4. BAHAGIA

1695 Words
Pagi itu Ilana terbangun dengan penuh semangat. Hari ini merupakan hari di mana ia harus melakukan pementasan. Hari yang sudah ia persiapkan dengan begitu totalitas selama beberapa waktu belakangan ini. Terlebih, sang ibu sudah berjanji akan menemaninya. Kali ini Ilana yakin jika Aulia tidak sedang membohonginya, sebab ia melihat sendiri sang ibu yang tengah menyiapkan sarapan untuknya. Karena biasanya, hal itu akan dilakukan oleh neneknya. Ilana yang sudah selesai mandi dan berpakaian lantas menghampiri sang ibu di dapur. Dengan cepat gadis yang tinggunya sudah hampir mencapai pundak Aulia itu memeluk perut sang ibu. Tangannya menggenggam sebuah sisir yang artinya, ia ingin agar Aulia merapikan rambutnya. "Selamat pagi, Bunda," sapanya dengan nada yang sangat ceria. Aulia yang pada awalnya terkejut kemudian mengembuskan napas lega begitu mengetahui siapa pelaku yang membuatnya kaget pagi ini. Ilana langsung menampilkan senyumnya yang paling manis. "Selamat pagi, Sayang. Rajin sekali Anak Bunda pagi-pagi begini sudah selesai mandi dan rapi." Aulia menundukkan wajahnya untuk mencium kening Ilana. Ilana membalas serupa dengan mengecup bergantian pipi kanan dan kiri ibunya. "Iya, dong, Bunda. Lana sangat senang sekali hari ini. Bunda jadi menemani Lana, 'kan?" tanyanya dengan bersemangat namun tak dipungkiri ada rasa takut. Ilana takut jika Aulia kembali tidak menepati janjinya. "Tentu saja Bunda akan menemani Ilana. Hari ini butik Bunda dijaga oleh Tante Kirana. Bunda juga sudah minta Tante Kirana supaya tidak mengganggu Bunda hari ini." "Terima kasih, Bunda," ucap Ilana yang kini mengecup hidung mancung ibunya. "Ya sudah, sekarang Ilana duduk dulu. Bunda mau menyelesaikan masak ya. Nanti Bunda sisirkan rambut Ilana," perintah Aulia yang langsung diangguki oleh sang putri. "Bunda, Lana mau s**u cokelat, ya," pinta Ilana yang kali ini juga langsung diangguki oleh sang ibu. Usai dengan kegiatannya menyiapkan sarapan dan merapikan rambut sang putri, Aulia bergegas menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap. Begitu Aulia memasuki kamarnya, barulah Pratiwi keluar dari kamar dan menghampiri Ilana di ruang makan. Ia sudah bangun sejak tadi namun Pratiwi tidak ingin mengganggu momen berharga yang sedang dilalui oleh sang putri bersama sang cucu. "Selamat pagi, Eyang," sapa Ilana begitu melihat kedatangan sang nenek. Seperti biasa, Ilana selalu memberikan kecupan yang sama untuk neneknya itu, sama seperti yang ia lakukan pada sang ibu. "Selamat pagi juga, Sayang. Ilana sudah rapi sekali, ya," puji Pratiwi sambil mengusap lembut puncak kepala cucunya itu. "Iya, Eyang. Tadi Bunda lho yang kuncirin rambutnya Lana," jawab Ilana dengan rona bahagianya. "Oh, ya?" Pratiwi pura-pura tidak mengetahui. "Lalu, Bunda sekarang di mana, Nak?" sambungnya begitu mendapat anggukan dari Ilana. "Bunda sedang mandi, Eyang. Eyang mau makan dulu?" Kali ini Pratiwi menggeleng. "Kita tunggu Bundanya Lana, ya." "Oke, Eyang. Lana ke kamar dulu ya, Eyang. Mau ambil tas," pamitnya sambil beranjak dari kursi. Tak lupa menyambar sisir rambutnya untuk kembali dibawa ke dalam kamar. Tidak lama kemudian, Aulia dan Ilana keluar secara bersamaan dari kamar masing-masing. Mereka bertiga memulai sarapan paginya dengan suasana yang berbeda dan jauh lebih hangat daripada beberapa waktu sebelumnya. Tentu saja karena Ilana yang terlihat leih bahagia semenjak sang ibu mulai kembali intens memperhatikannya. "Ibu yakin tidak mau ikut?" tanya Aulia sekali lagi. Sejak kemarin Pratiwi memang sudah mengatakan tidak akan ikut. Ia ingin agar Aulia dan Ilana menghabiskan waktu mereka bersama. "Tentu saja yakin. Lagipula selama Ilana mlakukan persiapan kan Ibu sudah menemani. Kamu saja yang temani Ilana, ya," jawab Pratiwi meyakinkan Aulia. Jika sudah begitu tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh wanita berumur 35 tahun tersebut. "Ya sudah, Aulia sama Lana pergi dulu, ya, Bu. Kata Ilana juga nggak akan lama, kok." "Lama juga nggak pa-pa. Kamu bisa ajak Ilana jalan-jalan dulu atau ke mana terserah. Yang penting kamu hati-hati," pesan Pratiwi saat Aulia mencium punggung tangan kanannya. "Iya, Bu. Aulia berangkat ya, Bu." Wanita itu segera memasuki mobilnya. Hari ini Aulia memutuskan untuk mengemudikan sendiri kendaraannya. Sebab ini adalah akhir pekan. Selain ia ingin menikmati waktu berdua dengan sang putri, Aulia juga tidak mau mengganggu waktu berlibur sang sopir. "Da-da, Eyang." Ilana melambaikan tangan kanannya pada sang nenek sebelum mobil putih itu meninggalkan pelataran rumah. Pratiwi membalas serupa kemudian segera memasuki rumah untuk melanjutkan acaranya merajut. Salah satu alasan Pratiwi tidak ikut melihat pementasan Ilona ialah karena ia ingin membuatkan sweater rajut untuk kedua cuucnya, Ilana dan Ilona. Meskipun sampai saat ini ia tidak pernah berjumpa dan tidak tahu mengenai keberadaan Ilona, Pratiwi hanya berharap suatu saat nanti ia bisa memberikannya pada kedua cucunya tersebut. **** Ilona dan kelompoknya tersenyum lebar ketika hasil masakan mereka mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari par dewan gurunya Terlebih, saat tiba giliran kelompok Ilona menyajikan hidangannya, datang seorang tamu dari Irlandia yang akan bertugas sebagai pelatih bahasa asing di sekolah mereka. Kebetulan, Ilona memiliki kemampuan bahasa asing yang cukup baik di antara teman-temannya yang lain karena seringnya ia belajar bahasa bersama Alita. Ilona akhirnya diberi kesempatan untuk menjelaskan mengenai makanannya, meskipun tentu saja masih dengan didampingi oleh guru bahasa Inggrisnya. Yang membuat semakin lucu ialah kepolosan Ilona yang mengatakan jika makanan tersebut dibuat juga oleh sang ayah. Sebab memang demikian adanya. Adnan sudah mempersiapkan segala macam bumbunya dari rumah, jadi saat di sekolah Ilona dan teman-temannya hanya tinggal membakarnya saja. Begitu acara memasak di sekolahnya selesai, Ilona segera melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah. Tadi pagi Adnan sudah berjanji akan menjemputnya. Dan Ilona yakin sang ayah tidak akan melupakan janjinya. Senyum cerah Ilona semakin terkembang ketika melihat sang ayah tengah berdiri di depan gerbang sambil memainkan ponselnya. Langsung saja gadis itu berlari kecil menghampiri sosok cinta pertamanya tersebut. "Ayah," serunya dengan nada yang sangat ceria. Adna tentu saja terkejut namun secepat mungkin ia kembali menormalkan kondisinya. "Duh, Anak Ayah suka banget ya bikin ayahnya kaget," balas Adnan sambil berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan sang yang sudah tumbuh cukup tinggi. "Maaf, Ayah. Habisnya Ilona senang sekali karena Ilona dapat nilai bagus hari ini," ungkap Ilona jujur. Adnan tidak pernah mempermasalahkan tinggi atau turunnya nilai Ilona karena kecerdasan sang putri saja sudah sangat cukup untuknya sejauh ini. Namun, Ilona sendiri merupakan anak yang cukup kompetitif jadi menurutnya hasil belajar itu sangat penting. "Oh, iya? Bagaimana, masakan buatan Ayah enak?" Adnan sengaja menekankan kata 'buatan ayah' yang membuat Ilona melebarkan pupil matanya. "Eh, iya deh. Itu memang masakan Ayah," jawabnya sambil menyengir hingga menampilkan deretan rapi gigi putihnya. "Di sekolah Ilona ada guru baru, Ayah. Dari Irlandia katanya. Lalu guru baru itu mencoba makanan kelompok Ilona dan katanya enak. Tapi, memangnya Irlandia itu di mana, Ayah?" Adnan tersenyum lebar mendengar penuturan sang putri. Serta merta ia merogoh ponselnya dari saku untuk membuka aplikasi peta. "Ayah, itu wajahnya siapa?" tanya Ilona yang penasaran dengan wajah cantik yang menjadi wallpaper ponsel sang ayah. Adnan yang merasa terpergok buru-buru mengusap layar untuk membuka aplikasi peta. Ia merasa salah tingkah sendiri ketika sang putri menanyakan pemilik wajah tersebut, yang tidak lain adalah wajah Aulia. "Ini, Sayang. Irlandia itu di sini," ucap Adnan sambil menunjukkan peta negara yang termasuk wilayah Kerajaan Inggris tersebut. "Oh, jauh ya ternyata rumahnya gurunya Ilona. Ayah, yang tadi itu fotonya siapa?" Ilona tidak bisa melupakannya begitu saja hingga membuat kulit kepala Adnan tiba-tiba saja terasa gatal. Pria itu memutuskan untuk memasukkan kembali ponselnya sembari memikirkan jawaban untuk sang putri. "Foto ini, Bundanya Ilona," jawab Adnan pada akhirnya. Ia menyadari, lambat laun hari ini pasti akan terjadi dan Adnan tidak sangup untuk membohongi Ilona. "Bunda? Ilona punya Bunda, Ayah? Lalu Bunda di mana sekarang? Kenapa Bunda tidak bersama kita, Ayah?" cecar Ilona dengan raut wajah penasaran hingga membuat Adnan bingung sekaligus tidak tega. "Bunda sedang berada sangat jauh sekarang, Nak. Untuk saat ini, Bunda tidak bisa bersama kita," jelas Adnan dengan bahasa sesederhana mungkin. Ia berharap Ilona akan mengerti dan berhenti bertanya mengenai sang ibu. "Oh, Bunda sedang bekerja jauh ya, Yah?" tanya Ilona dengan polos. Dengan sangat pelan, Adnan mengangguk. "Oh, begitu. Berarti nanti kalau Bunda pulang, Ilona bisa bersama Bunda. Betul 'kan, Yah?" Sekali lagi Adnan hanya bisa mengangguk tanpa bersuara. "Ayah, Ilona mengantuk. Ayo pulang," ajak gadis kecil itu sambil menggandeng tangan sang ayah. Sontak saja tawa Adnan berderai mendengar pengakuan polos putrinya itu. Selain pintar, Ilona juga sangat mencintai yang namanya tidur. "Oke, kita pulang sekarang. Ilona mau digendong Ayah?" Dengan cepat Ilona menggeleng, menolak tawaran sang ayah. "Ish, Ayah. Ini kan di sekolah. Ilona malu kalau dilihat sama teman-teman," akunya sambil berjalan menjauh dari gerbang sekolahnya. Ilona takut jika ada yang mendengar ucapan sang ayah. Ia akan sangat malu. 'Aulia, maaf karena aku sangat merindukan kamu.' Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, Adnan berani mengatakan hal itu meskipun hanya dalam hati. **** Rona bahagia juga memenuhi wajah Ilana yang saat ini sedang berjalan-jalan dengan sang ibu. Usai menyelesaikan pementasan di sekolahnya yang berlangsung dengan sukses, Ilana mengiyakan ajakan Aulia untuk berjalan-jalan di sebuah taman bermain yang terletak di tepi pantai. Kini keduanya sedang menikmati makanan berupa bakso dan es buah yang merupakan makanan kesukaan Ilana. Gadis kecil itu sangat lahap menyantap makan siangnya bersama sang ibu. Terlebih, Aulia juga sesekali menjahilinya dengan mengambil bakso dari mangkuk miliknya. Ilana akan langsung berteriak kesal sementara Aulia tertawa puas. "Bunda, terima kasih sudah menemani Ilana," ucap Ilana tulus dalam posisi tertidur di pangkuan Aulia. Aulia menyewa sebah tikar lengkap dengan payungnya meskipun cuaca siang ini tidak terlalu terik. "Iya, Sayang. Maafkan Bunda ya karena selama ini jarang sekali menemani kamu," balas Aulia dengan tatapan sendu, teringat jika selama ini ia seringkali mengabaikan Ilana padahal dulu ia yang bersikeras meminta Ilana dari Adnan. "Lana mengerti, Bunda. Bunda kan kerja untuk Lana." Aulia tak bisa menahan untuk tidak mengecup kening Ilana. Ia tidak menyangka putrinya sudah semakin dewasa. Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. "Ilana mengantuk?" tanya Aulia saat melihat putrinya itu menguap. Sudah pasti Ilana akan mengantuk mengingat ia begitu kenyang siang ini. "Iya, Bunda," jawabnya lirih dengan mata yang perlahan terpejam, nyaris tidak terdengar. "Ya sudah, Ilana tidur saja dulu. Nanti kalau waktunya pulang, Bunda bangunkan." Aulia menata posisi Ilona senyaman mungkin. Sambil mengusap lembut puncak kepala sang putri, ia meraih mangkuk berisi es buah miliknya yang belum habis. Berbeda dengan Ilana yang tidak membutuhkan waktu lama untuk menandaskan 2 mangkuk sekaligus. "Bagaimana kabar kamu, Mas Adnan? Dan bagaimana juga keadaan Ilona?" gumamnya dengan sangat lirih, teringat betapa gilanya Ilana terhadap bakso dan es buah yang pasti menurun dari Adnan. **** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD