terdengar menginterupsi telinganya. Beberapa kali Ilana mengerjap guna mengumpulkan kesadarannya. Barulah setelah itu ia duduk dengan bersandar pada kepala ranjang.
“Iya, Mbak. Aku baru bangun,” sahut Ilana saat panggilan Natalia kembali terdengar. Ia meraih ponselnya dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 kurang seperempat.
Terlebih dahulu Ilana menenggak habis sebotol sedang air mineral yang tersedia di atas nakas. Tubuhnya terasa begitu segar sebab selain sudah terisi oleh air minum, Ilana juga merasa kalau tidurnya siang ini sangatlah lelap dan tenang. Sepertinya udara segar Jogja memberikan sedikit pengaruh baik untuk kesehatan jiwanya.
Ilana ingin segera mandi sebelum mengunjungi tempat diadakannya festival sekaligus fashion show tersebut. Tadinya Ilana memang berencana untuk mandi sebelum tidur, tetapi entah kenapa matanya terasa sangat tidak bersahabat. Oleh karena itu ia memutuskan untuk langsung tidur saja. Namun sebelum pergi mandi, terlebih dahulu Ilana menghubungi sang ibu.
“Halo, Sayang,” sapa suara di seberang begitu panggilan terhubung.
“Halo, Bunda. Bunda lagi di mana?”
“Bunda masih di butik, Sayang. Tapi paling sebentar lagi pulang. Kamu sendiri lagi di mana sekarang?” tanya Aulia yang kini tengah mendata kebutuhan bahan baku butiknya, utamanya adalah kain. Baru saja ia mendapatkan telepon dari bagian produksi karena beberapa jenis kain tertentu stoknya sudah menipis.
Butik milik Aulia memang memiliki bagian produksi sendiri. Semua baju yang di jual di tempat itu murni milik Aulia dan sama sekali tidak ada produk dari merek lain. Ia pun sudah memiliki merek sendiri yang diberi label A2I. Hanya saja lokasi tempat produksinya tidak menjadi satu dengan butiknya. Membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit untuk bisa sampai di tempat produksi yang terletak di daerah Depok tersebut.
Tetapi bukan berarti di butik itu tidak ada proses produksi sama sekali. Khusus di lantai 2, tersedia sebuah ruangan khusus milik Aulia yang biasa ia sebut sebagai studio. Ruangan luas yang di penuhi berbagai macam perlengkapan menjahit serta manekin baju. Ada juga sebuah ranjang yang biasanya digunakan Aulia untuk beristirahat jika terlalu lelah. Ilana juga seringkali menghabiskan waktu istirahatnya ketika sedang menunggu sang ibu. Terlebih dulu, saat ia masih berada di usia sekolah. Di samping ruangan itu juga terdapat dapur dan kamar mandi. Sangat lengkap.
Di situlah Aulia biasanya berkutat dengan ketrampilannya dalam memotong dan menjahit lembaran-lembaran kain. Terlebih jika ia mendapatkan pesanan gaun pengantin yang khusus ataupun berbagai jenis pakaian yang merupakan pesanan. Baju itu akan dijahit sendiri oleh Aulia di studionya. Karena gaun yang diproduksi oleh para pegawainya di Depok adalah gaun pesta atau gaun keseharian pada umumnya saja.
“Ilana masih di hotel, Bunda.” Ilana terdiam sejenak setelah menjawa pertanyaan sang ibu. “Eh,bukan hotel. Tapi resort,” koreksinya cepat yang membuat Aulia terkekeh.
“Kamu nggak ada agenda apapun hari ini?”
“Ada, Bunda. Habis ini Ilana akan ke tempat diadakannya fashion show itu. Ada GR nanti sekitar jam 3. Ini Ilana baru aja bangun tidur terus telepon Bunda,” jelas Ilana mengenai apa saja jadwalnya hari ini. Itu adalah kebiasaan Ilana yang memang sudah diterapkan sejak dulu oleh Aulia. Ia harus tahu segala kegiatan Ilana terlebih saat ini ia tidak bisa selalu menemani putrinya tersebut.
“Fashion show kamu berapa lama, Sayang?”
“Kalau kata Mbak Natalia sih cuma sehari besok, Bun. Tapi padat dan banyak banget. Nggak tahu gimana jelasnya. Nanti Ilana tanya sama timnya Mbak Dian saat GR.” Di akhir kalimatnya, Ilana menutup mulutnya yang tiba-tiba saja menguap. Sepertinya ia masih mengantuk.
“Kalau memang cuma sehari besok, kamu sekalian jalan-jalan aja. Kan udah lama juga kamu nggak liburan,” ucap Aulia memberikan saran.
“Iya, Bunda. Ilana emang udah berencana buat sekalian jalan-jalan. Lagian besok itu acaranya nggak Cuma fashion show. Emang semacam festival budaya. Jadi banyak banget juga tenant-tenant yang ikut. Ada pameran sama seminar tentang kebudayaan juga. Pokoknya lengkap deh, Bun.” Ilana mengatakannya dengan wajah berseri-seri. Dari nada bicaranya, Aulia bisa mengerti jika putrinya itu sangat bahagia.
“Wah, banyak makanan juga dong, pasti?” tebak Aulia yang membuat Ilana terkekeh.
“Ih, Bunda ngerti banget, deh.” Jawaban malu-malu Ilana sontak saja membuat Aulia tertawa geli.
“Bunda seneng kalau kamu seneng. Oh ya, kamu sudah hubungi Liandra?”
“Ya cuma tadi sih, Bun. Barengan waktu Ilana kirim pesan ke Bunda. Habis ini Ilana akan hubungi Liandra. Ya udah, Bun. Ilana mau mandi. Bunda hati-hati ya pulangnya,” pamit Ilana sebelum memutuskan panggilan.
“Iya, Sayang. kamu juga hati-hati di sana ya.”
“Bye Bunda. Love you.”
“Love you more, Honey.”
Setelah panggilannya dengan sang ibu berakhir, Ilana berganti menelepon Liandra. Namun hingga dering terakhir, kekasihnya itu tak kunjung menjawab panggilannya. Ilana mendesah lemah namun kemudian ia menoba berpikir positif. Mungkin saja Liandra sedang makan siang atau ada kesibukan lain. Apalagi Liandra sudah mengatakan jika hari ini ia memiliki cukup banyak pekerjaan di kantor sehingga tetap harus masuk padahal ini hari sabtu.
Tak ingin terlalu memusingkan hal itu, Ilana memilih untuk segera memasuki kamar mandi. Setelah menanggalkan segala macam kain yang melekat pada tubuhnya, akhirnya Ilana bisa merasakan kesejukan mata air Jogja yang menurut sang pengelola resort berasal dari sumber alami.
15 menit adalah waktu yang dibutuhkan Ilana untuk mandi. Sejujurnya ia masih ingin mandi lebih lama lagi tetapi ia takut kalau Natalia akan menunggu terlalu lama. Apalagi, keduanya masih memiliki jadwal penting. Sepertinya nanti malam saja ia akan mandi lagi bahkan mungkin berendam.
Ilana keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe. Gadis itu lantas membuka kopernya untuk mencari pakaian ganti yang cocok dan nyaman. Di tengah keseruannya mencari baju, terdengar suara dering dari ponselnya. Nama Liandra terpampang di layar dan Ilana segera menggeser tombol hijau.
“Halo.”
“Halo, Sayang. Kamu tadi telepon? Maaf ya, tadi aku lagi makan siang jadi nggak tahu kalau kamu telepon,” jelas Liandra yang memang abru saja kembali ke ruangannya.
“Kamu makan siang di mana dan sama siapa sampai aku telepon nggak tahu?” tanya Ilana dengan intonasi suara merajuk. Sementara tangannya masih asyik memilih dan memilah baju.
Suara Ilana yang sarat akan kecurigaan itu membuat Liandra terkekeh. Sempat terbesit sedikit kejahilan di otaknya untuk mengerjai Ilana. Namun urung dilakukannya saat ia teringat jika sang kekasih merajuk, maka sama saja dengan menyiksa dirinya sendiri.
“Aku makan siang dengan Bianca, Sayang. Di kafe bawah kok. Cuma tadi handphone aku ketinggalan di laci. Sumpah aku nggak bohong, Ilana,” terang Liandra berusaha meyakinkan sang kekasih.
“Lalu sekarang, Biancanya di mana?”
“Bianca masih di bawah, lagi beli camilan. Kamu telepon aja dia kalau nggak percaya.” Salah satu hal yang membuat kesabaran Liandra begitu terlatih ialah kadar kecemburuan Ilana yang sangat tinggi. Akan tetapi ia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Liandra justru senang karena meskipun Ilana sangat pencemburu, gadis itu tidaklah egois.
Ilana hanya menanggapinya dengan hembusan napas. Ia tahu jika Liandra sudah berkata demikian, maka laki-laki itu sama sekali tidak berbohong. Pada kenyataannya, selama ini Liandra tidak pernah berbohong untuk hal-hal sepenting itu. Kecuali jika untuk urusan sudah makan atau belum? Tentu sudah berulangkali Liandra berbohong dengan menjawab sudah. Padahal sebetulnya, belum.
“Lagipula, alasan kenapa aku nggak bawa ponsel karena calon adik ipar kamu juga lagi curhat, Sayang.”
“Curhat tentang?” sahut Ilana cepat.
“Pacaran nggak nyaman, mau putus juga susah,” jawab Liandra dengan malas. Jika dihitung-hitung, waktu makan siangnya memang lebih banyak dihabiskan untuk mendengarkan curhatan sang adik daripada menikmati hidangannya.
“Eh? Kok gitu?” tanya Ilana penasaran. Intonasi suaranya sudah jauh lebih lembut dari sebelumnya.
“Yah, biasa lah Sayang. Namanya juga masih ABG.” Jawaban santai Liandra membuat Ilana terkekeh. Ia memang beru dua kali bertemu dengana dik dari kekasihnya itu, tetapi selama ini Liandra sudah sering bercerita mengenai Bianca, jadi Ilana tahu betul bagaimana kedekatan antara dua kakak beradik tersebut.
“Nomong-ngomong, kamu lagi ngapain sekarang di sana Sayang?” tanya Liandra saat Ilana terdian sesaat lamanya. Tentu saja sebab gadis itu tengah mengenakan pakaiannya.
“Aku, baru selesai mandi. Habis ini mau ke tempat acaranya untuk GR,” jawab Ilana dengan santai seraya memoleskan make up simpel pada wajahnya. Gadis itu sama sekali tidak menyadari jika jawaban santainya kali ini mampu memancing sesuatu dalam diri kekasihnya.
Liandra sempat kesulitan menelan salivanya kala mendengar jawaban polos Ilana tersebut. Entah kenapa ia yakin jika kekasihnya belum mengenakan busana dan mungkin saja masih mengenakan handuk mandinya. Liandra menggeleng cepat. Ini bahkan bukan pertama kalinya mereka membicarakan hal itu tetapi entah kenapa kali ini rasanya berbeda. Buru-buru ia menghilangkan pemikiran e****s yang mulai bersemayam dan perlahan menghangatkan darah kelelakiannya itu.
“Ya sudah, nanti malem kita video call ya? Kamu free, ‘kan?” tanya Liandra setelah berhasil menormalkan kondisinya.
“Seharusnya sih free. Nanti aku kabarin kamu, Sayang.”
“Ya udah, aku tutup dulu, ya. Kerjaan aku masih banyak banget. Bianca juga udah nyampe.” Ucapan sang kakak membuat Bianca yang sedang membuka pintu seketika melayangkan tatapan pejuh tanya.
“Siapa?” tanya gadis itu pelan. Dengan isyarat Liandra memberitahu jika orang tersebut adalah Ilana. Bianca hanya mengangguk seraya melayangkan senyuman menggoda.
“Selamat bekerja, Pak Liandra,” pamit Ilana dengan mesra.
“Selamat bekerja juga, calon Nyonya Liandra,” balas Liandra tak kalah mesra.
Begitu panggilan dengan sang kekasih berakhir, Ilana segera keluar dari kamar karena jarum jam sudah menunjukkan hampir jam 2 siang. Natalia sudah duduk manis di sofa seraya memainkan ponselnya.
“Aku lama ya Mbak?” tanya Ilana sambil menutup pintu kamarnya. Natalia menggeleng cepat.
“Enggak kok. Gimana? Udah siap?” tanya Natalia yang segera diangguki oleh Ilana.
Keduanya melangkah bersama menuju halaman resort dan segera memasuki mobil yang akakn membawa mereka ke tempat aara tersebut digelar. Jaraknya ternyata tidak terlalu jauh dari resort tersebut. Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit.
“Seeprtinya aku butuh jalan-jalan ke sini waktu malem, Mbak,” gumam Ilana saat mobil mereka melintasi kawasan 0 kilometer Jogja yang sangat ikonik. Natalia tersenyum geli mendengarnya.
“Certainly, you have to.”
Sesampainya di sana, Ilana dan Natalia bergegas menuju ke area di mana tim dari fashion designer kenamaan Indonesia itu berada. Karena melalui pintu depan, Ilana bisa melihat banyaknya booth berbagai macam produk baik makanan, souvenir budaya, pakaian dan berbagai macam lainnya.
“Mbak Ilona kok balik lagi? Apa ada yang ketinggalan?” Suara seseorang seketika menghentikan langkah Ilana. Gadis itu sontak berbalik untuk memastikan telinganya tidak salah mendengar.
“Eh.” Seseorang yang ternyata Tifany itu tergagap saat ia menyadari kalau salah memanggil orang. “Ternyata bukan. Maaf, Bu. Saya pikir Ibu adalah atasan saya,” lanjutnya dengan sedikit membungkukkan badan.
Tifany tentu mengenali jika orang dihadapannya bukanlah atasannya, karena ia masih mengingat pakaian yang dikenakan Ilona saat berkunjung tadi. Tetapi bukan tanpa alasan hingga Tifany melakukan kesalahan memanggil nama tersebut, sebab wajah orang di hadapannya ini sangat mirip dengan Ilona. Hanya saja setelah berhadapan, Tifany menyadari jika orang yang ia panggil memiliki sorot mata yang lebih kecil. Berbeda dengan atasannya yang memiliki bola mata lebar.
“Ah, iya nggak pa-pa.” Ilana segera berlalu dari tempat itu guna menyusul Natalia yang sudah berada beberapa langkah di depannya.
Rupanya, Ilana masih memikirkan panggilan dari orang yang tidak ia kenal tersebut. Pemikiran itu datang dengan begitu saja tanpa ia minta. Ia merasa sangat penasaran. Ilana berpikiran apa memang ada orang yang semirip itu dengannya hingga membuat orang tersebut salah memanggil?
Atau jangan-jangan ...
“Ilana.” Panggilan lembut dari seseorang itu seketika membuyarkan segala lamunan Ilana. Gadis itu segera mendongak dan melemparkan senyum kala netranya bertemu pandang dengan sang desainer idolanya, Dian Nurmala.
Keduanya sudah langsung lengket bak sepasang sahabat lama, padahal ini kali pertama mereka bertemu. Tentu saja karena Dian sendiri sudah lama sekali ingin menggunakan Ilana sebagai modelnya, namun belum menemukan kesempatan yang tepat. Kedatangan Ilana juga disambut ceria dengan beberapa model yang sudah datang dan kebanyakan dari mereka merupakan kontestan dari beberapa ajang kecantikan. Benar-benar ciri khas seorang Dian Nurmala.
“Akhirnya kesampaian juga buat kerjasama sama kamu. Aku tuh seneng banget tahu nggak,” puji Dian yang membuat Ilana terkekeh.
“Mbak Dian bisa aja. Aku yang harusnya bersyukur. Aku malah hampir aja ikut kontes-kontes itu supaya bisa kenal sama Mbak,” balas Ilana tak kalah antusias.
“Ikut aja, ayo. Prestisius lho ajang itu. Untuk meningkatkan karir kamu juga.” Dian tentu saja akan mendukung para modelnya selama itu hal yang positif.
“Kalau tahun ini agak susah, Mbak. Udah banyak banget kontrak sampai tahun depan. Kalau sesudah itu, bisa lah aku pertimbangkan.”
“Harus itu. Bener deh, Mbak nggak bohong. Apalagi kamu udah lama di dunia modeling. Background pendidikan kamu juga bagus. Rezeki nggak akan kemana asal mau berusaha,” ucap Dian memberikan semangat.
Ilana tersenyum dan mengamini semua ucapan desainer favoritnya tersebut. Setelah puas mengobrol dengan Ilana, Dian berpamitan untuk menyambut beberapa model yang lain. tak perlu menunggu waktu lama, Ilana segera berbaur dengan para model yang ada di sana. Obrolan itu mengalir begitu saja dan terasa begitu menyenangkan.
Acara GR itupun akhirnya dimulai, meliputi fitting hingga pemilihan busana yang akan dikenakan oleh masing-masing model. Semuanya berlangsung menyenangkan meskipun harus mundur beberapa lama dari waktu yang sudah ditetapkan. Ciri khas masyarakat Indonesia sekali, bukan?
Ilana berkesempatan untuk membawakan 3 potong busana yang begitu indah. Keseluruhan merupakan kebaya yang didesain dengan sentuhan gaya modern. Tema dari masing-masing kebaya modern itu juga berbeda. Ada yang murni khas Jawa, ada yang memiliki perpaduan dengan Bali bahkan hingga sentuhan adat Sumatera. Sekali lagi, Ilana benar-benar merasa bersyukur karena mendapatkan kesempatan emas ini.
Menjelang malam, acara itupun akhirnya selesai. Setelah mendapatkan briefing dari sang designer mengenai jadwal keesokan harinya dan segala macam yang berkaitan dengan fashion show tersebut, akhirnya para model itu bisa kembali ke hotel masing-masing untuk beristirahat karena jadwal esok hari akan sangat padat. Meskipun ada juga beberapa yang memilih untuk melihat-lihat terlebih dulu beberapa area festival tersebut.
“Mbak Nat, aku ke toilet dulu ya. Kebelet banget dari tadi,” ujar Ilana pada Natalia yang tengah merapikan pakaiannya. Sejak tadi Ilana menahan panggilan alamnya itu karena memang nyaris tidak ada kesempatan untuk ke toilet.
Natalia mengangguk, “Iya udah buruan. Kayaknya dari tadi kamu udah nahan. Toiletnya ada di sebelah sana.” Wanita itu menunjuk ke arah di mana toilet berada. Ilana mengangguk dan melesat cepat memasuki salah satu bilik tersebut.
Akhirnya Ilana bisa bernapas lega saat panggilan alamnya tuntas dengan sempurna. Ia lantas menuju ke wastafel untuk mencuci tangan. Pada saat yang bersamaan, pintu yang bersebelahan dengan toilet yang tadi ia gunakan perlahan terbuka. Seseorang dengan penampilan santainya muncul dan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Ilana.
Rupanya, seseorang itu kini terdiam di tempatnya kala melihat ke arah cermin di mana Ilana sedang memercikkan air ke arah matanya. Langkahnya seolah terpalu kala ia menyadari suatu hal. Ilana pun tanpa sengaja melihat ke arah cermin. Kedua pasang mata itu saling membola dan Ilana segera memutar lehernya untuk menghadap ke arah belakang. Seseorang dengan wajah begitu mirip dengannya tengah berdiri di sana. Tak hanya wajahnya, bahkan tinggi mereka pun sama.
****