3. DIFFERENT LIFE

1773 Words
Seorang gadis yang mulai menginjak usia remaja, dengan mengenakan seragam sekolah dasar tampak berlari-lari dengan penuh semangat, memasuki tempat kerja milik sang ayah yang siang ini terlihat cukup ramai. Gadis itu terdiam sebentar tak jauh dari pintu, mengamati keadaan sekitarnya terlebih dahulu. Atau lebih tepatnya, mencari keberadaan sang ayah. “Ilona, jangan lari-lari, Nak. Lihat itu, Tante Alita kecapekan mengejar kamu.” Suara bariton yang terdengar sangat khas itu menginterupsi pendengaran sang gadis. “Ayah...” Ilona berteriak dengan raut wajah berbinar, berlari menuju sang ayah yang siap menyambutnya dengan pelukan hangat. “Fyuh, anak kamu cepat juga larinya, Mas,” ucap Alita sambil menata napasnya yang terengah-engah karena harus mengejar Ilona yang sudah berlari begitu jarak mereka dengan restoran milik Adnan tinggal 100 meter lagi. “Atau kamu yang kurang olahraga, Lit,” balas Adnan menggoda Alita. “Enak saja! Eh, tapi ... ada benarnya juga, sih,” jawab Alita dengan wajah tanpa ekspresi dan dijawab Adnan dengan tawa gelaknya. “Jadi ... apa yang membuat anak ayah berlari-lari seperti ini? Sampai membuat Tante Alita kelelahan mengejarnya?” Adnan mengalihkan pandangannya pada sang putri yang sejak tadi hanya tertawa karena merasa raut wajah tantenya begitu lucu. “Ilona minggu depan ada ujian praktik, Ayah. Memasak,” jawab Ilona sambil merangkul pundak sang ayah. Ilona sekarang duduk di kelas 6 di sebuah sekolah dasar internasional. Awalnya, Adnan ingin menyekolahkan Ilona di sekolah dasar pada umumnya. Namun karena Ilona memiliki kecerdasan yang cukup membuatnya kerepotan, akhirnya Adnan menuruti saran dari Sukma untuk menyekolahkan Ilona di sekolah internasional. Sejak duduk di bangku taman kanak-kanak, Ilona sudah terlihat bosan dengan proses pembelajaran di sana. Demikian juga menurut Sukma dan guru TK Ilona yang mengatakan Ilona terlampau cerdas untuk anak seusianya. Adnan sebenarnya takut jika harus menyekolahkan Ilona lebih cepat, namun karena ia melihat sendiri bagaimana perkembangan putrinya maka Adnan mau tidak mau harus melakukan hal itu. Apa yang dilakukan Adnan sama sekali tidak salah sebab pada kenyataannya Ilona sangat cepat beradaptasi dan menyerap berbagai pembelajaran yang diterimanya. Baik itu ilmu eksakta, sosial maupun ketrampilan. Ilona juga sangat terampil dalam kegiatan tambahan sekolah berupa menjahit dan memasak. Saat ini, Ilona seharusnya masih duduk di kelas 5 SD, tetapi ia ‘dilompatkan’ oleh gurunya ke kelas 6 karena pelajaran kelas 5 sudah tertelan dengan sempurna di dalam otak gadis itu. “Ilona mau memasak apa, Nak?” Adnan menurunkan Ilona dari gendongannya. “Tadi kelompoknya Ilona bilang mau bikin ayam bakar bumbu rujak seperti menu di restoran Ayah ini. terus minumnya es Manado. Tapi besok hari minggu mereka mau ke rumah kita. Boleh ‘kan, Yah?” pinta Ilona dengan wajah memohon, tak lupa bibir yang sedikit mengerucut dan puppy eyes sehingga membuatnya terlihat begitu menggemaskan. “Boleh nggak ya?” Adnan berpura-pura berpikir. “Boleh dong, Yah. Ilonan janji akan dapat nilai yang bagus biar Ayah senang.” Adnan dan Alita sama-sama tertawa melihat bakat penawaran Ilona tersebut. “Tentu boleh, dong. Nanti ayah yang akan ajari kalian memasak, ya. Temannya Ilona ada yang bisa memasak selain Ilona?” Ilona tampak berpikir sebentar, kemudian menggeleng. “Sepertinya, cuma Ilona yang bisa memasak, Yah.” “Ya sudah, nanti Ilona ajari teman-temannya memasak juga, ya. Ilona kan pintar memasak seperti ayah,” ucap Alita sambil mengusap lembut pucuk kepala gadis itu. “Iya, Tante...” sahut Ilona dengan penuh semangat. “Ilona mau makan siang di sini atau di rumah?” Adnan menurunkan sang putri dari gendongannya. “Di sini saja, Ayah. Ilona mau makan capcay sosis sama bakwan jagung,” jawabnya penuh semangat sambil memandang deretan piring yang berjajar rapi dengan berbagai olahan makanan di atasnya. “Mau ikut makan siang, Lit?” tawar Adnan pada Alita. “Nggak usah, Mas. Aku langsung pulang saja, ada penerbangan jam 6 nanti. Nanti sebelum jam 3 udah harus ke bandara,” tolak Alita halus. Alita merupakan putri bungsu dari Sukma yang bekerja sebagai pramugari di salah satu maskapai nasional. Alita memutuskan untuk berhenti dari maskapai internasional yang selama ini menaunginya agar bisa lebih sering pulang untuk menemani sang ibu yang sudah semakin menua. Sementara kakaknya harus bekerja di luar provinsi yang tidak bisa seenaknya juga pulang ke Yogyakarta. 3 hari ini Alita sedang mendapat jatah libur terbang, jadilah ia memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk bermain bersama keponakannya yang pintar itu. Termasuk mengantar dan menjemput Ilona ke sekolahnya. Ilona juga merasa sangat senang setiap Alita libur terbang karena memang sejak kecil Ilona sudah terbiasa bersamanya. “Ke Adi Sucipto atau YIA?” “YIA, Mas. Makanya sebelum jam 3 aku harus udah siap berangkat. Ya sudah, Lita pulang dulu, Mas.” Lantas mengalihkan perhatiannya pada Ilona. “Ilona, Tante pulang dulu, ya.” “Iya, Tante. Hati-hati, ya.” Usai berpamitan, Alita bergegas pulang ke rumahnya karena jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Menginggalkan Adnan yang kini mulai menikmati makan siang bersama sang putri. Ilona menyantap makanannya dengan sangat lahap karena memang selama ini Adnan tidak pernah melarang ataupun membatasinya untuk urusan makanan. Berbeda halnya dengan jajanan atau snack instant, Adnan akan berubah menjadi sangat galak karena perut Ilona memang tidak tahan dengan makanan semacam itu. Dalam hatinya Adnan merasa bersyukur, ia bisa mendidik dan  membesarkan Ilona dengan cukup baik meskipun tanpa seorang diri tanpa sosok sang istri. ****  Sementara di tempat lain ... “Sudah ya, Ilana. Jangan sedih lagi, Nak. Nanti kalau Bunda sudah nggak sibuk, Bunda pasti akan menemani Lana,” ucap Pratiwi menghibur hati sang cucu yang wajahnya masih tertekuk. “Kenapa sih Bunda selalu saja sibuk, Eyang? Bunda jarang sekali menemani Lana setiap ada acara di sekolah. Ilana pengen seperti teman-teman yang lain, Eyang.” Ilana tidak terima begitu saja dengan penghiburan dari sang nenek. “Ilana ‘kan tahu Bunda harus bekerja. Ilana yang sabar, ya. Nanti Eyang bilang sama Bunda supaya menemani Ilana.” Gadis kecil itu hanya mengangguk pelan sambil memejamkan matanya. Pratiwi mengembuskan napas lega melihat Ilana yang perlahan mulai terlelap. Keduanya baru saja pulang dari sekolah Ilana yang sedang mengadakan persiapan pementasan akhir tahun. Ilana, terpilih sebagai salah satu pengisi acara yang akan memperlihatkan kemampuan modelingnya. Meskipun baru berusia 12 tahun, bakat Ilana di bidang modelling sudah sangat terlihat. Ia begitu pandai dan apik dalam berpose di setiap pengambilan gambar. Tinggi badannya juga tergolong di atas rata-rata anak seusianya, tentu saja karena mewarisi gen kedua orang tuanya yang tinggi semampai. Sesampainya di rumah, Ilana yang masih tertidur lantas di gendong oleh sang sopir untuk dibawa ke kamarnya. Sementara Pratiwi menuju dapur untuk membuat makan siang sang cucu tersayangnya itu mengingat saat ini sudah hampir jam 2 siang. Saat membuatkan makan siang Ilana, Pratiwi teringat pada cucunya yang satu lagi. Selama hampir 12 tahun ini, ia sama seklai tidak mengetahui bagaimana kabar dari Ilona dan Adnan. Pratiwi sangat merindukan Ilona, ia ingin tahu bagaimana keadaan Ilona saat ini. Bagaimana dengan sekolahnya? Jika Ilana sudah pandai untuk urusan permodelan, lalu bakat apa yang dimiliki Ilona? Mengingat hal itu membuat hati Pratiwi bedenyut nyeri. Tak lama kemudian, Pratiwi mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya kemudian berlalu. Ia sudah tahu itu pasti sang putri. “Ibu sudah pulang? Ilana di mana, Bu?” sapa Aulia begitu menyadari keberadaan sang ibu di dapur. “Ilana tidur di kamarnya. Bersihkan diri kamu dulu, kamu sudah makan siang?” balas Pratiwi sambil menata makanannya, tanpa sedikit pun menoleh pada Aulia. “Iya, Bu.” Aulia mengangguk lirih lantas melangkah menuju kamarnya dengan hasi yang terasa sakit. Semenjak perpisahannya dengan Adnan, atau lebih tepatnya sejak ia membawa Ilana pulang, sikap sang ibu berubah sangat drastis. Pratiwi cenderung mendiamkan Aulia, tetapi tidak dengan sikapnya pada Ilana. Meskipun untuk urusan makanan dan kesehatan, Pratiwi masih sangat perhatian. Aulia tahu itu semua salahnya, ia juga tidak ingin membela diri. Terlebih sejak peristiwa beberapa tahun yang lalu saat Ilana masih duduk di kelas 2 SD. Usaha butiknya yang saat itu tengah berkembang pesat membuatnya malah mengabaikan putri tersayangnya tersebut. Aulia harus membayar mahal untuk itu sebab setelahnya Ilana harus masuk rumah sakit karena terkena tifus. Semenjak saat itu, Aulia selalu berusaha memprioritaskan Ilana meskipun pada kenyataannya ia masih sering mengabaikan malaikat kecilnya tersebut. Usai dengan acara mandi dan membersihkan diri, Aulia lantas menuju kamar Ilana untuk membangunkan sang putri. Aulia yakin Ilana belum makan siang karena ia sempat melihat Pratiwi menyiapkan makanan kegemaran Ilana. “Lana, bangun, Sayang,” sapa Aulia sambil mengecupi pipi sang putri. Aulia berusaha menahan air mata yang sejak tadi hendak melompat keluar. Merasa tidurnya terusik, Ilana kemudian membuka mata. “Bunda sudah pulang,” gumam Ilana seolah tak percaya. Aulia mengangguk lembut, “Iya, Sayang. Bunda sudah pulang. Bangun, yuk. Kita makan siang dulu. Kata Eyang, Lana belum makan siang?” Ilana mengangguki ucapan sang ibu. Lantas bangkit dari tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Aulia tetap menunggu hingga putrinya itu selesai dengan kegiatannya. “Bagaimana persiapan pentasnya, Sayang?” tanya Aulia begitu Ilana keluar dari kamar mandi. Ilana yang merasa terkejut hanya tertegun tanpa bisa menjawab pertanyaan sang ibu. Tentu saja Ilana merasa kaget karena ia sama sekali tidak menyangka Aulia akan menanyakan hal itu. Ilana bahkan berpikir Aulia sudah lupa dengan agenda kegiatannya tersebut. Namun ternyata Aulia mengingatnya dan jujur saja fakta itu membuat Ilana sangat bahagia. “Pentasnya 3 hari lagi, ‘kan?” sambung Aulia saat sang putri tak kunjung memberikan jawaban. Dengan sangat pelan, Ilana mengangguk. “Nanti Bunda temani, ya. Mau ‘kan?” Mata Ilana membola mendengar ucapan Aulia. Ditemani oleh Aulia saat ada acara sekolah adalah satu hal yang sangat ia harapkan. “Mau, Bunda.” Ilana mengangguk dengan penuh semangat, membuat seulas senyum terbit di bibir Aulia. “Bunda janji? Bunda nggak berbohong, ‘kan?” Ilana merangkum penuh wajah Aulia. “Bunda janji, Nak. Dan Bundak tidak akan berbohong.” Aulia memutuskan untuk memprioritaskan Ilana di atas segalanya. Ia tidak akan lagi membiarkan sang putri merasa sendirian, meskipun pada kenyataannya Ilana tidak sendiri. “Terima kasih, Bunda. Lana sayang sama Bunda,” ucap Ilana sambil mencium ujung hidung mancung sang ibu. “Bunda juga sayang sama Lana,” balas Aulia sambil menciumi wajah Ilana hingga membuat tawanya berderai. “Ya sudah, sekarang kita makan siang, ya.” Ajakan Aulia dijawab dengan anggukan penuh semangat dari Ilana. Keduanya berjalan bersama menuju ruang makan di mana Pratiwi sudah menunggu dengan wajah yang lebih lembut dari sebelumnya. Saat hendak membangunkan Ilana, Pratiwi melihat Aulia memasuki kaamr sang cucuk. Bukannya bermaksud menguping, tetapi Pratiwi tidak sengaja mendengar pembicaraan Aulia dengan Ilana dan hal itu tentu saja membuatnya bahagia. Pratiwi berharap, ucapan dan janji Aulia pada Ilana bukan sekadar isapan jempol belaka. Karena jika sampai itu terjadi, sudah pasti Ilana akan merasa sangat kecewa. ****  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD